Naya tidak mempedulikan tatapan sinis supir taksi di depan nya. Sejam lalu setelah Atha membantunya keluar dari rumah sakit, ia sengaja mengotori sepatunya dengan lumpur sebelum mencari taksi untuk pulang. Hal itu sukses membuat bagian bawah taksi kotor oleh sepatunya, Naya sengaja melakukannya. Ia punya rencana melakukan hal itu, beberapa menit kemudian taksi yang ia tumpangi sampai di depan gerbang rumahnya. Ia memberikan uang lebih dan mengucapkan terima kasih dengan tersenyum manis, sang sopir pun melupakan sikap sinisnya, ia tersenyum senang menerima uang yang melebihi tarif. Naya langsung masuk, menyapa satpam yang menatapnya keheranan. Dari sang satpam, ia tahu tidak ada siapa-siapa dirumah, kedua kakaknya belum pulang. Ia pun pergi ke dapur, menyapa asisten rumah tangganya kemudian membuka lemari pendingin, bolak balik dari lemari pendingin ke meja, dari meja ke wastafel, lalu ke lemari pendingin lagi. Bolak balik terus seperti itu, bahkan ia dengan sengaja memutari ruang tamu bahkan ruang keluarga dan mengotori karpetnya. Ketiga asisten rumah tangganya sebenarnya tidak senang, karena Naya pulang dengan keadaan sepatu yang kotor penuh lumpur, lalu dengan seenaknya ia bolak balik kesana kemari mengotori lantai, perlu waktu membersihkannya sebelum putra sulung keluarga itu pulang.
“Nona, apa nona perlu sesuatu, biar saya yang melakukan nya, nona cukup diam menunggu” ucap bi Sum, ART yang paling tua.
“Aku mau roti selai coklat, aku lapar”
“Biarkan kami yang menyiapkan nona”
“Tidak, aku mau buat sendiri”, jawab Naya. Setelah itu tak ada yang berani membantah, mereka membiarkan Naya melakukan semaunya sendiri. Dan lebih menjengkelkan nya lagi, setelah satu gigitan ia meletak kan roti itu di piring, berdiri akan kembali ke kamar.
“Aku kenyang, tolong kalian bereskan untukku ya?”
“Baik nona, serahkan pada kami”
“Dan tolong bersihkan sepatuku, sepatu ini kotor sekali”, ucap nya sembari melepaskan sepatu.
“Baik”
Naya pergi berlalu menuju ke kamar di lantai atas, sayup-sayup ia mendengar bisik bisik ketiga asisten nya mengeluh tentang kelakuannya. Naya tersenyum miris, ia sebenarnya tak tega, namun terpaksa, ia harus membuat para asisten sibuk, dengan begitu mereka akan terfokus di satu tempat. Naya tak ingin ada yang mengganggunya, ia pergi ke ruang kerja ayah angkatnya, sukses masuk tanpa ada orang yang tahu. Setelah mengamati keadaan sekitar ia mulai mencari berkas data yang ia cari, menyusuri laci dan lemari dokumen. Ia bertekad membuktikan bahwa omongan Atharya salah. Lama mencari ia tak juga menemukan data yang ia cari, ia mulai mencari lagi memastikan tak ada yang terlewat, namun kembali hasilnya nihil.
Naya menghela nafas sejenak, berfikir dimana kiranya ayah angkatnya akan menyembunyikan data penting selain di ruang kerjanya. Ia terkejut dengan pemikirannya sendiri, setelah membereskan sedikit kekacauan yang ia buat, ia kembali mengendap endap menuju ke ruang tujuan berikutnya, kamar pribadi orang tua angkatnya. Setelah memastikan tak ada orang yang melihat, ia masuk ke dalam, mengamati sejenak kemudian mulai mencari di laci, lemari, bahkan meja rias ibunya pun tak luput di jamah.
Hingga dirinya tiba di lemari kecil dekat ranjang, terdapat laci di bawahnya. Setelah terbuka, laci itu penuh dengan map, ia mencari-cari hingga menemukan map snelhecter bertuliskan namanya, ia mencari lagi berharap menemukan map lain. Hingga akhirnya ia menemukan 3 map lain, setelah itu menutup laci tersebut merapikan kamar tersebut sebelum berlalu keluar.
Ketika hampir tiba di kamar pribadinya, Naya mendengar suara Adam di lantai bawah.
“Jadi Naya sudah pulang?”, suara kakaknya terdengar sampai ke lantai atas.
Naya segera berlari, ketika ia membuka pintu kamarnya, terdengar suara Adam, dengan panik ia melempar map itu asal ke dalam kamar lalu menutup pintu.
“Naya” panggil Adam menghampiri Naya.
Naya berbalik tersenyum membalas kakaknya, “Hai, kau sudah pulang?”, ucapnya riang. Adam sampai di hadapan Naya, tak ada senyuman di wajah nya, melainkan raut wajah lelah yang terpasang. Naya khawatir sepertinya kakak nya tidak dalam keadaan baik.
“Kak?”
“Bolehkah aku main sebentar ke kamarmu, aku lelah, aku ingin mengobrol sebentar dengan mu”
Naya terkejut, ia tak bisa membiarkan Adam masuk ke kamarnya saat ini. Naya mencegah tangan Adam yang hendak membuka pintu.
“Tunggu kau tidak bisa masuk kak?”
“Kenapa?”, Naya terdiam tak mampu menjawab.
“Biarkan aku memeriksanya”
“Tidak jangan”, sergah Naya sembari mendorong Adam. Adam mundur dengan raut wajah bingung.
“Kenapa aku tidak boleh masuk? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?”
“Tidak, tentu saja tidak, untuk apa?”
“Lalu?”
Sebuah ide terlintas di fikiran Naya, “Kamar ku berantakan, kau tidak boleh masuk, biarkan aku membereskannya dulu”
“Tak masalah aku akan membantumu”
“Tidak kau tak boleh”
“Kenapa tidak boleh?”
“Karna ini bersifat pribadi”
“Pribadi?”, tanya Adam, dengan kening berkerut pertanda bingung.
“Kau tahu aku perempuan, dan itu sangat pribadi”
Mendengar jawaban itu, pipi Adam memerah, ia menoleh ke arah lain, malu menatap adiknya. “Sepuluh menit”
“Oke”, ucap Naya tersenyum. Ekspresi Adam barusan membuatnya tertawa. Ia pun segera masuk mengunci pintu, membereskan map yang sempat ia lempar tadi, beruntung map itu tak terlalu berserakan. Ia masukkan map itu ke dalam laci pribadinya dekat ranjang, menguncinya dan menyembunyikan kuncinya di lemari. Memastikan sebentar lalu membuka pintu.
“Masuklah”
Adam masuk dengan canggung, pakaian kerja yang ia kenakan menandakan ia langsung pergi menemui Naya setelah turun dari mobil. Naya bertanya-tanya sendiri apa yang terjadi pada Adam.”Jadi apa yang ingin kau bicarakan kak?”
Adam tak langsung menjawab, ia menatap Naya lembut. Detik berikutnya Adam mendekap erat tubuh Naya, meletakkan ujung hidung tepat di perpotongan leher dan pundaknya. Hal itu sukses membuat Naya geli.
“Kak geli”
“Sebentar saja aku mohon”, ucap Adam. Ia mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma tubuh Naya yang berbau seperti caramel.Naya pun diam membiarkan kakaknya, ini bukan yang pertama kali, sudah seringkali Adam seperti ini. Setiap ada masalah serius yang menguras tenaga dan fikirannya, ia akan mencari Naya, memeluk sampai ia merasa lega dan tenang. Naya tak keberatan sama sekali, ia senang hal ini dapat membantu Adam, karena hanya itu yang bisa Naya lakukan untuk membalas Adam, selama ini Adam selalu baik dan perhatian, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, melindungi dan tak pernah membiarkan Naya sedih. Perlakuan Adam menurut Naya terlalu berlebihan, karena jika kepada Abi, Adam tak pernah berlaku sejauh itu. Kadang Naya berfikir, apakah Abi membencinya karena kakaknya memperlakukan Naya lebih baik dari adik kandungnya. Setengah jam berlalu, Adam melepaskan pelukannya dan menatap Naya lembut.
“Terima kasih”
“Apakah kau ingin bercerita padaku?”
“Tidak, tak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya sendiri”, Naya menghela nafas. Selalu seperti ini, Adam tak pernah mau terbuka dengannya, jikalaupun bercerita itu hanya masalah ringan yang terjadi di sekitar kehidupannya. Padahal Naya ingin sekali membantu kakaknya.
“Kak?”
“Aku bilang tak perlu khawatir”, Naya menyerah ia pun duduk di tepi ranjang. Adam mengikuti, duduk di sebelahnya.
“Kau darimana? Kenapa sepatu mu kotor? Kau tidak berkelahi kan?”
“Tidak, aku hanya jalan-jalan”
“Jalan-jalan kemana? Bukan tempat berbahaya kan?
“Tidak kakakku, kau tenang saja”
Adam menghela nafas, “Apa tak ada tempat lain yang lebih bagus untuk jalan-jalan? Sampai sepatumu kotor seperti itu”
Naya terdiam sejenak, ia kemudian tersenyum, Naya punya ide untuk menghibur kakaknya.
“Ada, tapi aku ingin pergi kesana dengan mu”
Kening Adam berkerut tak mengerti, Naya tertawa kecil, “ Ayo traktir aku makan malam di luar kak, aku tidak mau makan di rumah, mumpung hanya ada kita berdua di rumah lo”
Adam tersenyum, sekali manja tetap saja akan manja, tapi Adam tak keberatan, ia senang Naya selalu ingin di manja olehnya.
“Setengah jam aku tunggu di bawah”
“Mana cukup, aku mau satu jam”
“Untuk apa satu jam?”
“Dandan dong, aku itu cewek lo”
“Untuk apa dandan segala?”
“Mana tahu aku ketemu cowok tampan di jalan”
Adam tertawa sambil mengusap lembut kepala Naya, ia gemas dengan alasan adiknya.
“Baiklah satu jam, kalau terlambat aku tinggal”
“Oh ya?”
Adam mendelikkan mata membalas ucapan Naya, Naya justru tertawa, ia tak takut dengan ancaman kakaknya. Naya tahu kalau Adam tak mungkin tega meninggalkannya. Adam keluar menuju ke kamarnya sendiri, setelah pintu tertutup Naya segera bergegas bersiap-siap pergi.
***
‘Tok’ ‘tok’ ‘tok’
Pintu kamar Atharya terbuka, dua perawat masuk membawa trolly makanan. “Permisi, sudah saatnya makan malam”, ucap salah satu perawat ramah.
“Ya, taruh saja di meja”
“Maaf, tapi anda harus makan sekarang, setengah jam lagi kami akan mengambil piring kotor”, Atha menghela nafas ia pun meletakkan bukunya di atas meja kecil di samping ranjang dan menegakkan duduknya. Perawat tadi pun mengatur meja makan di ranjang Atha. Setelah meja di atur, perawat yang lain menyerahkan makanan secara estafet, tiba ketika akan menyerahkan piring yang berisi buah, secara tak sengaja piring tersebut jatuh.
“Astaga, apa yang kau lakukan?”
“Maafkan aku, aku akan mengambil nya”,ucap perawat yang tak sengaja menjatuhkan piring, ia pun berjongkok mengambil piring tersebut. Sedangkan teman nya sibuk meminta maaf pada Atharya.
“Maafkan kami, kami akan segera mengambilkan buah yang baru”
“Tidak, aku makan buah itu saja”
“Tapi”
“Tak apa”
Perawat yang berjongkok pun berdiri, mengelapi buah dengan tisu satu persatu, lalu meletakkan nya di meja makan Atha, “Maafkan saya tuan”, ucapnya ramah yang hanya di angguki oleh Atha. “Silahkan nikmati makanan anda tuan”, lanjutnya lagi tapi kali ini sambil mengedipkan mata, Atha hanya mengangkat satu alisnya sebagai tanggapan.
“Jangan genit ayo cepat keluar” hardik teman nya, mereka pun pamit keluar ruangan. Setelah kedua perawat keluar, Atharya tersenyum, ia tahu salah satu perawat tadi bukan perawat asli tapi seorang kurir yang menyamar, Atha pun turun dari ranjang tanpa menyenggol meja makanannya. Melongok di bawah ranjang, sebuah bingkisan tertutup plastik hitam tergeletak disana. Ia tersenyum senang paketan pesanannya telah datang, ia segera membukanya, terlihat sebuah pistol berjenis double-action revolver, lengkap dengan peredam dan isi peluru.
“Halo sayangku, mari bermain malam ini”, ucapnya tersenyum menyeringai.
***
Setelah pulang dari makan malam nya bersama Adam, Naya segera mengambil kunci lacinya di dalam lemari, mengambil map-map yang ia curi dari kamar pribadi ayah angkatnya. Ia membuka map berwarna kuning, yang rupanya dari polisi, data kecelakaan orang tua kandungnya sepuluh tahun yang lalu. Ia membaca rincian kecelakaan yang menimpa orang tuanya, hingga sampai pada bagian penyebab kecelakaan, Naya bingung dengan data tersebut, hanya terdapat tiga korban yang terdaftar, sang sopir dan kedua orang tuanya, dan ketiganya dinyatakan tewas di tempat. Padahal selama ini keluarga Dharmendra bercerita bahwa ia juga ikut serta di kecelakaan mobil tersebut. Penyebab kecelakaan adalah kecepatan yang melampaui batas hingga terjadi kegagalan pengereman. Mengabaikan map pertama, ia beralih ke map kedua yang berisi hasil otopsi korban. Map ketiga berisi laporan rumah sakitnya, Naya terkejut ia pernah kecelakaan jatuh dari tempat tinggi hingga menyebabkan amnesia, tanggal dari laporan tersebut, tertulis dua minggu setelah kecelakaan orang tuanya. Map keempat juga berisi laporan rumah sakitnya, di ketahui Naya mengidap amnesia berjenis retrograde, amnesia ini menyebabkan kondisi penderita tidak bisa mengingat informasi dan kejadian di masa lalu.
Naya lemas terduduk di lantai, ia tak habis pikir omongan Atharya bahwa selama ini keluarga Dharmendra menipunya ternyata benar, ia masih ingat apa yang orang tua angkatnya ucapkan, mereka bercerita bahwa ia adalah korban selamat dari kecelakaan yang menimpanya dan orang tua kandungnya, dan sakit kepala yang selalu menyerangnya hanyalah efek dari kecelakaan. Faktanya ia tak termasuk dalam kecelakaan tersebut, ia justru kecelakaan sendiri dua minggu selanjutnya.
“Mereka mengurungku di sini agar aku tidak bisa bertemu dengan mu”
Naya kembali teringat ucapan Atharya tadi siang, Atha menjawab semua pertanyaan Naya, tapi Naya tak bisa mempercayainya, bagaimana mungkin keluarga yang selama ini mengasuhnya dan ia percaya bisa melakukan hal buruk, terutama Adam, Naya tak akan pernah percaya Adam merencanakan hal buruk padanya.
“Mereka tak ingin kita bertemu, karena mereka tahu aku tak akan pernah setuju dan ikut dalam rencana buruk mereka, itulah sebabnya aku di asingkan, agar aku tak menceritakan hal yang sebenarnya padamu”
“Rencana buruk apa yang keluargamu ingin lakukan padaku”
“Merebut perusahaanmu dan aset-asetnya, kau lupa, kau adalah pewaris tunggal yang sebenarnya, mereka berusaha mencelakaimu dan orang tuamu, membuat data palsu dan merebut semuanya”
“Kau bohong, selama ini mereka menyayangi ku dan tak pernah menyakitiku”
“Kau yakin?”
“Iya”,ucap Naya mantap.
“Lalu kenapa kepalamu bisa sakit dan kau hampir melupakan semua moment masa kecilmu?”
“Kecelakaan mobil sepuluh tahun yang lalu”
Atha tertawa mendengar jawaban Naya, “Kau yakin itu penyebabnya?" tanya Atha. Naya mengangguk menanggapi.”Baiklah, anggap saja itu benar, lalu kau tahu penyebab kenapa mobilmu bisa kecelakaan?”
“Mungkin tabrakan?”,ucap Naya ragu.
Atha terkikik kecil mendengarnya, “Tentu saja tabrakan”. Hal itu membuat Naya mendengus sebal.” Kenapa kau tak memastikannya sendiri”,lanjut Atha. Naya terkejut, ia bingung.
“Ayahku pasti menyembunyikan data sepuluh tahun yang lalu, kenapa kau tak mencari dan memastikan sendiri apakah mereka berkata yang benar atau tidak”
“Dimana?”
“Apakah ada tempat yang tak bisa kau masuki, atau kau dilarang?”,tanya Atha. Naya melebarkan matanya, ia mengingat suatu tempat. Tempat itu tak pernah di izinkan untuk di masuki, ayah dan kakaknya bilang ia masih kecil dan belum saatnya mengerti.
“Ruang kerja ayah angkatku?”
“Bisa ya bisa tidak, kau harus memeriksanya”
“Apa aku bisa mempercayaimu?”
“Kau akan tahu jawaban nya, setelah memeriksanya”
“Kenapa kau melakukan semua ini, sampai kau di benci keluargamu sendiri?”
“Karena aku memihak keluargamu”, jawab Atha mantap. Pipi Naya merona tapi ia tak puas dengan jawaban Atha, “ Kenapa tidak memihak keluargamu sendiri?”
“Aku akan menjawabnya setelah kita bertemu lagi”
“Lagi? Maksud mu disini setelah semua yang terjadi?”
“Tidak, aku yang akan menemui mu”
Begitulah pertemuannya dengan Atharya, setelah membaca sendiri laporan yang ditunjukkan Atha, Naya tak menyangka semua ucapan Atha terbukti, Naya penasaran penyebab ia amnesia, apakah murni kecelakaan atau tidak, ia bertekad akan menemui Atha lagi. Banyak pertanyaan yang bermunculan di otaknya. Tapi malam itu ia juga memutuskan akan bersikap seperti biasa terhadap keluarga Dharmendra, ia ingin menyelidiki terlebih dahulu alasan keluarga itu melakukan semua ini.
***
Suasana tengah malam terlihat begitu mencekam di Rsj. Harapan Jaya, lampu yang biasanya terang benderang berubah menjadi redup menciptakan suasana remang. Genangan darah yang terciprat di beberapa tempat juga menambah suram suasana, tergeletak beberapa mayat di berbagai sudut lantai rumah sakit, entah itu pasien maupun perawat tak ada yang bisa membedakan, warna merah darah telah banyak mendominasi pakaian mereka. Para perawat yang masih selamat bersembunyi di bawah meja, dan ada beberapa yang tiarap di lantai. Beberapa pasien menjerit ketakutan sambil bersembunyi di bawah ranjang kamar mereka masing-masing, meski tak waras mereka sadar kondisi saat ini bukanlah permainan, mereka sadar ini aksi pembunuhan nyata setelah melihat beberapa teman mereka yang nekat keluar mati satu persatu. Kecuali salah satu pasien yang berjalan santai di antara mayat mayat yang tergeletak di lantai, noda darah terciprat di pakaiannya, bahkan di wajahnya sekalipun. Tapi ia tak peduli, mata elangnya fokus menatap penjaga yang tengah merangkak menuju meja resepsionis, berusaha meraih ganggang telepon yang menjuntai ke bawah.
Setelah sampai di depan penjaga malang itu, ia berjongkok, menatap tajam penjaga yang ketakutan dan mengurungkan niat nya meraih ganggang telepon.
“Apa yang kau butuhkan sebuah telepon?”, ucap Atha dengan suara husky miliknya.
Penjaga hanya diam tak menjawab, ia ketakutan tak berdaya, siapa sangka pemuda yang ia kurung dan ia jaga selama ini mampu membuat teror dan membunuh penjaga keamanan rumah sakit yang bertugas, serta membunuh beberapa pasien dan perawat lain, bahkan mampu memberikan luka tembak cukup banyak di tubuhnya, beruntung tak mengenai jantung, hanya tangan kirinya yang masih mampu ia gerakkan, dan itu sama sekali tak dapat membantunya lolos dari situasi sekarang.
“Kau ingin menelepon polisi kan?”, masih tak ada jawaban, “Biar aku bantu”. Atha pun mengambil table phone yang berada di meja dan menyerahkan nya ke penjaga. Sang penjaga terbelalak senang, ia segera merebut dan terburu buru memencet tombol polisi. Namun bukan nya tersambung, nada dering aneh muncul menandakan telepon tidak berfungsi.
“Percuma, semua sudah aku retas, sistem keamanan dan informasi sudah aku putus, kau tak bisa meminta bantuan ke siapa pun” ucap Atha tenang sambil memainkan pistol di tangannya.
“Kecuali beberapa orang yang sengaja ku biarkan kabur, mereka pasti sudah meminta tolong pada orang lain”
Penjaga hanya mampu terdiam mendengarkan, “Tapi aku sengaja berlama-lama disini, karena ada seseorang yang berhutang pada ku, aku harus menagihnya”.
Detik berikutnya Atha menodongkan pistol tepat di tengah tengah kening penjaga, membuatnya terbelalak ketakutan, beberapa perawat yang bersembunyi tak jauh dari situ memekik terkejut. “Sudah ku bilangkan, kau akan menyesal karena berani menyentuh wajah ku. Sekarang lihat siapa yang tak bisa apa-apa?”, ancam Atha dengan sorot mata tajam.
“Saya mohon, lepaskan saya-“
‘Dor!’
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Atha sudah menarik pelatuk membunuh penjaga, menambah noda darah yang menghiasi wajahnya. Mayatnya pun tergeletak ke samping membentur kaki meja.“Menjijikkan”
Atha mengeluarkan handphonenya dari kantong, mengetuk layar yang menampilkan kolase cctv, mengetuk salah satu layar, seketika cctv di atas resepsionis kembali berfungsi, ia pun berdiri berpose membentuk jari berbentuk v yang ia tempelkan di depan wajah, kemudian tersenyum kotak menghadap kamera. Setelah puas, Atha melangkah pergi meninggalkan rumah sakit, senyum seringai nya menghiasi wajah tampannya. Ia puas rencananya berhasil ia lakukan malam ini.