Dua puluh menit lamanya, Lanna dan David membicarakan soal tidur bersama dalam kontrak. Lanna keukeuh agar tidur bersama di hapus dalam kontrak namun David menunggu persetujuan Ron seakan yang akan menikah dengan Lanna adalah Ramon. Dua puluh menit Lanna menghabiskan jus alpukat lalu jus jeruk. Hari ini dia tidak minum kopi.
“Yang menikah denganku itu kamu bukan Ramon kenapa harus nunggu keputusan dari Ron sih?” gerutunya sebal.
“Ron itu kan penasihat aku, Lann.”
“Penasihat?” Lanna terbahak. Mentertawakan calon suaminya yang tampak bodoh karena memilih Ron sebagai penasihat.
Awalnya David biasa saja mendengar tawa Lanna tapi lama kelamaan tawa itu terdengar nyaman di telinganya. Nyaman dan hangat. Tawa yang menarik perhatian gendang telinganya.
“Kamu yakin Ron itu cocok untuk jadi penasihat?” Lanna bertanya dengan tatapan mata mengejek.
David melipat kedua tangannya di depan perut. “Kenapa memangnya?” dia bertanya dengan tatapan menyipit.
“Ron itu...” Lanna baru akan mengatakan “agak edan” tapi urung karena bisa saja David tersinggung. “Nggak.” Lanna menggeleng.
“Orang tuaku minta kamu ke Bandung.”
David terdiam sesaat. Dia agak enggan bertemu orang asing tapi kan orang tua Lanna akan menjadi mertuanya. Ya, meskipun itu hanya kamuflase belaka. Formalitas sebagai menantu sungguhan. “Oke, kapan?”
Lanna tidak menduga David akan mengatakan “Oke, kapan?” dia sendiri tidak tahu kapan akan ke Bandung. “Secepatnya.” Hanya kata itu yang meluncur dari kedua daun bibirnya.
“Besok?” David berkata seraya mengulurkan lehernya mendekati Lanna. “Siap?”
Tatapan mata David yang tajam seakan mengajaknya bertarung. Lanna berpikir pertarungan mungkin akan seru bila di atas ranjang akhirnya, Lanna menggeleng membuang pikiran m***m nan kotornya itu.
Kenapa pikiran aku malah ke situ-situ sih?
Ron datang dengan ajaib. Pria berambut merah ini tersenyum lebar. Menjabat tangan Lanna sambil berkata sesuatu yang menggombal. Lanna hanya tersenyum menanggapi gombalan Ron.
“Jadi masalah tidur bersama ini perlu dihapus?” tanya Ron.
“Dihapus!” kata Lanna tegas.
“Bagaimana David?”
“Ya kalau memang harus begitu. Hapus aja.” Katanya dengan ekspresi agak tidak rela.
“Hemm, baiklah aku bakal buat ulang nih berkas.” Dia memandang David kemudian Ke Lanna.
“Eh, tau enggak, tadi aku sama David main ke kantor Sarah.” Ron memulai dengan mata berkilat-kilat senang. Seperti ada misi tersembunyi. “Sarah dan David duaan di ruangannya coba, Lann.” Katanya dengan nada memanas-manasi.
Lanna menatap David yang balas menatapnya.
“Ya, itu urusan David.” Kata Lanna enggan berkomentar lebih jauh. Lanna tidak tahu kalau Ron sebenarnya berniat membuatnya cemburu.
“Di dalem ruangan mereka lama banget, Na. Aku nggak boleh masuk coba. Eh, kamu tau nggak kalau Sarah dan David itu pernah menjalin hubungan gitu lho.” Ron mengangkat kedua jari telunjuknya dan saling mengaitkan satu sama lain.
“Ron, apaan sih!” protes David.
Ron cekikikan.
Lanna hanya tersenyum masam menanggapi cerita Ron. Ya, dia kan sudah tahu kalau David pernah dekat dengan Sarah. Tapi, entah bagaimana hatinya mendadak tidak enak mendengar cerita Ron. Dia tidak sepenuhnya merasa lega karena masalah “tidur bersama” itu dihapus dari list kontrak. Sarah membuatnya agak khawatir. Bagaimana kalau David tiba-tiba memutuskan kontrak menikah dan memilih menikahi Sarah yang...
“Lanna,” seru Ron.
“Ah, ya,” Lanna terkesiap.
“Kamu kok diem?” tanya Ron mengamati wajah Lanna yang mendadak agak pucat.
“Enggak.” Lanna menggeleng.
“Cemburu ya!” Ron kembali menggoda Lanna. Hidup Ron itu penuh dengan tiga hal; jail, wanita, menggoda. Tapi dibalik itu semua, Ron sebenarnya baik. Tapi ya, dia memang edan.
Lanna melirik pada David untuk melihat ekpsresi calon suaminya itu. David hanya memasang wajah datar dengan tatapan mata menuju ke arah Lanna seakan ingin melihat kejujuran gadis itu. Apakah benar kata Ron kalau Lanna cemburu?
“Ron, besok aku akan ke Bandung sama Lanna buat ketemu orang tuanya Lanna. Kamu mau ikut?”
Dahi Ron mengerut. “Serius mau ngajak aku?” dia menunjuk hidungnya sendiri.
“Lho, kenapa?” tanya David tidak mengerti.
“Ya, orang tua Lanna kan maunya ketemu sama calon menantunya. Ngapain ngajak-ngajak aku?”
“Kan, kita belum muhrim.” Canda David.
Ron terbahak disusul tawa renyah Lanna.
David berniat serius untuk ke Bandung bertemu orang tua Lanna. Dia tidak ingin terlihat seperti pria yang hanya main-main meskipun, ya sebenarnya pernikahannya dengan Lanna pun main-main.
Dia siap menghadap orang tua Lanna. Berbincang dengan mereka meskipun David sebenarnya pria yang tidak suka berbincang dengan orang asing. Dan dia tidak terlalu mudah beradaptasi.
***
Kakek menyuruh Ramon menjemput Lanna dan menyuruh mereka berdua pergi ke toko yang menjual peralatan melukis. Lanna mengenakan atasan berwarna khaki dan celana jeans. Dia hanya mengenakan sling bag lokal dengan isi seadanya. Awalnya Lanna heran kenapa kakek menyuruh Ramon pergi bersama dirinya untuk membeli peralatan melukis. Ramon bilang, karena kakek percaya pada selera Lanna. Tapi dia tidak akan percaya pada selera cucu-cucunya. Lanna terbahak.
“Kakek lucu juga ya,” kata Lanna ketika mereka berdua menikmati caffelatte di sebuah kedai sederhana di pinggir jalan. Peralatan melukis kakek ada di mobil Ramon. Ramon sengaja mengajak Lanna ke kedai ini, dia ingin mengenal lebih jauh calon adik iparnya itu.
“Ya, begitulah. Nggak selucu pelawak Indonesia memang.” Ramon menyesap caffelatte-nya.
Lanna memperhatikan bulu mata Ramon yang lentik. Aneh ya, kenapa cowok seperti Ramon punya bulu mata selentik itu. Matanya juga bagus. Kenapa bulu mataku malah pendek? Gumamnya.
“Katanya David main ke rumah kamu di Bandung.”
Lanna mengangguk.
“Awas lho, Lann, nanti setiap hari David ke Bandung buat ngunjungin calon mertuanya.” Ramon tersenyum jail.
Dan Lanna terbahak karena membayangkan David main ke Bandung setiap hari. “Kak Ramon ini kalau nyeletuk suka ada-ada aja deh.”
“Kak Ramon menetap di Singapura ya? Berarti setelah pernikahan aku dan David, Kak Ramon dan kakek akan pergi ke Singapura lagi?”
“Iya, aku sih nggak menetap, Lann. Nomaden. Kalau kakek stay dimana aja bisa.”
Dahi Lanna berkerut. “Nomaden itu apa?”
“Pengembara. Orang yang hidupnya berpindah-pindah.”
Lanna mengangguk. “Itu bahasa Jerman, Lann.” Tambah Ramon.
“Kak Ramon tinggal di Jerman juga?”
“Nggak. Tapi pernah ke sana buat bisnis. Itu juga Cuma sebentar. Eh, tapi lumayan lama sih, dua bulan. Hahaha.”
“Berarti Kak Ramon pernah tinggal di Jerman kan? Kenapa jawabnya enggak sih.”
“Iya-iya.”
Hening beberapa saat.
Ramon diam-diam mencuri pandang pada Lanna yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan Ramon.
Lanna berbeda dari mantan istrinya. Lanna polos dan apa adanya. Dia juga melihat kesederhanaan yang ditampilkan Lanna. Kalau diingat-ingat dia terheran-heran kenapa dia bisa jatuh cinta pada Tiara dan abai terhadap cerita dari rekan-rekannya tentang keburukan Tiara dan masa lalu Tiara. Ya, semua karena cinta. Ramon menyadari bahwa cinta memang buta seakan-akan Tiara adalah wanita sempurna yang tidak memiliki celah apa pun. David beruntung mendapatkan Lanna.
“Sebenarnya aku heran kenapa kamu dan David bisa fall in love ya?” Ramon menatap Lanna. Yang ditatap wajahnya memerah dan agak kikuk seakan Ramon sedang menginterogasinya.
“Aku nggak tahu, Kak. Mungkin karena David—entah perasaan itu muncul gitu aja.”
“Oh ya?” Ramon menatap Lanna lekat seakan menelusuri ketidakberesan di sana.
Astaga... Lanna tidak pandai berbohong. Dia harus bilang apa? David tidak memberitahunya kalau ada yang mempertanyakan pertanyaan bagaimana bisa kalian berdua fall in love? Bagaimana bisaaa, Lannaaa?!
“Ya, Ramon—maksudku, Kak Ramon kenapa mempertanyakan itu sih.”
“Cuma penasaran aja. Tipe-tipe kaya kamu nggak mungkin bisa jatuh cinta sama David dalam waktu singkat. Ya, walaupun di luar sana banyak yang jatuh cinta sama David, tapi kita taulah David itu seperti apa. Dia menyebalkan memang, harus aku akui.”
“David beruntung kamu bisa jatuh cinta sama dia.”
“Bukannya aku yang beruntung bisa buat David jatuh cinta.” itu kalimat pernyataan. Lanna heran kenapa Ramon mengatakan bahwa David beruntung karena sebenarnya jelas dia yang beruntung mendapatkan David—meskipun hanya kebohongan belaka.
Ramon mengangkat bahu. “Hanya waktu yang dapat menjawabnya, Lann.” Ramon menyesap caffelattenya.
“Pulang yuk! Ntar kakek ngomel lagi. Pasti nanti dia bilang aku sengaja bawa kamu muter-muter.”
Lanna kembali terbahak.
Kenapa berada di dekat Ramon selalu membuatnya mudah tertawa?
***