Lanna memberengut kesal karena sikap David yang seenaknya sendiri. Dia membawa Lanna ke sebuah kafe berkonsep outdoor. Bukan apa-apa masalahnya Lanna belum mandi dan masih mengenakan piyama kesukaannya bermotif mickey mouse. Ini membuatnya malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang.
“Aku malu,” katanya seraya menunduk, berpura-pura sibuk dengan es kopinya.
“Bentar lagi juga jalan-jalan pakai piyama bakal jadi trend.” Sanggah David.
“Kamu niat banget buat bikin aku malu.” Lanna menatap kesal calon suaminya.
David tidak berniat sedikitpun membuat Lanna malu atau bagaimana. Dia hanya tidak ingin kakek menyuruh-nyuruh Ramon membawa Lanna ke rumah sesering mungkin. Dia takut mereka bertanya macam-macam soal hubungannya dengan Lanna. Dan yang paling David takutkan adalah Lanna keceplosan. Perlu waktu untuk memberi ilmu soal akting pada Lanna. Dan masalah terbesarnya juga adalah keluarganya mulai menyayangi Lanna. Bahkan kakek seakan menganggap Lanna ini cucunya sendiri. Tidak ada batasan antara kakek dan Lanna. Tentu saja hal ini menjadi beban pikiran buat David mengingat dirinya dan Lanna tidak menikah dengan sungguh-sungguh. Dia takut saat kontrak selesai, keluarganya melarang perceraian di antara mereka. Apalagi Sarah mulai kembali mendekatinya.
David menghela napas. “Ma’af,” katanya menyesal. “Aku Cuma nggak mau kamu sering ke rumah. Aku takut Ramon ataupun kakek tahu kalau sebenarnya kita nggak saling menyayangi. Aku takut keluargaku makin sayang sama kamu, Lann.” Katanya jujur.
Lanna terharu mendengar perkataan David. Lanna juga takut kalau dia akan semakin sayang pada keluarga David—terutama Ramon. Lanna menggeleng. Kakek begitu baik padanya, Ramon juga begitu baik padanya. David benar, seharusnya dirinya menjaga jarak dengan keluarga David. Dia harus tahu diri. Mereka menikah bukan karena cinta.
“Kamu tahu kan kakek itu penyayang. Dia gampang sayang sama orang apalagi ke kamu. Dia bilang kamu punya selera yang bagus. Dia bilang Ramon seharusnya menikah dengan wanita yang kaya kamu. Mulai saat ini, kamu harus bisa menjaga jarak, Lann. Kalau Ramon datang lagi buat ngejemput kamu, bilang kamu sibuk dan ada acara. Aku nggak larang kamu main ke rumah, tapi jangan terlalu sering.”
Lanna hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata dan bagaimana. Dia suka bingung kalau David sudah bicara seserius ini.
“Sebenarnya kapan kita akan nikah?” tanya Lanna, David terkesiap mendengar pertanyaan itu.
“Emm, Mamah maunya secepatnya begitu juga Papah dan Kakek. Kalau bulan depan kamu siap?”
Kali ini Lanna yang terkesiap. “Bulan depan?”
“Iya, usul dari kakek bulan depan semakin cepat kita menikah semakin cepat Kakek mendatangani surat warisan untuk aku.”
Mendengar soal surat warisan membuat Lanna terluka. Dia membohongi Kakek dan semua orang-orang baik di hidupnya. Dia jahat, tapi David juga lebih jahat karena dia begitu tega membohongi keluarganya hanya demi harta warisan padahal Kakek masih hidup.
“Kamu belum mandi ya, Lann?” tanya David mencium aroma-aroma asem.
Lanna mnegernyitkan hidung. Menciumi aroma-aroma yang tidak wajar. Lalu dia menciumi bajunya bagian ketek. “Nggak bau kok.”
“Aku Cuma nanya.”
“Yaiyalah belum mandi. Kan kamu yang ngajakin aku ke sini sebelum aku mandi.”
“Kan biasanya ada orang yang udah mandi tapi tetep pakai piyama karena nggak keluar kemana-mana.”
Lanna memberengut. Sebenarnya dia masih bingung soal konsep pernikahan dan gaunnya. Gaun macam apa yang dibuat Sarah dan dikenakannya kelak? Konsep pernikahannya saja tidak jelas seperti apa.
Lanna menatap hidung mancung David. Pria itu punya hidung yang bagus. Hidung yang disukai Lanna. Kalau saja mereka menikah beneran dan punya anak pasti anaknya berhidung mancung sempurna karena Lanna dan David punya hidung yang mancung.
“Lann,” David menatap Lanna serius.
“Apa?”
“Muka kamu mirip Marion Davies.” Pernyataan David membuat dahi Lanna mengernyit.
Marion Davies? Siapa itu?
“Mantan kamu?” terka Lanna.
David menggeleng. “Dia seorang aktris, produser, penulis skenario dan filantropis berkat bantuan sang kekasih gelap.”
“Hah?” Lanna semakin tidak mengerti. Oke, sekarang keahlian David bertambah yaitu, mengatakan hal-hal yang tidak diketahui Lanna. “David kamu tuh ngomong apa sih, aku nggak kenal Marion Davis. Dia dari planet mana hah?”
“Dia cantik tahu! Tapi ya, kalau dibandingkan dengan kamu sih cantik dia kemana-mana. Dia aktris tahun 1916-an. Coba deh tonton filmnya. Baca juga cerita hidupnya.”
“Aku nggak tertarik.” Lanna berkata sombong.
“Kamu kan tertariknya sama es krim, buku, kopi, bunga lavender.”
Jauh di dalam hati David sebenarnya dia sangat mengagumi kecantikan Marion Davies. Tapi ya seperti yang dibilang David Marion Davies dan Lanna memang agak sedikit mirip untuk struktur wajah meskipun Lanna tidak cantik-cantik amat.
“Kita sampai kapan sih di sini? Aku malu jadi pusat perhatian orang-orang.” Lanna memandang sekeliling di mana orang-orang sesekali menatapnya aneh.
“Sampai Ramon pergi dari apartemenmu.”
“Apartemen Kirana.”
“Ya, maksudnya begitu.”
“Dia sudah pulang mungkin,” Lanna merasa sudah sangat tidak nyaman dan ingin segera pergi dari tempat itu.
“Nggaklah. Ramon tuh pasti nungguin. Pasti dia lagi berantakin apartemen kalian.”
“Maksudnya?” pupil Lanna melebar.
“Yaudah kita apartemenku aja.” David bangkit dan Lanna hanya menatapnya bengong.
“Ke apartemen kamu?” pikiran negatif Lanna berlalu lalang. Jangan-jangan nanti di sana dia diapa-apain...
“Iya. Ayo!” ajak David mengulurkan tangan.
“Apaan sih?”
“Yaudah kalau nggak mau digandeng.” David berbalik dan melangkah. Merasa Lanna masih duduk di kursi kafe, David kembali berbalik.
“Ayo!” katanya dengan nada cukup tinggi.
Lanna mendengus kesal kemudian dengan terpaksa dia menyusul David.
***
Sarah meletakkan cangkir tehnya. Dia belum memerintahkan karyawan untuk membuat gaun yang dipesan Lanna. Masalahnya adalah orang tua David memakai wedding organizer lain bukan wedding organizer miliknya dan tentu saja itu akan menjadi sanksi ketika dia membuatkan gaun untuk Lanna tanpa persetujuan orang tua David. Tapi sebenarnya hal itu lumrah terjadi dalam bisnis wedding organizer. Hanya saja seperti ada ketidakrelaan dalam diri Sarah saat melihat Lanna mengenakan gaun hasil rancangannya dan bersanding dengan pria yang diinginkannya.
Masihkah David menginginkanku?
Pertanyaan itu terus menerus menghantuinya. Beterbangan dengan liar di kepalanya tanpa tahu waktu. Entah saat dia sedang menatap layar laptopnya atau saat dia sedang mengobrol dengan karyawan ataupun kliennnya. Ini sangat mengganggu hidupnya. Sarah ingin tahu apakah masih ada tempat untuknya di hati David?
Ron datang dan lagi-lagi pria edan itu seakan ingin memisahkan dirinya dengan David. Dan Ron mengatakan hal yang menyakitkannya meskipun setelah mengatakan hal itu Ron tertawa dan bilang hanya bercanda. Tapi tetap saja itu sangat membekas dan melukai hati Sarah. Ron seperti seorang mata-mata Lanna. Apakah Ron sangat setuju hubungan David dan Lanna sehingga dia berniat mengusik Sarah dan David saat mereka berduaan dan mengobrol?
“Aku harus berhati-hati dengan Ron.” Gumam Sarah menatap kosong layar laptopnya.
Sarah kembali meraih cangkir tehnya dan menyesap teh berharap ketenangan segera datang. Dia mengambil ponselnya dan berniat menghubungi seseorang. David. Ya, dia ingin menghubungi David.
***
Lanna sudah mandi tapi dia tidak mengganti piyamanya sama sekali. Dia masih mengenakan piyama kesukaannya. Dia menoleh ke kamar David lewat pintu yang terbuka lebar. David terlelap. Sepertinya calon suaminya itu kelelahan mungkin kemarin dia lembur. Lanna memilih duduk di sofa berwarna krem dan menyetel televisi. Dia amat suka menghabiskan waktu luangnya untuk menonton kartun tanpa peduli berapa usianya sekarang.
Tiba-tiba ponsel David yang berada di atas nakas berbunyi. Lanna awalnya ingin membangunkan David dan memberitahunya kalau ponselnya berdering. Tapi dia tidak tega melihat David yang begitu terlelap. Melihat pria itu tertidur seperti melihat wajah malaikat. Putih, bersih dan tenang. Lanna melihat ponsel David dan tertera nama di layar, Sarah. Entah kenapa Lanna malah memilih mengangkat telepon itu dan keluar dari kamar David. Dia takut suaranya mengganggu tidur David.
“Halo, David.” Suara khas Sarah. Dingin dan tenang.
“Halo, Sarah. Ma’af ini aku, Lanna. David lagi tidur. Ada yang perlu aku sampaiin?”
Hening.
Lanna mendengar ludah yang ditelan.
“Oh, Lanna. Enggak sih Cuma tadi aku mau...” Sarah berpikir sejenak.
“Mau apa?” tanya Lanna ceplas-ceplos.
“Soal gaun pernikahanmu.”
“Kalau soal gaun kenapa tidak menelponku?”
“Bukan, maksudku, ada hal yang perlu aku bicarakan dengan David yang akan disampaikan ke orang tua David. Kamu tahu kan kalau kamu pakai WO lain.”
“Oh, iya. Oke, nanti aku sampaikan. Sekarang David masih tidur.”
Hening beberapa detik.
“Ya, makasih, Lann.”
Telepon terputus.
“Mencurigakan.” Gumam Lanna seraya menatap layar ponsel David.
***
Sarah kembali menelan kekecewaan. Dia kembali sedih. David sedang tidur dan Lanna yang mengangkat teleponnya, itu berarti mereka berdua sedang berada di dalam rumah atau apartemen David. Ada sesuatu yang menyayat hatinya. Dia cemburu. Tapi apa haknya cemburu? Sarah bukan siapa-siapa David. Dia hanya pernah dekat dengan David dan menolak cinta David. Itu saja. Dan sekarang dia menyesal karena menolak pria yang dengan tulus mencintainya hingga pria itu menikahi wanita lain. Sarah terlalu sombong dengan karirnya yang bagus. Dia bahkan seringkali menepis perasaannya dulu kepada David. Dia merasa di atas angin dan David tidak lebih dari pengagumnya saja.
***