PART 3

2505 Words
Dulu, aku sepertinya layak mendapat gelar ‘manusia paling tidak peka’. **   Saat makan malam, Nara hanya ditemani oleh siaran di televisi karena mamanya belum pulang bekerja. Mama Nara bekerja di sebuah toko kue kecil sebagai koki. Kehidupan Nara tidak bisa dibilang mewah. Bahkan, penghasilan mamanya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Itulah alasan Nara selalu menyisihkan uang jajannya untuk ditabung saat ingin membeli novel yang diinginkannya. Nara memang sangat suka membaca novel sejak kecil dan ia tidak ingin membebani mamanya untuk membeli novel.Sekarang, novel yang Nara miliki sudah banyak, mulai dari novel dalam negeri hingga novel terjemahan. Semua novelnya disimpan dengan baik di dalam lemari.Dulu, Nara sempat bermimpi untuk menjadi penulis seperti ayahnya. Namun, setelah melihat apa yang dialami oleh ayahnya, ia jadi berubah pikiran.                 Tiga tahun lalu, ayah Nara meninggal karena overdosis obat tidur. Sejak ayahnya meninggal itulah hidup Nara dan mamanya menjadi kurang baik. Mama Nara harus banting tulang mencari uang karena sang ayah tidak meninggalkan harta selain rumah yang saat ini mereka tempati. Setiap hari Nara juga merasa sangat kesepian, terutam asaat malam hari,ingatan tentang ayahnya semakin kuat. Saat Ayah Nara masih hidup, ayahnya sering membacakan dongeng karangannya sendiri. Ayahnya adalah seorang penulis yang tidak terlalu terkenal. Nama ayahnya masih kalah jauh dibandingkan dengan paman Nara yang bukunya selalu menjadi best seller. Namun, pamannya sangat licik. Dialah penyebab ayah Nara bunuh diri.                  Akibat haus popularitas, pamannya tega mencuri dan menerbitkan salah satu karya ayah Nara atas namanya. Selama bertahun-tahun, ayah Nara berusaha melaporkan tindakan adiknya yang jahat. Namun, tidak ada seorang pun yang percaya. Liciknya lagi, paman Nara malah berpura-pura menjadi korban fitnah, yang seketika mendapat banyak simpati dari media dan masyarakat. Sandiwara pamannya membuat ayah Nara depresi karena namanya menjadi sangat buruk di mata masyarakat. Menyebalkan sekali, bukan? Nara yang sangat muak dengan pamannya akhirnya bersumpah ia tidak akan memaafkan pamannya, dan… tidak akan menjadi penulis. Cita-cita itu sudah Nara kubur dalam-dalam. Ia tidak ingin membuka luka lama bagi mamanya yang rapuh. Sudah cukup. Nara tidak ingin mengingat kejadian buruk itu lagi. Bahkan, sudah lama sekali ia tidak melanjutkan naskah novelnya. Ia tidak bisa menulis lagi. Tidak boleh. Ia nanti harus mencari pekerjaan yang lebih baik setelah lulus kuliah. Menjadi chef seperti mamanya, mungkin?                 Nara mendadak kesal karena mengingat masa lalu yang merenggut nyawa ayahnya.Nara mengganti-ganti acara TV dengan tatapan bosan. Ia sebenarnya bingung, karena tidak punya pekerjaan lain. PR Nara bahkan sudah selesai sejak pulang sekolah. "Apa belajar lagi aja, ya?"                 Nara akhirnya mematikan TV dan mulai membuka buku Fisika. Ia membaca bab yang akan dipelajari Minggu depan.Saat Nara sedang asyik belajar, ponsel di tempat tidurnya berbunyi. Ada chat masuk ke ponsel Nara. Nara melihat ponselnya dan ternyata ia diundang oleh Sandra ke groupchat kelas mereka. Nara sebenarnya sedikit bingung karena ia belum pernah bergabung ke groupchat seperti ini.            Setelah Nara menerima undangan itu, ponselnya tiba-tiba menjadi ramai dengan chat teman-teman sekelasnya.   Sandra                 : Welcome, Nara! Roni                       : Hai Nara! Akhirnya gabung juga. Deeka                   : Eh ada Nara! Nara                      : Hallo! Deeka                   : Apa kabar? Tetangga lo sehat, Nara? Nara                      : Haha, lucu banget. Deeka                   : Lucu aja! Lucu banget mah kamu. Nara                      : Hah? Sandra                 : Astaga, cie Deekaaaa! Roni                       : Gue keselek nih, Dee! Deeka                   : ASTAGA! Gue baru balik dari toilet! Tadi dibajak abang gue!!! Roni                       : Dibajak? Hmm, basi. Sandra                 : Hahahaha ketawa aja deh gue. Nara                      : Abang lo iseng banget deh, nggak jauh beda sama adeknya! Deeka                   : HAHA, iya nih.                   Nara mendengus geli, berbaring di ranjangnya dan terus berbalas chat dengan teman-teman sekelasnya sampai dirinya mengantuk dan tertidur dengan ponsel yang masih menyala. Ia merasa lelah sekali, mungkin akibat tadi ia terlalu banyak memikirkan ayahnya yang ia rindukan dan pamannya yang sangat ia benci.   ***   Keesokan harinya, Nara berangkat sekolah lebih pagi karena ada jadwal piket. Namun, sesampainya di sekolah, Nara terkejut saat melihat motor hitam besar yang tidak asing baginya yang sudah ada di parkiran. "Kenapa dia juga datang sepagi ini? Bukannya jadwal piket dia masih besok?” gumamnya heran.                 Setelah memarkirkan sepedanya, Nara berjalan ke kelas dengan langkah cepat. Ia ingin segera memastikan apakah benar cowok itu sudah datang sepagi ini. Lalu,mata Nara melebar melihat Deeka yang sedang menghapus papan tulis.                 "Ngapain lo datang pagi-pagi begini?" tanya Nara ketus.                 "Gue piket." Deeka menyengir dan terus menghapus papan tulis. Walaupun sebenarnya, papan tulis itu sudah bersih tanpa tinta spidol sedikit pun. Jawaban Deeka membuat Nara curiga, pasti cowok itu menggantikan jadwal piket sahabatnya.                 “Roni nggak masuk, ya?” Nara menaruh tas, lalu mengambil sapu yang sudah tersedia di dekat lemari kelas.                 “Iya, dia ada acara keluarga. Jadi, gue ajak tukeran jadwal aja. Gue sahabat yang baik, kan?” Deeka tersenyum, beralih membenarkan taplak meja guru yang tidak terlalu berantakan.                 Nara menghela napas, menyapu tanpa memedulikan tatapan Deeka yang tidak ada putusnya. Sambil duduk di kursi guru, Deeka bertopang dagu. Ia senang melihat Nara yang sedang bersih-bersih. Di mata Deeka, aura rajin Nara begitu terpancar.                 “Gue kok merasa piket sendirian, ya? Cepat ambil sapu! Malah bengong,” jawab Nara dengan ketus, sambil mendelik tajam ke arah Deeka.                 “Iya, iya!” Deeka berdiri, berjalan mengambil sapu. Ia mulai menyapu dengan lemas, sesekali memperhatikan Nara, lalu membuang pandangannya saat tepergok oleh Nara. “Lo bisa nggak sih sedikit lembut ke gue? Galak amat.”                 “Gue nggak mau terlalu baik sama lo. Takut penggemar lo cemburu,” jawab Nara sambil merapikan meja. “Lo tahu Siska? Dia selalu ngomongin lo setiap istirahat.”                 Deeka menaikkan satu alisnya. “Ngomongin gimana?”                 Nara mulai bercerita panjang lebar tentang tingkah Siska yang genit dan histeris setiap Deeka tidak ada di kelas. Siska selalu memuji rambut Deeka yang terlihat keren seperti boyband Korea favoritnya, bahkan Siska juga sering mengaku Deeka selalu membalas sapaan dan senyumannya. Siska begitu terdengar percaya diri saat berpendapat bahwa Deeka juga menyukai dirinya. Padahal, menurut Nara sudah jelas Deeka sejauh ini hanya menyukai sepak bola.                 Deeka tertawa, terutama saat Nara menirukan suara Siska yang sedikit nyaring. Deeka tidak menyangka Nara kadang-kadang juga bisa menggemaskan. Tidak sia-sia Deeka membujuk Roni agar bertukar jadwal piket agar ia  bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Nara.                 “By the way, kok cuma kita berdua yang piket hari ini? Bukannya seharusnya ada lima orang ya yang piket hari ini?” tanya Nara heran.                 “Kayaknya sih mereka malas piket.” Deeka bertopang dagu, mengetukkan jarinya beberapa kali di meja. “Biasanya gue juga malas datang pagi dan bersih-bersih, lho.”                 Nara mengernyit. “Terus?”                 “Terus… NABRAK.” Deeka memukul meja, bangkit berdiri dan berjalan tanpa dosa mendekati Nara yang sedang mengepel. “Gue heran, hati lo terbuat dari apa, sih?”                 Nara memandang sepatu mahal Deeka, lalu beralih menatap mata cowok itu. “Demi apa pun, lantainya baru gue pel, Dee!”                 Deeka terkekeh, memasang cengiran andalannya. “Oh, really? Maaf, gue sengaja.”                 Nara sangat ingin menimpuk Deeka dengan meja, saking kesalnya. Namun, lagi-lagi cowok itu  kabur setelah mengacak rambut Nara yang hari ini dikepang. “Sumpah, lo nyebelin banget, ya!”                 Hanya tawa Deeka yang Nara dengar karena cowok itu sudah ke luar kelas. Tanpa sadar, Nara ikut tertawa pelan sambil merapikan rambutnya. Aneh, ia malah tertawa karena tingkah menyebalkan cowok aneh itu.   ***   Sejak Deeka piket berdua bersama Nara, Deeka tidak pernah sekali pun melewatkan kesempatan untuk mengganggu atau membuat Nara marah. Deeka bisa tiba-tiba menjitak kepala Nara, dan terus memanggil Nara dengan sebutan Beruang hanya untuk membuat cewek itu marah. Deeka merasa hal itu mulai menjadi hobi barunya karena menurutnya, ekspresi Nara sangat lucu saat marah. Baru kali ini ia senang melihat seseorang cemberut, mengomel, bahkan balas memukul menggunakan buku ke arahnya.                 “Ron, kayaknya gue beneran suka sama tuh cewek,” ucap Deeka saat masih ada guru yang sedang mengajar di kelas .Namun, bukan Deeka namanya kalau diam saja saat jam pelajaran.                 “Oh, ya? Ya udah, perjuangin.” Roni terus menyatat materi yang ada di papan tulis.                 “Masalahnya, dia kayaknya benci sama gue,” ringis Deeka mengusap tengkuknya. “Apa gue salah strategi?”                 Roni mendengus geli. “Lagian lo malah bikin dia mara hmulu.”                 “Dia lucu kalau lagi marah, gue suka.” Deeka terkekeh pelan. “Menurut lo, Nara gimana, Ron?”                 Roni berpikir sejenak. “Nara manis, pintar, pendiam, kelihatan baik, walau selalu galak sama lo.”                 “Hmm, lo suka tipe kayak Nara gitu, nggak?”                 Roni tidak mengerti kenapa Deeka bertanya seperti itu. Roni mengedikkan bahu. “Gue nggak tahu, sebenarnya… gue nggak ada tipe cewek, yang penting nyaman aja.”                 “Tipe lo kayak kasur, ya? Kan nyaman tuh.” Deeka mengagguk mengerti. “Terus, kenapa lo nggak cari cewek, Ron?”                 “Nggak minat.”                 “HAH? Lo nggak minat sama cewek? Jangan-jangan selama ini… lo memendam perasaan ke gue, ya?” tanya Deeka dengan pandangan ngeri. Beberapa detik kemudian, Roni melirik lalu memukul belakang kepala Deeka cukup keras.                 “Aduh.” Deeka meringis kesakitan, tapi ia menganggap pukulan dari Roni menandakan  bahwaRoni tidak memendam perasaan padanya. Syukurlah. Deeka merasa begitu lega karena sahabatnya tidak salah jalan. “Oke, lo normal. Gue percaya.”                 