Suara ayam berkokok memecahkan keheningan, pagi baru saja datang. Adzan subuh pun belum terdengar namun Hardy sudah memaksa Bening untuk segera pergi dari rumah keluarga Bimo. Untuk terakhir kalinya ia memandang sepeda biru impian Bening yang ia letakkan di car port.
Hardy memandang Bening yang diam terpaku, ia mengusap puncak kepala Bening, membuat gadis itu menoleh kepadanya. “Ayo, Bening!” Hardy merangkul pundak adiknya, berbekal tas berisi beberapa pakaian serta beberapa ratus ribu rupiah, uang belasungkawa yang dikumpulkan sukarela selama prosesi pemakaman Indah. Hardy akan memulai kehidupan baru bersama Bening.
Bak seekor burung yang sayapnya telah dipatahkan yang harus berjalan terseok-seok setelah sayapnya hilang. Seperti itulah kisah yang mungkin akan dihadapi Hardy dan Bening, sepeninggal ibu mereka. Ah, hanya Tuhan yang tahu.
Hardy mempererat rangkulannya, seolah takut jika Bening jauh darinya. Tetapi Bening lebih senang seperti sekarang, kedekatan fisik antara dirinya dengan sang kakak membuatnya merasa nyaman. Bening berjanji akan menurut kepada Hardy. Bening berjanji tidak akan nakal lagi. Bening takut jika Hardy marah lalu tidak mau lagi dengannya. Bening hanya memiliki Hardy, kemanapun kakaknya pergi, Bening akan selamanya bersama Hardy.
Kepala Bening dipenuhi pertanyaan mengapa Hardy mengajaknya pergi dari rumah Bimo, padahal ia yakin Bimo akan bersedia merawat mereka berdua. Ia juga kesal karena Hardy mengembalikan sepeda yang dibelikan Bimo, padahal ia yakin Bimo tidak akan keberatan bila sepeda itu tetap bersama mereka. “Seharusnya kita masih tidur di kamar yang wangi dan empuk itu,” gumamnya.
Hardy mengacak-acak rambut Bening, ia tersenyum masam. Ia sadar telah membuat Bening keluar dari wilayah yang nyaman, tapi kenyamanan itu bukan milik mereka berdua. Rumah itu milik Ari, anak kandung Arini dan Bimo. Hardy masih ingat bagaimana cara Ari memandangnya, anak itu seolah akan melahapnya hidup-hidup, ia yakin Ari tidak nyaman dengan keberadaan mereka. Hardy tidak ingin menjadi perusak kebahagiaan keluarga orang. “Kalo uang banyak nanti. Aku janji akan membeli rumah besar untuk kita berdua. Aku akan membuatkan kamar serba pink, kasur empuk dan kipas angin yang besar,” hiburnya.
Bening hanya menanggapi janji kakaknya dengan helaan napas panjang. Ia berharap suatu saat janji Hardy benar-benar bisa terwujud. Bening ingin tidur di tempat yang sama seperti di tempat Bimo, mengingat hal ini membuat Bening meneteskan air mata.
Sinar matahari telah bersinar cukup terang saat Hardy dan Bening berdiri di tepi jalan raya. Keduanya menunggu bis yang akan membawa mereka berdua menuju kota Solo, kota kelahiran ibunya. Kota dimana nenek serta keluarga ibunya tinggal.
Setelah bis tiba, Hardy mendorong Bening untuk segera masuk ke dalam. Bis cukup lengang, hanya ada beberapa penumpang di dalamnya. Bening mengambil tempat duduk di deretan nomer tiga sebelah kiri. Ia duduk menghadap jendela, memandang jalanan yang dipenuhi kendaraan besar. Perjalanan bis mengantarkan pada kenangan masa lalu, dalam sepi Bening serta Hardy teringat kepada ibu mereka. Seharusnya ini menjadi perjalanan manis. Dulu baik Bening maupun Hardy ingin sekali pergi ke rumah nenek mereka, tetapi ibu mereka tidak pernah membahas tentang nenek. Mereka hanya berangan-angan bisa mudik lebaran ke rumah nenek seperti yang teman-teman mereka lakukan setiap tahunnya.
Bening menyeka air mata, ia menaikkan kedua kaki ke atas kursi dan memeluknya erat. Ia menyelipkan kepala di lutut, menahan isak tangis sebisa mungkin karena ia tidak mau Hardy tahu kesedihannya.
Hardy membelai puncak kepala Bening, merangkul pundak adiknya dan menepuknya perlahan. “Jangan sedih lagi, Bening. Kamu masih punya aku,” hiburnya.
“Maafin aku, Kak. Aku hanya....” Bening memeluk Hardy, menangis di lekuk leher kakaknya.
Hardy ikut terbawa suasana, ia pun tak kuasa menahan kesedihan. Airmatanya jatuh, perjalanan ini sangat menyakitkan.
***
Arini memegang surat yang ditulis oleh Indah. Perasaannya menjadi kacau, campur aduk. Ia turut sedih sekaligus kesal, mengapa Indah dan Hardy tidak pernah membahas tentang keberadaan nenek.
Kepada yang terhormat,
Bapak Bimo dan Ibu Arini
Di Tempat
Salam hormat,
Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang begitu besar kepada kami sekeluarga. Saya tidak akan pernah bisa membalasnya, untuk itu saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya juga minta maaf karena mengabaikan permintaan Bapak dan Ibu, namun apa yang saya lakukan semata- mata demi anak-anak. Saya tidak ingin anak-anak malu memiliki ayah yang masuk penjara. Sekalipun mereka sangat menginginkannya, tetapi saya tahu suatu saat mereka akan menyesal telah melakukannya.
Sebagai seorang ibu, saya gagal membahagiakan anak-anak saya. Saya tidak bisa menjaga dan melindungi mereka dengan baik. Saya justru menyusahkan mereka, saya tidak layak menjadi ibu mereka. Saya pantas dihukum atas apa yang saya lakukan kepada anak-anak. Saya menyesal karena tidak bisa membahagiakan mereka.
Kami bertiga sudah terlalu banyak menyusahkan, saya tidak ingin menjadi beban keluarga Bapak dan Ibu. Saya benar-benar tidak tahu apa yang bisa saya katakan selain maafkan kami dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan Bapak dan Ibu. Semoga, keluarga Bapak dan Ibu mendapatkan semua yang Bapak dan Ibu inginkan.
Saya telah meminta anak-anak menemui nenek mereka dan meminta mereka tinggal disana. Meski demikian, jika suatu saat anak-anak datang ke rumah Bapak dan Ibu, saya mohon terima mereka seperti Bapak dan Ibu menerima anak-anak lainnya. Saya tidak bermaksud....
Arini belum selesai membaca surat itu saat Bimo tiba-tiba datang dan merebutnya. Bimo membaca surat itu dengan perasaan campur aduk seperti saat Arini membacanya. Pria itu meremas surat sambil menggeram, ia tidak menyangka wanita itu akan mengirim anak-anaknya ke keluarga yang sebetulnya asing bagi keduanya. Wanita itu benar-benar menghancurkan hidup anak-anaknya. Sial!
“Apa yang harus kita lakukan, Pa? Kenapa Hardy pergi tanpa pamit seperti ini.” Arini mendesah, ia sangat menyayangkan kepergian Hardy tanpa pamit.
Bimo berlari menuju rumah Hardy, berharap bisa menemukan dua anak itu namun rumah itu kosong. Bimo memeriksa seluruh ruangan di rumah itu. Semua ruangan tanpa terkecuali hingga saat masuk ke kamar bernuansa merah muda, ia melihat lemari kecil terbuka, hanya ada tiga baju dimana salah satunya hampir jatuh. Sebuah petunjuk yang bisa dibaca oleh Bimo. Pria itu segera berlari menuju jalan raya, menuju halte sambil berharap dua anak itu masih ada disana.
Bimo mengelilingi halte, saat tahu dua anak itu tidak ada disana, ia mencari Hardy dan Bening kesana kemari, berharap bisa menemukan keduanya, mungkin di minimarket, warung kaki lima atau bisa jadi keduanya berjalan tanpa tujuan. Namun saat kedua anak itu tetap tidak diketemukan dan saat Bimo melihat sebuah bis berhenti untuk menerima penumpang, Bimo menghela napas berat. Ia yakin dua anak itu sudah pergi ke rumah nenek mereka.
Bimo menggeleng, ia tidak mau menyerah. Ia tidak boleh membiarkan dua anak itu menderita, tidak setelah bertemu dengannya.
Bimo memutuskan mencari Sardi, hanya pria itu yang tahu dimana nenek mereka tinggal. Bagi Bimo, bukanlah hal sulit untuk menemukan orang seperti Sardi. Bimo tahu dimana saja tempat orang-orang tidak berguna seperti Sardi biasa berkumpul.
Bimo mendatangi sebuah warung kopi yang sudah terkenal sebagai tempat mangkalnya orang-orang seperti Sardi. Seperti dugaannya, Sardi sedang asyik bersenda gurau sambil meminum kopi tatkala ia datang.
Dasar cecunguk, baru kemarin istrinya meninggal. Sial, harusnya aku menangkapnya sekarang mumpung dia ada. Namun sayangnya niatan Bimo terganjal peraturan yang harus ia taati. Walau demikian, Bimo berjanji akan membuat Sardi mendekam di balik jeruji besi dalam waktu yang sangat lama untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan.
Bimo menggeleng, ia harus fokus. Tanpa banyak bicara, Bimo menarik kerah baju Sardi dan menyeretnya keluar warung. Bimo melempar tubuh Sardi seperti barang kotor lalu ia mengunci tubuh Sardi di bawah pohon mangga yang cukup besar.
“Apa yang anda lakukan?” Sardi tergeragap, ia masih kaget dengan kedatangan Bimo yang begitu tiba-tiba.
Bimo tidak menjawab pertanyaan Sardi, ia menekan tubuh Sardi seolah-olah hendak menyatukannya dengan batang pohon. Rahangnya mengeras, gigi-giginya bergemerutuk, Bimo sedang menata hatinya untuk tidak berbuat anarkis kepada orang yang sudah menelantarkan dan menyiksa darah dagingnya.
“Dimana orangtua istrimu tinggal?” Bimo terlalu geram hingga saat berbicara ia hanya mengeluarkan suara tanpa membuka mulut lebar-lebar.
“So … Solo.” Dipenuhi rasa tegang, Sardi tergagap.
“Berikan alamat lengkapnya!” Sardi segera menyebutkan alamat yang diminta Bimo. Setelah mendapatkan alamat yang ia inginkan, Bimo segera meninggalkan Sardi begitu saja. Ayah Hardy tersebut menghela napas lega namun sekaligus marah karena tindakan Bimo yang dianggapnya terlalu sok.
Bimo berjalan cepat untuk kembali pulang, pria itu harus segera berangkat ke Solo setidaknya hanya untuk memastikan dua anak itu baik-baik saja.
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Bimo sesekali menggigit kuku untuk meredam kekhawatirannya. Semoga mereka baik-baik saja, ucap Bimo dalam hati.
Hardy dan Bening turun dari bis, mereka membaur dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka di terminal. Sesaat Hardy berdiri terpaku, ia mengamati suasana terminal yang sedang ramai. Ia mencari angkutan yang akan membawa mereka ke rumah nenek yang belum pernah mereka jumpai.
Hardy memandang kertas lecek di genggamannya lalu memandang sebuah angkutan. “Itu jurusannya.” Hardy mendekati angkutan itu, diikuti Bening dari belakang.
Angkutan berjalan lambat, sesekali berhenti untuk menerima penumpang atau menurunkan penumpang. Hardy menunjukkan alamat yang akan ia tuju, sopir mengangguk mengerti. Pria mengenakan topi hitam itu akhirnya berhenti, ia menunjukkan sebuah gang kecil. “Dari situ kamu tanya saja,” imbuh sang sopir.
Setelah membayar ongkos, Hardy dan Bening segera berjalan masuk ke gang yang ditunjukkan sopir angkutan umum. Jalanan itu hanya selebar setengah meter dengan rumah-rumah kecil yang berjajar. Perkampungan itu tidak jauh beda dengan lingkungan di kampung mereka, hanya saja jalanan disini jauh lebih baik.
Hardy memandang sebuah rumah tua dengan tembok yang mulai keropos. Seorang wanita tua hanya mengenakan kemben dan jarik, keluar rumah sambil berjalan membungkuk.
“Nenek.” Hardy tersenyum, akhirnya ia telah sampai ke tempat tujuan sesuai dengan petunjuk sang ibu.