Kasih Tanpa Alasan

1673 Words
Hardy duduk di ruang tamu rumah keluarga Bimo, tubuhnya masih bergetar, matanya masih sembab meski tidak lagi meneteskan air mata. Tatapannya kosong, sekosong hati dan pikirannya. Hardy benar-benar ada di dasar kesedihan hingga hati dan pikirannya tidak lagi menyuarakan ide-ide seperti kemarin. Ia hanya memandang Bening yang duduk sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ia memandangi gadis itu dari kepala hingga tatapannya berhenti pada telapak kaki adiknya yang dibalut perban. “Apakah sakit, Bening?” Perlahan ia bangkit, mendekati Bening lalu memeluk adiknya. Bening kembali menangis, ia tidak menangisi luka yang ia dapat, ia menangisi nasibnya dan nasib kakaknya. “Gak papa, Kak. Kakak, aku takut.” Bening memeluk Hardy begitu erat, ia menangis di lekuk leher kakaknya. Hardy diam, tidak menangis. Ia mengusap punggung Bening dalam keheningan yang dipecahkan oleh suara isak tangis Bening. “Ada aku. Kamu tenang saja,” lirihnya. Meski belum memikirkan apapun, tetapi satu hal yang ada dalam benak Hardy adalah bagaimana cara menjaga dan merawat satu-satunya keluarga yang ia miliki ... atau yang ia anggap sebagai satu-satunya. *** Arini terbawa emosi saat tanpa sengaja melihat dua saudara saling berpelukan untuk saling menguatkan. Sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu, ia tidak bisa diam saja melihat dua anak menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Ia tidak membahas tentang luka fisik yang mungkin saja dialami Hardy dan Bening, namun kehilangan ibu akibat kebiadaban ayahnya juga termasuk sebagai korban dalam kekerasan rumah tangga tersebut. Indah bukan satu-satunya korban, justru Hardy dan Beninglah korban sebenarnya. “Papa. Tangkap pria itu! Kasihan anak-anak itu.” Arini menatap wajah suaminya saksama. Bimo bisa mengerti bagaimana Arini begitu sangat emosional. Arini tumbuh besar di keluarga yang tidak utuh. Ayahnya dulu juga sering melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga hingga ibu kandung Arini melayangkan gugatan cerai. Ia sangat memahami apa yang dirasakan Arini terhadap apa yang dialami Hardy dan Bening. “Tunggu apalagi? Ini kasus pembunuhan Pa. Papa sendiri menyaksikannya, kan?” Arini geram, suami yang berwajah datar –Alih-alih berwajah tenang— itu meningkatkan ketegangan dalam syarafnya. “Aku sudah mengurusnya, Ma. Mama tenang saja!” Bimo memakai peci, ia telah mengenakan baju koko serta sarung kotak-kotak berwarna biru. Adzan ashar baru saja berkumandang, ia hendak berangkat ke mushola terdekat. Arini membuang muka, jika suaminya telah bersiap berangkat ke mushola maka tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggunya pulang. Suaminya memang orang yang sangat patuh kepada agama serta berdedikasi tinggi tetapi satu kelemahan Bimo yang sangat diketahui Arini adalah pria itu terlalu lambat dalam melakukan sesuatu –Yang sebenarnya justru pria yang sangat memperhitungkan tiap tindakannya—. Bimo melirik Hardy saat ia hendak keluar rumah, “kamu ikut, Om!” Hardy menatap Bimo, ia melepas Bening dari pelukannya. “Ma, siapkan sarung dan baju koko buat Hardy!” Tidak berselang lama, Arini keluar dengan sarung serta baju koko milik anaknya lalu ia serahkan kepada Hardy. Hardy menerima sarung serta baju koko sambil bertanya-tanya, namun Bimo tidak melegakan hati Hardy. Pria itu segera melangkah keluar dan diikuti Hardy di belakangnya. Sampai di mushola, Bimo mengajak Hardy menuju tempat wudhu yang letaknya di samping mushola. Hardy segera mengambil air wudlu lalu mengikuti langkah Bimo menuju mushola dan mengambil shaf paling depan. Baru kali ini ia pergi ke mushola. Rasanya begitu tenang dan begitu menyejukkan. Tidak ada perasaan apapun kecuali ingin sekali mendekat kepada Penciptanya. Hardy larut dalam setiap gerakan dan doa-doa yang dipimpin oleh imam hingga saat selesai sholat azhar berjamaah, Hardy meneteskan air mata. Ia menyesal telah terbawa amarah hingga hampir saja membunuh ayahnya sendiri. Bimo membiarkan Hardy larut dalam perasaannya, ia sesekali melirik Hardy. Hanya cara ini yang bisa menenangkan Hardy, bukan dengan kata-kata motivasi yang mungkin bisa dimentahkan oleh Hardy. Anak sekecil Hardy hanya butuh sesuatu yang kongkrit, bukan kata-kata mutiara yang belum tentu ia pahami. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Bimo saat keduanya berjalan kembali ke rumah. Hardy merasa damai, ia merasa lega dan ia merasa pasrah dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Mungkin ini adalah takdir yang harus dijalaninya, takdir pedih yang entah sampai kapan harus dihadapinya. “Jika kamu merasa sakit. Kamu curhat saja ke Allah! Om, dulu juga begitu.” Bimo menerawang, mengingat kisah masa kecil yang hampir sama pedihnya dengan Hardy. “Om, terima kasih.” Hanya itu yang bisa diucapkan Hardy. Hardy kembali menyusuri jalanan dalam diam dan Bimo menghormati Hardy. Anak itu sedang dalam masa berkabung dan kehilangan yang sangat dalam. Langkah mereka perlahan, jalanan sore cukup ramai. Sesekali Bimo membalas sapaan para tetangganya sambil melirik Hardy yang masih saja berjalan dengan kepala tertunduk. *** Ari memandang Hardy cukup lama, bocah berusia sebelas tahun itu merasa kasihan dengan Hardy dan Bening. Ia sama sekali tidak merasa cemburu meskipun orangtuanya begitu perhatian kepada keduanya. Duduk di ruang makan, Hardy dan Bening hanya menatap makanannya tanpa ada keinginan untuk menyantap makanan itu. Keduanya merasa asing meski berada di tempat yang sangat nyaman dan aman. Arini mengambil sepotong ayam goreng lalu diletakkan ke piring yang ada di depan Hardy. “Makanlah, Har! Kamu sudah seharian belum makan.” Arini tidak ingin dua anak itu sakit. Hardy hanya membalas dengan tarikan napas dalam, ia menyenggol lengan Bening. Kode yang menyuruh adiknya segera menyantap makanannya. Bening tahu arti kode itu, ia menjawab dengan gelengan pelan. Gadis itu sangat lesu, entah untuk ke berapa kalinya ia menangis namun aliran air mata itu masih saja bisa keluar seolah tidak ada habisnya. “Kamu jangan menangis! Ibu tidak suka kamu menangis.” Dibawa perasaan sedih, alih-alih ia melemah, Hardy justru berusaha tegar dan berusaha kembali bangkit. Ia mengambil sendok dan segera menyendok makanannya. “Ayo makan, Bening! Ini enak.” Hardy mengambil sendok, ia hendak menyuapi Bening namun gadis itu menolak. Hardy menjadi kesal, nasi dalam sendok jatuh berceceran di lantai saat Bening menepisnya. “Kamu jangan manja! Ibu sudah tidak ada. Jadi kamu harus menurut padaku!” geramnya. Bukannya diam, Bening justru menangis keras. Ia kembali teringat akan kepergian ibunya yang sangat mendadak. Arini segera bangkit dan segera mendekati Bening. Ia meraih tubuh gadis itu dan menggendongnya. “Sayang, jangan menangis! Nanti ibumu ikut sedih,” ucapnya. Bening memeluk leher Arini, ia membenamkan wajahnya di lekuk tubuh wanita penyelamatnya. “Tante, aku ingin Ibu.” Bening benar-benar sangat merindukan ibunya. Arini membawa Bening menuju ruang tengah, ia duduk dengan Bening berada di pangkuannya. Bening terlalu kecil untuk kehilangan ibunya. Apa yang dialami Arini dulu, tidak ada apa-apanya dengan keadaan Bening sekarang. “Bening, ibumu sangat disayangi Allah. Makanya Allah ingin ibu Bening ada di surga-Nya. Biar ibunya Bening tidak sakit lagi,” hibur Arini. “Aku ingin ikut Ibu ke surga.” Bening kembali terisak. Gadis itu menjadi marah karena ibunya pergi ke surga tanpanya. “Bening harus disini sama Kak Hardy. Kalau Bening pergi ke surga sama Ibu. Kak Hardy sendirian dong.” Bening mengernyit, memikirkan ucapan Arini. Gadis itu akhirnya mendesah, Arini benar. Jika ia pergi bersama ibunya ke surga. Maka Hardy akan disini bersama ayahnya. Bening tidak mau Hardy sendirian bersama ayahnya yang jahat. “Aku rindu Ibu.” Air mata meleleh, ia berusaha meredam tangis namun tetap saja suara isak tangisnya keluar. “Tante tahu. Makanya Bening doain Ibu dong, biar Ibunya bahagia di surga.” Arini tersenyum, ia bukan tipe orang selembut sekarang tetapi siapa yang tidak bisa berubah menjadi lembut jika berhadapan dengan anak serapuh Bening. Bening menadahkan kedua tangan, ia membaca doa untuk ibunya. Sesekali suaranya terhenti karena isak tangis yang masih saja keluar. Selesai berdoa, Arini memeluk Bening dan mengecup puncak kepala gadis itu. “Sekarang ayo makan! Kalau tidak makan, nanti sakit,” ajaknya. Bening mengangguk, ia turun dari pangkuan Arini dan berjalan bergandengan tangan. Meski enggan, Bening akhirnya mau makan. Hardy menjadi lega, ia tidak akan sanggup melihat Bening sakit. Ia merasa bersalah karena tidak sabaran terhadap Bening. Dalam hati, Hardy berjanji akan lebih sabar dalam menghadapi Bening. *** Berbaring di ranjang, Arini memandang suaminya yang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Pria itu sedang menikmati kegemarannya yang lain, membaca buku-buku yang kata Bimo sangat berhubungan erat dengan pekerjaannya. Ah, tapi Arini tidak mempersoalkan hal itu. Ia senang jika Bimo tidak ada tugas jaga malam. Bisa berdua bersama Bimo dengan keadaan seromantis sekarang, sangat sulit ia dapatkan. “Pa. Apa Papa sudah melaporkan masalah ini ke kantor polisi? ” Arini bangkit, duduk bersila di samping suaminya. Bimo menurunkan letak kacamata bacanya. Ia menatap istrinya, wanita itu tetap saja terlihat cantik meski usianya sudah cukup matang. Ditambah dengan jiwa sosialnya yang tinggi, membuat Bimo semakin mencintainya dari waktu ke waktu. “Papa. Dengar aku gak sih?” Arini protes, diamati suaminya tanpa berbicara hanya akan membuat pikirannya teralihkan. Arini harus fokus dengan pembicaraannya sekarang atau ia kehilangan kesempatan untuk berkomunikasi dengan tenang. “Aku sudah lapor, Ma.” Bimo mengembuskan napas berat. Ia menyudahi membaca buku lalu meletakkannya ke atas nakas. Ia menarik dua bantal di belakangnya lalu mulai berbaring. “Kapan pria itu ditangkap? Aku yakin Hardy dan Bening sekarang pasti takut jika ayah mereka masih sebebas sekarang.” “Tidak bisa asal menangkap begitu. Kita harus mengikuti prosedur," ucapan Bimo tak pelak membuat istrinya cemberut, namun hal itu justru membuat Bimo tertawa. “Papa ini. Aku serius, Pa.” Arini melotot, suaminya selalu saja pandai meredam emosi. Tapi bukankah itu yang membuat Arini jatuh cinta kepada Bimo? “Aku juga serius, Ma. Papa mengurus semuanya. Yang penting sekarang, kita asuh dua anak itu. Papa ingin mereka tumbuh dengan bahagia," gumam Bimo.   Arini sangat setuju dengan apa yang suaminya katakan. Arini sangat bersemangat sekali, ia sudah jatuh hati dengan Bening sejak pertama kali mereka berjumpa. Keadaan fisik yang membuatnya tidak lagi bisa hamil setelah rahimnya diangkat beberapa tahun lalu membuatnya suka merawat anak-anak yang kurang beruntung, namun terhadap Bening, Arini merasakan perasaan yang jauh lebih kuat ketimbang hanya mengasuhnya saja. Arini ingin memiliki Bening sebagai anak angkat. Sayangnya, Arini harus memendam perasaan itu saat melihat sebuah sepeda dengan sepucuk surat di keranjang sepeda tersebut ada di carportnya sementara Hardy dan Bening, sudah tidak ada rimbanya. Arini mengambil surat lalu membacanya, tetes air mata turun saat membaca surat tersebut. Bening, Hardy. Mengapa kalian pergi dari kami?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD