Kayaknya ini hari ke-tiga puasa deh. Oh iya, jangan lupa juga kalau hari ini adalah hari Sabtu, itu artinya aku bisa tidur siang sampai buka puasa nanti sore. Atau kalaupun tidak, setidaknya aku bisa leha-leha sepanjang hari ini.
Aku langsung mencari earphone beserta ponselnya yang tadi subuh sehabis sahur aku letakkin sembarang di tempat tidur. Dengarin lagu, kayaknya enak nih.
"Tante~"
Setelah mendengar suara itu, aku langsung mendengar suara langkah kaki yang begitu cepat sekali.
Dannnnn
Taaadaaa~
Keponakanku, si Ilham langsung masuk ke dalam kamar sambil bawa pedang-pedangan.
Hap!
Tanpa hambatan, dia langsung naik ke kasurku.
"Akuuuu pukuy kamu."
Bangcut!
Ilham memukulku dengan tangannya, sementara pedang-pedangan miliknya ia taruh di sampingnya.
Aku ngga paham deh, sama anak kecil itu. Dia kan punya pedang, terus kenapa mukul akunya pakai tangan????
Tapi, tunggu.
Sepertinya Ilham benar. Pedangkan untuk menebas, kalau pukul mah ya pakai tangan.
Iya ya benar juga. Aku langsung merasa pintar jadinya.
Aku langsung menangkap bocah itu. Dia meronta-ronta sambil berteriak tapi aku tidak peduli dengan itu.
"Am, pukulin Ayah." bisikku di telinganya lalu aku melepaskan bocah itu.
Ilham langsung pergi dari kamarku. Aku ngga tahu dia ke mana dan apa yang dia lakukan. Namun setelah dia pergi. Aku langsung mendapatkan teriakan dari Bang Lian.
"GAYATRI~~~ kamu ajarin apa anak abang???"
Aku hanya tertawa. Pasti Ilham melaksanakan tugasnya dengan baik.
•HH•
Tadi, ibu menawariku dua hal. Yang pertama, membantunya masak-masak atau yang kedua adalah membeli ta'jil untuk berbuka nanti. Tanpa ragu. Tentu saja aku memilih pilihan yang kedua. Bukan aku tak mau bantu-bantu masak, hanya saja aku tak menginginkan air liurku jatuh ke dalam masakan itu karena tak bisa menahan godaan.
"Seterah aku kan beli apa aja?" aku menghampiri ibu dan Mbak Risa yang berada di dapur. Tuh, baru aja aku menghirup aroma ayam rendang, udah bikin aku kepengin. Gimana kalau aku bantuin masaknya coba pasti sudah habis duluan.
"Iya, pakai uang kamu ya?"
Ha? Oke. Itu ngga masalah.
"Ajak Ilham ya? Soalnya mamanya lagi bantu-bantu ibu, terus Bang Lian juga lagi ngecek kerjaannya." lanjut ibu yang membuatku kaget.
Aku jadi tahu, mungkin saja itu niatan terselubung ibu menyuruhku beli ta'jil. Alias, menitipkan Ilham padaku.
"Nanti, aku bawa motornya gimana?" aku masih berusaha agar ibu mencabut perintahnya itu.
"Sama Ayah."
Aduuhh ibu, ngomongnya enak banget sih. Jadi gemez.
•HH•
Gorengan, udah.
Kue basah, udah.
Bubur sumsum, udah.
Apalagi ya yang kurang? Kayaknya sih udah semua. Lagian kalau ta'jil mah jangan banyak-banyak, selain sayang kalau ngga habis, sayang juga uangnya kebuang-buang.
He he.
Masalahnya ini belinya pakai uang aku. Kalau uang ayah, atau Bang Lian sih ngga masalah beli banyak juga. Aku siap ngabisin.
He he.
"Udah semuanya?" tanya Ayah, saat aku menghampirinya. Sedari tadi ayah memang menunggu di ujung g**g dengan Ilham.
"Uang aku ngga cukup buat beli semuanya, ayah." kataku.
"Terserah kamu saja lah."
Aku tertawa mendapati respon ayah yang seperti itu.
"Kakek, donat kakek." Ilham histeris sambil menunjuk-nunjuk donat yang dijual tak jauh dari keberadaan kami sekarang.
Ayah, yang notabenenya sebagai Kakek yang cinta mati banget sama cucunya langsung menuruti keinginan Ilham. Aku menyusul ayah yang sedang berjalan ke arah penjual itu.
"Ini apa?" tanya ayah.
"Donat, pak."
"Kok ngga bolong tengahnya?"
"Iya, di dalamnya ada isian coklatnya."
"Halah, ini mah roti goreng bukan donat. Mbak mau nipu saya?"
Plis... Pliss.. Aku mau hilang aja dari sini sekarang.