5. Dijodohin Sama Kakaknya Mantan Pacar

504 Words
 Tadi, sepulang kerja aku diantar Kafka sampai ke rumah. Karena jujur saja kepalaku pusing sekali, mutar-mutar seperti ada bianglalanya lalu dengan kurang ajar si Ilham ngerengek minta naik berkali-kali kan tambah pening. Tuh kan. Aku memang kurang sehat kayaknya sampai mikir begitu. "Ini diminum, Gai." ibu menghampiriku sambil membawa segelas teh madu yang ia buat. Aku mengambilnya, lalu ibu duduk di sampingku. "Gai, mendingan kamu sama si Kafka deh." Ini aku lagi minum lho bu, kan ngga lucu kalau aku nyembur ibu. Lagian bisa-bisa ajasih, ngomongin beginian saat aku lagi sakit? "Kafka tuh udah punya cewek, cewek." tegasku, sambil meminum perlahan teh. "Yakin kamu? Ah mana mungkin lah dia punya pacar." Kata ibu seolah tak percaya dengan ucapanku tadi. Aku hanya mengangguk. "Kamu ngga sedih?" ibu masih bertanya dan membuatku merasa seperti sedang wawancara. Bedanya yang ini wawancaranya lebih menakutkan. "Memangnya harus sedih ya?" "Kan kalian friendzone. Masa sih kamu ngga pernah suka sama dia. Pernah, kan?" Boom! Aku ngga tahu ada bom di mana, namun hatiku seperti meledak mendengar ucapan ibu. Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya juga. Kafka memang sudah punya pacar, bahkan sudah lama berhubungan namun ia masih saja menempeliku, memberiku perhatian. Sebagai wanita normal yang mengenal baper dan punya perasaan, tentu saja aku rada baper dengannya tapi hanya sedikit saja, sangat sedikit seperti ujung kuku. Tapi yasudah, masa-masa itu juga telah berlalu. "IBUUUUUU~" Ibu hanya tertawa melihat ekspresiku. "Mau ibu kenalin ngga sama anaknya temen ibu?" ucap ibu yang membuatku kaget karena firasatku menjadi tidak enak, tiba-tiba. "Siapa?" "Anaknya Tante Mel." "Si Gattan? Yang waktu sd pernah ee di celana? Yang waktu smp pernah pipis di celana? Yang waktu sma pernah suka sama aku?" kataku dengan nada mengejek. "Kamu ngomong gitu, dulu aja pernah jadian kan kamu sama dia?" ucap ibu yang membuatku diam seribu bahasa. Pipiku langsung merah. Dalam hati, mengiyakan. "Ibu kok tahu-tahuan aja sih. Emangnya ibu mau jodohin aku sama Gattan?" ucapku. "Bukan, ih dia mah udah nikah anaknya udah dua malah. Kamu kalah." Balas ibu yang membuatku kaget kembali. Kok. Aku sakit ya dengernya. Huh. Kayak ada yang ngejek-ngejek gitu. 'Mang enak, kalah start sama mantan.' Kayak gitu. "Terus siapa?" tanyaku yang masih penasaran. "Abangnya Gattan, si Ibnu." Temenan dari SD sampai SMA sama Gattan kok ngga ada tanda-tanda aku kenal sama kakaknya yah? Masa iya kakak ketemu gede gitu? Padahal dulu aku ngga jarang lho ke rumah Gattan. Ngga mungkinkan kakaknya tiba-tiba muncul langsung gede aja gitu? Tapi mungkin juga sih, wauallahualam. "Lusa, Tante Mel sekeluarga mau buka bersama di sini." Ucap ibu yang kembali membuatku kaget. Triple kaget. Bu, aku tahu ini ngga sopan, ta..... tapi... what the hell are you saying to me? Aku ngga terima. Ibu langsung meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Ditinggal lagi cinta-cintanya itu emang nyebelin tapi ditinggal lagi penasaran-penasarannya mungkin lebih greget. Ibnu, kakaknya Gattan. Jodoh, dijodohin. Jadi, aku fix banget nih dijodohin sama kakaknya mantan pacar aku sendiri? Beneran kan ini bukan mimpi aku saja? Bangun, bangun Gayatri. Ini bukan mimpi. Alamaxx. Apa kata dunia coba seorang Gayatri dijodohin~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD