Bening melangkah keluar kamar, bersamaan dengan lima orang perempuan dengan baju kasual yang juga keluar dari kamar mereka. Kelima perempuan itu saling menyapa, mereka pun menyapa Bening.
“Pagi...”
“Pagi...”
Mereka tampak bersemangat, hari baru dan dunia baru. Benar-benar akan menjadi petualangan baru. Pinggiran kota pasti memiliki pria-pria kaya dan tampan. Lima perempuan itu tidak sabar mengisi hari dengan pria tampan dan berkantong tebal. Mereka berpikir sebaiknya mulai mencari hotel berbintang untuk menghabiskan hari bersama pelanggan terbaik mereka.
Bening melangkah perlahan hingga Sherly gemas dan menyeret gadis itu. Sherly sangat menyayangi Bening sejak pertama mereka berjumpa tiga tahun lalu. Gadis lugu itu sangat kontras dengannya. Sherly bak matahari bagi orkes musik Tresno sementara Bening adalah bintang yang tinggi di angkasa.
“Kamu masih sakit?” Sherly memindai tubuh Bening hingga tatapannya berhenti di pergelangan tangan Bening.
Bening menggeleng pelan, “sudah tidak apa-apa.” Bening enggan membahas kondisinya, ia merasa buruk jika orang-orang memandangnya iba.
“Kamu ini ingin apa sih, Bening? Om Bowo sangat menyayangimu. Kamu kan bisa minta apa aja ke dia, tanpa....” Sherly mengedipkan satu mata, Bening mengerti maksud Sherly. Gadis itu tersenyum membayangkan bagaimana Sherly begitu gigih merayu Bowo untuk mendapatkan sesuatu.
Keenam perempuan itu duduk di satu meja makan bersama Bowo, Sardi dan juga Tulus. Mereka menikmati nasi goreng serta segelas jus jeruk yang menyegarkan.
Tulus mengenakan kaos hitam yang sangat ketat hingga bentuk tubuh kekarnya terlihat jelas sementara Sardi mengenakan kemeja putih dengan jas hitam, ia tampak cukup segar. Bowo hanya mengenakan kemeja hitam dengan celana hitam, dengan kumis tebal membuatnya terlihat garang bahkan saat tidak melakukan apapun.
“Anak-anak. Pekerjaan baru menunggu kalian. Aku akan mengajak Sherly dan Bening, Sardi bersama Tina dan Nadia ... Sonya, Meta. Kalian ikut Tulus.” Bowo mengusap mulutnya dengan sapu tangan sebelum ia bangkit dan melangkah pergi.
Sardi mengode Bening untuk bangkit dan mengikutinya. Pria itu membuat Bening menarik napas dalam namun tetap bangkit dan mengikuti ayahnya.
Sardi melangkah menuju kamarnya, diikuti Bening di belakangnya. Setelah Bening masuk ke kamarnya, Sardi segera menutup kamar dan menguncinya. Sardi memandang Bening sesaat, anak gadisnya begitu cantik dan terlihat rapuh. Meski demikian, Bening memiliki semacam pesona yang membuat lelaki manapun mudah kepincut kepadanya dan itu adalah aset berharga bagi Sardi.
“Kamu dengar sendiri kan? Kamu ikut Pak Bowo, itu artinya kamu spesial baginya.” Sardi kesal dengan mata lebar Bening yang selalu membuatnya ingat pada mendiang Indah. Pria itu membuang muka, setiap melihat mata itu ada emosi yang tiba-tiba menguar diikuti perasaan aneh yang membuatnya merasa gemetar dan ingin menangis. “Kamu ngerti tidak?” Meski demikian, Sardi tidak bisa terlalu lama mengabaikan Bening. Gadis itu sudah siap untuk dijadikan alat mencari uang baginya. Menjadi penyanyi saja tidak cukup, apalagi menjadi penjual kue. Harus ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang lebih banyak dari itu.
Bening bergeming, ia tidak peduli dengan ucapan Sardi. Ia tahu Bowo tidak akan menyakitinya, hatinya berkata demikian dan ia sangat memercayai suara hatinya.
“Kamu dengar tidak?” Sardi mendorong Bening hingga punggung gadis itu menabrak dinding. Bening terkejut, ia menatap mata Sardi sambil mengangguk secara perlahan.
“Turuti semua kemauannya atau ... kamu akan menyesal. Kamu ingat!” Sardi mencubit pelan pipi Bening. Gadis itu kesal sekali dengan apa yang dilakukan ayahnya, namun ia belum memiliki keberanian untuk melawan kecuali ia siap merasakan semua siksaan fisik seperti saat ia masih kecil.
Sardi keluar kamar, ia terkejut melihat Bowo berada di depan pintu kamarnya. Pria itu sedang menatap sambil menyipitkan mata, ia merasa yakin Sardi melakukan sesuatu yang buruk kepada Bening. Bowo sangat tahu itu, hanya saja sebelumnya ia tidak peduli dengan Bening. Bowo memandang Bening, gadis itu pun sedang memandangnya dengan mata bulat, kosong dan rapuh. “Kita berangkat sekarang!” Bowo menarik tangan Bening. Ia menyeret gadis itu menuruni tangga.
Bening memandang punggung Bowo sambil tersenyum tipis. Pria itu sudah membuatnya merasa aman. “Katakan padaku. Apa yang dikatakan ayahmu?” tanya Bowo.
Bening terkejut, baru sekali ini Bowo memedulikannya. “Tidak ada apa-apa, Om.” Tentu saja jawaban itu yang akan menyelamatkan Bening dari amukan ayahnya. Bening benci mengatakan dia baik-baik saja atau tidak ada yang terjadi antara ia dan ayahnya.
Bowo menghela napas, ia benar-benar sedih dengan keadaan Bening. Pria itu baru sadar mengapa Rena begitu sayang kepada Bening bahkan di pertemuan pertama mereka. Selama ini Bowo mengabaikan Bening karena ia berpikir Beninglah alasan kematian Rena. Tetapi kini ia sadar, ia sendiri yang membuat Rena pergi. Ia menyadari hal itu sejak mengetahui sekali lagi Bening melakukan tindakan bunuh diri. “Jangan lakukan lagi!” Bowo tiba-tiba memutar badan, membuat Bening terkejut.
Bening membelalakkan mata, heran dengan Bowo yang tiba-tiba bersikap tidak seperti biasanya. “Apa, Om?” Bening tidak tahu apa yang dibahas Bowo.
“Jangan membunuh dirimu sendiri. Hidupmu masih panjang. Kuliahlah kalau kamu mau, lakukan apapun yang kamu mau. Asal jangan membunuh dirimu. Rena pasti marah jika tahu kamu berbuat buruk.” Bening kembali terkejut tetapi tidak lebih terkejut daripada Bowo yang ternyata bisa bersikap sesentimentil ini.
“Om.” Bening tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Apakah ia harus berterima kasih atau ini hanya sebuah fatamorgana lain yang akan memberinya kejutan menyedihkan?
“Bening, jangan salah paham! Aku melakukannya demi Rena, istriku.” Kamu anakku, sejak lama kamu anakku yang dikirim Tuhan untukku. Bowo bahkan baru sekali ini menyebut nama Tuhan setelah puluhan tahun melupakan-Nya. Sang Pencipta, entah mengapa sekonyong-konyong hadir dalam hatinya.
Bowo menggeleng, membuang pikirannya sendiri. Mengapa akhir-akhir ini ia menjadi sangat lemah? Apakah usia menggerogoti kegarangannya? Ayolah, Bowo masih berusia lima puluh tahun. Masih terlalu muda untuk berpikir tua mengingat Bowo adalah pria yang sangat menjaga kesehatannya.
Bowo berjalan cepat menuju mobil van putih miliknya. Ia tidak ingin terlalu kalut dengan peperangan yang terjadi antara si putih dan si hitam di dalam dirinya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah terus bekerja seperti biasanya.
***
Jalanan Surabaya begitu padat setiap paginya terutama di jl. A. Yani. Bowo kesal karena seorang pelanggannya mengajaknya bertemu sepagi ini. Seharusnya hari ini ia bisa tidur nyenyak. Seandainya pelanggannya orang biasa, pasti ia tolak mentah-mentah.
Sherly duduk di sebelah Bowo, perempuan itu mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek yang membingkai paha putihnya sementara itu Bening yang duduk di belakang, mengenakan kemeja kotak-kotak merah dengan celana jins. Bening duduk diam sambil memandang jalanan kota.
Gedung-gedung bertingkat mewarnai kota, pohon-pohon ada di tengah jalan memberi suasana asri dan teduh. Kemacetan kota Surabaya membuat kendaraan yang ditumpangi Bening bergerak sangat lambat, selambat seekor siput dengan rumah yang sangat berat di punggungnya.
Tiba-tiba Bening mengingat sosok Ari, ia ingin sekali kembali bertemu dengan pria itu tetapi ia tahu tidak ada masa depan baginya bersama Ari. Ari hanyalah secuplik kisah tidak penting dalam hidupnya, sebuah fatamorgana lain yang memberinya akhir paling menyedihkan.
“Bening. Kamu tunggu di mobil! Aku sebentar saja.” Bening terbangun dari lamunan, ia baru sadar mobil sudah berhenti di depan sebuah hotel berbintang.
Bening mengangguk pelan. Ia kembali memandang keluar jendela sambil melamun hal-hal yang indah.
Bowo mendesah, ia bertanya-tanya apakah Bening sudah lama seperti ini? Gadis itu mengingatkannya kepada boneka manekin di toko-toko pakaian. Ia nyata, cantik tapi tidak bernyawa. Bowo segera menutup pintu dan menguncinya, meskipun ia yakin Bening tidak akan melakukan apapun seperti melarikan diri misalnya. Tetapi ia pikir, ini lebih baik daripada ia memikirkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi kepadanya. (Aku merindukan scene ini dalam hidupku. Ditinggal Bapak belanja sebentar sementara aku menunggunya di mobil.)
Bening duduk sambil memeluk lututnya, memandang sebuah mobil van hitam yang ada di sebelahnya sambil memikirkan masa depan suram yang akan menggerayanginya. Bening tahu apa yang dimaksud ayahnya, tapi ia tidak akan mau melakukan hal itu. Bening meneguhkan hatinya, kesucian dirinya adalah satu-satunya harta yang akan ia simpan sendiri. Kesucian dirinya adalah sebuah kebanggaan yang akan ia tunjukkan kepada mendiang Indah kelak, saat ia berjumpa kembali dengan ibunya.
Ayah, mengapa kau sekejam itu padaku? Bening tak kuasa meneteskan air mata, namun dengan cepat ia seka dengan punggung tangan.
***
Hardy baru saja menikmati makanan enak di sebuah restoran bintang lima. Ia pribadi bukan orang yang suka menikmati makanan seperti ini, tetapi ia harus melakukannya untuk menyenangkan hati keluarganya.
“Kamu berlebihan sekali, Hardy.” Bimo sangat menyayangkan uang yang harus terkuras hanya untuk makanan yang bisa dimasak Arini di rumah.
Arini menyikut suaminya, tidak pantas baginya untuk berkata selain untuk berterima kasih. “Papa ini! Sesekali tidak apa-apa.” Arini sewot kepada pria yang telah berusia lima puluh lima tahun tersebut.
“Ini untuk merayakan hari pensiun Papa. Saya senang akhirnya Papa bisa istirahat dan menemani Mama di rumah.” Hardy tersenyum, ia bahagia bisa hidup bersama keluarga Bimo dan dijadikan anak angkat oleh mereka.
Bimo tertawa, “maksudmu kamu senang melihatku menganggur? Dasar anak kurang ajar!” Ucapan Bimo ditanggapi tawa keras dari Hardy.
“Kalau Papa bersedia. Ayah bisa membantuku di bengkel. Aku butuh orang untuk mengawasi anak buahku.” Hardy tidak berusaha mengejek, ia sedang menggoda ayah angkatnya.
Bimo tersenyum sambil menunjuk Hardy, “dasar kurang ajar! Kupikir aku bisa istirahat sambil menikmati uangku. Ternyata anak ini mau memeras tenaga orang tua sepertiku.” Untuk ke sekian kalinya Bimo tertawa terbahak-bahak.
“Sudah-sudah. Sekarang ayo pulang! Ari pasti menunggu.” Arini bergegas, ia tidak ingin sang putra marah karena merasa ditinggalkan.
Hardy, Bimo dan Arini pun beranjak. Bimo serta Arini berjalan berdampingan di depan Hardy, Arini menggelayut di lengan suaminya, Hardy tersenyum memandang pemandangan itu.
Sampai di depan restoran, Hardy kembali menyaksikan Bimo membukakan pintu mobil untuk Arini. Mobil sedan tua segera melaju setelah Bimo masuk ke dalam mobilnya. Hardy melambaikan tangan, menunggu mobil tersebut bersatu dengan jalanan sebelum ia menuju ke mobilnya sendiri.
Hardy melangkah keluar restoran menuju mobil van berwarna hitam miliknya. Sebuah mobil van putih berada di sisi kiri dan begitu menempel sehingga ia tidak bisa membuka pintu mobilnya. Hardy memandang mobil van putih tersebut, seorang gadis berkulit putih dan sangat cantik berada di dalamnya. Gadis itu sedang menghadap keluar jendela. Hardy menuju sisi kiri mobil tersebut untuk meminta sang gadis menyingkirkan mobilnya.
Bening menatap sosok seorang pria berkulit sawo matang, sangat tinggi dan berbadan ideal. Pria itu sedang menatapnya, membuatnya terkejut dengan sosok tersebut.
Apa yang akan terjadi, baca besok ya...