Lanna menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Inti dari kertas yang diberikan Ron adalah Lanna harus menuruti keinginan David termasuk—tidur bersama.
Keterlaluan!
Dia bilang tidur bersama tidak ada dalam kontrak.
Kirana keluar kamar seraya menguap. Dia mengamati sahabat sekaligus sepupunya itu dengan tatapan yang seolah Lanna adalah seekor kucing berkepala manusia. Agak mengerikan memang tapi Kirana menyukai hal-hal unik.
“Kenapa kamu, Lann?” tanyanya, mengambil sebuah biskuit rasa keju di meja kayu dan menggigitnya dengan perasaan senang.
“Ini peraturan yang harus aku turuti dari David.” Lanna memberikan berkas itu ke Kirana. Kirana mengambilnya dan membacanya dengan seksama.
Kirana menampilkan berbagai ekspresi saat membaca syarat demi syarat. Kadang pupilnya melebar kadang mengecil. Kadang wajahnya tampak antusias kadang tampak sangat sedih. “Dan setiap pertemuan keluarga kamu harus mengenakan gaun di atas harga seratus juta. Uwow!” Kirana menatap Lanna takjub. “Gaunku paling mahal Cuma tiga ratus ribu rupiah.” Katanya inferior.
Lanna tidak berkomentar. Agaknya Lanna cukup senang kalau dia akan mengoleksi gaun berharga ratusan juta tapi tetap saja dia masih tidak terima soal ‘tidur bersama’.
“David dan Lanna boleh tidur bersama asal berdasarkan kemauan dari kedua belah pihak.” Kirana tersenyum dan senyumnya makin lebar ketika menatap Lanna. Matanya mengkilat-kilat menggoda.
“David bilang tidak ada ‘tidur bersama’ dalam kontrak.” Lanna terduduk dengan ekspresi sebal. Kirana masih memandanginya dengan senyum lebar.
“Kir!” pekiknya kesal melihat ekspresi Kirana.
“Ayolah, tidur bersama itu suatu kewajiban bagi pasangan suami istri.”
Dahi Lanna mengernyit heran. “Aku dan David hanya nikah kontrak. Nggak lebih.”
“Oh, iyaya.” Kirana menepak jidatnya. Dia kembali menggigit biskuit rasa keju.
“Aku harus menelpon David.” Ujar Lanna dengan tekad.
“Jangan, kamu ajak ketemuan David aja. Nggak usah telepon. Chat aja dulu baru ketemuan.”
Lanna menatap Kirana beberapa saat kemudian bertanya, “Kenapa?” dengan sebelah alis melengkung.
“Lebih enak didiskusikan saat ketemu, Lann.” Kirana mengangguk-ngangguk seraya menggigit biskuit rasa kejunya. Menyadari tatapan Lanna beralih ke biskuitnya, Kirana mengangkat tangannya yang menggenggam biskuit bekas gigitannya dan berkata, “Mau?”
Lanna menggeleng.
Lanna kembali fokus pada kertas-kertas pemberian Ron seraya bertanya-tanya kenapa Ron bilang tikus menggigit rambutnya, mencari kutu di rambutnya... dia merasa tidak pernah sekalipun bercerita soal itu dan lagian tidak pernah ada tikus yang menggigit rambutnya. Tidak ada. Apa mungkin si Ron ini mengarang. Lalu tujuannya apa kalau dia mengarang begitu? Atau mungkin si David memang menceritakan soal dirinya seperti itu?
“Lann, Om sama Tante udah dikasih tau belum kamu mau nikah?”
Seketika pupil Lanna melebar. Dia menatap Kirana cepat-cepat. “Belum...”
“Astaga, kamu udah ketemu calon mertua tapi masih belum aja ngasih tau orang tua. Durhaka kamu, Lann.” Kata Kirana dengan ekspresi dramatis.
“Lupa,” Lanna merasa bersalah.
“Yaudah sekarang telepon om dan tante.”
“Bantuin aku ngomong ya,” Lanna memohon.
Kirana mengangguk.
Awalnya orang tua Lanna terkejut dan nyaris panik takut kalau Lanna menikah karena alasan sudah mengandung janin, tapi Lanna meyakini orang tuanya kalau dia menikah karena murni cinta. Ya, Lanna berdusta. Tapi apa boleh buat, kalau dia tidak berdusta pernikahannya dengan David tidak akan disetujui orang tuanya. Nikah kontrak itu jelas merugikan pihak wanita.
“Kamu tuh ya, Lann, niatnya ke Jakarta nyari pekerjaan malah dapet jodoh.”
“Hehe, iya, Mah. Lanna juga nggak tahu kalau ternyata jodoh Lanna itu bos Lanna.” Meskipun suara Lanna terdengar ceria tapi dia agak sanksi. Dia bersalah karena harus membohongi orang tuanya.
“Yaudah, nanti ajak calon suamimu ke Bandung ya. Mamah pengen liat dia kaya gimana.”
Lanna menatap Kirana dengan tatapan meminta bantuan. Bantuan atas keinginan mamahnya untuk melihat David. Kirana yang sedari tadi berada di samping Lanna dan menguping setiap pembicaraan Lanna dengan Mamahnya mengangguk seraya berkata tanpa suara ‘iya’.
Awalnya Lanna ragu namun desakkan dari Kirana untuk berkata ‘iya’ membuatnya akhirnya mengatakan ’iya’ pada mamah.
Setelah telepon dimatikan, Lanna kembali menatap kertas perjanjian antara dia dan David yang sampai sekarang belum ditanda tangani.
“Kertas kutukan.” Ucap Lanna dengan ekspresi sengit dan nada suara tegas hingga membuat Kirana merinding dan menghabiskan sisa biskuit terakhirnya.
***
Lanna duduk di sofa empuk milik keluarga David. Dia berniat bertemu David tapi malah disuruh ke rumah oleh Kakek David. Lanna mengenakan stelan rok span abu-abu dan baju putih polos bahan balotelly. Dia agak bingung harus mengenakan baju seperti apa kalau mau ke rumah keluarga David. Lanna selalu takut penampilannya dinilai jelek. Dia hanya ingin menampilkan yang terbaik sebisanya agar layak mendampingi David. Entah kenapa dia akhir-akhir ini merasa mementingkan penampilan dan penilaian orang lain terhadap dirinya.
“Halo, Lanna,” sapa Ramon—kakak David. Dia menggendong seekor kucing persia berwarna putih. Kucing itu sangat gemuk hingga membuat Lanna gemas. Hidung peseknya tampak lucu.
“Halo, Kak,” Lanna balik menyapa dengan senyum ramah tamahnya. Ramon tersenyum dan senyuman itu menghipnotisnya. Senyuman paling manis yang pernah Lanna lihat dari seorang pria.
Ramon duduk sambil mengelus-elus kucingnya. “Kucingnya lucu, Kak.” Puji Lanna memandangi kucing yang balik menatapnya. Sepertinya kucing itu betina. Kucing berbulu putih itu menatap Lanna dengan tatapan tidak suka seakan Lanna akan merebut majikannya.
“Namanya Princess Elsha.” Kata Ramon menatap sayang kucingnya.
Lanna tertawa kecil. “Siapa yang memberi nama?”
“David.”
“Hah?” Lanna mengatakan ‘hah’ dengan nyaring. Mengejutkan bagi Lanna David memberi nama sebuah kucing betina dengan nama tokoh kartun disney.
“Iya, David. Ini kan kucingnya David.” Ramon tersenyum lebar. “Dia nggak pernah cerita soal Elsha?” Ramon menatap curiga Lanna.
Untuk sesaat Lanna berharap dirinya ditelan bumi. Ya Tuhan, David tidak pernah cerita soal kucing. Calon suaminya tidak pernah memberitahunya soal kucing bernama Princess Elsha itu.
“Aku lupa sepertinya,” ujar Lanna ragu.
“Mamah dan Papah lagi ada acara sama kolega Papah. Kakek—“ jeda sejenak, Ramon melihat sekeliling untuk memastikan kakeknya belum muncul. “Dia lagi ritual.” Kata Ramon sok misterius.
“Ritual apa?” dahi Lanna mengernyit.
“Membaca buku di perpustakaan bawah tanah.”
Seketika mata Lanna berkilat takjub. “Ada perpustakaan bawah tanah di rumah ini?”
“Ya, di kamar kakek.” Ramon meyakinkan.
“Jadi ritual kakek itu membaca buku?”
“Ya, setiap pagi, siang, sore dan malam.”
“Membaca buku terus?”
“Ya, sampai aku kasihan sama buku-buku yang dibaca kakek pasti sangat menderita.”
Lanna terbahak.
“Aku bercanda. Kakek masih tidur sepertinya. Tapi dia menyuruh kamu datang ke sini ya?”
“Iya, David bilang Kakek nyuruh aku ke sini.”
“Aku ajak kamu main ke belakang aja yuk.” Ajak Ramon dan Lanna menyetujui.
Mereka bertiga duduk di bangku besi warna biru muda di belakang rumah. Menikmati pemandangan taman mini. Elsha turun dan bermain-main dengan kupu-kupu yang beterbangan di atas bunga kambodja. Ramon dan Lanna terdiam beberapa saat. Tidak ada yang memulai perbincangan tapi kediaman itu entah bagaimana membuat keduanya nyaman. Mereka seakan menikmati suasana di belakang rumah. Damai dan menenangkan. Ada banyak bunga, tanaman, kupu-kupu dan kelucuan Elsha yang bermain dengan kupu-kupu. Kucing itu tampak menggemaskan dengan tubuhnya yang gempal.
Pasti David sangat mengurusi kucingnya. Pikir Lanna.
Lanna tahu, David dan Ramon berbeda dari segi fisik maupun kepribadian. Ramon berwajah Asia natural tapi David berwajah Eropa dengan hidung mancung dan warna mata kecokelatan. David tidak pernah menceritakan soal Ramon yang adalah kakak dari ibu yang berbeda.
“Mamahku sangat suka bunga.” Ujar Ramon akhirnya. Lanna menoleh, Ramon balik menoleh. “Kamu pasti udah tahu kan kalau David dan aku beda ibu.”
Lanna tidak tahu tapi Lanna memilih pura-pura tahu. Dia mengangguk.
“Mamahku itu pecinta segala jenis bunga. Sayangnya sepeninggal Mamah taman kecil ini nggak terurus. Ibu David lebih suka mengoleksi buku-buku dibandingkan bunga. Dan ketika kami kecil dulu, Mamah—panggilan aku kepada ibu David, sibuk mengurusi kami sehingga buku-bukunya nggak keurus apalagi taman ini.”
Lanna hanya menyimak tanpa berniat menginterupsi.
“Aku kembali lagi dan mencoba memperbaiki taman ini dan melenyapkan rumput-rumput sialan itu.”
“Aku suka bunga dan buku. Aku suka keduanya. Aku sangat suka bunga lavender.”
“Masa?” Ramon bertanya dengan tatapan jail.
“Iya, Kak. Aku suka buku, kopi, lavender, es krim.” Lanna tersenyum semangat. Apa pun yang menyangkut buku, kopi, lavender, es krim membuatnya selalu semangat.
“Tapi di antara buku, kopi, lavender, es krim, kamu lebih suka David kan?”
Lanna kembali tersenyum. “Emm, tentu saja.” Dia menjawab dengan ekspresi malu-malu.
Ramon benar-benar berbeda dengan David. David tipikal pria yang arogan, dingin, penyuruh, selalu jaga jarak tapi dengan Ramon dia merasa akrab. Ramon menyenangkan. Dia memiliki selera humor yang baik dan Lanna menyukai karakter Ramon.
Elsha kembali dan menempel-nempelkan pipinya pada betis Ramon. Dia tampak lelah karena kupu-kupu incarannya selalu terbang-terbang sedangkan dia tidak bisa terbang. Elsha menatap Lanna seraya mengeyong lalu dia mendekati kaki Lanna dan menempelkan pipinya pada kaki Lanna. Lanna cukup terkejut tapi dia senang. Elsha menerimanya sebagai anggota keluarga David.
Lanna mengangkat Elsha dan menggendong kucing persia itu di dadanya. Dia menempelkan pipinya pada Elsha dan Elsha tampak menikmati sentuhan pipi Lanna. Ramon memperhatikan Lanna dan Elsha secara bergantian dan tanpa sadar dia tersenyum.
“Kalian di sini,” suara kakek membuat keduanya terkesiap. “Wah, Lanna ikut aku dan tolong jangan bawa Elsha dia akan menggangguku.”
Lanna menatap Elsha dan Elsha mengeyong.
“Aku boleh ikut, Kek?” tanya Ramon.
“Nggak!” Kakek pergi disusul Lanna.
“Kamu yang sabar ya, Lann, Kakek pasti akan cerita banyak soal masa mudanya.” Kata Ramon yang membuat Lanna bergeming.
Jadi, aku ke sini hanya untuk mendengarkan cerita masa muda Kakek David, hemm.
***