“Aku sering membuat kesalahan saat masih muda, Lanna.”
Kakek membawa Lanna ke perpustakaan pribadinya. Bukan di ruangan bawah tanah melainkan di sebelah kamar Kakek. Perpustakaan itu didominasi warna merah dan rak-rak dari kayu berwarna cokelat muda. Kakek mulai mengoleksi buku sejak dia masih sekolah. Dia sangat menyukai buku-buku sama seperti menantunya dan Lanna. Di rak- rak ini ada sekitar dua ribu buku dari mulai buku sejarah hingga komik.
“Kesalahan yang paling fatal adalah kakek pernah meninggalkan seorang wanita. Itu sebelum Kakek bertemu nenek David.” Lanna menyimak dengan ekspresi serius. “Namanya Emma. Dia seorang penulis novel pada saat itu. Novel-novel percintaan. Dia tinggal di London dan aku di Oxford karena saat aku masih kuliah. Kakek tak pernah tahu bahwa dia sebenarnya sedang sakit. Emma tidak pernah cerita soal penyakitnya. Suatu kali dia mengirimiku surat agar aku datang ke London, tapi kakek masih punya banyak urusan. Bukan hanya soal kuliah tapi juga soal bisnis. Kakek mengabaikannya dan esoknya kakek mendapat kabar kematiannya. Dan kakek baru menyadari kalau Emma saat itu sedang sekarat dan dia ingin bertemu kakek untuk terakhir kalinya. Kakek sangat menyesal dan terpukul saat itu karena lebih mengutamakan kuliah dan bisnis dibandingkan orang yang sangat kakek sayangi.”
Ada kesedihan mendalam di mata kakek yang membuat Lanna ikut larut dalam sedih. Dia seakan merasakan apa yang dirasakan kakek. Kehilangan orang yang disayangi memang berat. Sangat berat.
“Kamu jangan ikutan sedih begitu dong!” Kakek memperhatikan Lanna baik-baik. “Kamu nangis, Lann?”
Tanpa sadar kedua mata Lanna berkaca-kaca. “Hah,” bahkan dirinya sendiri tidak menyadari bahwa dirinya sedang menangis. Lanna mengusap air mata yang belum sepenuhnya jatuh di pipinya. “Nggak Lanna... Cuma sedih aja, Kek.”
“Hahaha,” Kakek terbahak. “Yaudah sekarang Kakek cerita soal petualangan Kakek saja ya.”
“Kamu jangan nangis.”
“Hehe, iya, Kek. Lanna nggak nangis.” Lalu Kakek mengelus-elus kepala Lanna. Lanna merasakan kasih sayang yang tulus dari kakek. Dan sejak itu Lanna menyayangi kakek seperti kakeknya sendiri.
“Dulu, Kakek ingin sekali bekerja sebagai penulis buku seperti Emma. Dari Emmalah Kakek jadi menyukai buku berbagai genre dari sejarah, politik hingga novel percintaan—“
“Katanya mau cerita soal petualangan malah balik lagi cerita soal Emma,” celetuk Ramon yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dari balik pintu perpustakaan yang tidak ditutup.
“Ramon!” pekik kakek sebal. Ramon hanya tertawa kecil.
Ramon berjalan mendekati mereka diikuti Elsha dari belakang. Ramon dan Elsha bergabung dengan kakek dan Lanna.
“Ayo, Kek, ceritakan soal percintaan kakek dengan nenek dong. Lanna perlu tahu sejarah lahirnya Papah.”
“Wah... wah... wah... cucuku ini memang kurang aja ya.” Kakek menatap protes Ramon, yang ditatap malah terkikik geli.
Perbincangan berlanjut seru karena Ramon selalu saja menyahut dan bercanda. Lanna senang karena merasa diterima dengan baik di keluarga kaya ini. Dia tidak menyangka keluarga sekaya ini bisa begitu mudah akrab dengan orang asing meskipun sebentar lagi Lanna akan menjadi bagian dari keluarga ini. Ini sangat menyenangkan hingga Lanna mengingat David dan nikah kontrak yang akan dijalaninya. Betapa jahatnya dia membohongi keluarga sebaik ini. Dan David lebih jahat karena tega membohongi keluarganya sendiri. Keluarga yang begitu penyayang.
***
Perempuan jalang sepanjang masa itu menatap David sebal. Bola matanya yang dihiasi softlens biru muda ditambah rambut ikal pirang yang menegaskan bahwa dia ingin bertransformasi menjadi wanita bule. “David,” gerutunya.
David menelpon Kirana berkali-kali karena samapi saat ini dia belum mendapatkan sekretaris jadi Kirana mendapatkan dua pekerjaan yaitu sebagai sekretaris David dan juga akuntan sekaligus auditor. Malang sekali nasib Kirana. Harusnya dia dapet gaji tripple. Sayang, telepon ke lima kali tidak diangkat Kirana.
“Aku nggak punya urusan sama kamu, Nit.” Kata David mencoba senormal mungkin. Dia ingin sekali lenyap jika berhadapan dengan perempuan jalang sepanjang masa itu.
“Kamu pacar aku.” David tidak pernah menyukai perilaku histeris Anita. Sejak kapan dia dan Anita berpacaran? Jelas sudah bahwa perempuan ini butuh psikiater.
David dan Anita bertemu pertama kali pada Desember 2018 saat David menghadiri acara ulang tahun salah satu sahabatnya. David datang bersama Ramon. Karena kesuksesaannya sebagai cucu konglomerat, Anita mendatangi David dan mulai berkenalan. Awalnya David mengira Anita bukan wanita sinting hingga perkenalan itu membawanya pada sebuah petaka. Anita mengarang kalau David jatuh cinta padanya pada teman-temannya. Dengan cepat gosip menyebar bahwa David pernah tidur dengan Anita padahal faktanya wanita itu yang terus-terusan meminta sekadar kencan tapi David selalu menolak hingga Anita mengaku-ngaku hamil. Anita benar-benar petaka.
“Anita, harus berapa kali aku bilang aku nggak cinta sama kamu. Kita nggak pernah pacaraan. Jangan halusinasi, deh.” Ada emosi dalam nada suara David.
“David!” pekik Anita.
Pintu terbuka, Kirana muncul. Dia membenarkan letak kacamatanya. Dia tahu David membutuhkan bantuannya setelah seorang karyawan bilang Anita datang. “Ma’af , Bos, tadi saya lagi—pup.” Kata Kirana dengan wajah geli.
David menatap Kirana kemudian mengalihkan tatapannya ke Anita seakan berkata, “beresin dia.”
Kirana mengangguk.
“Mbak Anita—“ dia berkata dengan ekspresi dan suara galak. Anita tersentak oleh suara galak Kirana. “Pak David ini akan menikah dengan sepupu saya. Alangkah lebih baiknya Anda sadar bahwa Pak David nggak menginginkan Anda. Lebih baik Anda pergi.” Sebelah tangan Anita terulur menunjuk ke pintu keluar kantor.
Pupil Anita melebar. Dia angkat p****t dan menatap Kirana dengan tatapan menantang. “Kurang ajar, siapa kamu berani sekali kamu bicara kasar begitu?!” balas Anita tak kalah sengit.
“Bos, telepon sekuriti aja, deh.” Kata Kirana belum siap mendapatkan terkaman dari perempuan jalang sepanjang masa ini.
“Apa-apaan kamu, hah?!” dia mendorong Kirana.
“Hei!” bentak David. “Aku nggak suka kamu mendorong pegawai.” Wajahnya memerah karena tingkah kurang ajar Anita.
Anita bergeming sesaat sebelum melesat pergi dengan wajah kesal.
“Wanita sinting!” gerutu Kirana. “Saya nggak mau berurusan dengan wanita kaya Anita, Pak.” Keluh Kirana.
“Gimana ya caranya biar dia sadar?” David bertanya dengan sedih. Sedih karena sampai saat ini belum menemukan cara tepat untuk melenyapkan Anita.
***