03 - Memori yang Hilang

999 Words
Semua kebutuhan materi Sienna tercukupi dengan sempurna, bahkan bisa dikatakan berlebih. Namun, tidak dengan hatinya yang terasa kosong. “Hari ini aku akan ke supermarket buat belanja. Aku izin untuk pakai uang yang ada di debit card ya, Kak,” ucap Sienna, sambil menuangkan air ke gelas sang suami. “Hm. Ingat untuk langsung pulang setelah belanja!” Galen mengingatkan dengan nada bicaranya yang dingin. Sienna tahu. Galen mengingatkannya untuk langsung pulang bukan karena ia peduli. Namun, Galen hanya takut Sienna kabur dan akan melakukan hal-hal yang tidak Galen inginkan -- termasuk bertemu dengan orang tua Galen. Sienna hanya mengangguk patuh. Ia tidak ingin membuat Galen marah padanya. Tak peduli meski semalam mereka sempat berdebat, tetapi pada akhirnya Sienna akan selalu menjadi pihak yang kalah keesokan paginya. Sebab, tanpa Galen, Sienna punya siapa lagi? Selain rumah ini, ke mana lagi tempat yang bisa Sienna singgahi? “Iya, aku tahu,” jawab Sienna, karena Galen yang menatapnya seolah menunggu jawaban darinya. “Aku sudah siapin bekal makan siang buat Kakak. Kali ini, dimakan ya!” Katakanlah Sienna bodoh. Ia selalu bekal darinya selalu berujung di tempat sampah. Namun, ia selalu membuatkan yang baru setiap pagi untuk Galen. Sienna hanya bisa mengandalkan kemampuannya dalam hal memasak untuk mencari perhatian dari Galen. Setiap kali menyiapkan bekal untung sang suami, ia seolah selalu memantrainya dengan doa agar makanan itu bisa membuat Galen melihat ke arahnya. Galen tidak menjawab ucapan Sienna. Ia langsung menyantap makanan di depannya, tanpa menunggu Sienna untuk duduk di kursinya. Sienna sudah terbiasa dengan hal itu. Sehingga ia pun tidak perlu memperpanjang urusannya. *** “Loh? Sienna? Sini biar aku bantu!” Sienna tersenyum tipis saat seseorang menegurnya dan membantunya yang sedang kesulitan mengangkat kantong-kantong belanjaannya. Seseorang yang menolong Sienna itu adalah perempuan. Dia tampak masih muda, sebaya dengan Sienna. “Terima kasih, ya,” ungkap Sienna yang dibalas anggukan oleh gadis yang menolongnya itu. “Kamu apa kabar? Lama nggak kedengeran kabarnya,” tanya gadis itu. “Baik. Maaf, aku mengalami amnesia parsial, dan aku tidak bisa mengingat beberapa hal di hidupku. Termasuk teman-teman lamaku. Sekali lagi maaf, tapi kamu-” “Aku Vina. Maaf aku nggak tahu kalau kamu amnesia. Kita dulu teman satu jurusan waktu kuliah. Sering satu rombongan belajar juga,” ucap Vina memperkenalkan diri. “Sekali lagi makasih ya, Vina. Dan maaf karena aku nggak bisa mengenali kamu,” ungkap Sienna dengan penuh sesal. Melihat Vina yang sudah membantunya dan berbicara dengan nada lembut dengannya, sepertinya gadis itu bukanlah orang jahat. “It’s oke. Setelah ini kamu mau ke mana? Naik taksi? Gimana kalau nebeng aku aja? Aku bawa mobil kok. Sekalian kita mampir buat makan siang dulu nanti sambil ngobrol,” tawar Vina. Tawaran itu terdengar sangat menggiurkan bagi Sienna. Selama ini, ia tidak punya memori yang indah tentang pertemanan. Ia bahkan sempat mengira jika mungkin dirinya dulu adalah sosok yang tidak disukai, sehingga ketika ia sadar dari koma, ia tidak bisa mengingat jika ia pernah memiliki teman baik. “Boleh boleh,” jawabnya dengan penuh semangat. “Mungkin dengan ini aku juga bakal tahu bagaimana sosokku sebelum kecelakaan, dan memori seperti apa yang hilang dari ingatanku,” lanjut gadis itu dalam hati. “Ya udah, kalau gitu, sekalian aja ini kita bawa ke mobilku yuk! Mobilku ada di sebelah sana!” Vina menunjuk sisi tempat parkir yang lain. Kedua gadis muda itu pun segera membawa belanjaan Sienna ke mobil Vina. Memasukkannya ke bagasi, sebelum akhirnya keduanya masuk dan duduk di bangku depan. “Kamu ke mana aja, Na? Nomor kamu yang di grup jurusan juga udah nggak aktif. Kamu kayak ngilang aja dari peradaban,” tanya Vina memulai pembicaraan ketika mereka sampai di sebuah resto. “Oh iya, dan soal amnesia kamu itu, memang gimana cerita awalnya? Kok bisa sampai amnesia?” imbuhnya. “Beberapa waktu yang lalu aku mengalami kecelakaan mobil. Terus aku jatuh koma. Dan… ya beginilah akhirnya. Waktu aku sadar, dokter mengatakan kalau aku kehilangan beberapa memoriku,” terang Sienna. “Dan sampai sekarang memori yang hilang itu belum ada yang kembali?” Sienna menggeleng. “Maaf ya, Vin. Aku rasa kayaknya mungkin dulu kita dekat. Tapi aku bahkan nggak ingat apa-apa soal kamu.” “It’s oke, Na. Bukan mau kamu juga kan sampai bisa kayak gini?” balas Vina sambil tersenyum hangat pada Sienna. “Tapi, setelah ini kita bisa berteman lagi, kan?” Sienna mengangguk dengan penuh semangat. “Aku akan senang kalau kamu mau. Selama ini aku ngerasa kesepian banget. Aku kayak nggak punya siapa-siapa di hidupku. Bahkan orang tuaku pun kayak tidak bisa menerima keberadaanku. Memang dari dulu mereka begitu ya, Vin, ke aku?” Vina tampak menggigit bibir bawahnya. “Setahuku kamu memang kurang dekat sama kedua orang tuamu.” “Ah … begitu.” Ternyata benar dugaan Sienna. Ia dan kedua orang tuanya memang memiliki hubungan yang kurang baik. Hanya saja, setelah melihat putri mereka mengalami kecelakaan hebat yang nyaris merenggut nyawanya, mengapa hati mereka tidak juga melunak? “Apa kamu tahu kenapa aku nggak dekat dengan mereka?” tanya Sienna. Vina tampak semakin canggung. “Kenapa? Pertanyaanku aneh, ya? Aku benar-benar nggak ingat apapun. Yang aku ingat sekilas, mereka sering menganggap aku seolah aku ini mengecewakan ekspektasi mereka. Aku juga merasa kurang punya ikatan batin dengan mereka. Tapi, sikap mereka setelah aku sadar dari koma, seolah kesalahanku lebih besar dari itu,” bingung Sienna. “Tapi kalau kamu nggak mau jawab juga nggak papa. Lagi pula, itu kayaknya terlalu pribadi juga. Wajar kalau kamu nggak tahu.” “Bukan nggak mau jawab. Cuma dari dulu kamu nggak suka bahas hal ini,” ujar Vina. “Maksud kamu?” “Kamu nggak mau saat orang-orang bandingin kamu dengan Stella, dan bahas soal orang tua kalian. Pokoknya kamu nggak suka, saat ada yang bilang kalau Stella itu seperti saingan kamu dalam segala hal,” jawab Vina. Sienna menajamkan indera pendengarannya saat merasakan ada hal asing yang baru saja ia dengar. Matanya turut menyipit, menatap Vina penuh tanya. “Siapa? Stella? Tapi, siapa dia?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD