Awal bulan November, Jakarta mulai diguyur air hujan. David dan Lanna duduk di sebuah kafe berkonsep retro. Mereka duduk di dekat jendela hingga sesekali Lanna menatap jendela untuk melihat air hujan yang turun.
“Enak juga minum caffe latte sambil menatap hujan.” Gumam Lanna ketika hening menggelayuti keduanya. David sibuk dengan ponselnya dan Lanna sibuk dengan air hujan.
Lagu Dusk Till Dawn versi seorang cewek bersuara lembut menggema di dalam kafe. Tanpa sadar Lanna menggerak-gerakkan kakinya mengikuti irama lagu. Lalu menyesap caffe latte dan kembali menatap air hujan lewat jendela.
“Jadi kamu mau konsep pernikahannya bagaimana? Tadi Mamah nanyain.” Kata David tanpa menatap Lanna. Lanna agak kesal. Dia merasa tidak dianggap. Bertanya tapi tidak menatapnya sama sekali. Benar-benar pria menyebalkan.
“Konsep pernikahan Rustic sepertinya menarik. Warna-warna pastel disertai motif-motif bunga apalagi bunga Lavender. Kalau konsep pernikahan dengan konsep Rustic sepertinya mirip konsep vintage ya? Apa campuran aja antara Rustic dan vintage?” entah kenapa meskipun David terus menatap layar ponselnya, Lanna begitu terlihat antusias membicarakan soal konsep pernikahan.
“Kalau Mamah sih terserah kamu, Cuma mamah lebih suka konsep klasik atau pantai.”
Bibir Lanna mengerucut. “Tadi nanyain mau konsep pernikahan seperti apa pas dijawab mamah bilang lebih suka konsep klasik atau pantai. Yasudah terserah ajalah.” Katanya dengan nada dan ekspresi kesal. Toh, David tidak melirik sekalipun padanya.
“Yaudah nanti kamu bicarakan sama mamah dan Sarah biar gaunnya sesuai konsep pernikahan.”
“Tapi tadi aku sudah memesan gaunnya. Sarah juga nggak nanya soal konsep pernikahannya kok.”
“Yaudah, nggak papa.” Ujar David acuh tak acuh.
Kalau saja Lanna boleh berteriak dia pasti akan meneriaki David dengan kalimat, “Woiiii, lihat ke sini. Kamu tuh ngobrol sama manusia bukan sama tembok!”
“Nanti ada temen aku ke sini, dia bawa berkas yang mesti kamu tanda tangani. Di situ ada banyak hal yang perlu kamu pahami.” David meletakkan ponselnya dan menatap Lanna. “Aku mau bilang makasih kamu udah mau jadi bagian dalam drama konyol ini.”
“Ya, sama-sama.” Ucap Lanna formal. “Aku harap kamu nggak berpikir aku menerima tawaran ini karena uang yang kamu tawarkan tapi karena aku ingin membantumu. Meskipun nggak sepenuhnya, sisanya ya karena uang yang kamu tawarkan.” Kata Lanna jujur.
David tersenyum. Dia mengapresiasi kejujuran dan kepolosan Lanna. Ya, tidak salah dia memilih Lanna dibandingkan harus menikahi Anita atau wanita-wanita lainnya yang belum tentu sejujur dan sepolos Lanna.
“Kita partner dalam drama ini dan kamu harus menuruti perintahku.” David mengulurkan tangan. Lanna mengernyit.
“Nggak sepenuhnya perintahmu aku turuti.” Lanna tersenyum palsu. “Aku nggak harus menuruti semua perintahmu apalagi kalau harus tidur bersama.” Dia mengabaikan tangan David.
David menarik tangannya. “Oke, tidur bersama nggak ada dalam kontrak. Kamu akan membaca peraturannya nanti. Mungkin lebih baik kamu mempelajari semuanya dan baru kita diskusikan kalau ada yang nggak kamu setujui.”
Lanna hanya terdiam. Dia mencoba menimbang-nimbang. Bayangan hidup serumah dengan David yang setiap berbicara tidak menatapnya dan mengabaikannya membuatnya begidik ngeri.
“Kenapa?” tanya David dengan alis berkerut ngeri.
“Nggak. Dingin aja.” Lanna nyengir.
“Hai, Bro!” seru pria bertampang m***m dengan rambut merah cerah. Lanna menatapnya tanpa berkedip. Pria itu mengenakan kaos hitam sweater warna merah, sepatu merah, tas warna merah dan celana hitam. Pengagum warna merah, gumam Lanna.
Setelah menyapa David, pria itu duduk, dia mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Oh iya, ini, Lanna. Calon istri.” Kata David. Lanna dan pria berambut merah saling berjabat tangan. Pria itu nyengir lama hingga membuat Lanna kembali begidik ngeri. Astaga... tangan pria itu menjabat erat dan enggan melepaskan. Lanna berusaha melepaskan tangannya tanpa menyinggung si pria dan pupilnya melebar seakan melihat kucing yang sedang bercinta di kamarnya.
“Ini calon istri David. Manis juga. Wah, David sudah cerita banyak lho soal kamu. Dan cerita – cerita soal kamu lucu semua.” Dia berkata tanpa mau melepaskan genggaman tangannya pada Lanna. Lanna mengernyit dan menatap David dengan mata memelotot meminta David untuk membantunya.
“Ekhem,” David berdeham dan si pria berambut merah tersadar kalau tangannya masih menggenggam tangan Lanna.
“Ya ampun, aku suka lupa kalau berjabat tangan dengan wanita cantik.” Akhirnya si pria berambut merah melepaskan jabatan tangannya.
Lanna bernapas lega.
“Ron ini memang begitu orangnya. Maklumin ya,” David berkata seakan kalimat itu adalah permintaan ma’af tidak langsung.
“Oh, nggak papa.” Lanna nyengir lebar. Dia mencoba memaklumi pria berambut merah ini.
“David pernah cerita katanya kamu waktu tidur pernah digigit tikus ya rambutnya. Sebenarnya bukan digigit tapi lebih ke mencari kutu di rambut kamu, ya kan? Hahaha,” pria itu terkekeh-kekeh. Lanna mengernyit bingung. Agak ketakutan tersebab tawa Ron mirip raungan serigala.
David tampak merasa bersalah, Ron jelas mengarang bebas. David tak pernah tahu soal itu dan dia tidak pernah menceritakan hal-hal konyol soal Lanna.
“Ron,” David menyikut Ron dan menyuruhnya diam lewat tatapan matanya.
“Ma’af. Tapi serius lho itu ceritanya kocak abis.”
Lanna menimbang-nimbang dan merasa ada yang salah dengan pria berambut merah ini atau si Ron ini. Dia agak edan. Atau mungkin memang otaknya kurang memenuhi standar nasional. Lanna memilih menggaruk tangannya yang tidak gatal.
“Kamu tahu nggak kalau si David ini mantannya cantik-cantik luar biasa. Kamu beruntung, Lann, jadi calon istrinya David. Ya, meskipun bukan pure soal cinta tapi ya keren jugalah. Jadi istri David itu keinginan 85% wanita Indonesia, 15%-nya berkeinginan untuk jadi istri aku. Hahaha,” dia kembali terbahak.
David menggaruk jidatnya seakan lelah. “Makan apa sih Ron ini kenapa dia jadi tambah edan begini?” gumamnya kesal.
“Oke, kita ke permasalahannya ya. Ini buat kamu. Silakan dibaca dan ditanda tangani.” Ron memberikan sebuah map yang berisi tiga kertas. “Nanti tanda tangan di sini.” Ron menunjuk letak yang harus ditanda tangani Lanna, tertera nama di sana ‘Lanna’.
Lanna menatap David. “Kamu pelajari dulu di rumah. Aku dan Ron ada perlu.” Kata David seraya bangkit, Ron melambaikan tangan pada Lanna dan kembali mengingatkan Lanna untuk tanda tangan seakan Lanna adalah seorang i***t yang perlu diingatkan harus tanda tangan dimana.
***
“Apa-apaan, sih, kamu ngomong soal rambut Lanna digigit tikus, tikus nyari kutu...” omel David tidak mengerti dengan isi otak sahabatnya itu.
“Buat mencairkan suasana aja, Vid.” Kata Ron membela diri. Entahlah. Dia juga tidak paham kenapa dia melontarkan lelucon konyol seperti itu. Tapi ya, muka Lanna memang lucu dan Ron senang melihat ekspresi wajah Lanna yang ketakutan sekaligus ngeri. Itu semacam hiburan bagi Ron mengingat kata David, Lanna adalah gadis polos.
David menatap Ron sekilas lalu kembali fokus mengendarai mobilnya.
“Ngomong-ngomong Lanna cakep juga.” Celetuk Ron yang menuai tatapan tajam dari David.
“Dia calon istriku, jangan macem-macem.” Ancam David. Ron mengindikasikan ada kecemburuan dari ancaman David. Dan dia suka menggoda David.
“Lagian kalian nikah kontrak ini, nggak papakan nanti Lanna aku deketin.” Godanya.
“Dibilangin jangan macem-macem.”
“Cemburu ya?” Ron mengerlingkan mata jail. David menatap galak Ron.
“Enggaklah. Cuma ya, dia kan calon istri aku masa kamu mau nikung.”
“Kan, kalian nggak saling cinta.”
“Ya, tetap saja Ronda. Pokoknya jangan!”
Ron agak sebal ketika David memanggilnya ‘Ronda’, jadi karena Ron tidak ingin mendengar kata ‘Ronda’. Ron memilih diam.
Mereka berniat mendatangi kantor Sarah. Kemarin Sarah menelpon David dan meminta David datang ke kantornya. David berniat mengajak Lanna karena mengira Sarah akan membicarakan soal gaun Lanna. Akan tetapi Sarah meminta agar David tidak membawa Lanna. Dan David menurutinya.
Sesampainya mereka di kantor Sarah, Ron memilih menepi dengan menggoda karyawan-karyawan Sarah, membiarkan David dan Sarah berbicara empat mata. Ron menduga Sarah menyesal karena menolak David. Menolak keseriusan dan komitmen David, tentu saja dia menyesal. Tidak semua pria seperti David. Dan Ron tentulah jauh berbeda dengan David.
David dan Sarah duduk dalam hening yang manis sekaligus menegangkan. Mereka ada di dalam ruangan Sarah yang dingin. Sarah tersenyum manis sekaligus miris sebelum memulai perbincangannya dengan David.
“Ma’af mengganggu waktumu.”
“Enggak kok,” ujar David.
“Aku ikut senang kamu akan segera menikah, meskipun pernikahan ini agaknya terburu-buru dan mengejutkan.”
David menatap mata hazel Sarah. Dia mengerjap untuk memusnahkan keinginan bahwa dia sebenarnya ingin mempersunting Sarah bukan Lanna.
“Apa kamu benar-benar mencintainya, David?” Sarah bertanya hati-hati. Dia menatap lekat pria yang pernah menyatakan perasaannya itu.
David menatap Lanna dengan tatapan yang mengatakan ‘tidak’ tetapi bibirnya malah berkata, “Ya, aku mencintainya. Untuk itu aku menikah dengannya.” Lalu dia menyesali pernyataan dustanya itu.
d**a Sarah terasa sesak. Dia berusaha agar tampak datar. Tidak sedih. Tidak kecewa. Dan tidak ingin menangis. “Secepat itu kamu melupakan aku?”
Itu sejenis pertanyaan yang menyudutkan bagi David dan David tidak menyukainya. Itu masalah pribadi. Perlukah dia jujur kepada Sarah bahwa dia dan Lanna hanya menikah kontrak tanpa cinta. Pantaskah Sarah mengetahui perasaannya saat ini setelah penolakan menyakitkan itu. Setelah kebersamaan bersamanya selama ini dan ternyata Sarah hanya menganggap David sebagai temannya saja.
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
Sarah mendesis. “Aku tidak tahu kenapa aku merasa...” dia menghela napas perlahan dan dalam. “Merasa... menginginkanmu.”
“Bro!” pekik Ron yang datang mengejutkan. Bahkan pria edan itu tidak mengetuk pintu kaca Sarah terlebih dahulu.
Sarah dan David terkejut hingga bergeming beberapa saat setelah kedatangan Ron.
“Kita pulang yuk!” ajaknya. “Sebel karyawan di sini sok jual mahal semua.” Ron menatap Sarah. “Mirip bosnya.” Lalu dia cekikikan. Sarah tersenyum tapi David memilih bungkam dan pamit pulang.
Selepas kepergian David, Salah tertegun. Antara menyesal dan lega setelah pernyataan itu keluar dari kedua daun bibirnya yang dihiasi gincu warna merah segar.
***
“Kenapa diem aja sih?” celetuk Ron melihat David muram tak b*******h.
“Nggak papa.” Ujarnya sedatar mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Ron.
Ron menatap lama David seakan mencoba menelusuri sesuatu di wajah David. David yang merasa terus ditatap Ron balik menatap sekilas karena sembari mengendarai mobilnya David tidak bisa berlama-lama menatap Ron. Saat tatapan David melayang kepadanya, Ron buang muka. David kembali menatap jalanan di depan dan Ron kembali menatapnya dalam diam. David balik menatap seraya berkata, “Kenapa sih?”
Ron menggeleng. “Aneh aja setelah ketemu Sarah kamu kaya orang stres gitu.” Ron memandang David ironi. Seakan David adalah pinguin yang terpisah dari kawanannya.
“Enggak, biasa aja. Jangan berlebihan deh.”
Telepon David berdering. Tertera nama di layar ‘Anita Sinting’. David berniat mematikan teleponnya tapi Ron yang tahu kalau itu panggilan dari Anita langsung mengambil ponsel David dan mengangkatnya.
“David! Kamu apa-apaan sih, katanya kamu mau menikah dengan sekretaris kamu yang t***l itu?! Aku hamil nih, anak kamu...”
Ron langsung mematikan teleponnya. Wajahnya ngeri. Suara Anita begitu memekakan telinganya. Suara cempreng dengan nada tinggi itu mungkin bagus kalau diiringi dengan bunyi khas terompet tahun baru.
“Kenapa?” David tidak tahan untuk tidak tersenyum.
“Dia hamil anak kamu.”
David tersenyum tipis sekaligus miris. “Ganas banget tuh orang. Dasar gila!” gerutunya. “Cocok deh sama kamu, Ron.”
Ron kembali begidik. “Aku nggak bakal kuat, Vid, sama cewek macam itu. Tapi, ngomong-ngomong kamu sebenarnya udah pernah tidur belum sih sama si Anita ini?” Ron bertanya dengan ekspresi serius. Bersiap menyimak setiap patah kata yang keluar dari mulut David.
“Kalau aku tidur dengan Anita pasti sekarang dia ngancem aku pake foto telanjang aku atau video m***m yang dibuatnya secara diem-diem.”
Ron hanya mendecakkan lidah dan merasa bersyukur David tidak sebodoh itu dengan tidur dengan wanita sesinting itu. “Tapi kalau tidur dengan Lanna mau, kan?” tanyanya dengan kerlingan mata jail.
David hanya tersenyum sinis menanggapi ocehan gila sahabatnya itu.
“Vid, yakin Lanna bakal dijadiin istri kamu?”
“Kenapa?” David menoleh sekilas pada Ron.
“Lanna bakal jadi sasaran Darell.”
Hening.
“Demi Sarah.” Ucapnya agak ragu. David menggeleng. “Aku akan menjaga Lanna kok. Dia pasti aman. Darell nggak akan bisa melakukan apa pun.”
Ron hanya mengangguk. Dia tahu semua tidak semudah seperti yang diucapkan David.
“Kenapa nggak si Anita aja sih, Vid?”
David terbahak. “Maunya sih gitu, tapi Anita malah bikin hidup aku makin rusuh.”
***