Bening, Dimana Kamu?

1545 Words
Lima belas tahun lalu, Hardy berlari sekuat tenaga saat mengetahui anak-anak yang kemarin mengeroyoknya ternyata ada di terminal Pandaan. Seharusnya anak-anak itu tidak ada disana karena Hardy melihat mereka di Blitar. Kedua kota itu berbeda arah, tetapi mengapa sekarang mereka ada disana? “Woi, berhenti!” teriak laki-laki memakai kaos hitam bergambar tengkorak dengan rambut dicat merah. Hardy tidak berhenti, ia justru berlari secepat ia bisa dan beruntung ada sebuah bis melintas, tanpa menunggu waktu Hardy segera naik. Ia duduk di belakang sopir bis, ia mengibaskan kaosnya untuk meredam panas yang masih keluar pasca berlari tadi. “Pak. Ini jurusan mana?” Hardy bertanya kepada sopir yang sedang serius menyetir. “Kamu ini, kalian ini sudah berbagi trayek. Tidak seharusnya kamu melanggarnya.” Sopir sangat tahu pembagian area pengamen dan ia tidak suka jika terjadi hal-hal semacam ini. Anak jalanan memiliki kehidupan yang sangat keras, hukum alam sangat menentukan. Siapa yang kuat dialah yang menang. Tetapi bukankah semua sisi kehidupan diikuti oleh unsur alami tersebut? Apapun soal teori kehidupan, tidak akan mengubah kehidupan Hardy bila ia terus seperti sekarang dan Hardy sangat menyadari hal itu. Hardy harus berpikir lagi, mengamen di bis pasti bukan satu-satunya cara cepat untuk mendapatkan uang. Ia masih punya tenaga dan ia harus memanfaatkannya tetapi bukankah sudah berkali-kali ia ditolak lantaran dianggap masih terlalu muda. Tuhan, kapan aku bisa cepat dewasa? Bis berjalan cepat masuk ke dalam tol, laju kendaraan begitu serampangan namun tetap terkendali berkat sopir bis yang brutal alih-alih sebagai mumpuni di bidangnya. Saat bis keluar dari tol, barulah bis melaju perlahan. Kota Surabaya menyambut kedatangan bis tersebut dengan kepadatan lalu lintas yang cukup rapat. Senja sudah tiba saat bis masuk ke dalam terminal. Para penumpang bersiap-siap turun dan mengencangkan otot-otot yang kaku setelah duduk di dalam bis selama tiga jam dimulai dari terminal Arjosari menuju terminal Purabaya. Begitu juga dengan Hardy, ia segera berdiri lalu berjalan menuju pintu walau sebenarnya bis belum benar-benar berhenti. Hardy harus segera mencari bis yang akan membawanya kembali kepada Bening. Gadis itu pasti sangat mengkhawatirkannya. Hardy takut jika Bening akhirnya kembali ke terminal demi menunggunya. Ia tidak suka adiknya khawatir, sudah terlalu banyak kekakhawatiran terjadi dalam hidupnya. Cukup Hardy saja yang merasakannya, Bening tidak boleh ikut memiliki perasaan khawatir seperti dirinya. Hardy melompat turun, sesaat ia mengedarkan pandangan untuk mengenali terminal ini sebelum melangkah. Empat orang anak laki-laki, dua diantaranya adalah dua anak yang sama yang mengeroyok Hardy kemarin berjalan pelan mendekatinya. Alarm berbahaya tingkat tinggi menguar dari kepalanya, Hardy bersiap-siap melakukan apapun untuk menyelamatkan dirinya. “Jadi dia anak itu?” Seorang cowok berambut mohawk meludah di dekat kakinya sendiri, ia memandang Hardy dengan tatapan merendahkan. “Kemarin sudah kuberi peringatan, tapi sepertinya dia anak bodoh, Bos.” SI bocah berambut merah semakin mendekati Hardy, anak yang hanya sepundak Hardy tersebut menjadi terlihat garang saat memandang anak yang lebih tinggi darinya. “Apa lihat-lihat?” Bocah itu mendongak, menatap mata Hardy seolah hendak memanggangnya dengan sinar laser. Puncaknya, Hardy kembali merasakan pukulan, tendangan dan teriakan makian yang membuat telinganya serasa mau meledak. Anak-anak berandalan itu membuatnya tidak berkutik, terpojok di tempat yang sangat sepi. Di sudut terminal berbau pesing, ditambah kotoran hewan dimana-mana. Hardy ditinggalkan setelah ia benar-benar tidak berdaya. Satu matanya bengkak dan membiru, bibirnya pecah dan berdarah, namun yang paling menyiksa adalah pada bagian d**a yang baru saja menjadi bulanan, tendangan dan pukulan beruntun membuat dadanya serasa hancur. DI tempat sepi itu, Hardy menangis. Ia ingat kata-kata Bening tadi siang. Gadis itu tidak mau lagi ke terminal, Hardy menyesal mengapa tadi tidak menuruti keinginan Bening. Diantara sakit yang begitu menyiksa, hati Hardy jauh tersiksa karena ia tahu Bening pasti sedang menunggunya dengan perasaan penuh kekhawatiran. “Bening, maafkan aku. Aku...” Hardy tidak mampu melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba sakit di d**a menjadi begitu menyiksa. Ia terbatuk hingga ia merasa sesuatu keluar dari mulutnya. Hardy memuntahkan darah pekat, ia yakin disinilah mayatnya akan ditemukan esok hari. Tuhan, jika memang sudah waktuku pergi. Hamba mohon, jagalah adik hamba, ia masih terlalu kecil untuk sendiri. Tetes-tetes air mata keluar sebelum kemudian kegelapan melingkupi seluruh penglihatannya. Hardy mengusap wajahnya, sejak saat itu bayangan Bening terus menghantui di setiap tidurnya. Bening pula yang membuatnya menjadi pria penuh semangat bekerja, tanpa peduli siang dan malam juga tidak peduli panas maupun hujan hingga ia menjadi pengusaha sukses di usia cukup muda. Bening adalah lentera hidupnya, ia rela kembali ke masa-masa sulit asalkan bisa kembali bersatu dengan Bening. Bening, dimana kamu? Aku mencarimu. Kedua mata Hardy basah, selalu seperti itu setiap kali ia merindukan adiknya. *** Ari mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia yakin ada sebuah titik terang yang bisa ia dapat jika bertemu dengan Bening. Entah darimana tetapi Ari yakin Bening yang ia kenal, yang membuatnya terpesona dan yang ingin ia miliki adalah Bening yang sama yang dicari Hardy. Inikah yang disebut dengan intuisi? Entahlah, tetapi yang pasti inilah yang dirasakan oleh Ari. *** Bening terkejut dengan kedatangan Sardi dan Tulus, salah satu pengawal pribadi Bowo. Mengapa pria bertubuh kekar itu datang kesini? Memandang wajah Tulus yang dihiasi codet dari dahi hingga mendekati bibir sebelah kiri membuat siapapun akan takut, kecuali Bening karena bagi Bening, Tulus adalah pria paling baik kepadanya. Tanpa banyak bicara, pria itu mengangkat tubuh Bening. “Di, ambil infusnya!” Tulus meminta Sardi mengambil infus yang masih menggantung dan diletakkan di atas perut Bening. Gadis itu terkejut, ia meronta namun toh gerakannya bukan sesuatu yang menyulitkan Tulus. Bening tidak tahu mengapa Tulus tiba-tiba datang dan membawanya pergi. Apakah hal yang sama seperti beberapa tahun lalu terulang? Bening masih ingat betul kejadian waktu itu yang membuatnya muntah di dalam mobil yang berpacu dengan kecepatan sangat tinggi serta ugal-ugalan. Apapun itu, Bening tahu ia hanya bisa ikut kemanapun Bowo pergi karena Sardi akan selalu setia kepada Bowo. Pria itu yang memberi Sardi kehidupan dan juga secara tidak langsung melindungi Bening dari apapun kejahatan diluar sana. Bowo menjaga Bening dengan caranya. “Om Tulus, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri.” Bening sangat tidak nyaman dengan apa yang dilakukan pria berusia pertengahan empat puluhan tersebut. Bening menjadi malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang di rumah sakit tersebut. “Kita harus pergi secepatnya. Maafkan Om, Bening! Bukan maksud, Om berbuat tidak senonoh padamu.” Tentu saja Bening tahu. Bening akhirnya diam, ia membiarkan Tulus membawanya ke halaman belakang rumah sakit dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil van putih. Benar apa dugaan Bening, kejadian itu pasti kembali terjadi. Bening sendiri tidak tahu menahu mengapa Bowo dan seluruh anak buahnya –termasuk Sardi— harus melakukan perjalanan yang sangat melelahkan dan sangat tiba-tiba. *** Ari hendak memasuki halaman belakang rumah sakit saat tiba-tiba sebuah mobil van putih keluar dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menabrak mobilnya. “Sial!” umpatnya. Ari sempat melihat mobil melaju kencang dan hampir saja menabrak bis yang melintas. Ari menggeleng pelan, ia harus secepatnya bertemu dengan Bening. Ia berharap apa yang ia rasakan benar-benar terjadi. Ari memasuki halaman belakang rumah sakit dan segera memarkirkan mobilnya. Ia keluar dari mobil dengan cara melompat karena ia tidak mau membuang waktu walaupun hanya satu detik saja. Ari berlari secepatnya menuju ruangan dimana Bening seharusnya berada, namun saat melihat ruangan itu kosong. Ari merasakan ada yang tidak beres, sinyal itu berbunyi nyaring di dalam kepalanya. Jangan pergi, Bening! Teriaknya dalam hati. Ari segera menuju meja perawat, pria itu segera menanyakan tentang keberadaan Bening. Saat tahu Bening telah dipulangkan secara paksa, Ari memaksa perawat memberinya alamat tempat tinggal Bening. Bukan hal sulit bagi seorang Ari untuk mendapatkannya. Mengatakan dirinya seorang polisi dan sangat memerlukan alamat Bening membuat perawat tidak punya waktu untuk bertahan hingga akhirnya sebuah catatan berisi alamat kini berada di tangan Ari. Ari kembali melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah alamat yang akan mempertemukannya kepada sang pujaan. Setidaknya itu yang ada di pikirannya. Bening harus pergi bersamanya untuk bertemu Hardy, jika toh Bening ternyata bukan Bening yang dicari Hardy. Ia tetap ingin bertemu Bening, gadis itu sudah mencuri sebagian hatinya. Mendekati kampung dimana Bening tinggal, Ari melihat beberapa mobil polisi berada di pinggir jalan. Sialnya, mobil itu tepat di depan rumah yang mungkin saja adalah tempat tinggal Bening. Ari menghentikan mobil lalu melompat keluar, ia berjalan cepat mendekati tempat yang sedang dikerumuni warga dan beberapa polisi sedang bertugas disana. Namun kasus apa yang sedang mereka hadapi? Ari harus segera mencari tahu. “Ada apa ini?” Ari bertanya kepada seorang pria yang berdiri di sebelah mobil polisi. “Gembong n*****a, Mas. Tapi orang-orangnya sudah kabur,” jawab pria itu. Ari mengangguk, ia tidak memedulikan masalah ini. Ia lebih peduli dengan urusan pribadinya. Kepada pria itu, Ari menanyakan rumah Bening. Setelah mendapatkannya, ia segera melangkah menuju rumah sederhana yang sayangnya posisi pintu sedang tertutup padahal hari masih belum terlalu malam. Beberapa kali Ari menggedor rumah tersebut namun sayang rumah itu sepertinya kosong, lalu kemana Bening jika di rumah sakit pun gadis itu tidak ada? *** Iring-iringan mobil van putih melaju dengan kecepatan tinggi. Di salah satu mobil van tersebut ada Bening yang harus memuntahkan isi perutnya. Sardi selalu menyetir dengan cara paling buruk, pria itu selalu menyiksa Bening bahkan saat mengendarai mobil. Perjalanan yang paling menyiksa ini kapan segera berlalu? Bening benar-benar terlalu sakit dan terlalu lemah. Kembali cairan keluar dari mulut Bening, gadis itu seperti sedang menguras isi perut selama perjalanan menuju ke kisah lain di dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD