Iring-iringan mobil yang digawangi oleh Bowo berakhir di sebuah tempat yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh Bening. Bowo yang selama lima belas tahun terakhir memilih tempat sepi sebagai tempat mereka tinggal, justru sekarang memilih tempat yang ramai. Sebuah rumah berlantai dua berada di pinggiran kota yang padat penduduk.
Bening belum tahu mereka ada di kota mana, tetapi ia sadar bahwa mereka masih berada di pulau Jawa, hanya saja belum tahu mereka ada di bagian mananya pulau Jawa. Bening tidak terlalu peduli, baginya hidup dimanapun sama saja selama ia masih bersama Sardi, di belahan dunia manapun tidak ada bedanya.
Tulus membantu Bening turun dari mobil, udara dingin segera menyambut kedatangannya. Pantas saja tadi Tulus melepas jaket dan diserahkan kepadanya. Tulus, pria dengan badan tinggi besar dan berwajah sangar, tidak ada siapapun yang tahu bahwa pria itu memiliki sebuah kebaikan di dalam hatinya.
“Apa Sardi masih suka memarahimu?” Tulus setengah berbisik, meski ia sebenarnya tidak takut tetapi ia tidak ingin bosnya mendengar ucapannya.
Bening menggeleng perlahan, mengadu kepada Tulus artinya menggali lubang masalahnya sendiri. Ia tahu ayahnya tidak akan pernah memaafkannya jika ia mengadu kepada Tulus. Badan Sardi memang jauh lebih kecil daripada Tulus, tetapi Bening tahu Sardi memiliki kepandaian dalam menjilat kaki Bowo. Itulah kenapa Bowo menganak-emaskan ayahnya dan secara tidak langsung, ia ikut merasakan imbasnya.
“Tulus. Kerjakan tugasmu!” Bowo menghentikan langkah sesaat setelah mendengar pria itu berbisik kepada Bening.
Tulus suka sekali menempel kepada gadis itu, Bowo bukannya suka Bening selayaknya pria terhadap wanita, hanya saja gadis itu adalah titipan mendiang istrinya. Siapapun tidak boleh mendekati Bening kecuali dirinya serta Sardi tentu saja.
“Bening. Cari kamarmu! Besok pagi, aku punya tugas untukmu.” Bowo mengatakannya dengan nada ketus sebelum ia masuk ke rumahnya.
Bowo meremas rambutnya, ia masih saja kesal dengan ulah satu anak buah yang berkhianat kepadanya. Menunjukkan dimana tempat persembunyiannya, sama dengan mencari mati. Tulus adalah algojo yang siap melaksanakan tugasnya dengan baik. Bowo beruntung memiliki Tulus dalam komplotannya serta Sardi yang selalu bisa ia jadikan anjing kapanpun ia mau. Sardi tidak memiliki kemampuan apapun tetapi ketergantungannya terhadap minuman keras membuat pria itu bisa disuruh apapun olehnya. Bahkan walau hanya dengan iming-iming sebotol minuman keras.
Orkes musik tresno, seharusnya bisa menjadi sebuah kamuflase yang baik. Beberapa anaknya sudah berada di tempat-tempat yang seharusnya. Anak-anak yang masih tinggal, suatu saat pasti mendapatkan pelanggannya, tetapi sayang sekali hanya karena kecerobohan satu orang, semua menjadi berantakan.
Bowo harus memulainya lagi dari awal dan bukan hal mudah untuk menjalanan bisnis ini.
Bening perlahan masuk ke dalam rumah yang cukup luas. Sesaat ia terpaku di depan ruang tamu yang luas dimana ruang tengah serta ruang makan ada dalam satu ruangan yang sama. Di bagian kanan terdapat dua pintu namun Bening tidak tahu ruangan apa yang ada di baliknya. Sebuah tangga berada di sisi kiri, ia pun tidak tahu ruangan apa saja yang ada di atas sana.
Lima orang perempuan, masih mengenakan pakaian kerja mereka berupa gaun mini yang menonjolkan lekuk-lekuk tubuh mereka, masuk secara bersamaan lalu salah satu perempuan dengan rambut merah mengalungkan lengannya di sekitar leher Bening.
“Bos besar bilang, kamar perempuan ada di atas.” Wanita itu setengah mabuk, ia menebarkan aroma busuk saat berbicara dengan Bening.
“Sherly, naik! Bening, kamarmu diatas!” Baik Bening maupun Sherly tidak tahu bahwa sang pemilik orkes musik sedang duduk di sofa berwarna putih gading yang ada di ruang tamu. Keduanya terkejut kemudian secara spontan keduanya menoleh secara bersama-sama.
Sherly segera melepaskan rangkulannya, dengan langkah sempoyongan ia mengajak keempat perempuan lainnya naik ke lantai dua. Bening pun ikut melangkah, berjalan pelan di belakang kelima perempuan itu.
Mereka ada dalam satu rumah, tidak terpisah seperti biasanya. Apakah ini pertanda baik baginya? Mengingat jika berada dalam satu atap dengan yang lain, sangat kecil kemungkinannya Sardi melakukan tindakan kasar kepadanya. Pria itu selalu saja sibuk mencari perhatian Bowo sehingga cenderung tidak memerhatikannya dan itu adalah berita bagus.
“Bening, apa kamu baik-baik saja?” Bowo memandang gadis yang kini berdiri tepat di tengah-tengah ruangan.
Bening memutar badan, ia sedikit mengumbar senyum. “Saya baik-baik saja, Om.” Suara Bening lemah, hampir tidak terdengar oleh Bowo namun pria itu tidak mempersoalkannya.
Bowo bangkit, ia mendekati Bening yang terlihat sangat lemah. “Kalau Sardi buat ulah, laporkan padaku! Aku tidak mau istriku sedih kalau kamu seperti ini.” Bowo menepuk pundak Bening. Ia memandang luka di pergelangan tangan gadis itu. “Jika ada masalah, katakan saja padaku! Siapapun yang mengganggu anakku, aku pastikan mendapat pelajaran. Termasuk Ayahmu!” Bowo meninggalkan Bening yang tercenung dengan ucapan pria itu.
Bening memandang Bowo yang sedang naik ke lantai dua. Ia tersenyum, senang dengan perlakuan Bowo kepadanya. Ia bersyukur mendiang istri Bowo sangat menyayanginya sehingga ia bak mendapatkan tiket emas di tempat sekotor ini.
Dua belas tahun lalu,
Bening memandang sebuah rumah mewah yang baru kali ini ia lihat. Sebuah sofa besar berwarna hitam bisa serasi dengan ruangan berwarna putih. Sebuah foto yang besar menempel di dinding sebelah kiri. Foto seorang pria dengan kumis tebal, memakai kemeja putih yang tertutup jas berwarna hitam. Seorang wanita berambut sepundak dan bergelombang, duduk di kursi yang berada di samping pria itu.
“Selamat malam, Bu. Saya Sardi, Pak Bowo ada?” Sardi memandang Rena, istri Bowo sang pemilik orkes dangdut yang sudah menerimanya menjadi anak buah.
Rena tidak peduli dengan Sardi, pandangannya tertuju kepada seorang gadis bertubuh kurus berkulit putih pucat. Gadis itu cantik sekali, mengingatkannya kepada sang buah hati yang telah meninggal beberapa tahun lalu.
“Siapa namamu anak manis?” Rena mendekati Bening, wanita itu berlutut untuk menyejajarkan tingginya.
“Saya ... Bening.” Bening berkata lirih namun Rena mampu mendengarnya melalui gerak bibir gadis itu.
“Bening, ya? Anak manis, kamu tinggal dengan Tante, mau ya!” Rena dengan mudah jatuh hati kepada Bening. Dengan mudah wanita itu menggendong Bening.
“Suamiku ada di ruangannya. Kamu tadi berkata suamiku sudah menerimamu kan? Bagus. Kamu kerja saja sama dia, aku yang menjaga anakmu.” Rena tidak menunggu jawaban Sardi, ia berlalu bersama Bening dalam gendongannya.
Sardi melongo, memandang Bening yang bergerak menjauh. Senyum seringai muncul, ia merasa tidak rugi membawa Bening saat ia tanpa sengaja bertemu gadis itu di terminal Arjosari. Aku tidak pernah tahu, anak itu ternyata membawa keberuntungan, ucap Sardi dalam hati.
Rena mengajak Bening ke sebuah kamar dengan nuansa merah muda serta sebuah ranjang kecil berwarna ungu. Kamar impian Bening. Beberapa boneka teronggok di atas ranjang, sebuah lemari pakaian berwarna merah muda bergambar barbie ada di sebelah kanan. Kamar yang sempurna bagi Bening. Apakah sekarang ia akan tinggal disini? Bening sangat berharap ia bisa tidur di kamar ini.
“Mulai sekarang, kamu bisa tidur di kamar ini.” Melihat raut muka Bening, Rena tahu Bening menyukai kamar mendiang putrinya.
“Sungguh? Tante, saya suka sekali.” Bening tersenyum riang, ia memutar badan untuk memindai seluruh ruangan itu.
“Ma, aku mau bicara.” Bowo, pria berkumis tebal yang dilihat Bening di foto itu sedang berdiri di tengah pintu. Pria itu memandangnya dengan tajam, kumisnya bergerak perlahan membuat bulu kuduk Bening meremang.
Rena tersenyum, ia pun ingin membicarakan tentang Bening. Ia ingin Bening menjadi anak angkatnya. Ia ingin Bening menggantikan posisi anak kandungnya. Rena sangat bersemangat untuk membicarakan hal ini.
Bowo dan Rena meninggalkan Bening sendirian. Gadis itu mengambil sebuah boneka gadis perempuan berambut merah untuk dipeluknya. Bening tidak peduli dengan dua orang dewasa itu, ia ingin cepat bermain dengan mainan yang ada disini.
“Nanti Tante kesini. Kamu main dulu ya!” Sebuah anggukan kecil dari Bening menjadi jawaban iya untuk Rena.
Rena dan Bowo pergi ke kamar mereka untuk membicarakan masalah ini. Bowo tahu arah pikiran Rena, pria itu sangat mencintai Rena dan semua yang ada di pikiran Rena seolah ditransfer ke kepala Bowo.
Bowo membuka kamar dan mempersilahkan istrinya masuk terlebih dulu. Namun wanita itu segera memeluk serta mencium kedua pipi suaminya, membuat Bowo harus menyeret tubuh keduanya agar bisa masuk ke kamar mereka.
“Anak itu cantik sekali, Pa. Kita angkat dia jadi anak kita!” Rena benar-benar seperti ABG sedang jatuh cinta. Senyumnya lebar, sebuah pemandangan langka bagi Bowo setelah kepergian anak mereka.
“Tidak! Gadis itu tidak bisa tinggal disini. Kita bisa mencari anak lain di panti asuhan. Tapi jangan anak bawahanku!” Bowo tidak mau Bening menjadi angin segar bagi Sardi.
Sardi direkrut menjadi salah satu anak buahnya hanya karena pria itu pandai bersilat lidah dan ia yakin bisa menjadikannya sebagai pesuruh yang baik, sekalipun pria itu tidak memiliki kecakapan lain. Bowo ingin profesional, sementara ia yakin Sardi akan memanfaatkan Bening untuk keperluannya. Itulah alasan baginya untuk tidak menjadikan Bening sebagai anak angkat.
“Tapi, Pa. Bening sangat cantik dan lucu. Belum tentu kita mendapat anak secantik dia. Mama ingin dia menjadi anak kita. Titik!” Rena merajuk, Bowo menjadi kesal.
Kenapa pria menjadi lemah jika berhubungan dengan wanita yang dicintainya? Bowo benar-benar benci kelemahannya. “Ma, anak itu punya ayah. Kita tidak bisa memisahkan anak dari ayahnya.” Bowo bersikeras, kali ini ia tidak mau mengalah.
“Tapi, Pa...”
“Besok kita bicarakan lagi. Sekarang kita kembalikan anak itu ke ayahnya. Besok kita ke panti asuhan, kita bawa satu ... bahkan semuanya, jika kamu mau. Sekarang minum obatmu!” Bowo mengambil obat antidepresan yang selalu ia simpan di dalam nakas.
Bowo sedih dengan kondisi istrinya yang kejiwaannya terganggu pasca kematian anaknya. Tetapi lima tahun telah berlalu, kondisi istrinya sudah membaik. Bowo merasa sudah saatnya bagi Rena untuk menerima kata penolakan, ia ingin istrinya kembali menjadi istrinya yang dulu. Yang tegar dalam menghadapi masalah apapun.
Bowo mengusap air mata, mengiris nadi sendiri adalah hal paling bodoh yang dilakukan wanita. Dua belas tahun lalu istrinya juga melakukan hal gila seperti Bening, sayangnya nyawa Rena tidak terselamatkan.
Bowo menghentikan langkah kemudian memutar badan untuk melihat Bening yang masih terpaku di tempatnya. Kedua mata Bowo basah, ia tidak pernah berpikir bahwa penolakannya berbuah kepedihan.
Bening adalah titipan istri yang sangat dicintainya. Bening adalah anakku.