Roni mengembuskan napas dengan berat. Ingat? Memiliki sahabat seperti Deeka itu terkadang menjadi cobaan tersendiri. “Udah, mending lo mulai catat materi yang di papan tulis. Buku lo masih bersih banget, astaga.”                 Deeka menyengir, memegang pulpen dan mulai melihat ke papan tulis. Matanya menyipit ketika huruf-huruf dan angka di papan tulis terlihat buram bahkan berbayang. Seingat Deeka, matanya tidak minus. Deeka mengusap matanya sesaat, lalu kembali melihat papan tulis. Kepalanya sedikit pusing, ia memijat tengkuknya agar merasa lebih baik.                 Roni yang duduk di sebelah Deeka, menyadari tingkah aneh sahabatnya. “Lo kenapa?”                 “Nggak, gue cuma… mual lihat angka yang terlalu banyak, Ron,” jawab Deeka sedikit asal. Ia sendiri juga tidak tahu mengapa kepalanya pusing dan matanya tidak bisa melihat tulisan di papan tulis dengan jelas. Sepertinya, kapan-kapan ia harus memeriksa matanya.                 “Nih, lihat catatan gue aja. Gue udah selesai.” Roni menaruh buku tulisnya ke hadapan Deeka. “Semoga lo nggak mual kalau lihat angkanya dari buku gue,” lanjut Roni terkekeh.                 Deeka membuka buku Roni, membaca tulisan Roni yang sangat rapi. Awalnya, semua terlihat jelas. Namun, beberapa saat kemudian, semua huruf dan angka itu kembali terlihat buram. Deeka mengusap mata, lalu memijat pelipisnya. Kejadian seperti ini sudah lumayan sering terjadi. Penglihatan Deeka yang semakin buram, membuatnya menutup buku Roni, lalu tertawa pelan. “Aduh, gue pinjem buku lo aja, ya? Gue lagi males nulis.”                 “Kapan sih lo nggak males?” canda Roni yang membuat Deeka semakin tertawa hambar. Iya, Deeka memang pemalas. Deeka mengakui hal itu, walau sebenarnya kali ini bukan itu penyebabnya. Sekarang, mata Deeka kembali bisa melihat semuanya dengan jelas. Tidak buram ataupun berbayang lagi.                 Deeka benar-benar tidak mengerti. Apa yang salah dengan dirinya?   ***   Saat Nara sedang membaca novel, Deeka menarik kursi sambilmemakan roti di sebelah Nara. Nara sebisa mungkin berusaha mengabaikan kehadiran Deeka. Namun, kepala Cowok itu tiba-tiba saja sudah berjarak satu jengkal di sebelah Nara.                 “Memangnya seru, ya?” tanya Deeka dengan jarak yang membuat jantungnya sendiri berdebar berlebihan.                 Nara mendorong kepala Deeka dengan telapak tangan, agar kepala cowok itu menjauh. Nara sangat risi berada terlalu dekat dengan lawan jenis. Walaupun aroma Deeka seharum bunga yang semerbak, tapi Nara tetap saja tidak suka berada sedekat itu. “Jangan ganggu gue baca, please.”                 “Lo suka banget baca, ya? Gue tebak, cita-cita lo pasti mau jadi penulis.” Deeka tersenyum sombong, merasa yakin kalau tebakannya benar. Setahunya, seseorang yang suka membaca, pasti memiliki keinginan untuk menulis ceritanya sendiri dan menerbitkannya suatu hari nanti. Begitulah ilmu yang Deeka dapat dari papanya yang memang bekerja di kantor penerbitan di daerah Yogyakarta.                 “Salah. Gue nggak mau jadi penulis.” Wajah Nara mendadak terlihat sedih. Deeka mengernyit dan sebenarnya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.                 “Lo serius? Gue rasa, lo cocok jadi penulis. Lo udah pernah coba nulis cerita, belum?” tanya Deeka sambil mengunyah roti. “Gue saranin, coba tulis dan kirim cerita lo ke penerbit. Bokap gue kerja di penerbit—”                 “Gue nggak tertarik! Lo nggak ngerti apa-apa, Dee. Jadi, mendingan lo berhenti ngoceh dan pergi,” ujar Nara tegas, tanpa melihat Deeka.                 “Gimana gue bisa ngerti, kalau lo aja nggak pernah cerita?” Deeka tertawa, perlahan bangkit berdiri dengan perasaan yang lumayan bingung. “Tapi, gue rasa, tadi lo bohong. Gue benar, cita-cita lo pasti penulis, kan?”                 Ketika Deeka melangkah pergi, Nara menutup novelnya dan keluar dari kelas dengan langkah kesal. Nara kesal karena Deeka mengingatkannya dengan cita-cita yang sudah hampir ia lupakan. Kenapa cowok itu sok tahu sekali? Nara sudah jelas tidak ingin menjadi penulis. Cita-cita itu hanya akan membuka kembali luka lama dirinya dan mamanya. Nara tidak bisa menjadi penulis, ia terlalu takut menjalani hidup seperti ayahnya. Ia juga tidak mau berakhir seperti ayahnya.                 Nara menutup novelnya, lalu beranjak pergi ke toilet. Sesampainya di toilet, Nara tidak sengaja bertemu dengan Siska yang sedang mencuci tangan. Nara tersenyum canggung, lalu mencuci tangannya dengan asal. Sebenarnya, ia ke toilet hanya ingin menenangkan diri. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Siska. Sebagai informasi, wajah Siska sangat cantik, walau tidak secantik Sandra. Kekurangan Siska, ia jarang sekali tersenyum tulus. Nara tidak suka melihat senyum Siska yang terkesan sok imut atau terlalu dipaksakan. Nara juga tidak suka dengan hobi Siska yang senang bergosip. Entah gosip tentang para penyanyi, aktor, atau teman-teman sekelasnya sendiri. Nara sungguh tidak suka. Untuk apa sih mengurusi orang lain? Itu hanya membuang-buang waktu.                 “Gimana rasanya dekat sama cowok paling terkenal di sekolah? Lo udah merasa kayak peran utama di novel fiksi, belum?” tanya Siska memandang Nara melalui cermin besar di hadapannya. “Aneh, ya. Padahal, lo nggak cantik-cantik amat.”                 Nara sempat menegang karena ia tidak pernah bicara dengan Siska sebelumnya. Ia tidak menyangka, Siska bisa seketus itu. Biasanya, ia selalu bersikap imut. “Maksud lo apa, sih?”                 “Jauhin Deeka, dia nggak pantes buat lo.”                 Nara terkekeh. “Gue tahu.”                 “Baguslah lo sadar diri. Kalau setelah ini lo masih deket-deket sama Deeka, gue akan mulai membenci lo, Nara. Paham?”                 Sebenarnya, Nara tidak takut dengan ancaman Siska. Siska akan membenci Nara? Lalu? Nara bahkan tidak pernah peduli pada orang-orang yang membencinya. Bagi Nara, mereka tidak berarti apa-apa. “Gimana kalau Deeka yang deketin gue?”                 Siska lantas mendengus. “Sok cantik banget, ya. Pokoknya, gue nggak suka lihat kalian dekat. Jaga jarak atau gue berani menjamin hidup lo nggak akan tenang.”                 Baiklah, ancaman Siska kali ini terdengar sedikit menakutkan. Tidak akan tenang? Apa Siska akan meneror Nara setiap hari? Astaga, Nara terlalu mencintai ketenangan. Nara akhirnya menghela napas. “Iya, terserah,” ujar Nara berusaha tenang, lalu mengeringkan tangannya dengan tisu. “Gue duluan ya.”                 “Heh! Malah kabur!”                 Sejujurnya Nara bisa mengabaikan ancaman Siska. Namun, tanpa harus diancam, sejak awal Nara memang sudah berniat untuk tidak terlalu dekat dengan Deeka. Selain cowok itu sangat menyebalkan, Nara bersama dengan Deeka itu rasanya seperti langit dan bumi. Terlalu jauh, bukan? Nara hanya mencoba untuk tahu diri. Tugasnya di sekolah hanya belajar dan membuat mamanya bangga.                 Cinta SMA? Nara tidak butuh hal semacam itu. Nara sudah sering membaca semua itu di novel, dan ia sadar sekali… realita tidak akan seindah novel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD