“Pernikahannya dadakan banget bro!” Ron menyelipkan rokoknya di tengah bibir. Menatap intens sahabatnya, David. Yang ditatap hanya menatap kosong layar laptopnya.
“Ini soal kekuasan.” Ujar David. “Ramon sudah mendapatkan harta waris dari Kakek. Dan ini giliranku.”
Ron menjulurkan lehernya mendekati wajah David. “Jadi maksudnya, kamu menikah bukan karena pure cinta?”
David menatap Ron dengan tatapan sulit diartikan. Dia terdiam sesaat. “Persetan dengan cinta, Ron. Aku nggak berniat buat jatuh cinta lagi sama wanita manapun selain—“ David kembali terdiam, seakan sedang mengumpulkan amunisi untuk menyebutkan satu nama yang selalu ada di hatinya. “Sarah.”
Ron menyalakan api dari korek dan menempelkan api ke rokoknya. Menyesap nikmat rokok sebelum berkomentar soal ‘persetan dengan cinta’. Ron adalah pria m***m yang dikenal David sejak mereka satu sekolah, satu kelas, satu geng. Ron memiliki banyak wanita. Dia lihai menyembunyikan perselingkuhannya dengan kekasihnya. Bahkan Ron pernah mengaku kalau dia pernah tidur dengan seorang wanita yag usianya 6 tahun lebih tua darinya.
“Bro, kamu itu pria yang digilai banyak wanita. Aku yang tampangnya ngepas saja bisa punya puluhan wanita cantik lho. Jangan hanya karena Sarah menolak kamu terus kamu malah memilih untuk nggak merasakan apa-apa. Wanita-wanita di luar sana banyak yang mau tidur bareng tanpa dibayar sama kamu, bro.” Roy tersenyum tengil.
“Tolong bedakan aku dan kamu, bro!”
“Hahaha,” Ron terbahak. “Siapa nama calon istri kamu itu?”
“Lanna.” David menutup layar laptopnya dan menyesap kopinya yang mulai dingin.
“Lanna siapa?” tanya Ron kembali, kemudian dia kembali menikmati rokoknya.
“Lanna Davina. Dia dari Bandung. Baru lulus kuliah.”
“Cantik?” Ron bertanya dengan alis melengkung nakal.
David mengingat-ngingat wajah Lanna. Wanita itu cantik darimananya? Oke, Lanna lumayan cantik, tidak secantik Sarah memang tapi dia unik. Dengan segala tingkah konyolnya dan tatapan mata polosnya.
Sebelum David menjawab, Ron kembali bertanya. “Udah ditidurin belum?”
Seketika David menatap Ron tajam. Tatapan bak elang itu luruh seketika. Ron mungkin tidak bermaksud apa-apa dengan bertanya seperti itu karena memang pria berambut merah hasil dari salon itu berotak eror. Mungkin isi otaknya 75% soal seks dan sisanya adalah kenormalan otak manusia.
“Dia masih polos.”
“Apa?” kemudian Ron terbahak. “Istimewa. Calon istri idaman tuh. Gampang dibohongin, haha.”
“Aku dan Lanna menikah tanpa cinta. Kami hanya menikah... kontrak.”
“What?!” mata Ron melebar.
“Ini soal kekuasaan dan harta, Ron. Ini demi—“ David menghela napas sejenak. “Sebenarnya demi kebahagiaan kakekku. Aku menyayanginya lebih dari aku menyayangi orang tuaku.”
“Wow.” Hanya kata ‘wow’ yang meluncur dari kedua daun bibir Ron.
Dia sangat mengenal David. David memang bukan tipikal pria yang mudah jatuh cinta seperti dirinya. Dia tahu tingkat kecerdasan David di atas rata-rata. Dia tahu David akan memilih memutuskan wanita sebelum dia menyakiti wanita itu. Itu lebih baik dibandingkan harus menyakiti wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya. Bagi Ron, David memang sedikit bodoh soal asmara, tapi setidaknya David lebih suka kejujuran. Andai saja dirinya seperti David, sayangnya dia sangat menikmati perannya sebagai penjelajah cinta yang menikmati kemolekan tubuh banyak wanita.
“Aku meminta Sarah merancangkan gaun untuk Lanna.”
“What?! Apa-apaan kamu, David!” Ron terkejut dengan pernyataan konyol David.
“Aku nggak tahu kenapa, tapi aku ingin Lanna mengenakan gaun dari Sarah.”
“Move on dong! Jangan terlalu berhasrat pada Sarah. Dia nggak berhasrat sama kamu, bro.”
David kembali menyesap kopinya. Dia berbohong pada Lanna kalau dia ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Dia hanya tidak ingin menemani Lanna menemui Sarah. Keinginannya agar Lanna mengenakan gaun dari hasil rancangan Sarah memang konyol. Sarah adalah wanita yang dicintainya namun menolaknya, dan Lanna adalah calon istrinya. Tapi toh dia dan Sarah berhubungan baik. Penolakan itu bukan berarti menyebabkan hubungan mereka menjadi sebuah permusuhan. David dan Sarah sama-sama dewasa. Tidak ada masalah meskipun perasaannya masih tetap menjadi masalah utamanya.
“Ngomong-ngomong, Kamu kenapa milih Lanna dibandingkan yang lainnya. Apa Lanna suka sama kamu? Apa karena dia polos atau bego gitu?” Ron berbicara seakan tak memiliki otak.
“Karena hanya ada Lanna saat itu.”
“Ada Anita kan? Si cewek tengil itu yang suka ngaku-ngaku dihamilin kamu?”
“Terus aku harus milih Anita si tengil?” David berkata dengan ekspresi seakan ‘gila kali kalau harus milih si tengil’.
“Hahaha,” Ron terbahak. “Ya janganlah, mau bunuh diri apa milih Anita. Tapi yang lain juga ada kan? Stok wanita banyak, bro!”
“Tapi belum tentu penurut kaya Lanna. Lagian wanita-wanita yang lain bisa aja ambil kesempatan buat nguras harta.”
“Lanna penurut?” Ron bertanya dengan tatapan mata penasaran.
“Kan dia pernah jadi sekretaris. Ya, walaupun Cuma semingguan tapi dia sepupunya Kirana. Dan Kirana tuh kaki kanan aku sebenarnya.”
“Siapa tuh Kirana?”
“Akuntan sekaligus auditor di perusahaan.”
“Oh.”
David menghela napas. “Yang aku takutkan Lanna keceplosan. Dia kaya agak mudah dibodohi gitu. Kamu tahu sendiri, kan, gimana ganasnya cewek-cewek Jakarta?”
“Hahaha,” Ron kembali terbahak. “Uh, lebih ganas dari aligator.”
“Kalian kalau sudah menikah mau tinggal di mana?” tanya Ron.
“Aku punya rumah di kawasan Menteng. Itu rumah buat Lanna kalau kami sudah bercerai.”
“Rumah yang pernah kamu poto dan kirim ke WA?”
“Iya.”
“Itu rumah mewah, bro! Buat Lanna?”
“Iya.”
Ron menggeleng-gelengkan kepala. Dia masih ingat bentuk rumah itu yang mewah, anggun dan cantik dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya. “Seharusnya rumah itu buat kamu dan istri yang kamu cintai. Terus anak kalian tumbuh besar di sana. Bukan buat istri bohongan.” Protes Ron tidak mengerti jalan pikiran David.
“Rumah itu nggak ada apa-apanya dibandingkan nanti Lanna menyandang status janda.”
“Eh, surel dari Darell nggak kamu balas, kan, Bro?”
David menggeleng.
“Aku rasa Darell mau ngebahayain Sarah, deh,”
Dahi David mengernyit. “Maksudnya?”
“Darell mungkin mau nyulik Sarah biar kamu ngasih tebusan atau apalah. Tahu, kan, orang-orang macam gitu bagaimana.”
David terdiam.
“Aku nggak mau Sarah kenapa-napa. Apa aku perlu nyewa bodyguard buat Sarah?”
Ron terbahak. “Jangan. Mending kamu cepet nikahin Lanna. Kalau kamu mau Sarah aman. Sasaran Darell pasti berubah dari Sarah—“ Ron terdiam sejenak. “Ke Lanna.”
***