8. Pancingan Pertama

560 Words
Kerja. Kerja dan kerja. Meskipun ini bulan puasa tapi tetep aja si BosGen mah ngga kenal waktu, nih termasuk nyuruh seorang aku, Gayatri Hutami yang notabenenya anak malas disuruh lembur gara-gara laporan keuangan yang tadi aku bawa ke mejanya ada beberapa typo. Sepele memang, tapi si BosGen yang berzodiak virgo dan dikenal perfeksionis itu tidak kenal dengan kesalahan-kesalahan kecil. "Mau gue temenin Gai?" Aku melihat ke arah Anna yang berada di sampingku. Tanpa pikir panjang aku langsung menggelengkan kepala. Karena sejujurnya kerja sambil dilihatin tuh gimana gitu ya ngga enak aja rasanya apalagi kalau yang ngeliatin iti BosGen, aku rasanya mau ngacir aja ke dalam komputer kalo bisa. "Yakin?" tanya Anna untuk memastikan. "Iya, yakin. Lu pulang aja, besok kan kerja pagi-pagi kalau gue sih bisa datang siangan he he." kataku terkekeh, iya, meskipun BosGen itu jahat tapi ngga jarang juga dia baik. Sudah peraturannya memang jika ada karyawan yang lembur pasti besok pagi dikasih kompensasi boleh datang jam sembilan atau sepuluh pagi tanpa gajinya dipotong karena terlambat. Gimana aku ngga makin cinta dengan bossku itu? "Yaudah, gue tinggal ya." Pamit Anna padaku. Aku menganggukkan kepala. Aku kembali memfokuskan diriku pada pekerjaan sampai akhirnya sosok Kafka muncul dengan satu mangkuk bakso di tangannnya. "Gai, mau bakso ngga?" katanya yang sudah berada di sampingku. Mau, sisain yak. Kataku dalam hati. Tapi karena aku masih sibuk dengan pekerjaanku, aku tak merespon tawaran Kafka. Setelah beberapa menit berlalu dan aku hampir selesai mengerjakan pekerjaan. Si Kafka kembali menawariku. "Mau bakso, ngga?" katanya lagi. "Mau~" ucapku antusias. "Udah abis." Bangcut! Aku langsung memukul lengan Kafka, kesal ngga sih digituin? Aku sih iyaaaaaaa, Allahuakbar. Takbir. Kafka tertawa sebelum akhirnya dia menjauh dari pandanganku karena ingin mengembalikan mangkuknya ke pantry. "Selesai." Kataku. Huh. Aku menarik napasku lalu melihat jam di tanganku. Jam delapan malam malam, rekor tercepatku mengerjakan laporan keuangan dari jam lima tadi. Terus aku buka i********: deh. Terus aku penasaran, orang se tampan Ibnu tuh anti sosial ngga ya? Dia punya i********:, path atau dsb gitu? Maka dengan penasaran aku langsung mencari namanya di kolom pencarian. Ibnu. Aduh, Ibnu apasih namanya? Masalahnya nama Ibnu tuh ngga langka dan orang Indonesia pasti punya ribuan macam nama Ibnu, entah M. Ibnu atau Ibnu Fadhillah, Ibnu Jamil dan Ibnu Ibnu yang lain. Huh. Banyak Ibnu di Indonesia tuh. Tenang, tenang Gayatri. Tenang. Aha! Aku tahu solusinya. Gimana kalau aku cari akun Gattan terlebih dahulu, ta....... tapi nanti kalau aku baper sama postingan yang ada anak sama istrinya gimana? Apalagi kalau captionnya bikin baper? Masa bodoh, aku cari aja akun Gattan dan melihat postingan terakhirnya bersama....... Ibnu, yeay aku senang banget apalagi si Gattan ini menandai Ibnu. Segera saja aku buka akunya Ibnu. Welcome to my phone, Mas. Tepat saat aku membuka instagramnya. Aku dikejutkan dengan telepon nomor yang tak dikenali. "Hallo, Assalamualaikum." Eeehhh.... Bukannya ini, itu, anu..... anu ini tuh suara Ibnu yaa? "Waalaikumsalam, ini siapa ya?" "Ibnu." "Haaaaaaaaaaa?" Reflek, reflek sekali aku meresponnya seperti itu karena aku terlalu kaget. Ini seriusan Ibnu telepon aku? Ihhhh, nikmat. "Responmu berlebihan sekali." Bangcut! "Kamu masih di kantorkan, Gayatri?" "Iya." "Saya jemput ya." Bukan. Ini bukan pertanyaan. Karena aku tahu dari nada bicara Ibnu yang sama sekali tidak ada intonasi bertanyanya lebih condong ke datar. "Disuruh ibu yah? Ngga usah, saya bisa pulang sendiri." "Tapi saya sudah ada di lobby." Oh, Okay. Nama : Ibnu Dharmastriya Hobby : kasih surprise.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD