PART 1

2702 Words
Jika aku bisa memutar waktu, aku ingin menyadari kehadiranmu lebih cepat. ***   Nara mengikat tali sepatu dengan semangat, hampir tidak mendengar teriakan Mama yang menggelegar karena Nara lupa membawa kotak bekalnya. Nara meringis, meminta maaf kepada Mama yang saat ini sedang memandangnya dengan wajah marah, lalu segera memasukkan kotak bekal merah mudanya ke tas. Sebenarnya, wajar jika Nara lupa, karena hari ini adalah hari pertama MOS sehingga Nara sibuk mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawanya. Ia tidak mau terlambat pada hari pertamanya bahkan untuk hari-hari seterusnya. Alasannya karena ia tidak ingin dihukum dan dilihat oleh banyak orang dengan pandangan yang bermacam-macam. Nara tidak suka hal itu. Ia benci menjadi pusat perhatian.                 “Nara berangkat dulu, Ma,” ujar Nara setelah mencium tangan Mama yang bau bawang.Hidung Nara sampai harus mengernyit karena bau tersebut. Namun, setelah itu ia tertawa karena Mama malah menyubit hidungnya dengan gemas.                 “Belajar yang benar, kamu harus jadi juara umum lagi, ya.” Mama tersenyum,tapi tatapan matanya terlihat tegas. “Semangat!”                 Nara mengangguk, lalu hormat dengan tangannya yang ditaruh di atas alis. “Siap, Bos!” ucap Nara,kemudian berjalan cepat mengambil sepeda merah muda yang sudah terparkir di dekat pagar.Untung saja SMA Tunas Pradipta mengizinkan anak-anak muridnya membawa kendaraan beroda dua, jadi Nara tidak perlu susah payah naik angkutan umum. Setelah melambaikan tangan dan tersenyum manis kepada mamanya, Nara mulai mengayuh sepeda menuju SMA Tunas Pradipta. Saking semangatnya, ia hampir menabrak orang yang sedang menyeberang jalan. Untung saja ia cepat menghentikan sepedanya dan mengucapkan permintaan maaf kepada ibu-ibu yang langsung mengomelinya dengan tampang garang.                 Nara menghela napas, menghitung kesialannya hari ini. Satu, ia hampir menabrak dan kena omelan. Itu berarti, lain kali Nara harus lebih waspada lagi. Kesialan kedua, saat ia kembali mengayuh sepeda memasuki gerbang sekolah yang masih terbuka lebar.Sepeda Nara yang baru saja diparkirkan tertabrak sebuah motor putih sehingga sepedanya terjatuh. Nara menghela napas untuk kedua kalinya. Sudah dua kesialan di pagi hari. Bagus sekali, bukan?                 Pelaku yang membuat sepeda Nara terjatuh ternyata seorang cewek. Parahnya, cewek itu sangat cantik, anggun, dan lebih terlihat seperti model yang sering muncul di majalah remaja. Nara sempat terpesona beberapa detik, hingga ia sadar cewek itu meminta maaf berkali-kali dan membenarkan posisi sepeda Nara seperti semula.                 “Aduh, maaf banget! Gue baru bisa parkir,” ringis cewek itu dengan wajah yang sangat membuat Nara iri. Imut sekali!                 “I-iya, nggak apa-apa, kok.” Nara tersenyum canggung, lalu mengulurkan tangannya sedikit ragu. “Nama gue Nara.”                 “Sandra.” Cewek itu menerima uluran tangan Nara dengan hangat. “Semoga kita bisa akrab, ya!”                 Nara juga berharap begitu. Ia tersenyum, lalu secara alami, ia dan Sandra berjalan menuju lapangan bersama. Mengobrolkan beberapa hal, terutama alasan mereka masuk SMA Tunas Pradipta. Baik Nara maupun Sandra, merasa nyaman satu sama lain sehingga mereka terlihat sangat akrab. Nara merasaheran dirinya bisa langsung akrab dengan orang baru karena biasanya ia tidak seperti itu.                 Sifat Nara yang canggung membuat ia sering kali takut menatap mata lawan bicaranya. Ia bahkan memilih menunduk untuk menghindari tatapan lawan bicaranya. Begitulah Nara. Kurang menarik? Jangan diingatkan, Nara juga sudah tahu hal itu. Nara merasa dirinya biasa saja, tidak menarik, dan terlalu takut membuat kesalahan. Kelebihannya? Nara sangat pintar berkat usaha kerasnya belajar hingga larut malam, bahkan jarinya sering kali terluka karena banyak mencatat rangkuman untuk memudahkan dirinya menghapal materi. Namun, tidak ada yang tahu usaha keras Nara. Teman-teman Nara selalu berpikir Nara terlahir genius dan akan mendapat nilai bagus walau tidak belajar. Makanya, Nara sering sekali dipaksa memberi contekan saa tSMP. Nara yang terlalu takut untuk menolak, protes, ataupun mengadu, hanya bisa diam dan meringis dalam hati,seperti seorang pengecut.                 Berbeda dari Nara, Sandra terlihat sangat ramah kepada siapa saja. Ia selalu membalas senyum orang lain. Ia juga mudah sekali tertawa hanya karena jawaban Nara yang terlalu serius. Bagi Sandra, Nara begitu menggemaskan dan manis. Dalam satu kali pandang, Sandra yakin Nara adalah anak baik-baik yang jarang ke luar rumah. Tipe teman yang ia butuhkan karena Sandra sangat bosan berteman dengan tipe teman cewek yang genit dan suka mengajaknya ke mal untuk belanja.                 Bel berbunyi, seluruh murid baru berbaris di lapangan mengenakan seragam SMP. Upacara yang mulanya berjalan lancar dan serius,menjadi tidak tenang saat pidato kepala sekolah yang sangat lama. Kaki Nara mulai pegal, rasanya ia ingin pura-pura pingsan saja agar bisa istirahat di UKS. Oh, tapi mana mungkin Nara berani melakukan hal itu? Pura-pura pingsan akan membuatnya menjadi pusat perhatian. Tidak, terima kasih. Nara lebih memilih berdiri dua jam di lapangan.                 “EH! Ada yang pingsan.” Suasana seketika menjadi ricuh. Nara menoleh ke sumber suara. Para OSIS dan PMR membopong seseorang yang pingsan . Mata Nara sedikit melebar, menaikkan satu alisnya heran. “Yang pingsan… cowok?”                 Seharusnya, cowok lebih kuat dibandingkan cewek. Nara benar-benar heran. Mengapa cowok itu pingsan? Apa ia belum sarapan?Apa cowok itu hanya berpura-pura? Nara menanyakan hal itu ke Sandra. Ternyata Sandra juga berpikir murid yang pingsan tadi hanya pura-pura pingsan agar bisa istirahat di UKS.                 Berbeda dengan Nara dan Sandra, murid-murid yang lain fokus pada hal yang jauh berbeda. Ada yang bilang, cowok yang pingsan itu ganteng,ada yang bilang rambut cowok itu seperti boyband Korea, dan masih banyak lagi bisik-bisik ribut yang membuat Nara jadi penasaran dengan cowok yang pingsan tadi karena pandangan Nara sering berbeda dengan cewek pada umumnya. Apa benar cowok itu ganteng? Artis yang banyak dibilang ganteng pun, sering dianggap biasa saja oleh Nara. Contohnya, Harry Styles. Ah, atau mungkin mata Nara memang sedikit bermasalah.                 “Ra, kayaknya yang pingsan boleh juga, tuh.” Sandra menyikut lengan Nara dengan jail. “Lo nggak minat?”                 Nara mengedikkan bahu. “Memangnya kalau ganteng kenapa? Biasanya cowok ganteng itu kan sok keren, sulit diraih, dan selalu melihat cewek dari fisiknya aja.”                 “Lo tahu hal itu dari mana?” tanya Sandra mengernyit. “Dari novel yang sering gue baca.” Jawaban Nara terdengar begitu yakin, membuat Sandra mendengus geli.                 “Kehidupan nyata nggak selalu kayak gitu, Ra.”                 Nara berdecak. “Udahlah, gue nggak ada harapan buat kenal apalagi dekat sama tuh cowok. Dia pasti lebih milih cewek yang lebih cantik. Kayak lo, mungkin.”                 “Ih, lo lebih cantik!” seru Sandra cukup kencang, yang lantas menarik perhatian murid-murid lain sehingga mereka mendapat teguran dari seorang cewek anggota OSIS yang terlihat sangat galak. Keduanya meringis, lanjut memperhatikan Kepala Sekolah yang masih berpidato.                 Setelah upacara panjang itu selesai, Nara dan Sandra memasuki kelas yang sudah ramai. Perhatian Nara langsung teralih pada dua orang cowok yang sedang tertawa keras. Nara hampir berpikir bahwa mereka sudah gila. Namun, Nara langsung mengerti apa yang sebenarnya kedua cowok itu tertawakan.                 “Gila, lo tadi pura-pura pingsan? Gue kira beneran, Dee!”                 Cowok yang ditanya hanya tertawa tidak jelas dengan memasang wajah sombongnya seolah semua orang sangat mudah ia tipu. “Lagian upacaranya lama banget. Ya udah, mendingan gue pura-pura pingsan, kan?” Nara mengernyit, kemudian duduk di kursi barisan paling depan bersama Sandra. Nara benar-benar tidak habis pikir dengan manusia seperti itu. Berani sekali cowok itu pura-pura pingsan, dan merasa bangga dengan aksi liciknya. Bahkan sama sekali tidak ada penyesalan di wajahnya. Hal itu membuat Nara tambah kesal saja. Nara tidak suka dengan pembohong. Keterlaluan. Namun, entah mengapa... Nara sangat ingin menoleh ke belakang untuk melihat cowok itu sekali lagi. Saat Nara menoleh, ia melihat cowok itu masih tertawa bersama temannya. Tawanya terlihat begitu lepas, seakan hidup cowok itu sangatlah bahagia. Tanpa beban. Beruntungnya. Setidaknya, itulah menurut Nara....   ***   Saat jam istirahat, Nara memilih menghabiskan waktu sendirian di pinggir lapangan sambil membaca novel kesukaannya; Perahu Kertas. Sebenarnya Sandra mengajak Nara ke kantin, tapi Nara sangat anti dengan keramaian kantin karena sering merasa sesak jika dikelilingi banyak orang. Ia pun lebih memilih makan bekal sendirian sambil membaca novel kesukaannya. Terkadang, Nara tersenyum saat sedang membaca karena tokoh cowok di novel itu sangatlah manis. Ia suka cowok manis dan romantis seperti para tokoh fiksi yang pernah ia baca. Namun, Nara tidak yakin bisa menemukan cowok seperti itu di dunia nyata. Mungkin ada, tapi… sepertinya tidak mungkin bisa Nara raih. Sudahlah, jangan terlalu berharap apalagi bermimpi akan mendapatkan cowok idaman seperti di novel. Back to earth, Nara! Selama Nara membaca novel, ia merasa tidak sendirian. Lebih tepatnya, ia merasa diawasi, hingga ia harus menoleh ke segala arah untuk mencari orang lain di sekitarnya. Namun, anehnya tidak ada siapa-siapa. Hanya ada kucing hitam putih yang sedang mengejar ekornya sendiri. Nara terkekeh, lalu memanggil kucing itu. “Sini, Pus….” Kucing itu cukup pintar hingga berjalan mendekati Nara dan terlihat menikmati saat Nara mengusap bulunya yang lembut. “Kucing pintar. Nama kamu siapa? Apa? Chiko? Kayak nama artis aja!” ucap Nara pada kucing itu.   ***   "Deeka, sudah baikan? Masih pusing?" Cowok yang dipanggil Deeka itu hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya. "Nggak kok, Bu. Saya boleh pinjam sapu? Kelas kotor banget, saya nggak tahan lihatnya." "Oh, sapu. Ada di dekat jendela. Wah, kamu senang bersih-bersih. Jarang ada anak yang rajin kayak kamu," puji Bu Sukma—Guru Bimbingan Konseling, yang sedang duduk-duduk sambil minum teh di ruang guru. "Ah, Ibu bisa aja. Saya jadi terharu karena dipuji sama guru secantik Ibu." Deeka memasang senyum seramah mungkin, lalu berjalan ke jendela untuk mengambil sapu. Namun, gerakannya terhenti saat matanya menemukan pemandangan yang cukup aneh. Ia melihat seorang murid cewek yang sedang membaca buku sambil tersenyum tidak jelas.Dari jarak jauh, Deeka tetap bisa melihat senyuman manis cewek itu. Setelah beberapa saat, cewek itu terlihat melihat sekeliling seakan mencari sesuatu sampai akhirnya cewek itu mengelus-elus kucing sambil mengatakan sesuatu. Sayang sekali Deeka tidak bisa mendengarnya. Segera Deeka mengeluarkan ponselnya, entah dapat ilham dari mana, ia sangat ingin memotret cewek itu. Siapa tahu di masa depan, cewek itu menjadi orang terkenal. Tidak ada yang bisa menebak masa depan, kan? Lima menit berlalu, Deeka merasa semakin nyaman hingga lupa harus cepat kembali ke kelas untuk membersihkan kelas sebelum bel masuk berbunyi. Deeka menghela napas. Sebenarnya ia masih ingin melihat cewek itu lebih lama. Namun, sepertinya ia memang harus ke kelas karena Bu Sukma sudah menegurnya karena terlalu lama mengambil sapu. Ya sudahlah, kalau jodoh nggak ke mana. Keluar dari ruang guru, Deeka memandang foto cewek tadi di ponselnya. Manis sekali, meskipun cewek itu sedikit aneh. Masa cewek itu terlihat mengobrol dengan kucing? Ada-ada saja, pasti cewek itu sudah terlalu lama menjadi jomlo. Kasihan. Deeka berdecak prihatin, tidak sadar dirinya juga jomlo dari lahir. Sebenarnya ia pernah ditembak oleh teman sekelasnya saat SD. Itu kejadian yang sulit dilupakan karena dirinya begitu polos menerima. Namun, keesokan harinya Deeka memutuskan pacarnya itu setelah tahu apa arti dari pacaran. Tunggu, apa itu masih dihitung sebagai mantan? Ah, tapi, wajah mantannya saja Deeka tidak ingat. Yang jelas, mantannya itu masih kecil dan giginya ompong. Namanya juga kelas 3 SD. Tidak mungkin cantik dan seksi seperti Yoona SNSD, kan? Sesampainya di kelas, Deeka memasukkan ponsel ke saku seragam, lalu melempar sapu yang ia pegang ke sahabat baiknya yang sedang meminum sebotol air. “Nih, nyapunya yang bersih ya, bro!” “Deeka! Gue lagi minum, k*****t!” “Hah? Lo lagi minum k*****t? Memangnya k*****t bisa diminum?” Candaan Deeka membuat sahabatnya yang bernama Roni Syafputra menjadi sangat murka. Ia langsung mengejar Deeka sambil memegang gagang sapu sebagai senjata. Deeka tentunya berlari untuk menghindari serangan Roni. Sekilas, mereka seperti sedang melakukan adegan yang sering terjadi di drama India. Hanya kurang tiang dan pohon saja. Napas Deeka terengah, ia mengangkat tangan menandakan dirinya menyerah. Namun, Roni tetap saja gemas dan memukul b****g sahabatnya itu dengan gagang sapu. “Kali ini, gue ampuni!” Deeka menyengir, mengusap bokongnya yang sakit. “Ish, galaknya sahabatku. Ya udah, nyapu yang bersih! Kalau nggak bersih, nanti istri lo berewokan, lho!” Roni tidak habis pikir dengan jalan pikir sahabatnya yang tidak jelas itu. Mana ada cewek berewokan? Deeka memang aneh. “Mending lo bantuin gue nyapu.” “Hah? Nyapu? Not today.” Dengan jurus kaki seribunya, Deeka kabur meninggalkan Roni yang kesal setengah mati karena ditinggal sendirian di kelas dan harus menyapu kekacauan yang Deeka buat beberapa waktu yang lalu. Bayangkan, Deeka menumpahkan serbuk rautan di mana-mana dan membuat banyak sekali pesawat dari kertas hingga bertebaran di seluruh penjuru kelas. Roni mengusap dadanya dan menghela napas panjang bersamaan. Memiliki sahabat seperti Deeka memang harus kuat fisik maupun batin. Untung saja, Roniyang sudah mengenal Deeka sejak SMPsudah terbiasa dengan sifat Deeka. Roni pun dipaksa menjadi sahabat Deeka karena Roni jago bermain sepak bola.Alasan yang aneh, Roni tahu hal itu. Namun, menjadi sahabat Deeka tidak selalu berujung dengan kekesalan seperti saat ini. Terkadang, Roni juga merasa beruntung karena Deeka selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun. Bahkan, saat orangtua Roni bercerai, Deeka adalah orang pertama yang berusaha keras menghiburnya. Tentu saja dengan cara yang berbeda. Namun, itu berhasil membuat Roni tidak merasa sedih lagi. Deeka itu… penuh kejutan. Ia rela menjadi dan melakukan apa saja hanya untuk membuat orang yang ia sayang tersenyum. Deeka bahkan pernah tidak masuk sekolah karena Roni sakit demam berdarah saat kelas dua SMP. Deeka rela menemani Roni di rumah sakit selama berhari-hari, padahal ia benci sekali rumah sakit. Di mana lagi Roni bisa menemukan sahabat sesetia Deeka?   ***   Saat bel pulang sekolah berbunyi, Deeka berjalan santai bersama Roni menuju parkiran. Ia diam-diam mengikuti seorang cewek yang sudah menarik perhatiannya. “Lo ngikutin tuh cewek?” tunjuk Roni dengan dagu. Bagi Roni, gerak-gerik Deeka sangat mudah terbaca. “Nggak, sok tahu lo.” Deeka mendengus. “Eh, tuh cewek ke sekolah naik sepeda?” Roni dengan gemas memukul belakang kepala Deeka. “Tadi kata lo nggak ngikutin, ya!” “Ssstt, kayaknya sepeda dia rusak. Tolong benerin dong, Ron,” pinta Deeka terlihat cemas. Roni masih mengernyit, “Kenapa bukan lo aja?” “Ayolah, gue mana bisa benerin sepeda?” Roni berdecak, berjalan menghampiri cewek yang sedang kebingungan karena rantai sepedanya lepas. Roni berjongkok di sebelah cewek itu, menawarkan bantuan dengan ramah. Dari jarak yang cukup aman, Deeka merasa sedikit panas melihat kedekatan Roni dan cewek manis itu. Seharusnya Deeka yang sedang berada di posisi Roni. Coba saja kalau Deeka tidak gengsi dan malu, mungkin ia sudah bisa berkenalan dengan cewek itu.   ***   Entah takdir atau dunia memang sedang mempermainkannya, Deeka jadi selalu bertemu dengan cewek itu di mana pun. Saat baru sampai sekolah, Deeka bertemu dengan cewek itu di parkiran, hingga membuat Deeka akhirnya berjalan di belakang cewek itu dengan canggung menuju kelas. Saat di kelas, Deeka merasa semakin tertarik setiap melihat cewek itu tertawa dengan teman sebangkunya. Lalu saat istirahat, Deeka bertemu dengan cewek itu lagi di kantin. Bahkan, hampir mengambil stoples permen yang sama sehingga Deeka menjadi canggung. Akhirnya Deeka membulatkan tekad untuk berkenalan dengan cewek itu. Sepertinya, sekarang adalah kesempatan emas. Namun, ia harus bagaimana? Ia takut dianggap aneh oleh cewek berambut panjang itu. Walau nyatanya, ia memang aneh. "Kayaknya, gue harus pakai jurus rahasia." Deeka menjentikkan jari saat melihat cewek itu sedang di depan mading. Cewek manis itu mungkin sedang membaca pengumuman atau semacamnya. Deeka menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menyisir rambutnya dengan jemari, lalu memberanikan diri untuk berjalan menghampiri cewek yang Deeka belum tahu namanya itu. Deeka terus berjalan mendekat, ingin menabrak cewek itu seperti adegan sinetron yang sering ia tonton. Semoga nasib Deeka juga seindah sinetron! Bruk! "Jalan pakai mata, dong! Nama lo siapa, sih?!" Deeka berusaha memasang ekspresi wajah sekesal mungkin. Cewek di hadapannya memasang ekspresi wajah yang terlihat lucu hingga Deeka hampir saja tertawa. Tentu saja cewek itu terkejut dan kesal pada Deeka. Namun, siapa peduli? Yang penting, Deeka bisa mengetahui nama cewek itu secepatnya. "Lo sakit jiwa, ya? Lo yang nabrak. Tapi, lo yang marah-marah. Terus, apa pentingnya nama gue buat lo?" Yah, gagal. "Bukannya lo yang tadi nabrak gue? Sori, gue tadi lagi main ponsel." Deeka buru-buru mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya. "See?" "Stres." Itulah satu kata dari cewek itu untuk Deeka. "Eh, tunggu. Apa susahnya jawab? Siapa nama lo?" Deeka menahan lengan cewek itu, masih berpura-pura kesal. "Lo bisa panggil gue apa pun. Terserah." Cewek itu begitu dingin. Ia menepis tangan Deeka tanpa senyum sedikit pun. "Oke! Gue akan manggil lo Beruang. Boleh, kan?!" Cewek itu tidak terlihat peduli. Ia terus berjalan meninggalkan Deeka yang masih mematung. "Sial, gue jadi merasa jelek. Kenapa dia jutek banget sama cowok ganteng kayak gue?!" Deeka mengacak rambutnya, lalu menendang dinding yang tak bersalah. "Aw, kenapa nih tembok keras banget, sih?!" Akhirnya, bukan hanya rencana Deeka saja yang gagal, tapi kaki Deeka juga merasa sakit. Ternyata, cewek itu tidak mudah untuk didekati.Deeka merasa semakin tertarik dan ia memutuskan untuk mencoba cara lain besok!  []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD