Tidak seharusnya aku menjauhimu dulu.
***
Deeka bingung karena ia merasa Nara semakin ketus dan menjaga jarak. Setiap Deeka duduk di sebelah Nara, cewek itu akan langsung bangkit dan pergi. Setiap diajak bicara, Nara juga akan mengabaikan Deeka, seolah Deeka adalah makhluk tak kasat mata. Sikap Nara yang berhari-hari seperti itu berhasil membuat Deeka merasa semakin frustrasi. Apa Deeka salah bicara saat berkata bahwa cita-cita Nara adalah penulis? Cewek itu memang penuh misteri, membuat penasaran dan seolah meminta Deeka untuk menyelidikinya sendiri. Baiklah, kalau memang itu yang dinginkan Nara.
Deeka kembali menyusun rencana agar bisa menarik perhatian Nara. Para cewek biasanya akan bersorak heboh ketika melihat Deeka bermain sepak bola. Itu artinya, Deeka harus bermain sepak bola di depan Nara. Siapa tahu cewek itu akan terpesona atau malah ikut bersorak heboh seperti yang lain. Benar, kan? Rencana itu boleh dicoba.
Kebetulan sekali, hari ini ada pelajaran olahraga. Ia langsung mengusulkan kepada Pak Budi—guru olahraga—agar murid-muridcowokbermain sepak bola dan gurunya yang keren itu setuju. Semua teman sekelasnya sudah memakai seragam olahraga berwarna hijau, kebanggaan sekolah. Murid cowokdibagi menjadi dua tim dan syukurlah Deeka berada satu tim dengan Roni. Mereka itu pasangan emas, seperti Tsubatsa dan Misaki .
Menit-menit awal saja sudah banyak cewek yang bersorak memberikansemangat kepada Deeka maupun Roni. Namun, Deeka tidak pernah merasa tersaingi oleh sahabat baiknya itu. Banyak yang bilang, Roni itu keren, jarang bicara, dan otaknya sangat luar biasa pintar. Namun, bagi Deeka, Roni adalah sahabat yang bisa diajak melakukan hal bodoh bersama. Roni tidak pernah menampilkan sisi kerennya di depan Deeka, ia juga sangat cerewet dan kasar saat Deeka membuatnya kesal. Pokoknya, Deeka merasa Roni menjadi dirinya sendiri hanya saat bersamanya. So sweet sekali, bukan?
Sesekali, Deeka melirik Nara yang sedang duduk bersama murid cewek lainnya di bawah pohon. Sepertinya cewek itu kepanasan. Nara terlihat menutupi kepalanya dengan buku tulis dan handuk kecil. Meski merasa kasihan pada Nara, Deeka terkekeh melihat Nara seperti itu. Rasanya ia ingin memberikan Nara payung serta kipas angin agar cewek pujaanya itu tidak merasakan panas. Namun, Deeka tidak mungkin melakukan hal tersebut. Ia sedang bertanding sepak bola, jangan lupa!
Setelah satu babak usai, Deeka lagi-lagi melirik Nara dan melemparkan senyum terbaiknya. Namun, malah murid-murid cewek lain yang berteriak.Dari raut wajah Nara, terlihat ia mengira Deeka tebar pesona ke semua cewek. Aduh, risiko orang ganteng begini, ya!
Deeka mengambil sebotol air yang sedang Roni pegang, lalu meminumnya dengan santai tanpa memedulikan teriakan penonton ataupun pelototan sahabatnya. “Gue haus, apa mereka cuma bisa teriak?!” Deeka mengembalikan botol minuman kepada Roni, lalu menjambak rambutnya sendiri dengan putus asa. “Ron, tolongin gue. Gimana caranya biar Nara bisa menyadari karisma gue?”
Roni menggeleng geli. “Coba lo jangan terlalu agresif. Dia juga risi kali.”
“Apa gue kemarin terlalu agresif?” tanya Deeka menaikkan satu alisnya. “Gue kira, cewek akan merasa tersanjung kalau dikejar?”
“Ibaratnya tuh kayak layangan. Kalau ditarik terlalu kuat, layangan itu akan putus. Tapi,kalau terlalu banyak diulur, layangan itu akan lepas dan jatuh. Jadi, tarik ulur seperlunya aja.”
Deeka berdecak kagum, memukul punggung Roni. “Gila, padahal lo jomlo juga. Tapi, lo terdengar ahli banget, Ron! Gue bangga!”
Roni hanya tertawa, ia menunjuk kepalanya sambil tersenyum. “Itulah manfaat dari banyak membaca, Dee.”
Deeka mengangguk paham. Ada untungnya juga punya sahabat kutu buku. “Udahlah, gue cukup ganteng dan humoris aja. Kalau pinter, itu biar menjadi kelebihan lo.”
“Kenapa gitu?”
“Kalau gue juga pinter, gue akan terlalu sempurna, Ron. Got it?” ucapnya dengan percaya diri.
Roni tertawa, ingin sekali menimpuk wajah Deeka dengan sepatu. Deeka memang sudah terlahir narsistik. Roni kemudian menepuk bahu Deeka saat peluit sudah dibunyikan. “Ayo, tim kita harus menang!”
Deeka mengepalkan tangannya, menandakan dirinya sangat bersemangat. Namun, baru beberapa langkah ia berlari, tiba-tiba ia merasa kehilangan keseimbangan dan tubuhnya sudah mencium lapangan semen yang panas dengan sempurna. Roni langsung berlari panik membantu Deeka berdiri, mata Roni melebar ketika melihat darah yang begitu banyak mengalir dari dagu Deeka. “Astagfirullah, Dee! Dagu lo berdarah!”
Deeka meringis, menggigit bibir dan merasakan sakit yang luar biasa dari dagunya. Hampir semua murid satu kelasnyamengelilingi Deeka. Mereka panik sekaligus merasa khawatir. “Aduh sakit, Ron!”
Tiba-tiba saja, seseorang menempelkan handuk kecil ke dagu Deeka. “Biar darahnya nggak ngalir terus,” ujar cewek itu datar.
Deeka sedikit membuka mulutnya, tidak menyangka ternyata Nara baru saja menolong dirinya yang terluka. “Thanks.”
Kemudian, Deeka dirangkul oleh Roni dan murid cowok yang lain untuk dibawa ke UKS. Deeka meringis, sekuat tenaga menahan air mata. Demi apa pun, dagunya sakit sekali! Sesampainya di UKS, suster yang berjaga mengatakan dagu Deeka harus dijahit. Itu artinya, Deeka harus dibawa ke rumah sakit. Deeka mendesah malas, ia benci sekali tempat berbau obat tersebut. Roni terpaksa menelepon abangnya Deeka yang seharusnya berada di rumah.
[Halo, kenapa telepon, Ron?”]
“Anu, Bang Indra. Deeka jatuh, dagunya udah diobatin, tapi harus tetap dijahit. Nanti bisa jemput di rumah sakit, nggak?”
[Hah? Serius, Ron?]
“Serius, Bang. Ini Deeka hampir nangis di UKS. Untung aja ada guru yang mau nganterin ke rumah sakit.”
[Oke, gue ke rumah sakit ekarang. Suruh dia tenang!]
Saat sambungan terputus, Deeka akhirnya berani menangis di depan Roni. “Ron, Bang Indra pasti marah, yaaa?”
Roni mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Dia kayaknya kalau lagi baik juga nada bicaranya galak, kan?”
“Iya, bener juga.” Deeka menyeka matanya, masih menahan dagunya dengan handuk pemberian Nara. “By the way, Nara baik, ya?”
Melihat Deeka yang sudah bisa tersenyum bodoh, Roni hanya mendengus. “Alhamdulillah, di balik jatuh lo yang nggak cantik, ternyata ada hikmahnya.”
Deeka terus tersenyum, hatinya terasa berbunga-bunga karena perhatian kecil Nara. Ternyata cewek itu peduli pada Deeka. Deeka jadi semakin semangat untuk menaklukkan hati cewekmanis itu secepatnya.
***
Nara memang seharusnya membiarkan cowok itu berdarah-darah saja. Kenapa Nara harus kebetulan sedang membawa handuk putih kecil saat cowok aneh itu terluka? Ditambah lagi, kenapa tangannya bisa terulur tanpa sadar menolong Deeka? Akibatnya, kini satu kelas memandangnya seolah ia baru saja melakukan kesalahan paling fatal di dunia.
Nara benci diperhatikan. Ia menunduk, duduk di kursinya dan pura-pura membaca novel. Ia yakin, Siska pasti akan memarahinya lagi. Sebenarnya Nara tidak pernah bermaksud mencari perhatian Deeka. Ia hanya… kasihan dan tidak tega melihat orang lain berdarah di depan matanya.
“Gimana rasanya jadi pahlawan? Enak?” Siska bicara di depan meja Nara dengan senyum manis dan imut yang biasa ia pamerkan ke semua orang. “Gila, gue kagum banget sama sifat lo yang heroik.”
“Bilang aja lo iri, Sis.” Sandra mendengus di sebelah Nara. “Lo iri karena terlambat nolongin pangeran lo itu, kan? Refleks Nara jauh lebih cepat untuk menolong Deek adibanding lo. Jadi? Itu bukan salah Nara. Lo aja yang terlalu lambat.”
Siska menaikkan satu alis, menatap Sandra tajam. “Jangan ikut campur.”
“Nara sahabat gue. Jadi, gue berhak ikut campur.” Sandra mengedikkan bahu. “Lo mau pergi, atau mau denger gue ngomong lebih banyak lagi?”
“Sialan, dasar babunya Nara!” Siska pergi dengan kaki yang dientak kesal. Ia sangat berharap Sandra kesal dengan hinaan terakhirnya. Namun, harapan Siska hanya menjadi harapan. Sandra malah mendengus geli, lalu menunjukkan foto Justin Bieber terbaru ke Nara. Mereka mengobrol seakan kejadian Siska yang marah-marah tadi tidak pernah terjadi.
Nara merasa beruntung mengenal Sandra. Walaupun mereka baru saling mengenal, Sandra begitu perhatian dan selalu mengerti perasaan Nara. Nara pun sering cerita kepada Sandra tentang sikap Deeka yang sangat menyebalkan. Sandra memang jauh lebih sering mentertawakan Nara, dibanding memberikan solusi. Namun, itu jauh lebih baik daripada tidak punya tempat untuk bercerita.
Fokus Nara teralihkan saat Roni memasuki kelas dan mengambil tas miliknya dan Deeka. Satu alis Nara terangkat. “Lo sama Deeka mau pulang?”
“Ke rumah sakit, dagu Deeka perlu dijahit, Ra.” Roni tersenyum tipis, lalu ia buru-buru keluar kelas. Nara langsung berpandangan dengan Sandra. Entah sejak kapan, Sandra malah memuji Roni yang setia kawan, keren, dan sangat baik. Nara sedikit curiga, Sandra memiliki perasaan terhadap Roni. Walau Sandra mengelak, tetap saja hal itu terlihat begitu jelas. Astaga, menurut Nara, Sandra dan Roni sangat serasi. Berbeda dengan Nara dan Deeka yang tidak ada cocok-cocoknya!
Omong-omong, dagu Deeka harus dijahit? Separah itu lukanya? Dasar ceroboh. Seharusnya Deeka lebih hati-hati. Jika Nara berada di posisi Deeka, biasanya dia selalu menahan dengan tangan agar wajahnya tidak terluka. Namun kenapa Deeka tidak? Nara bahkan ingat, telapak tangan Deeka sama sekali tidak berdarah.
Kenapa bisa begitu?
***
Deeka menyentuh dagunya yang sudah ditutup oleh perban dan plester. Deeka masih ingat saat dokter menjahit dagunya beberapa waktu yang lalu. Mengerikan sekali. Walau sudah dibius, tetap saja ia seram membayangkan jarum dan benang menusuk kulitnya yang lembut. Deeka berjalan di lorong rumah sakit untuk mencari abangnya. Ia mau pulang dan tidur secepatnya. Saat melihat punggung tegap Indra, Deeka berlari menghampiri, tapi ia sedikit terhuyung hingga menabrak punggung abangnya dengan sempurna.
“Dee! Lo kalau jalan hati-hati dikit, dong.” Indra menggeram, menatap adiknya yang ceroboh dengan kesal. “Lo inget ini keberapa kalinya lo jatuh?”
Deeka berlagak menghitung dengan jemarinya. “Kayaknya… lima, Bang.”
“Nah, apa kurang banyak? Lo kenapa, sih? Kayak bocah aja kerjaannya jatuh mulu. Jalan tuh pakai mata, Dee.”
Deeka menunduk saja selama diomeli oleh abangnya yang memang terkenal galak melebihi ibu tiri. “Iya, ini yang terakhir, Bang.”
“Ya udah, ayo pulang.” Indra menyeret lengan Deeka. “Oh iya, Roni mana?”
Tak lama kemudian, Roni datang sambil membawa dua porsi bubur ayam. Deeka tersenyum lebar, mengambil satu porsi untuk dirinya sambil mengucapkan terima kasih. Roni memang sahabat yang sangat pengertian. Deeka memakan bubur ayamnya di mobil. Abangnya yang melihat Deeka makan dengan lahap hanya bisa mendengus geli. Dalam perjalanan, Indra menyalakan radio. Lalu,saat mendengar suara kekasihnya, senyuman Indra mengembang. Indra terus menyetir, mengabaikan Deeka yang terus mengolok-olok dirinya.
Setelah mengantar Roni pulang, Indra melajukan mobilnya ke rumah. Jarak rumah Deeka dan Roni tidak begitu jauh, hanya berbeda komplek. Sesampainya di rumah, Risa—mama Deeka—langsung menangkup wajah Deeka dengan panik, menanyakan keadaan putra bungsunya. Deeka hanya tertawa, menenenangkan Mama agar tidak perlu khawatir. Mendengar perkataan Deeka, Risa menghela napas, lalu memeluk Deeka dan meminta maaf karena tidak bisa menemaninya ke rumah sakit karena tadi sedang banyak sekali konsumen.
“Nggak masalah, Ma. Tadi udah ada Bang Indra dan Roni yang nemenin Deeka,” ujar Deeka tersenyum lebar.
“Kamu udah makan? Aduh, kamu kayaknya tambah kurus setelah dagu kamu dijahit!” Risa menangkup pipi Deeka dengan gemas. Deeka hanya menyengir, ia berkata belum makan sejak SD dan sekarang ia lapar sekali. Tolong, abaikan kebohongan Deeka karena ia memang masih lapar. Canda tawa memang selalu mengisi seluruh sudut rumah, berkat adanya Deeka.
Deeka bahagia sekali saat melihat meja makan penuh dengan makanan favoritnya. Sebenarnya, hampir semua makanan adalah favorit Deeka. Ia tidak pernah memilih-milih makanan. Kecuali kacang, karena Deeka alergi kacang. Terakhir kali ia tidak sengaja memakan roti isi selai kacang, badan Deeka langsung merah-merah dan gatal. Pokoknya, Deeka anti kacang.
Andra duduk di sebelah Deeka dengan dahi mengernyit. Dengan polosnya, ia menyentuh plester yang tertempel di dagu Deeka. “Dagu lo kenapa, deh?”
Deeka menepis tangan abangnya sambil melotot. “Jatuh, Bang. Tapi, bisa bangkit lagi, kok.”
“Terus itu dijahit, ya? Sakit, nggak?”
“Nggak, cuma kayak digigit semut rangrang.”
“Buset, itu dijahit apa disunat? Hahaha.” Andra tertawa. Deeka sebenarnya tidak mengerti maksud abangnya, tapi ia tetap tertawa saja biar suasana tidak garing. Berbeda dengan Indra, yang mungkin tertawa seminggu sekali, Indra hanya diam saja dan duduk dengan tenang di meja makan.
“Bang Indra, dulu gimana caranya pas deketin Kak Keyra?” tanya Deeka menyumpitkan mi ke mulutnya, tapi mi terus saja terlepas dari sumpit hingga membuatnya gemas. Deeka tidak menyerah menggunakan sumpit karena biasanya ia bisa menggunakannya. Andra yang melihat Deeka kesusahan menggunakan sumpit, langsung memberi Deeka garpu sambil tidak lupa mengejek Deeka norak.
“Anak kecil nggak boleh pacaran,” jawab Indra datar, lalu meminum air putih. “Lo belajar aja yang bener, kalau lo masuk tiga besar, baru nanti gue kasih tahu, Dee.”
“Ish, orang keponya sekarang!”
Deeka melanjutkan makannya sambil cemberut. Menjadi anak bungsu memang sangat menyebalkan karena selalu dianggap “masih kecil” dan sering kali diremehkan. Mungkin paling enak jadi anak pertama karena bisa memerintah sesuka hati dan menjadikan para adiknya sebagai pelayan. Begitulah nasib Deeka selama bertahun-tahun. Sering sekali disuruh-suruh oleh kedua abangnya yang manja. Apalagi Bang Andra! Membuat kopi saja, ia harus meminta Deeka yang buatkan. Katanya, buatan Deeka sangat enak. Padahal, menurut Deeka biasa saja. Sampai-sampai Deeka pernah iseng memasukkan garam ke kopi agar abangnya kapok menyuruhnya lagi. Namun, sayangnya ulah Deeka malah membuat Andra menyembur kopi asin itu ke wajah Deeka. Akhirnya, Deeka kapok mengerjai abangnya danmulai pasrah jika disuruh membuat kopi lagi setiap hari.
Andra adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi semester akhir. Deeka sebenarnya heran karena abangnya tidak lulus-lulus padahal sudah hampir lima tahun kuliah. Abangnya itu lama sekali membuat skripsi, malah lebih sibuk menjadi seleb di i********:. Wajar saja jika Bang Andra terkenal. Wajah Bang Andra itu seperti orang Korea. Andra bahkan berkulit sangat putih, tidak seperti kulit Deeka yang berwarna kuning langsat. Andra juga terkenal sebagai playboy yang profesional. Dulu saat SMA, abangnya itu memiliki mantan yang sangat banyak. Deeka sampai sangat heran, kenapa hanya dirinya yang tidak pernah pacaran? Anjing penjaga rumahnya saja sudah pernah, masa Deeka tidak?
Pokoknya, Deeka harus mencari pacar agar ia tidak kalah dengan anjingnya. Namun, Deeka tidak tahu bagaimana caranya.Baru mendekati Narasatu langkah saja, dirinya sudah dijauhisepuluh langkah.
“Dee, bikinin gue kopi, dong. Malem ini gue mau revisi skripsi.” Deeka lantas menoleh malas ke arah Andra yang malah memasang senyum polos. “Please, Deeka kan baik.”
Deeka malas membantah, ia akhirnya berjalan ke dapur untuk menyeduh kopi sasetkesukaan abangnya. “Bang! Bikin kopinya di gelas?” teriak Deeka dari dapur.
“Kalau bisa di mangkuk, ya silakan!” sahut Andra tertawa. Ia sudah biasa meladeni pertanyaan bodoh dari adiknya yang rada-rada itu.
Deeka tertawa geli sambil membaw agelas berisi kopi yang sudah diseduh air panas. Namun, baru beberapa langkah Deeka berjalan, gelas terlepas begitu saja dari tangannya tanpa bisa Deeka cegah. Deeka langsung berteriak tertahan karena kopi panas mengenai kakinya. Refleks Deeka begitu lambat untuk menghindar. Deeka juga bingung, kenapa dirinya begitu ceroboh?
“Deeka!” Risa yang paling panik saat melihat gelas pecah dan kaki putra bungsunya yang telrihat merah karena terkena air panas. Ia cepat menarik Deeka agar menyingkir dari pecahan beling. “Kamu nggak apa-apa, sayang?”
Deeka meringis. “Maaf, Ma. Deeka nggak sengaja. Kopi Bang Andra—”
“Andra! Jangan nyuruh adek kamu mulu, dong.” Risa memarahi Andra, memberi nasihat agar Andra bisa lebih mandiri dan tidak merepotkan adiknya yang masih kecil. Deeka sesekali menjulurkan lidah saat mamanya sedang melototi Andra. Akhirnya, tingkah Deeka tersebut berhasil membuat Indra yang melihatnya jadi terkekeh pelan.
“Iya, iya! Ini semua memang salah Andra.” Andra membersihkan pecahan beling sambil terus mencibir tidak terima. Ia yakin, Deeka pasti sengaja agar tidak disuruh membuat kopi lagi.
Selama Andra membersihkan kekacauan yang Deeka buat, Deeka dengan santai duduk berselonjor di sofa dengan sekantung es batu mengompres kakinya. Kakinya perlahan merasa lebih baik. “Makasih, Ma. Deeka udah nggak apa-apa, kok.”
“Lain kali hati-hati, Dee. Tadi siang kamu jatuh, sekarang kaki kamu kena air panas. Besok apa? Kamu senang bikin Mama hampir jantungan mulu, ya?”
“Nggak lah, Ma. Sumpah, Deeka bener-bener nggak sengaja,” ringis Deeka merasa sedikit bersalah. Ia tidak suka melihat raut cemas mamanya. Itu membuat hati Deeka merasa sakit. Deeka berjanji, ia akan lebih berhati-hati besok.
Jangan sampai terjatuh atau kena air panas lagi!