tujuh belas

2203 Words

Selama berpacaran dulu, aku selalu lebih awal dibawa bertemu orang tua pihak laki-laki tanpa kupinta. Pacarku, justru terlihat lebih antusias memamerkan ke hadapan keluarganya. Karena dulu, aku berpacaran dengan laki-laki berpikiran dewasa. Belum pernah aku tertarik pada laki-laki urakan macam Al, manja dan menyebalkan. Namun, berbeda dengan sekarang. Bahkan, sejak awal aku dan Al resmi, ini adalah kunjungan pertamaku ke sana. Dan, niat Al pun bukan untuk memperkenalkanku. Aku nggak masalah sebetulnya, karena itu lebih mudah kalau saja nanti semua ini memang harus berakhir. Tak ada drama menangis dari ibunya karena tak menginginkan perpisahanku dan anaknya. Namun ... rasanya ada yang ... mengganjal. Ah, sudahlah. Aku membaca pesan terakhir Al tadi sebelum naik ke taksi online ini. "Aku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD