Kalian tahu ngga sih, aku tuh deg-degan tahu.
Ngga tahu ya?
Ini, makannya aku kasih tahu.
Tapi maaf aku ngga kasih tahu-nya pake cabe. Soalnya kalau pake cabe namanya gorengan dong.
Aku lagi bercermin, memoleskan bedak dan tambahan lipstik peach yang dibeliin si Anna. Aku berlebihan ngga sih? Padahal tanpa rias wajah sebenarnya aku sudah percaya diri dengan kecantikan alami yang hakiki dari wajahku dan tak pernah luntur ini.
Tapi, kalau bohong dosa kan?
Makannya aku mau jujur aja.
Bukan mau bohong apalagi sombong.
Aku mengambil ponselku lalu melakukan selfie dan aku merencanakan untuk membaginya ke i********: nanti. Setelah menemui foto yang pas, aku langsung membaginya ke i********: dengan caption
Ngga tahu ya, setelah lama gencatan s*****a sama lipstik dan hari ini menggunakkannya kembali........ Aku deg-degan. Duh gusti.
Selesai. Aku hanya tinggal menunggu respon teman-temanku nanti di kolom komentar.
"Gayatri~ Tante Mel udah sampai." kata Ibu yang masuk ke dalam kamarku. Maka dengan segera aku langsung keluar dari kamar dan menuju ruang tamu untuk menyambut Tante Mel dan sekeluarga.
•HH•
"Lho, Mas?"
Oh, dewa pujangga gitaris band gigi. Aku kaget, serius aku kaget. Karena setelah menyalami Tante Mel dan Om Joo tiba-tiba aku melihat pria tampan berkalung sarung yang aku temui beberapa hari yang lalu di masjid komplek rumahku.
Serius, aku ngga lupa sama sekali kok wajahnya. Aku bahkan tahu dia punya t**i lalat di samping kiri dahinya. Daannn... Tatapannya masih serupa kulkas-kulka orang kaya, sejuk.
Tahu kan kalimat apa yang sebentar lagi bakalan diucapin ibu, ayah atau Tante Mel dan Om Joo.
"Kalian saling kenal?"
Tuh ↑
Persis, bahkan ngucapinnya bareng-bareng.
Aku hanya tersenyum, sementara pria itu yang tak ku kenali namanya tak berekspresi apa-apa.
Aku pengin banget nampar mukanya sambil bilang 'WOY KITA DIOMONGIN TUH BRO, JAN DIEM AJA LU. BIBIR KE ELEM APA GIMANA?'
Tapi kasian, kan dia tampan.
Ngga tega.
"Yasudah ayo kita langsung buka puasa aja. Bentar lagi azan soalnya." ajak ibu pada kami semua.
Btw, btw. Aku ngga lihat Gattan tuh, apa dia malu ya ketemu mantan pacarnya yang kalau dilihat-lihat makin mirip Raisa x Isyana?
"Maaf ya, ngga bisa nyiapin banyak. Abisnya Gayatri kerja sih tadi, jadi ngga ada yang bantu-bantu." Ucap ibu.
Yeah, aku cinta mati sama ibu deh pokoknya!!!!!
Kalau di depan orang ngga pernah ngejelek-jelekin anaknya. Meskipun bantu-bantu yang dimaksudkan ibu adalah, bantu-bantu beli ta'jil atau ngga bantu-bantu ngabisin.
He he.
"Ngga apa-apa Tam, kita udah dipersilakan masuk aja udah bersyukur." kata Tante Mel dengan senyumnya.
Setelah selesai makan, kami melanjutkannya dengan sholat magrib berjamaah. Dan kalian tahu apaaaaaaaa?
Si Pria tampan berkalung sarung yang bernama Ibnu itu menjadi imamnya. Sebenarnya itu permintaan khusus ayah, aku juga ngga tahu maksudnya apa tapi mungkin ayah juga ingin menyeleksi pria yang nantinya akan menjadi pendampingku. Terkebih untuk masalah agamanya.
Setelah selesai, kami langsung melanjutkannya dengan sholat tarawih bersama. Sengaja tak dilakukan di masjid biar makin intim gitu.
Si pria berkalung sarung juga masih jadi imamnya.
Tampaknya pria ini kalau urusan agama harus aku beri nilai 90, sengaja aku tak memberikannya 100 karena 100 itu nilai sempurna dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.
Okay okay.
Fisik √ 90
Spiritual √ 90
Tinggal wataknya aja yang belum aku ketahui.
Semuanya, hampir sempurna untukku.
•HH•
Setelah semuanya selesai. Ayah dan Om Joo langsung sibuk dengan pembicaraan tentang bisnisnya masing-masing sementara Ibu dan Tante Mel juga tenggelam dalam obrolan, yang entah aku juga tidak tahu mereka ngomongin apa, mungkin gosip terkini. Tinggal lah aku dengan Ibnu serta kebisuan yang ada di tengah-tengah kami. Menunggu siapa yang akan mulai pembicaraan.
"Saya izin keluar ya? Mau ngerokok sebentar." akhirnya Ibnu menyudahi kebisuan itu. Kini dia berdiri dan meninggalkan aku di sana meskipun aku belum memberikan persetujuan atau apapun.
Baiklah, baiklah. "Saya ikut, ya?" itu bukanlah pertanyaan tapi pemaksaan karena setelah aku mengucapkan itu aku langsung berdiri dan mengikutinya dari belakang. Tak memedulikan apa katanya. Aku ikut saja.
Ibnu duduk di pelataran teras sementara aku duduk di atas kursi yang memang ada di teras rumahku.
"Mas, benarkan kita pernah bertemu?" kataku saat Ibnu ingin mengeluarkan rokok dari kantung kemejanya.
"Di mana? lauhul mahfudz?"
Aku tertawa, sumpah aku tertawa.
"Mas masih ingat? Segitu membekasnya kah saya?" ucapku.
"Memangnya kita pernah ketemu di mana?"
Sialan. Akukan pengin dia jawab gini 'iya, bahkan saya ngga bisa tidur setelah itu.'
"Di rumah mas. Dulu waktu SMA saya sering ke rumah mas, menemui Gattan. Ya, meskipun kita belum pernah ketemu langsung tapi kayaknya ki--"
"Kita belum pernah ketemu kan?" tegasnya yang membuatku diam.
Kenapa sih dia mesti nyebelin kaya Kafka? Bahkan lebih, melebihi Kafka.
Aku tak berbicara lagi, sementara Ibnu mulai membakar rokoknya dan menghisapnya penuh khidmat.
"Mas, saya alergi rokok lho." kataku yang mulai batuk-batuk. Dari dulu, aku memang alergi rokok, mencium asapnya saja sudah bisa bikin aku batuk-batuk.
"Kamu kan bisa masuk ke dalam." Ucapnya.
Enteng. Enteng banget omongannya.
"Saya maunya mas yang matiin rokok." Pintaku padanya.
Setelah itu dia masih menghisap rokoknya sesekali dan tiba-tiba dia langsung membuang rokonya jauh-jauh.
"Sudah."
Aku sungguh terkejut dengan apa yang ia lakukan barusan. Kata Kafka, rokok tuh setengah bagian dari cowok ya karena rokok tuh batangan dan cowok itu punya........
Ah sudahlah.
Aku serius. Cowok yang udah candu rokok tuh susah banget diaturnya kayak mau ditempat mana juga kalau lagi ke pengin mah pasti dilakuin. Dan seorang Ibnu, pria tampan berkalung sarung rela mematikan rokoknya hanya demi seorang aku?
Okay.
Ibnu, pria yang tak bisa ditebak.
Dan aku dibuat penasaran dengan sikapnya.