“Tak ada yang istimewa dari kehidupan ku, jadi kau tak perlu tahu” ucap Atha, jawaban enteng tersebut membuat Naya menjadi sedikit kesal, jika Naya sudah tertarik dan penasaran akan sesuatu maka ia harus mendapatkannya.
“Aku ingin tahu, ceritakan saja” ucap Naya sedikit ngotot. Ucapan Naya membuat Atha meliriknya dengan tersenyum menyeringai, Naya menjadi salah tingkah karena hal itu, ia berfikir apakah ia baru saja melakukan hal yang lucu?. Detik selanjutnya Atha tertawa terbahak-bahak menertawakan Naya.
“Ternyata tidak berubah sama sekali ya?” ucap Atha sambil tertawa kotak, Naya suka melihat tawa Atha yang seperti itu, menurutnya unik.
“Apa maksudmu?” tanya Naya gugup.
“Kau, selalu seperti itu” jawab Atha lagi. Naya hanya mengambil minumannya, meminum sedikit guna menutupi rasa malunya, setelah Atha menghentikan tawanya, ia sedikit menghela nafas sebelum menjawab.
“Ayah ku membawaku ke panti asuhan, karena aku yang sering berusaha kabur, maka panti asuhan ku pun berpindah-pindah. Sampai akhirnya aku terkurung di rumah sakit jiwa” jelas Atha. “Awalnya aku juga sekolah seperti anak panti lain, tapi akhirnya terbengkalai sampai tidak sekolah karena aku juga sering berpindah panti” lanjutnya.
“Kalau tidak sekolah bagaimana caranya kau menjadi peretas?” tanya Naya.
“Aku mempunyai beberapa teman baik dari panti asuhan yang mencariku setelah aku pergi, setelah tahu keadaanku mereka menawarkan bantuan. Jadi sejak itu aku selalu minta apapun pada mereka, termasuk beberapa buku komputer dan buku pelajaran, aku belajar secara otodidak sampai menjadi sekarang” pungkas Atha mengakhiri ceritanya.
“Waw kau sangat keren Atha, aku saja sangat malas belajar” keluh Naya. Ia sedikit malu, Atha tak memiliki kebebasan seperti dirinya, ia selalu di asingkan dan dijaga ketat dari dunia luar, tapi ia tidak pernah menyerah dengan keadaannya dan mengatasi semuanya dengan caranya sendiri. Sedangkan dirinya ia bebas berangkat sekolah tapi malah sering membolos, bahkan buku pelajarannya hanya ia buka ketika gurunya menyuruh, sedangkan masalah tugas sekolah Naya dengan gampangnya menyuruh joki tugas untuk mengerjakan semua tugasnya.
“Apa hanya itu?” tanya Naya lagi.
“Ya hanya itu, memang apa lagi”
“Ceritakan lagi tentang dirimu” rengek Naya.
“Hidupku membosankan untuk apa?” jawab Atha membuat Naya mencebik kesal. Tingkah Naya yang seperti anak kecil membuat Atha tertawa kecil, sungguh lucu menurutnya.
“Sayang jangan cemberut seperti itu” bujuk Atha.
“Diam, berhenti memanggilku sayang” ucap Naya sambil melototi Atha, yang di pelototi malah semakin tertawa melihatnya. Naya menjadi semakin kesal ia berdiri akan berlalu pergi sebelum tangan Atha menahannya.
“Mau kemana?” tanya Atha dengan mata melebar, tanda ia bingung dengan sikap Naya yang tiba-tiba.
“Aku mau pulang, aku kesal dengan mu” jawab Naya ketus.
“Tunggu kita belum selesai” jawab Atha membuat Naya mengerutkan wajahnya. “Duduklah” perintah Atha lembut, Naya hanya menurut dan kembali duduk ke tempat semula.
“Apa lagi?” tanya Naya malas.
“Beritahu aku apa yang akan kau lakukan sekarang setelah mengetahui semuanya” tanya Atha balik. Naya hanya terdiam bingung, selama ini ia hanya penasaran dengan semua kejanggalan yang terjadi dalam hidupnya dan sibuk mencari alasan di balik semuanya. Ia sama sekali tak pernah memikirkan apa yang akan selanjutnya ia lakukan. Ia menatap Atha, membuat Atha mengangkat alis tak mengerti.
“Aku tidak tahu” jawab Naya sambil tersenyum manis.
Atha hanya menghela nafas kecil, ia bingung dengan Naya, apakah ia tak tahu bahwa hidupnya benar-benar dalam bahaya? tapi Naya seperti tak peduli dan santai menghadapinya. Beruntung Atha sudah mempersiapkan segalanya, hanya tinggal menunggu Naya siap untuk memulai, bagaimana pun semuanya tidak bisa dilakukan jika korban utama tidak ikut andil.
“Aku punya banyak rencana, apakah kau ingin menggunakannya, aku dengan senang hati memberikannya untukmu, bahkan membantumu” tawar Atha. Naya terdiam ia bimbang harus menjawab apa, kalau boleh jujur Naya masih belum mempercayai semua yang Atha ucapkan, semua informasi yang langsung di berikan Atha seperti hal yang mustahil di benaknya.
“Biar kutebak kau masih ragu dengan semua yang kukatakan kan?” ucap Atha. Naya terdiam, ia takut untuk menggeleng ataupun mengangguk.
“Aku anggap diam mu itu sebagai ya” ucap Atha, ia lalu menoleh ke arah lain sambil menghela nafas kasar dan tertawa kecil. Atha sama sekali tak dapat mempercayai ini, ia benar-benar kesal ternyata semua informasi yang ia berikan tak ada satupun yang dipercayai Naya.
“Aku hanya belum berani mengambil keputusan sekarang” bujuk Naya lirih, ia mengatakan itu untuk sedikit menghilangkan rasa kesal Atha. Namun sepertinya tak berhasil, Atha langsung berbalik menoleh ke arahnya, terlihat bibirnya akan mengatakan sesuatu namun urung Atha lakukan, ia lebih memilih diam menghirup udara banyak-banyak untuk menenangkan rasa kesalnya.
“Kemarikan handphone mu” perintah Atha kemudian. Naya terkejut, ia tak langsung menuruti perintah Atha.
“Kemarikan!!” perintah Atha lagi. Dengan ragu akhirnya Naya menyodorkan handphonenya yang ada di atas meja. Merasa tak sabar akhirnya ia merebut ponsel Naya, membukanya dan menemukan kunci sidik jari di layar. “Pinjam tangan mu” perintah Atha namun sedikit lembut. Naya hanya pasrah dan mengulurkan tangannya pada Atha. Setelah kunci handphone terbuka, terlihat Atha mengetikkan sesuatu lalu setelah itu mengembalikannya lagi ke Naya.
“Ada nomorku di handphonemu sekarang, jika kau sudah memutuskan akan melakukan apa atau kau butuh bantuan hubungi saja aku, mengerti?” ucap Atha.
Naya hanya mengangguk menanggapi, ia pun mengecek isi dalam handphonenya menemukan kontak baru dengan nama asing yang menurutnya aneh.
“My lovely?” ucap Naya membacanya dengan ekspresi jijik. Atha hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum. “Bagaimana bisa kau menamainya my lovely?” protes Naya.
“Jangan menggantinya atau aku akan marah padamu” hardik Atha setelah ia melihat Naya yang sepertinya akan mengganti nama kontaknya.
“Iya baiklah” jawab Naya kesal membuat Atha tersenyum senang. “Lalu apa masih ada lagi, aku ingin pulang sekarang” lanjut Naya.
Mendengar pertanyaan Naya, Atha langsung mengambil handphonenya mengetik sesuatu, lalu detik berikutnya muncul sebuah notifikasi pesan di handphone Naya, rupanya Atha baru saja mengirim sebuah file pdf kepadanya.
“Apa ini?”tanya Naya penasaran.
“Aku butuh bantuanmu” jawab Atha singkat.
“Bantuan apa?” tanya Naya lagi.
“Itu file berisi data tentang tukang kebun yang dulu pernah bekerja di rumahmu, aku ingin kau mencarinya” ucap Atha
“Kenapa harus aku?”
“Karena kau lebih bebas bergerak daripada aku, kau lupa apa masalah ku sekarang? Atau kau ingin aku tertangkap?” jawab Atha.
Naya menggeleng sebelum kembali bertanya “Kenapa kau ingin mencarinya?”
“Dia salah satu pekerja yang mati karena kecelakaan, tapi menariknya pihak keluarganya tidak terima dengan hasil vonis polisi yang mengatakan pekerja tersebut telah mengalami kecelakaan, mereka malah meminta polisi untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kecelakaan tersebut, entah kenapa mereka sangat yakin bahwa itu merupakan sebuah pembunuhan” jelas Atha.
“Jadi keluarga itu tidak percaya dengan polisi?” tanya Naya.
“Benar, aku ingin kau ke sana, cari tahu informasi apa yang mereka miliki tentang keluargamu dan keluargaku, lalu tanyakan juga mengapa mereka sangat yakin bahwa kasus itu bukan kasus kecelakaan tapi kasus pembunuhan” ucap Atha lagi.
“Apa kau menyuruh ku melakukan ini agar aku lebih percaya padamu?” tanya Naya meragu.
Atha tersenyum rupanya tujuan utamanya telah di ketahui, “Benar, selain karena kau yang lebih bebas bergerak daripada aku, aku ingin kau ikut andil mencari bukti lain jadi kau bisa membuktikan sendiri apakah semua ucapan ku benar atau tidak” jelas Atha.
“Sebenarnya aku ingin menemui mereka sejak dulu dan bertanya langsung tentang banyak hal, tapi karena usahaku dulu untuk bertemu mereka selalu gagal aku jadi tidak bisa, ditambah dengan keadaan ku sekarang yang menjadi incaran polisi, hanya akan menambah kesulitan ku” lanjut Atha.
“Biarkan aku memperjelas disini” ucap Naya, Atha hanya mengangguk.
“Yang bisa kau temukan tentang mereka hanya informasi yang berada di komputer, sedang informasi di luar itu kau tidak bisa menemukannya karena terkurung?” tanya Naya.
Atha mengangguk sebelum menjawab “Benar, lagi pula itu bagus bukan, kau tak mudah percaya ucapan ku, jadi kau buktikan saja sendiri kebenarannya selagi membantu ku mencari informasi” pungkas Atha.
Naya terdiam sebelum menyanggupi hingga di detik berikutnya ia mengangguk dengan pasti menyetujui permintaan Atha. Atha senang dengan keputusan Naya, ia tersenyum lebar pada Naya hingga memperlihat tawa kotaknya.
“Apa masih ada lagi?” tanya Naya.
“Ummm” ucap Atha berfikir.
“ Cepat, aku sudah harus pulang sekarang, aku sudah terlambat cukup lama” ucap Naya tidak sabar. Ia yakin kakaknya pasti sudah khawatir menunggunya di rumah.
Atha berfikir sekali lagi sebelum kembali menjawab “Telfon aku jika kau sangat merindukan ku” goda Atha dengan terkekeh kecil, membuat Naya kesal.
Naya pun menggeser kursi ke belakang untuk berdiri, ia tidak terpengaruh dengan godaan Atha malah justru mengabaikannya “Aku pulang sekarang, aku akan memberi tahumu ketika sudah mendapatkan informasi dan bagaimana keputusan ku” ucap Naya. Atha pun hanya mengangguk membiarkan Naya pergi. Naya pun berlalu pergi meninggalkan Atha, lalu keluar mencari taksi untuk mengantarnya pulang.