Aku tidak menyangka, dulu aku pernah hampir membencimu.
Rasanya begitu lucu, karena kini aku sangat merindukanmu.
***
Ini adalah hari pertama setelah MOS selesai. Sekarang, Nara sudah resmi menjadi murid SMA Tunas Pradipta. Nara beruntung ditempatkan di kelas yang sama dengan Sandra. Namun, Nara juga merasa sial karena harus satu kelas juga dengan cowok aneh yang tidak jelas tempo hari itu. Bahkan namanya saja Nara lupa. Deka, Duku, atau Bambang, ya? Nara tidak peduli. Cowok itu sangat aneh karena sangat gencar mencari tahu nama Nara. Mulai dari sok ingin meminjam buku tulis, bertanya kepada teman satu kelas MOS, bahkan bertanya kepada Sandra. Namun, tetap saja cowok itu tidak berhasil mengetahui nama Nara. Tidak akan semudah itu. Salah cowok itu sendiri yang selalu terlambat datang dan melewati waktu absensi. Dasar cowok pemalas.
"Kenapa cewek-cewek di kelas sebelah pada ngintip di depan pintu kelas kita?" Nara bertanya kepada Sandra, teman sebangkunya. Sandra pun langsung mendengus geli.
“Lo nggak tahu? Mereka tuh mau lihat cowok terganteng di kelas kita. Mungkin, kelas mereka isinya nggak ada yang ganteng.”
Nara mengernyitkan dahi, menoleh ke belakang mengikuti pandangan murid-murid cewek tersebut. “Dia, San?”
“Iya. Siapa lagi kalau bukan Deeka. Gila, mukanya kayak aktor Jepang, Ra.”
Nara mendengus saat mendengar nama cowok aneh yang mengusik pikirannya itu. Oh, ternyata namanya Deeka. “Aktor apaan? Dia biasa aja, mata kalian kenapa, sih? Dia tuh aneh. Masa habis nabrak gue malah marah-marah? Gue udah cerita sama lo kan kemarin.” Nara terkekeh hambar. Ia masih kesal setiap ada yang memuji cowok itu ganteng. Menurutnya, cowok bernama Deeka itu tidak seganten gyang orang-orang bilang. Hanya mata dan senyumnya saja yang bagus. Itu saja!
Sandra mendengus geli, mengabaikan fakta bahwa sahabat barunya itu sangat tidak peka. Padahal Sandra tahu Deeka hanya ingin berkenalan dengan Nara, hanya saja caranya memang terlewat aneh. Astaga, Nara juga terlalu banyak baca novel. Sepertinya, Deeka dan Nara akan menjadi pasangan yang lucu. “Ra, Deeka cuma mau kenalan sama lo.”
Nara langsung mendengus seperti banteng. "Kenalan macam apa yang pakai acara nabrak terus marah-marah nggak jelas?" Nara membuka buku tulisnya, dan mencoret-coret halaman paling belakang. "Gue nggak suka dimarahin, San. Apalagi sama orang asing. Kalau mau kenalan, harusnya langsung aja tanya baik-baik. Apa susahnya coba?" lanjut Nara.
“Sabar, Nara....” Sandra sangat gemas, ia kira Nara adalah cewek pemalu yang tidak bisa marah. Ternyata tebakannya salah. Nara juga bisa galak.
Saat Nara mau membalas Sandra, kehadiran seseorang menginterupsinya. Deeka dengan cengiran lebar memandang Nara, seperti habis memenangkan undian. “Oh, jadi nama lo Nara? Serius, Nara?”
Nara melirik Sandra yang seperti sedang menahan tawa, tapi pura-pura bermain ponsel. “Kalau iya, memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa, sih. Kalau nama gue—”
“DEEKA. Astaga, kayaknya satu sekolah juga udah tahu nama lo,” ujar Nara dengan ketus sambil melirik ke arah cewek-cewek yang mengintip dari luar kelas. Nara tidak sadar ucapannya membuat Deeka semakin besar kepala.
“Sepopuler itukah gue?”
Sial, Nara kehabisan kata-kata. Ia sudah terlalu kesal hingga malas membalas cowok aneh yang sok ganteng itu. Nara mengeluarkan novelnya, mulai membaca dan mengabaikan Deeka. “Kenapa lo masih berdiri di depan gue? Nutupin cahaya aja, sih.”
“Gue cuma mau minjem pulpen, Nara,” jawab Deeka dengan nada yang manis, tapi tersirat kejailan.
Nara mengeluarkan satu pulpen dan memberikannya kepada Deeka. “Nih, jangan lupa balikin.”
“Siap, Nara.” Deeka terlihat begitu senang menyebut nama Nara, tapi Nara tidak senang mendengarnya. Nada bicara Deeka saat menyebut namanya begitu menyebalkan. Walau Nara akui, senyuman Deeka sebenarnya cukup manis.
***
Deeka memainkan pulpen Nara dengan senyum mengembang. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungannya. Pertama, ia akhirnya tahu nama Nara. Kedua, ternyata Nara tahu nama Deeka. Sedangkan ketiga, ia berhasil meminjam pulpen Nara, yang itu artinya nanti dia punya alasan untuk mengajak cewek itu bicara lagi. Bahagianya.
Tanpa Deeka sadari, sahabat di sebelahnya bertopang dagu dan mengetahui maksud modusnya meminjam pulpen. “Kapan-kapan, ajarin gue lah, Dee.”
“Ajarin apa? Di sini kan yang lebih pinter tuh lo, Ron,” ujar Deeka sambilmenulis di halaman paling belakang buku tulisnya. “Lo yang harusnya ajarin atau pinjemin gue buku PR, Ron.”
“Modus lo tadi klasik banget. Kok bisa berhasil, ya?”
Deeka mendengus tidak terima. “Gue memang nggak bawa pulpen!”
“Terus, yang di kolong meja lo itu apaan? Kayak pulpen, tuh.” Roni sedikit menunduk, mengintip kolong meja Deeka.
Dengan cepat, Deeka mengambil pulpen yang ada di kolong mejanya, lalu melempar ke sembarang arah. “Pulpen apa? Nggak ada pulpen, tuh!” seru Deeka yang lantas mendapat hadiah jitakan dari Roni. “Argh… apa salah gue?”
“Lo kok b**o dipelihara? Gimana Nara bisa suka sama lo? Cewek-cewek tuh sukanya sama cowok pinter, Dee.”
Deeka meringis. Ia sedikit bingung karena Roni mengetahui nama Nara. Namun, ia baru ingat Roni pernah membenarkan sepeda cewek itu. Mungkin, mereka sudah berkenalan saat itu. Tidak adil. Jika memang benar Roni sudah berkenalan dengan Nara sejak kejadian itu, mengapa ia tidak bertanya saja kepada Roni. Ah, sudahlah.
“Yah, gue kan cuma modal tampang, Ron. Gimana, dong?”
“Makanya, belajar yang bener biar Nara bisa suka sama lo.”
“Oke! Lo ajarin gue, dong!”
Roni megacungkan jempolnya. “Pertama-tama, lo harus mulai berhenti nyontek PR gue kayak waktu SMP. Mulai kerjain PR lo sendiri, mengerti?”
“Astaga! Itu sih lo aja yang pelit!”
Roni tertawa, kemudian mulai memberi nasihat bermanfaat lainnya agar Nara bisa menyukai Deeka. Wajah Deeka terlihat serius menyimak, tapi seketika ia mulai takut waktu Roni membahas pacaran itu seperti apa. Memangnya kalau suka, harus pacaran, ya?batin Deeka.
Deeka sudah sering mendapat surat cinta, cokelat, ataupun pernyataan cinta dari cewek. Namun, ia tidak berpikir untuk pacaran. Apa karena selama ini Deeka belum pernah merasakan jatuh cinta? Lalu, apa perasaannya pada Nara adalah cinta? Kalau bukan, bagaimana? Atau Deeka hanya penasaran dan merasa tertantang karena Nara begitu sulit didekati. Iya, kan? Astaga, kenapa rumit sekali? Kepala Deeka mulai pusing karena terlalu banyak berpikir. Ia tidak siap untuk menjalin hubungan serius dengan Nara. Setidaknya, ia ingin memastikan dulu perasaannya pada Nara itu sejauh apa. Kalau hanya suka sesaat, Deeka sepertinya lebih baik tidak terlibat dengan yang namanya pacaran. Sejujurnya, Deeka menyukai kebebasan. Asal bisa bermain sepak bola setiap hari, ia sudah cukup bahagia. Sesederhana itu.
Selama jam pelajaran berlangsung, Deeka melamun beberapa kali karena memikirkan rencananya untuk mendekati Nara. Pertama-tama, tentunya ia harus menjadi teman bagi cewek itu terlebih dahulu. Berarti, ia harus bersikap baik, tidak boleh menyebalkan. Deeka melirik punggung Nara, sedikit mengernyit ketika Nara bangkit berdiri dan keluar dari kelas. Deeka langsung bertanya kepada Roni, dan Roni memberi tahu bahwa Nara disuruh Bu Keuis—Guru Kimia, untuk mengambil buku paket di ruang guru untuk para murid. Tiba-tiba Deeka kepikiran cara mendekati Nara. Deeka lantas mengangkat satu tangannya, meminta izin ke toilet.
Tentu saja Deeka tidak ke toilet. Ia berjalan cepat menyusul Nara yang sedang memasuki ruang guru. Tiba-tiba saja Deeka ikut mengambil beberapa buku paketdariNara. Kehadiran Deeka yang secara mendadak membuat Nara terkejut sekaligus heran. Namun, ia terlalu bingung untuk berbicara atau menegur Deeka.
“Gue bantuin. Gimana? Gue baik, kan?” Deeka tersenyum lebar, berjalan di sebelah Nara sambil membawa setumpuk buku Kimia. “Lo kok jutek banget sih sama gue?”
“Lagian lo aneh. Muncul tiba-tiba kayak hantu.” Nara masih memasang wajah ketusnya. Tidak peduli seganteng apapun deeka, kalau menyebalkan, tetap saja Nara tidak suka.
“Astaga, mana ada hantu seganteng gue?” Deeka mendengus geli, menutupi debar jantungnya yang cepat. “Oh iya, nama lo serius Nara?”
Nara mengangguk. “Ya, pertanyaan lo aneh.”
Kebiasaan buruk Deeka. Ia sangat bodoh mencari topik pembicaraan saat gugup. “I know, tapi gue penasaran. Kenapa nama lo Nara?”
“Coba deh lo tanya ke mama gue,” jawab Nara tersenyum menahan kesal. Ia tidak tahu senyumannya membuat Deeka semakin gugup saja. “Kenapa lo ngeliatin gue begitu?”
Deeka mengerjap. “Hah? Apaan, sih? Pede banget! Nih, bawa aja buku-bukunya sendiri. Kelas kita udah deket, jangan manja!”
Nara membuka mulutnya cukup lebar ketika Deeka berjalan duluan dengan cepat ke kelas, meninggalkan Nara begitu saja. Deeka yang tadi datang tiba-tiba menawarkan bantuan. Lalu, sekarang ia juga yang pergi tiba-tiba tanpa alasan. Dasar cowok nggak jelas, pikir Nara.
Nara kembali berjalan menuju kelas, membagikan buku-buku ke para murid, satu meja hanya dapat satu buku. Ya ampun, tangan Nara hanya dua, dan syukurlah Bu Keuis tidak kejam menyuruh Nara membawa buku untuk semua murid. Ketika Nara membagikan buku, Deeka terlihat membuang wajahnya ke arah jendela, jelas tidak mau menatap Nara. Abaikan cowok aneh itu, Nara, batin Nara.
Nara merasa pelajaran Kimia berlalu terlalu cepat. Selain karena Nara memang menyukai pelajaran Kimia, cara mengajar Bu Keuis yang asyik membuat Nara dapat memahamipelajaran dengan cepat. Suasana kelas mendadak menjadi sangat berisik saat Bu Keuis keluar kelas. Hampir semua murid terlihat bahagia karena pelajaran yang menguras otak itu sudah berakhir, tentu saja kecuali Nara. Nara masih betah membaca buku Kimia dan memahami rumus-rumusnya. Namun, konsentrasi Nara terganggu dengan suara tawa Deeka yang terdengar sangat menyebalkan.
“Woy, ada yang berani tanding sepak bola sama gue nggak, nih? Ayolah, nanti gue nggak pakai kemampuan maksimal, deh!”
Roni terdengar berdecak. “Sialan, sombong banget lo. Pantes aja doi nggak peka!”
“Doi hatinya beku, bro! Wajar aja nggak peka!”
Nara mengeluarkan ponsel dan earphoneuntuk menyumbat telinganya. Ia bisa semakin kesal jika mendengar ocehan Deeka terlalu lama. Nara memilih lagu “Thinking Out Loud” untuk menenangkan pikirannya. Baru satu menit Nara merasa tenang, earphone yang menyumbat telinga kirinya tiba-tiba dicabut oleh seseorang.
“Mau lo apa sih?” tanya Nara lemas, menahan emosi sambil menatap orang yang telah mencabut earphone-nya.
“Gue mau ganggu lo.” Deeka menjawab dengan cengiran yang minta dihajar. “Nara, kenapa nama lo Nara?”
Nara mendengus. “Mau nama gue Nara ataupunRosalinda kek, itu bukan urusan lo.Lagian bukannya lo mau main bola? Kenapa jadi ganggu gue sih?”
“Apa lo selalu galak ke semua orang?” tanya Deeka lagi sambil menarik kursi kosong di sebelah Nara. “Apa lo nggak tahu marah-marah itu bisa bikin cepat keriput?”
Nara memutar bola mata, malas melihat Deeka yang menaik-naikkan kedua alis. “Tadi lo kabur, sekarang lo sok akrab lagi. Apa lo selalu bertingkah nggak jelas gitu ke semua orang?”
Deeka menggeleng polos. “Hanya ke orang tertentu.”
Nara tidak mengerti maksud perkataan dan senyum Deeka yang tiba-tiba manis. Akhirnya, Nara hanya mendengus dan bangkit berdiri. “Just stay away from me, okay?”
Saat Nara berjalan keluar dari kelas, Deeka memandang punggung Nara yang menjauh hingga menghilang dari pandangannya. Deeka menggeleng sambil tersenyum hingga matanya menyipit. “Tidak okay, Nara.”
***
Pada malam hari, di rumah Deeka, cowok itu berjalan dengan cepat menuruni tangga sambil memandangi wajah seorang cewekdi ponselnya. Ah, manis banget, sih. Deeka memang berjalan menuruni tangga dengan terburu-buru, tapi ia tidak menyangka tiba-tiba akan kehilangan keseimbangan hingga hampir terjatuh. Untung saja ia dengan cepat berpegangan pada tembok, lalu mengelus dadanya yang berdebar kencang. “Astaga dragon.”
“Lo kenapa pegangan kayak cicak, Dee?” tanya abang kedua Deeka yang bernama Andra. “Lo sehat?”
“Gue… memang lagi latihan jadi cicak, Bang. I’m fine,” ringis Deeka, membuat Andra terkekeh geli lalu mengacak rambut adiknya itu hingga benar-benar berantakan. “Ih, Bang Andra!”
Andra hanya tertawa pelan, menarik kursi di meja makan dan duduk manis seperti anak baik-baik di depan mamanya yang cantik. Ia basa-basi dengan abang pertamanya yang sedang memakan spageti, lalu melempar candaan yang hanya dibalas rotasi mata oleh abangnya itu. Kalian bisa memanggilnya Indra. Namun, jangan salah paham. Andra bukanlah kembaran Indra. Dulu, orangtua mereka memang menginginkan nama anak-anaknya mirip, agar mudah diingat. Namun, lain cerita dengan nama Deeka. Ada sejarah di balik nama Deeka. Nama Deeka seharusnya Rendra, tapi entah mengapa sang nenek memohon agar jangan memberi nama Rendra. Akhirnya, sang nenek memberi nama Deeka karena katanya itu nama yang keren. Deeka sangat menyayangi neneknya. Saat neneknya meninggal dunia tiga tahun yang lalu, Deeka adalah orang yang menangis paling histeris. Kehilangan orang yang disayang memang sangatlah menyakitkan. Deeka tidak suka perasaan sakit semacam itu.
Kembali ke ruang makan keluarga Deeka, cowokceria itu makan malam bersama Mama dan kedua abangnya dengan diselingi tawa. Kehadiran Deeka memang membuat suasana makan keluargaselalu ramai. Deeka memang tipe penghidup suasana. Di mana pun ia berada, semua orang akan tertawa dan merasa bersyukur mengenalnya. Tidak ada yang tahu apa saja masalah yang ia hadapi. Semua orang hanya akan menganggapnya sebagai manusia paling bahagia. Itu artinya, misi Deeka berhasil.
“Ma, Papa kapan pulang?” tanya Deeka sambil mengunyah ayam goreng. “Deeka mau mancing sama Papa kayak dulu, Ma.”
“Aduh, kamu mancing sama Abang kamu aja, ya? Papa masih sibuk, sayang.” Jawaban Mama membuat Deeka langsung cemberut.
Deeka melirik kedua abangnya. “Mereka berdua nggak sekeren Papa, Ma. Apalagi Bang Indra! Semua ikan nggak ada yang mau dipancing sama dia, Ma! Soalnya muka Bang Indra galak banget, ikan aja sampai pada takut!”
Andra otomatis tertawa, mengajak Deeka untuk high five. “Betul, tuh!”
Indra terus makan tanpa memedulikan ejekan kedua saudaranya yang konyol. Namun, lama-lama ia merasa mulai terganggu dengan tawa Deeka dan Andra yang tidak ada hentinya. “Daripada lo? Megang alat pancing ikan aja nggak becus.”
Deeka meringis, teringat kejadian beberapa tahun lalu saat alat pancingnya jatuh ke danau karena ia ketiduran. Memalukan sekali. “Ah, Bang Indra! Masa lalu itu harusnya dilupain!”
Indra meminum segelas air, lalu bangkit berdiri. “Kita nggak boleh melupakan masa lalu karena hal itu akan jadi pelajaran hidup di masa depan, bodoh.”
Deeka tertegun cukup lama, memikirkan perkataan abangnya yang entah mengapa membuatnya cukup merenung. Masa lalu akan sangat berkesan di masa depan? Mengapa? Deeka sepertinya terlalu bodoh untuk mengerti hal itu. Setahu Deeka, masa lalu itu tidak bisa diulang, jadi… untuk apa terus diingat? Bukankah hidup harus terus berjalan maju? Astaga, Deeka jadi pusing.