Sarah kembali dengan membawa dua cangkir kopi. Dia tersenyum ketika Lanna mendongak menatapnya. Lanna balas tersenyum. Sepertinya Sarah tidak seperti yang dikatakan Kirana. Mungkin anak itu terpengaruh oleh omongan orang-orang yang tidak menyukai Sarah karena Sarah adalah wanita yang diinginkan David. Sekarang, tentu saja wanita yang dibenci banyak kaum hawa yang mengenal David adalah Lanna karena jelas dia akan menyandang status sebagai Nyonya David.
“Kamu mau gaun yang bagaimana? Aku bisa menggambarnya.” Lanna melihat kertas dan pensil tergeletak di atas meja sebelum Sarah duduk di salah satu kursi.
“Aku suka rancanganmu yang ini?” Lanna menunjuk satu gaun yang dikenakan seorang putri jenderal. Gaun pengantin berwarna putih polos dengan kerah boat polos.
Sarah menatap gaun yang ditunjuk Lanna. Ya, itu adalah salah satu gaun favorit Sarah. Gaun yang sederhana dan tidak neko-neko. Sarah pernah membayangkan kalau dirinya mengenakan gaun itu ketika putri jenderal menikah dengan seorang pejabat negara. Betapa gaun yang sederhana itu berhasil membius ribuan mata yang menatapnya.
“Nggak banyak variasi tapi sangat cantik.” Puji Lanna.
“Ya, sangat cantik.” Sarah menoleh dan tersenyum pada Lanna.
Kirana salah menilai Sarah. Gumam Lanna.
“Aku dengar kalian akan menikah bulan depan. Sejujurnya, ini mendadak banget ya. Aku cukup kaget mengingat David nggak pernah cerita tentang kamu.”
Iyalah nggak pernah cerita, kan kenal juga baru semingguan. Huft!
“Memang kamu sedekat apa dengan David?” entah kenapa Lanna malah meluncurkan pertanyaan sentimen kepada Sarah hingga senyum Sarah lenyap. Dan Lanna menyesali pertanyaannya. “Ma’af-ma’af bukan maksud saya bertanya yang enggak-enggak. Saya Cuma—“
“Nggak papa. Saya dan David hanya teman biasa.” Sarah tersenyum tipis. Ada kecanggungan di antara keduanya.
“Ngopi dulu.” Sarah mencoba memperbaiki suasana.
Mereka menyesap kopinya masing-masing.
“Saya akan membuat gaun yang baru untuk kamu. Kamu mau ada tambahan lainnya seperti payet?”
Lanna menggeleng. “Enggak. Gaun itu udah cantik tanpa hiasan apa pun. Aku suka gaunnya, sungguh!” ujar Lanna tersenyum ramah penuh kejujuran.
“Iya, terima kasih, Lanna.”
“Boleh aku melihat gaun-gaunmu yang di sebelah sana?”
Sarah mengangguk. “Aku ke ruanganku dulu ya, nanti aku jelasin soal pembuatan gaun-gaun itu.”
Sarah berderap masuk ke ruangannya. Entah kenapa dia merasakan nyeri di dadanya. Nyeri yang membuatnya tidak bisa menerima rasa sakit itu. Lanna memang seperti yang dia lihat di i********:. Manis dan tampak sebagai gadis baik. Namun, Sarah seakan bergejolak untuk bisa mendapatkan David. Untuk bersama pria itu. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana cara agar dia bisa mendapatkan David tanpa harus membuat onar di pernikahan David? Apakah menjadi seorang mistress adalah satu-satunya cara? Apakah dia rela berbagi dengan Lanna?
Lanna melihat-lihat gaun yang dipakai mannequin. Sarah dengan lembut menjelaskan semua detail gaunnya. Mulai dari bahan yang dipakai, pengerjaan yang memakan waktu hingga komplain yang pernah diterimanya dari pelanggan.
“Putri pemilik salah satu stasiun tv swasta itu ngamuk-ngamuk karena dia ingin gaun-gaun pengiring pengantin berwarna hijau tua tapi gaun pengiring pengantin warna cream sudah saya buat. Dia wanita aneh.”
“Oh ya?” pupil Lanna melebar. “Ya ampun, mungkin kalian miss komunikasi.”
“Enggak, Lanna. Memang dia pengin buat gara-gara aja. Tapi, syukurlah dia tetap mau membayar semua gaun yang sudah jadi. Aku enggak mau ada klien seperti dia lagi.”
Ini pertama kalinya Sarah merasa terbuka dengan klien. Dia agak tertutup pada siapa pun. Bahkan soal komplain putri pemilik salah satu stasiun televisi ini pun hanya dia dan karyawannya yang tahu. Ini masalah perusahaan seharusnya dia tidak membicarakannya dengan orang asing. Namun, entah kenapa agaknya Lanna ini bisa diajak ngobrol soal apa pun tanpa menyudutkannya.
Sebelum pulang, Lanna kembali menyesap kopinya.
“Selamat atas pernikahanmu, Lanna.” Sarah mengulurkan tangannya. Lanna menjabatnya seraya tersenyum.
Pernikahan apa? Itu hanya pernikahan semacam musim yang akan ada tenggat waktunya.
“Terima kasih, Sarah.”
Mistress. Entah kenapa kata itu kembali terngiang di kepala Sarah.
Dan Sarah lupa menanyakan konsep pernikahannya. Harusnya dia tahu konsep pernikahan sebelum gaun itu dibuat.
***
Ramon menyesap kopinya yang mulai mendingin. Dia menatap taman kecil di belakang rumah seraya menikmati kopi, roti selai cokelat dan buku horor bersampul anak kecil yang tidak memiliki wajah. Dibandingkan dengan seisi rumah, Ramon lebih suka taman kecil di belakang rumah yang dihiasi banyak bunga dari mulai bunga melati hingga bunga anggrek bulan. Tanaman-tanaman hias yang berwarna hijau muda sampai hijau tua kelabu. Kaktus hingga serai semuanya menjadi satu di taman mini yang pernah dibangun ibunya dulu saat dirinya masih kecil. Ibu Ramon penyuka segala jenis tanaman. Dia wanita yang sabar, telaten dan penyayang hingga dia terkena kanker paru-paru dan meninggal dalam damai. Saat itu Ramon masih kecil dia baru berusia empat tahun dan saat usianya menginjak lima tahun ayahnya menikahi seorang wanita berdarah inggris dan hongkong. Kelahiran David membuat semua orang mengalihkan kasih sayangnya dari Ramon. Ramon sempat iri tapi rasa sayangnya pada David melebihi rasa irinya. David anak yang manis. Ibu David juga sangat menyayangi Ramon seperti menyayangi anaknya sendiri. Wanita itu mengurusi Ramon hingga Ramon dewasa dan kuliah di Singapura lalu kakeknya membangun kerajaan bisnis di sana dan Ramon ditunjuk untuk mengelola bisnisnya.
Usia Ramon 33 Tahun dan dia menikah pada usia 26 tahun dengan seorang wanita Indonesia berwajah cantik dan lembut selembut warna bulan. Namun pernikahan itu kandas sebelum usia pernikahan mereka mencapai setahun. Tiara—nama istrinya, wanita itu hanya menginginkan harta Ramon. Dia dan kekasih bulenya kepergok selingkuh di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan. Perselingkuhan itu membuat Ramon trauma untuk kembali mencinta. Dia terlalu mencintai Tiara tapi wanita itu telah menyakitinya hingga ke relung hatinya yang terdalam. Dan sampai kini, Ramon memilih menyibukkan diri dengan bisnis-bisnis kakeknya dan dia telah menghabiskan banyak waktu untuk mengobati lukanya sendiri. Membiarkan sepi menyelubungi setiap waktunya. Tapi dia baik-baik saja tanpa seseorang di sampingnya. Kakek sering menyuruhnya untuk menikah lagi. Setiap kali kakek memintanya mencari wanita lagi, Ramon hanya menggeleng dan tersenyum pilu. Lalu membuat lelucon-lelucon yang malah membuat kakeknya tertawa.
Ramon memiliki mata yang cantik dengan bulu mata lentik. Dia tidak seputih ataupun setampan David yang nyaris memiliki semua aspek indikasi kesempurnaan tapi Ramon memiliki kecerdasan emosional yang membuat semua orang menyukainya ditambah mata cantiknya dengan bulu mata lentik dan tatapan mata yang seksi.
“Di sini kamu rupanya,” Ramon menoleh. Ibu tirinya yang cantik dan tetap kelihatan muda diusianya yang sudah paruh baya itu tersenyum.
Mamah menghela napas perlahan. Iris birunya menatap Ramon. “Bagaimana menurutmu tentang Lanna?”
“Lanna?” dahi Ramon mengerut.
“Ya, Lanna. Calon adik iparmu. Apa dia cocok dengan David yang dingin, arogan dan menyebalkan. Tentu aja anak itu seperti itu.” Mamah menggeleng membayangkan betapa menyebalkannya si David.
Ramon fokus pada hidung mamah tirinya. Hidung yang bagus. Dari dulu sampai sekarang yang Ramon sukai dari mamah tirinya adalah hidung mancung yang indah. “Lho kok malah diem. Gimana si Lanna cocok nggak kata kamu sama David?”
Ramon tersenyum. “Kalau dilihat dari bentuk muka mereka cocok, Mah. Kalau dilihat dari kepribadian, Lanna itu kelihatannya pemalu dan jaim banget deh. Tapi kalau nggak ada orang dia kayaknya suka makan jengkol, pete dan teman-temannya. Makannya juga banyak kalau dilihat dari bentuk mulutnya. Kalau David kan orangnya kalau suka ya suka kalau enggak ya enggak. Jadi, Ramon menangkap aroma-aroma kecocokan di antara mereka.” Ujar Ramon dengan ekspresi dan nada datar. Dia berkata dengan menirukan salah satu program acara televisi.
“Hahaha,” Mamah tertawa.
“Kamu ini kalau ditanya serius jawabnya nglantur.” Ujar Mamah setelah tawanya reda. Ramon memang seperti itu, dia agak sinting tapi itulah alasan mamah menyayangi Ramon seperti menyayangi anaknya sendiri. Sebab meskipun Ramon tidak lahir dari rahimnya tapi anak itu sangat mengesankan. Dan selalu mengesankan. Sayangnya, tidak ada yang tahu di balik keceriaan Ramon, hatinya sangat sepi. Luka akibat pengkhianatan masih bersarang di dadanya.
“Itu serius, Mah. Menurut analisa Ramon ya seperti itu.” Ramon memasang ekspresi serius dan yakin.
“Terus kamu kapan punya istri lagi?” tanya Mamah yang seketika berhasil membungkam mulut Ramon.
“Mamah dengar Tiara mau menikah.” Dia berkata dengan nada sedih sekaligus prihatin.
“Mah,” Ramon memasang ekspresi jenaka. “Ramon akan menikah dengan wanita dari planet Mars. Satu-satunya pria yang menikahi wanita dari Mars Cuma Ramon. Mamah tenang aja semuanya akan terjadi pada waktu yang tepat.”
“Hahaha,” Mamah kembali tertawa. “Kamu ini kalau ngomong suka ngaco. Mamah nggak akan setuju kamu menikah dengan wanita Mars, Ramon.”
“Harus dong. Nanti Cuma Mamah satu-satunya yang punya menantu dari Mars.”
“Mamah tidak mau punya menantu dari Mars.” Ujarnya seraya bangkit. “Mamah tunggu menantu dari Bumi.” Lalu Mamah melasat pergi.
Kali ini Ramon terbahak.
Tapi entah kenapa mendadak Ramon mengingat Lanna. Wanita berwajah Mars. Panas, ceria, sekaligus anggun.
Ada pikiran ganjil yang menggelayutinya. Adiknya akan menikah secara mendadak dengan Lanna. Lalu dia teringat akan Sarah—wanita yang digosipkan teman-teman David sebagai kekasih David. Dan dia juga ingat akan gangster yang pernah diikuti David.
“Seperti kepingan puzzle yang aneh.” Ucapnya.
***