PART 5

2460 Words
Senyumanmu adalah hal terbaik yang pernah aku lihat. Saat senyummu hilang dari hidupku, aku juga jadi lupa cara untuk tersenyum. ****   Sudah menjadi ritual SMA Tunas Pradipta, saat ujian kenaikan kelas usai, pasti ada pertandingan olahraga yang diwajibkan bagi semua kelas. Deeka sebagai kapten tim sepak bola inti sekolah merasa sangat bersemangat. "Ayo, Guys! Kelas kita harus menang! Kalah itu nggak keren!"                 Nara diam-diam tersenyum, ia merasa senang karena Deeka terlihat begitu optimis dan penuh semangat. Nara heran, dari mana asal semangat Deeka yang tidak ada habisnya? Cowok itu selalu penuh semangat setiap hari, tidak pernah lelah teriak-teriak di kelas, larinya juga secepat atlet lari. Dari mana semua tenaga dan semangat itu? Selama beberapa bulan  mengenal Deeka, tidak pernah sekali pun ia melihat cowok itu bersedih. Kalau tidak tersenyum, ya pasti tertawa.                 Sebenarnya, Nara sedikit tertarik untuk mengenal Deeka. Setidaknya, ia ingin tahu, apa hidup Deeka memang benar-benar bahagia? Apa Deeka punya keluarga yang hangat? Atau, apa kebiasaan  sehari-hari Deeka saat di rumah? Nara yakin, pasti jauh lebih menarik dibanding dirinya. Deeka punya banyak teman, semua orang adalah temannya. Deeka tidak pernah pilih-pilih, ia mau mengobrol dengan siapa saja, bercanda dengan siapa saja, tanpa memandang wajah, ataupun popularitas. Semuanya sama. Hingga Nara merasa… begitu banyak orang suka berada di dekat Deeka. Tidak ada lagi tempat untuk Nara.                 Jika diibaratkan dengan warna, hidup Nara berwarna kelabu. Terkadang,Nara memang masih bisa tertawa saat bersama Sandra. Namun, jika sudah berada di rumah, ia begitu kesepian. Ia hanya belajar dan belajar untuk menghabiskan waktu. Nara pun bingung, mengapa Deeka masih sering terlihat berusaha mengajak Nara mengobrol? Padahal, Nara sudah tidak mengacuhkan Deeka berkali-kali danselalu pergi setap cowokkonyol itu mendekat. Namun, halitu sepertinya tidak cukup untuk membuat Deeka menyerah.                 “Dee, tim cewek kurang satu orang!” lapor Sandra terlihat sangat bingung. Deeka menggaruk kepala, lalu melirik Nara yang sedang duduk manis sambil bertopang dagu.                 “Nara! Lo masuk tim sepak bola cewek, ya!” seru Deeka penuh semangat empat lima. “Please, please, please! Lo harapan kita satu-satunya!”                 Nara mengernyit bingung sekaligus kaget. Deeka sedang bercanda, ya? Astaga, Nara sangat benci olahraga. Apalagi sepak bola. Nara lebih memilih membaca lima buku tebal daripada harus disuruh olahraga. Fisik Nara tidak terlalu kuat, ia mudah sekali lelah. Jika nanti Nara pingsan, bagaimana? Deeka pasti tidak mau tanggung jawab. “Nggak! Gue nggak bisa, Dee.”                 “Lo pasti bisa! Ayolah, berhenti menunduk karena gue yakin lo tuh bisa!"                 Ucapan Deeka yang terdengar begitu yakin, membuat Nara merasa sedikit tersentuh. Ucapan optimis Deeka membuat Nara jadi tidak tega menolak ajakan cowok itu. “Oke karena lo maksa.”                 Deeka refleks meraih tangan Nara, menggenggamnya cukup erat sambil tersenyum sangat lebar. “Aduh, terimakasih! Buat tim kelas kita menang, oke?”                 Nara mengangguk pasrah, walau ia sendiri tidak yakin dengan kemampuannya. Terakhir kali bermain sepak bola, ia malah membuat gol bunuh diri. Kejadian memalukan itu membuatnya sedikit takut bermain sepak bola lagi. Setelah sekian lama, akhirnya ia berani karena seseorang terdengar begitu yakin dan percaya padanya. Baiklah, Nara akan berusaha semaksimal mungkin. Minimal, jangan sampai membuat gol bunuh diri lagi. “Udah, lepasin tangannya.”                 Deeka tertawa hambar, melepas tangannya yang tadi menggenggam tangan Nara. “Sorry, refleks. Sumpah, gue nggak bermaksud modus.”Nara mengangguk,ia tidak peduli Deeka modus atau tidak.                 Saat pertandingan dimulai, Nara hanya bisa mengernyit melihat teman-temannya berlari secara bersamaan mengejar bola. Nara memang tidak mengerti cara bermain sepak bola. Namun, rasanya pertandingan sepak bola yang pernah ia lihat, tidak pernah berlangsung seperti ini. Apa aturan bagi cewek itu berbeda?                 Nara memilih tetap berdiri di sisi lapangan yang tidak terlalu panas daripada memperebutkan bola dengan yang lain. Saat Nara menyeka keringatnya, bola malah menggelinding sendiri ke kakinya. Refleks, Nara langsung menggiring bola dan menendang ke gawang lawan. Nara merasa tendangannya tidak terlalu kuat, tapi penjaga gawang tim lawan itu gagal menangkap bola tendangan Nara. Suara sorak kagum langsung terdengar ricuh, Sandra juga berlari memeluk Nara sambil mengajak sahabatnya itu lompat-lompat. “Gol, Ra! Lo keren banget!”                 Nara tertawa saja, tanpa sengaja ia menoleh ke arah Deeka yang berdiri di pinggir lapangan bersama murid yang lain. Cowok itu mengacungkan dua jempol, tidak lupa dengan senyum yang menurut Nara bisa melelehkan hati siapa pun. Mungkin hati Nara juga ikut meleleh.   ***   Nara mendapat banyak pujian dari teman-teman sekelasnya. Sejujurnya, hal itu membuat Nara merasa sangat canggung. Teman-teman satu kelasnya jarang mengajak Nara bicara. Namun, kini, semua terlihat begitu santai memuji Nara hebat, keren, dan sebagainya. Hampir semua memuji, kecuali satu orang,yaitu, Siska.                 Siska bahkan selalu memarahi teman-temannya yang ikut memuji Nara. Menurutnya, tendangan Nara hanya kebetulan gol. “Nggak ada hebat-hebatnya sama sekali. Kalian jangan berlebihan muji dia, deh. Nendang bola gitu doang juga semua orang bisa!” ujar Siska mendengus, lalu tertawa sombong.                 “Oh, really? Terus? Kenapa lo sama sekali nggak berhasil masukin bola ke gawang lawan, Sis?” sindir Sandra tanpa takut.                 “Gue nggak suka panas-panasan di lapangan kayak tadi. Gue terpaksa main, makanya gue nggak niat mainnya. Ngerti?” dengus Siska.                 Sandra tersenyum geli. “Oh, gitu? Oke, gue ngerti banget, kok.”                 “Jangan ngejek gue. Lo jauhlebih payah! Dasar, babunya Nara.”                 “Lo mau ngajak ribut?” Sandra melangkah maju, hampir mencengkram kerah baju Siska, tapi untung saja Nara cukup cepat menahannya.                 “Udahlah, San. Jangan kepancing emosi. Yang waras lebih baik mengalah,” ujar Nara halus, tanpa sadar membuat Siska merasa tersinggung.                 “Terserah, panas gue lama-lamasatu ruangan sama kalian.” Siska lagi-lagi mendengus seperti banteng, lalu pergi begitu saja dengan kedua temannya yang tidak banyak bicara.Ia tertawa puas ketika Siska mendengus dan memilih pergi andra tidak mengerti, kenapa dua orang itu betah berteman dengan Siska. Padahal, kerjaan mereka hanya diajak bergosip.                 “Terima kasih, San. Lo selalu ada setiap Siska ngejek gue.” Nara mengapit lengan Sandra, menyandarkan kepalanya di bahu Sandra dengan sok imut menirukan Siska. Melihat hal itu, Sandra lantas tertawa, mendorong-dorong kepala Nara agar menjauh. Lama-lama ia merasa geli juga.                 “Ayo, mendingan sekarang kita lihat tim cowok kelas kita tanding!” seru Sandra. Ia menarik tangan Nara menuju lapangan lagi, bertepuk tangan heboh saat melihat Roni berlari dengan keringat yang membasahi dahi dan baju olahraganya. “Astaga, Roni keren banget, Ra.”                 Nara setuju dengan Sandra. Roni memang keren. Meskipun jarang bicara, tapi bukan berarti cowok itu dingin. Banyak yang bilang, hanya Deeka yang ramah, sedangkan Roni sering pura-pura tidak lihat kalau disapa, dan masih banyak gosip lainya. Namun bagi Nara, Roni bukan cowok dingin.Ia yakin Roni adalah cowok baik, pintar, dan hangat. Ditambah Roni selalu menjawab pertanyaan Nara saat dirinya bertanya pada cowok itu.                 Perhatian Nara teralih pada cowok yang dari tadi telihat hampir jatuh beberapa kali. “Deeka kenapa, sih? Ceroboh dia nggak hilang-hilang, ya, San.”                 Sandra mengangguk, terkekeh pelan, ia menjawab, “Bikin khawatir, ya?”                 Nara menoleh, memandang Sandra seolah Sandra baru saja melemparkan lelucon yang bodoh. “Kenapa gue harus khawatir?”                 Sandra tidak menjawab. Ia terlalu fokus menyaksikan pertandingan. “Ra, kasih Deeka semangat, yuk? Biar tim kita menang!”                 “Kenapa cuma Deeka yang dikasih semangat?”                 “Karena dia kaptennya! Ayo!”                 “Nggak ah, males.” Nara masih berusaha keras menolak ajakan konyol Sandra. “Lo aja sana teriak sendiri.”                 “Bareng-bareng, Ra! Please!”                 Baiklah, wajah memohon Sandra yang memelas membuat Nara tidak tega. Ia mengangguk lemah, menunggu Sandra menghitung satu sampai tiga. Setelah hitungan ketiga, Nara berteriak sekeras mungkin, “Semangat, Deeka!”                 Seketika, Nara merasa malu dan kesal karena Sandra tidak ikut berteriak bersamanya. Sahabat Nara itu malah terlihat menahan tawa. Saat Nara mau protes dan menghadiahi Sandra cubitan, jawaban Deeka membuat Nara terdiam.                 “Sip! Makasih, Beruang!” Deeka berseru sangat keras, tersenyum begitu senang hingga jantung Nara berdebar tidak senormal biasanya. Apa efek senyuman Deeka sedahsyat itu?                 Sandra tertawa puas di samping Nara, terus menyikut lengan Nara dengan jail sambil mengejek wajah Nara yang memerah. Tidak, wajah Nara merah pasti karena cuaca yang panas. Bukan karena Deeka! Tidak mungkin karena Deeka!                 “Ra, makanya jangan terlalu benci sama Deeka. Benci dan cinta itu cuma dipisahkan oleh satu benang tipis, lho! Hati-hati!”                 Nara menutupi kedua pipinya, memandang Deeka yang sedang tertawa sekali lagi saat melihat temannya yang melakukan selebrasi sehabis mencetak gol. Jika diperhatikan, cowok itu memang sangat menarik. Nara memang sadar hal itu sejak awal, tapientah mengapa ia baru merasakangetaransaat melihat senyum cowok itu.Ah, nggak mungkin karena Deeka!Ingat, Nara! Deeka itu bodoh, menyebalkan, dan terlalu banyak memiliki penggemar. Berada di dekat Deeka itu sangatlah berbahaya, batin Nara. Nara hanya ingin memiliki kisah SMA yang tenang dan lancar, tapi sepertinya… keinginan itu tidak akan terwujud jika ia terlalu dekat dengan cowokbernama Deeka Maherendra.   ***   Nara sangat membenci libur panjang. Mungkin memang terdengar aneh. Namun, serius, Nara memang membenci libur panjang karena liburannya itu sangat menyedihkan. Nara hanya bisaberdiam diri di rumah, tidak pergi ke mana-mana. Sudah hampir dua minggu, liburannyadihabiskan seorang diri. Mamanyayang selalu pulang larutmalam hingga Nara tidak sempat bertemu. Lalu, pagi hari, mama Nara sudah berangkat bekerja lagi. Mamanya sama sekali tidak tahu Nara sangat kesepian sendirian di rumah. Tidak ada teman ataupun saudara untuk berbagi cerita. Nara sempat iri dengan Sandra yang mempunyaidua saudara perempuan sehinggabisa diajak berbelanja bersama dan saling pinjam baju. Beruntung sekali. Nara juga ingin seperti itu.Namun, yang ia punya hanya Mama. Tidak ada lagi.                 Saat Nara sedang merenung,tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Nara sedikit heran karena jarang sekali ia didatangi tamu. Para tetangga di sekitar rumah Nara sangat tertutup dan teman sekolah yang mengetahui alamat rumahnya hanyalah Sandra. Lalu, saat Nara membuka pintu, seketika  ia melebarkan matanya saat melihat punggung seorang cowok di depan pintu rumahnya. “Maaf, cari siapa?”                 Cowok berbaju kotak-kotak itu berbalik badan, ia tersenyum canggung. Ternyata Deeka. “Oh, syukurlah Sandra nggak salah kasih alamat.”                 Bukan pada penampilan cowok itu yang terlihat lebih menarik karena memakai baju bebas, melainkan fokus Nara tertuju pada hewan manis yang cowok itu gendong,“Kucing siapa itu, Dee?”                 Deeka menyodorkan anak kucing berwarna kuning tua ke arah Nara, lalu meminta Nara menggendong kucing manis tersebut. “Buat lo, gue tadi nemu. Seingat gue, lo suka kucing.”                 Nara tersenyum melihat wajah kucing yang ia gendong. Lucu sekali, membuat Nara sangat gemas. Matanya bulat dan berbinar seperti boneka. “Ah, iya. Serius kucing ini buat gue?”                 “Tadinya mau gue pelihara.Tapi, Abang gue alergi sama bulu kucing.” Deeka mengusap tengkuknya, lalu mengangguk sopan. “Ya udah, jaga baik-baik, ya. Gue pamit.”                 Untuk pertama kalinya, Nara tersenyum sangat tulus memandang Deeka. Deeka tidak tahu betapa bersyukurnya Nara saat itu. Ia memang sangat kesepian, dan ingin sekali memelihara kucing. Sayang sekali, mamanya selalu melarang untuk melihara binatang.Namun, sepertinya kali ini mamanya tidak akan melarangnya lagi karena Nara mempunyaialasan yang cukup kuat. Kucing lucu yang sedang ia gendong sangat membutuhkan rumah dan Nara juga butuh teman selama Mama bekerja. Sempurna sekali. “Terima kasih, Deeka.”                 Deeka menggaruk kepalanya, lalu mengangguk canggung. Ia berbalik dan berjalan menuju motor kesayangannya. Tidak lupa, Deeka melambaikan tangan pada Nara, sebelum motornya melaju menembus kepadatan jalan raya. Sepanjang jalan, Deeka tidak bisa berhenti tersenyum di balik helmnya. Ia lega, karena Nara mau menerima kucing itu. Sebenarnya, Deeka sudah dua minggu ini sangat merindukan Nara. Namun, ia tidak punya alasan yang kuat untuk menemui Nara. Ah, Deeka mulai benci dengan libur panjang.                 Beruntung sekali, Deeka menemukan kucing terlantar itu di depan rumahnya tadi pagi. Deeka sudah memberikan s**u dan ikan, berniat memelihara kucing itu hingga besar seperti macan. Namun, sayangnya, Bang Indra jadi bersin-bersin dan memarahi Deeka. Dengan berat hati, Deeka membawa kucing malang ke luar rumah. Lalu tiba-tiba saja, ia teringat pada Nara. Pertama kali Deeka melihat Nara, cewek itu sedang mengobrol dan tertawa bersama kucing di lapangan sekolah. Jadi, menurut pengamatan Deeka, cewek itu pasti sangat menyukai kucing.                 Deeka menanyakan alamat rumah Nara pada Sandra karenasetahunya, Sandra adalah sahabat yang paling dekat dengan Nara. Sebelum memberikan alamat rumah Nara, Sandra sempat mengejek Deeka habis-habisan.Namun, untung saja cewekjail itu akhirnya mau memberikan alamat Nara kepadanya.                 Hari mulai gelap. Deeka mengemudikan motornya lumayan kencang karena ia ingin segera sampai rumah. Di saat ia berusaha fokus melihat jalanan, kepalanya mendadak mulai pusing, pandangannya mengabur.Bahkan ia hampir saja menabrak gerobak pedagang kaki lima, kalau ia tidak cepat berbelok dan mengerem mendadak. Sialnya, tindakan Deeka yang tiba-tiba itu malah membuatnya jatuh dari motor. Untung saja jalanan sepi sehingga tidak ada mobil atau motor yang melintas ketika Deeka jatuh. Deeka membuka helm agar bisa bernapas lebih bebas, di pandangnya siku yang berdarah sambil meringis kesakitan. “Argh….”                 Beruntung, pedagang yang tadi hampir Deeka tabrak ternyata mau membantunya berdiri dan menuntunnya duduk untuk istirahat sejenak. Bapak itu tahu, Deeka pasti kagetsehabis jatuh dari motor. Bahkan, bapak itu memberikan Deeka segelas air untuk Deeka. “Terima kasih, Pak,” ujar Deeka.                 “Kok bisa jatoh toh, Mas? Ngendarain motornya hati-hati, jangan ngebut.”                 Deeka mengangguk sambil terkekeh hambar. “Iya, Pak.Lain kali saya akan lebih hati-hati.”                 Setelah menenangkan diri dan memeriksa keadaan motornya yang sedikit lecet, Deeka pamit pada Bapak tersebut, “Saya pergi dulu, Pak! Makasih atas bantuannya! Saya doain, Bapak makin ganteng!”                 Kini Deeka lebih pelan mengemudikan motornya karena ia tidak mau terjatuh lagi. Jika mamanya tahu, ia pasti akan khawatir dan panik berlebihan lagi seperti biasanya. Deeka jadi takut pulang ke rumah. Lalu, sesampainya di rumah, yang diperkirakan Deeka benar. Mamanya langsung menatap luka Deeka dengan raut cemas. Bertanya keadaan Deeka, Mama langsung menarik putra kesayangannya itu untuk diobati. Selama diobati, Deeka terus berusaha agar terlihat tidak merasa sakit.                 “Astaga, kenapa lagi dia, Ma?” Indra berdecak, duduk di sebelah Mama sambil memandang Deeka heran. “Deeka, lo hobi banget bikin orang lain khawatir, ya?”                 “Demi apa pun, gue nggak sengaja.” Deeka memijat pelipisnya. “Gue juga nggak ngerti, Bang. Mana ada sih orang yang hobi jatoh?”                 Indra tertegun beberapa detik, sampai akhirnya ia berujar, “Lo kayaknya harus periksa. Gue takut, ini semua karena dampak kecelakaan lo setahun yang lalu.”                 “Hah? Nggak mungkin. Gue sehat banget, kok!” protes Deeka nyaris melotot.                 “Bodo amat, besok lo ikut gue ke rumah sakit.”                 Deeka mendesah malas, abang pertamanya memang sering sekali sok mengatur dan menyuruh seenaknya. Deeka tidak suka diajak ke rumah sakit. Bau obat-obatan dan warna cat dinding putih itu selalu membuat perut Deeka terasa mual. Sialnya, setahun yang lalu, Deeka pernah terpaksa menghabiskan waktu di tempat mengerikan itu selama dua minggu.                 Saat itu bus pariwisata SMP Deeka kecelakaan. Tiga puluh penumpang luka ringan, sepuluh orang cedera di kepala, dan Deeka bahkan terlempar keluar dari bus karena dirinya sedang berdiri di dekat pintu. Kecelakaan terjadi karena ada truk yang menyalip bus tiba-tiba, hingga supir bus kehilangan kendali dan malah membanting setir sehingga bus menabrak pembatas jalan.Kecelakaan tragis itumembuatnya tidak berani naik bus lagi. Bahkan, Deeka selalu memejamkan mata setiap melihat bus yang melintas di jalan raya. Trauma, mungkin? Namun, Deeka menganggap traumanya hanya masalah sepele. Ia yakin seratus persen, dirinya baik-baik saja. Sungguh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD