BAB 15

1116 Words
            Lanna memeluk boneka besar winnie the pooh milik Kirana. Dia tidak bisa mengenyahkan tatapan mata Ramon. Calon kakak iparnya itu lucu dan Lanna meyakini setiap yang dikatakannya adalah hanya candaan semata tapi tatapan mata Ramon ketika bertemu dengan matanya memberikannya presepsi yang berbeda soal Ramon. Ramon... menyita pikirannya dari kemarin.             Dia berharap ini bukan pertanda buruk. Alangkah kacaunya hidup Lanna jika dia menikah dengan David tapi mencintai Ramon. Ini sudah di luar batas keharusan. Dia harus menjaga jarak dengan Ramon.             Lanna memilih membuat kopi untuk menenangkan pikirannya.             “Ingat, Lann, calon suamimu itu David bukan Ramon.” Gumamnya seraya bangkit meninggalkan boneka Winnie Pooh sendirian di atas kasur.             Ponselnya berdering. Nomor asing.             “Ya, halo,” seru Lanna seraya mengaduk kopi dalam cangkir.             “What’s up, Bro!”             Itu suara Ron. Gumamnya.                                                      “Hai, Ron.”             “Lanna, aku ada kabar buruk nih.”             Dahi Lanna mengernyit. Dia berhenti mengaduk kopinya. “Kabar buruk apa?”             “Sarah mengajak David makan siang. Kamu mau aku menguntit mereka nggak?”             Ada perasaan yang tidak Lanna sukai muncul di dadanya. Sarah mengajak David makan siang?             “Nggak usahlah. Kaya kamu nggak ada kerjaan aja ngikutin mereka.”             “Hahaha, emang aku nggak ada kerjaan kok. Aku ngikutin mereka aja ya. Nanti aku telepon lagi kalau sampai ada yang tidak beres dari mereka aku bisa menyetop dengan muncul secara tiba-tiba.”             Telepon putus.             Lanna menatap layar ponselnya. Menggeleng penuh makna. Lanna yakin Ron mau mengikuti David dan Sarah karena memang dia tidak ada kerjaan. ***             David dan Sarah bertemu di sebuah restoran berkonsep vintage dekat kantor Sarah. Tanpa mereka sadari ada Ron yang duduk dengan mengenakan masker dan sweater bertudung yang menutupi rambutnya. Ron duduk dengan jarak satu meja yang kosong sehingga dia bisa menguping pembicaraan David dan Sarah. Sepertinya Ron adalah fans Lanna yang akan mendukung Lanna untuk menikah dengan David.             “Kamu inget nggak, Vid, kita pernah makan di restoran ini pas awal kita masih saling kenal.” Sarah sengaja membangkitkan memori mereka. Dia ingin David mengingat kenangan bersamanya.             “Iya.” Sahut David datar. David sebenarnya agak bingung. Dia tahu maksud Sarah tapi di sisi lain dia tidak bisa menolak Sarah.             “Sekarang aku sering kangen saat-saat bersamamu.”             David menatap Sarah. Bibirnya terkatup rapat. Sarah membuat hatinya serasa dihimpit batu.             “Aku ingin punya banyak waktu sama kamu, Vid. Aku ingin kita bisa seperti dulu lagi. Ma’af, tapi aku benar-benar kita bersama lagi. Aku baru menyadari bahwa aku...”             “David!” seru Ron yang tidak tahan mendengar Sarah berusaha membuat David terlena lagi padanya.             “Ron, kamu?” David menatap terkejut Ron             “Kebetulan sekali kita bertemu di sini.”             Perlu diketahui kalau Ron saat itu menguping pembicaraan David dan Sarah lewat ruangan sekretaris yang diisi oleh Kirana. Kebetulan Kirana tidak ada dan saat Ron masuk, David juga tidak ada. Dan Ron sengaja bersembunyi di bawah meja Kirana saat David masuk. Dia berniat membuat David kaget tapi keburu mendapat telepon dari Sarah.             Sarah tampak kesal. Kenapa Ron selalu menggagalkan rencananya?             Ron duduk di sebelah David. Dia mengambil gelas coffe mix milik David dan menyesapnya.             “Sarah kamu cantik. Lebih cantik lagi kalau tidak mengganggu calon suami orang.” Kata Ron dengan lirikan mata jail kepada David. *** Esoknya Kakek kembali menyuruh Ramon menemui Lanna dan menjemput Lanna ke rumah. Pada pukul 8 kurang Ramon datang ke apartemen Lanna dan di sana masih ada Kirana yang sedang mengulum rotinya.             “Kakak David,” kata Lanna memberitahu.             “Oh,” Kirana mengangguk-ngangguk. Dia mengenakan kacamatanya agar dapat melihat Ramon lebih jelas.             “Kirana—sepupu Lanna.” Kirana mengulurkan tangan yang dijabat Ramon.             “Ramon, kakaknya David.”                               Mereka bertiga berkumpul di meja makan. Ramon mengatakan kedatangannya kemari karena diperintah Kakek untuk menjemput Lanna. “Kakek mau bereksperimen sama lukisannya lagi.”             “Hah?!” Lanna mengatakan ‘hah’ dengan nyaring. Kirana yang sedang melahap rotinya menoleh pada Lanna.             “Yang jadi objeknya aku lagi?” Lanna menunjuk dirinya sendiri.             Ramon mengangguk. “Sama David.”             “David?” sebelah alis Lanna melengkung.             “Ya, Kakek bilang harus lebih romantis.”             Oh My God! Kenapa Kakek suka sekali membuat lelucon seperti ini sih?             Lanna meringis pilu. Sebenarnya lukisan Kakek tidak jelek hanya saja apa perlu dia terus-terusan menjadi objek lukisan kakek?             Ramon menggigit roti selai stroberi yang disediakan Lanna.             Merasa kasihan dengan ekspresi Lanna yang masam, Ramon kembali berkata. “Nggak kok, Lann, kakek Cuma mau ngobrolin soal pernikahan kamu aja. Mau konsep yang kaya gimana sama soal gaun pengantin dan gaun pengiring. Ya begitulah.” Ujar Ramon.             Lanna menarik napas lega. Lebih baik membahas soal pernikahan daripada harus berpanas-panasan untuk dilukis kakek.             “Lann, aku ke kantor dulu ya.” Ujar Kirana. Lanna mengangguk.             “Emm—“ Kirana bingung harus memanggil Ramon dengan sebutan apa. Dia calon kakak ipar Lanna tapi dia juga kakak dari bosnya. “Saya ke kantor dulu, Pak. Eh, Kak. Eh—“ baru kali ini Lanna melihat ekpresi bego Kirana dan Lanna senang melihat Kirana memasang ekspresi begonya.             “Panggil saja Ramon.”             Kirana mengangguk tapi dia tidak menyebut nama Ramon.             Setelah Kirana pergi, Ramon menatap Lanna yang masih melahap roti selai stroberinya. “Kamu suka dengerin lagu The Beatless nggak?”             Lanna mendongak. “Aku jarang denger lagu, Kak. Paling Adele, Celine Dion dan Lanna Del Rey.”             “Tipe melankolik juga ya.”             Bell apartemen berbunyi. Lanna buru-buru membuka pintu dan dia ternganga melihat sosok di depannya. Dengan kaos biru polos dan celana jeans, David masuk tanpa mempedulikan Lanna yang terbengong.             “Mana Kakakku?” tanyanya seraya berjalan mencari Ramon. Lanna mengekornya.             “Di dapur.”             “Lagi apa dia di dapur?” David berbalik menatap Lanna yang berada tepat di belakangnya. “Lagi masak?”             Lanna menggeleng. “Makan roti.”             David kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.             Ada apa sih sebenarnya dengan mereka? Kenapa mereka datang ke apartemen? Masih dengan tanda tanya Lanna berusaha bersikap tenang.             “Hari ini Lanna dan aku mau pergi, Kak.” Ujar David.             “Lho, bukannya kamu mau kerja ya. Ini amanah Kakek, lho.”             Dengan wajah jengah, David kembali berkata. “Pokoknya hari ini Lanna sama aku.”             “Telepon kakek dong! Kasih tahu kalau hari ini kalian mau kencan sepagi ini. Masih jam delapan, lho.” Ramon menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa.             “Sebenarnya ada apa sih?” tanya Lanna terheran-heran.             “Hari ini kita pergi, ayo!” David menggenggam tangan Lanna dan tanpa mempedulikan Lanna yang kebingungan masih dengan mengenakan piyamanya, David membawa Lanna ke dalam mobil.             Ramon menggeleng. Dia memilih asyik melahap kue-kue kering buatan Kirana.             “Kencan masih dengan pakai piyama apa yang dipikir orang-orang.” Gumam Ramon. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD