Pagi hari ini Naya yang pertama kali berada di ruang makan, ia melakukan sarapannya dengan malas, ia menyesal seharusnya meminta kakaknya mengijinkan tidak masuk sekolah lebih lama, atau mungkin ijin seminggu sekalian. Naya begitu malas berangkat sekolah, ia ingin melakukan hal lain yang menurutnya lebih menarik. Lima menit kemudian Adam turun menyusul Naya sarapan, tak seperti biasanya yang selalu terlihat rapi, pagi ini Adam masih memakai kaos dan celana trainingnya, terlihat berantakan namun tetap tampan.
"Kakak tumben belum rapi?"
"Hari ini aku berencana tidak masuk kantor, aku sangat lelah, aku akan istirahat saja di rumah",ucap Adam sembari menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Naya.
"Kalau sangat lelah kenapa turun untuk sarapan? Kan bisa minta bi Sum antar sarapan ke kamar?"
"Tidak apa, aku ingin menemanimu, kalau aku tidak turun, pasti kamu sarapan sendirian disini", jawab Adam dengan tersenyum. Naya tersipu malu, kakaknya memang sungguh perhatian. Mereka pun melanjutkan sarapan, sepiring nasi goreng dan satu telur ceplok menjadi menu sarapan mereka kali ini, bahkan tak jarang mereka bercanda satu sama lain. Detik berikutnya turunlah Abi tergesa-gesa menghampiri Adam, tak biasanya Abi menyusul ke ruang makan, biasanya ia paling enggan duduk satu meja dengan Naya kecuali di paksa. Tapi pagi ini seperti ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada Adam.
"Kak, kemana handphonemu?"ucap Abi sedikit panik.
"Masih aku cash di kamar, memang ada apa?" jawab Adam tenang.
"Apa kau tidak membuka handphonemu sama sekali?"
"Tidak, semalam mati, aku lupa cash" raut wajah Adam berubah menjadi bingung.
"Jadi kau sama sekali tidak tahu kalau sekretarismu menelfonmu berulang kali?" Abi mulai terlihat kesal. Adam hanya terdiam menunggu penjelasan yang membuat adiknya panik.
"Kalau begitu kau harus ikut aku sekarang, ini penting", ucap Abi dengan raut wajah serius. Adam menghentikan aktifitas sarapannya, menatap wajah serius adiknya dengan raut khawatir. Sebelum akhirnya menuruti kemauan sang adik. Abi mengajak sang kakak menuju ke ruang keluarga mengabaikan keberadaan Naya yang juga bingung, karena penasaran Naya mengekori di belakang.
Sesampai di ruang keluarga, Abi mengambil remote TV dan menyalakannya. Ia mengganti-ganti channel sampai akhirnya berhenti di channel yang menampilkan berita pagi.
'Kemarin malam telah terjadi aksi teror di Rsj. Harapan Indah. Menurut saksi mata salah satu pasien tiba-tiba menodongkan pistol ke arah pasien dan beberapa petugas rumah sakit. Sebelum akhirnya kabur meninggalkan rumah sakit.'
Begitulah ucapan si pembawa berita pagi ini, membuat shock tiga orang yang tengah menatap serius televisi. Abi menambah volume televisi agar suara pembawa berita lebih terdengar jelas.
'Aksi teror tidak menyebab kerusakan fasilitas rumah sakit namun di pastikan terdapat kurang lebih 17 korban tewas dan 32 korban luka tembak, baik dari pihak rumah sakit maupun pasien. Saat ini polisi sedang menyelidiki CCTV dan meminta keterangan dari para saksi mata. Sayangnya polisi enggan memberikan keterangan lebih lanjut mengenai pelaku. Menurut desas desus, pelaku merupakan salah satu pasien yang masih kerabat dari salah satu keluarga konglomerat. Pihak kami masih mengupayakan-'
Tiba-tiba TV mati, membuat berita itu terpotong. Terlihat Adam menghela nafas sambil meletakkan remote TV yang berhasil ia rebut dari Abi.
"Cukup, Abi bersiap kuliah, Naya berangkat sekolah sekarang" perintah Adam tenang.
"Kak, kau tidak lihat berita itu, lihat apa yang anak bodoh itu lakukan",teriak Abi. Ia kini berdiri berhadapan dengan kakaknya.
"Aku tahu, aku yang akan urus semuanya, kau tidak perlu khawatir"
"Kau tahu ayah pasti marah sekarang, jika dia tahu anak yang-",ucap Abi terpotong karena kode tangan kakaknya menyuruhnya untuk diam tak melanjutkan. Adam lalu memberi tahu Abi dengan dagunya bahwa masih ada Naya di antara mereka. Abi memutar bola matanya malas, "Ooh kita masih mau berdrama?, terserah, tapi jika aku sudah hilang kesabaran aku akan bertindak semauku", kesal Abi. Ia pun berlalu pergi meninggalkan Adam dan Naya. Adam menghembuskan nafas kasar sambil memijit pelipis keningnya, kejadian pagi ini sepertinya sangat berat untuknya.
"Kak, apa yang terjadi?", tanya Naya bingung.
"Tidak ada, cepat berangkat sekolah, nanti kau terlambat"
"Tapi?"
"Maaf Naya, aku harus pergi sekarang" ucap Adam sambil tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala Naya. Ia pun pergi meninggalkan Naya. Naya hanya mampu menatap punggung lebar Adam yang berlalu menjauh menuju ke kamarnya, Naya mau tak mau melangkahkan kakinya mengambil tas dan pergi keluar rumah untuk berangkat sekolah.
***
Kegiatan sekolah Naya di awali dengan ia harus masuk ke ruang BP terlebih dahulu, ia harus menjelaskan perbuatan membolosnya dua hari yang lalu, sekitar selama satu jam Naya mendapatkan ceramah guru yang tak juga ia dengar, pikirannya justru melayang pada berita yang ia dengar pagi ini. Tak mungkin satu nama yang ada fikirannya adalah pelakunya, tapi melihat kemampuannya saat meretas cctv rumah sakit saat terakhir mereka bertemu, itu mungkin bisa saja terjadi. Dan lagi reaksi kedua kakaknya juga mencurigakan, mereka terlihat tak suka dengan apa yang terjadi dan tak membiarkannya untuk mengetahuinya. Walau dengan pikiran penuh berita yang ia tonton tadi pagi, Naya menyelesaikan kegiatan sekolahnya sampai selesai. Ternyata bukan hanya Naya saja yang menonton berita tersebut, rupanya ada beberapa siswa lain yang juga melihat dan membahas berita yang sama.
"Kok bisa ya satu pasien meneror rumah sakit?" ucap salah satu siswi pada segerombolan temannya yang berjalan di sampingnya. Saat ini Naya sedang berjalan menuju gerbang sekolah, ia hendak mencari taksi untuk pulang, tanpa sengaja ia mendengar segerombolan siswi yang sedang bergosip.
"Orang gila ternyata serem ya?"
"Tapi tetep aneh gak si?" ucap salah satu siswi dengan raut serius.
"Aneh gimana?" jawab temannya penasaran.
"Kok bisa orang gila nembak tepat gitu tanpa meleset, trus dia dapat pistol darimana coba"
"Iya ya?, kenapa juga polisi gak transparan gitu, masa di tanya wartawan gak di jawab malah ngeles terus"
"Kalian tahu gak?",ucap salah satu siswi dengan nada mendramatisir.
"APA?",jawab teman-temannya kompak.
"Denger-denger pelakunya itu dari orang kaya, punya banyak kenalan petinggi, makanya di sembunyiin"
"Lah gak adil dong kalau kaya gitu" protes yang lain.
"Adil lah, di negara Wakanda poreper ini uang selalu menang",ucap siswi tadi dengan jenaka yang dibalas dengan tertawaan dan ejekan teman-temannya yang lain. Naya pun mengakhiri acara mengupingnya ketika gerombolan siswi tersebut berjalan menjauh dari pintu gerbang, ia berdiri di dekat depan pintu gerbang menunggu taksi. Beberapa detik kemudian sebuah taksi berhenti di depannya, ia pun membuka pintu dan segera masuk, saat hendak menutup pintu kembali, tiba tiba masuklah seseorang pria menggunakan hoodie putih ikut duduk di samping Naya.
"Maaf mas, tapi taksi ini sudah saya duluan yang masuk",kesal Naya. Pria itu pun berbalik, kali ini ini Naya yang terkejut bagaimana tidak, terlihat Atharya duduk di sampingnya dengan tersenyum menyeringai, Atha pun menempelkan satu telunjuknya di depan mulut, tanda meminta Naya untuk diam.
"Maaf pak, tolong ke kafe Bobaboy jalan Nangka nomor 52" ucap Atharya ke supir taksi. Taksi pun melaju pergi dengan kecepatan sedang meninggalkan area sekolah.
***
Kafe Bobaboy, di sinilah Naya dan Atha berada, kafe ini cukup terkenal karena minuman boba yang mereka jual sangat enak, suasana kafe pun sangat ramai hampir seluruh meja terisi penuh. Beruntung Atha dan Naya mendapatkan satu meja di salah satu sudut kafe, letaknya di dekat jendela tapi tidak terlalu berada di tengah, walaupun tidak berada di tengah nyatanya seluruh perhatian kafe tertuju pada meja Naya, hampir para pengunjung wanita di kafe terpesona dengan penampilan Atha, bagaimana tidak, penampilan Atha tampak sederhana dengan hodie putih, tapi dengan wajah sempurna dan rahang tegas serta mata setajam elang mampu membuat para wanita tak mampu berkedip, mereka terpesona oleh ketampanan seorang Atharya. Atha pun tampak genit membalas perhatian yang diberikan beberapa pengunjung kafe, ia tersenyum tampan membalas setiap lirikan pengunjung.
"Bisa kau hentikan? Itu sangat menjijikkan kau tahu?", ucap Naya dengan raut risih.
Atha terkekeh kecil,"Wah pacar ku cemburu ternyata, maaf ya sayang, aku tak akan mengulanginya lagi", jawabnya dengan tersenyum.
"Pacar?",Naya bertanya dengan mata membulat lucu.
"Ya kau pacarku kan?", ucap Atha santai tanpa rasa bersalah.
"Sejak kapan aku menjadi pacarmu? Dan asal kau tahu, jika benar kau anak terakhir ayah Arga status kita adalah kakak adik"
"Aku tak ingin menjadi kakakmu, aku ingin menjadi pacarmu, bahkan mungkin suatu saat nanti kita bisa menikah"
"Haish jangan bermimpi di depanku" jawab Naya sedikit mendelik.
"Sayang kau sangat lucu saat bertingkah galak",ucap Atha mencebikan bibirnya menggoda Naya.
Naya enggan menanggapi, ia justru lanjut bertanya,"Bagaimana bisa kau keluar? Bukankah penjagaan sangat ketat, aku bahkan kesulitan bertemu dengan mu"
Atha mengambil boba yang ada di depannya, menyeruput sedikit sebelum menjawab, "Memang kau tak lihat berita, begitulah caraku keluar"
Mata Naya membola ia terkejut dengan jawaban Atha,"Itu berarti kau pelakunya, kau yang menyebabkan semua kekacauan itu? Berarti kau adalah pemb-", Naya tak melanjutkan ucapan nya. Ia tahu efek apa yang akan di timbulkan jika seluruh pengunjung kafe mendengar ucapannya.
"Kenapa kau melakukan semua itu?" tanya Naya.
Atha menghela nafas sebelum menjawab, "Aku sudah merencanakannya sejak lama, dan baru bisa aku lakukan sekarang, aku senang bisa keluar"
"Memang harus bertindak sekejam itu untuk bisa keluar?" Naya masih bertanya penasaran.
"Memang harus, kau fikir aku belum pernah mencoba yang lebih sederhana?" tanya Atha balik, namun Naya terdiam tak menjawab. "Aku pernah melakukan yang lebih sederhana, tapi selalu gagal, kau ingat waktu pertama kali kita bertemu kan? Itu hanya salah satu kegagalanku"
Naya mengangguk, ia teringat saat pertama kali bertemu Atha, ia tiba-tiba dibawa pergi oleh perawat rumah sakit. "Lalu, apakah tidak apa kau keluar begini? Kau menjadi berita utama tadi pagi, bahkan semua orang masih membicarakanmu" tanya Naya sambil berbisik berharap tak ada yang mendengar.
"Tak apa sayang, polisi tak membeberkan identitasku, jadi aku tak perlu bersembunyi, sepertinya mereka ingin menangkapku secara diam-diam, aku hanya perlu waspada"
"Kenapa polisi melakukan hal itu?" tanya Naya penasaran.
"Tentu saja untuk nama baik keluarga", Naya mengangguk paham, pasti ayah atau kakak angkatnya yang meminta. Ia ingat ucapan Adam pada Abi bahwa Adam akan mengurusnya, lalu pergi meninggalkan Naya tadi pagi. Ia juga mulai paham dengan siapa yang di sebut Abi dengan sebutan 'anak bodoh' sudah pasti itu adalah Atharya, itu berarti juga Atharya tak berbohong padanya bahwa ia memiliki hubungan dengan keluarga Dharmendra.
"Sudah jangan melamun sayang, kau tak perlu khawatir tentang keadaanku"
Mendengar panggilan Atha membuat Naya sedikit geram, "Jangan memanggilku sayang!" hardik Naya
"Maaf, tapi aku menolak" jawab Atha dengan tersenyum. "Jadi aku kesini ingin bertanya padamu apa kau sudah melakukan apa yang kuminta?" lanjut Atha.
"Sudah"
"Jadi?" tanya Atha melirik Naya intens.
"Kau benar mereka berbohong padaku" ucap Naya dengan raut sedih. "Mereka berbohong padaku soal kecelakaan, mereka juga tidak bilang aku amnesia, aku penasaran bagaimana aku bisa terjatuh dari tempat tinggi?"
"Tentu saja itu ulah mereka, mereka berusaha mencelakaimu"
Naya terkejut, "Itu tidak mungkin"
"Kau mungkin tidak mengingatnya tapi biar aku ceritakan peristiwa itu menurut sudut pandangku" ucap Atha, Naya diam hanya mendengarkan, "Aku harap kau mengingatnya sedikit Naya" lanjut Atha penuh harap.