Wanita baya, pemilik rumah tua itu memandang dua anak yang tadi memanggilnya. Ia menyipitkan mata, menerka siapa gerangan dua anak itu. Beberapa lama ia berpikir namun akhirnya ia menggeleng pelan lalu kembali melangkah menuju samping rumah. Saat baru saja maju selangkah, Hardy membuat langkahnya kembali berhenti.
“Nenek, kami anaknya Ibu Indah. Cucu Nenek.” Hardy mendekati neneknya lalu mengulurkan tangan kanan. Ia ingin bersalaman dan mencium punggung tangan wanita itu namun nenek itu terpaku, ia hanya memandang Hardy dan Bening dengan dua mata berkaca-kaca.
Indah, anak sulung yang memilih pergi demi seorang pria dan belum pernah kembali, kini malah mengirim dua anaknya. Sekarang apa yang Indah pikirkan sampai mengirim dua anaknya datang kesini? Tapi apa benar mereka berdua cucunya? Wanita itu mengamati Hardy dan Bening. Jika melihat Bening, tidak akan bisa disangkal bahwa benar mereka berdua adalah cucunya. Bening sangat mirip dengan Indah waktu masih anak-anak.
Wanita itu menggeleng, teringat bagaimana dulu Indah bersikukuh akan menikah dengan Sardi membuat hatinya kembali terluka. Hingga sekarang, ia tidak mengerti mengapa Indah bisa jatuh hati kepada pria yang sejak awal sudah terlihat perangainya. Mungkinkah Indah sekarang menyesal? Pertanyaan itu membuat Romelah menerawang dan berharap pikirannya benar. Ia bukan sedang tertawa di atas penderitaan anaknya, tetapi jika ia benar, ia ingin Indah kembali ke dalam pelukannya.
“Dimana Ibu kalian?” Romelah sangat ingin bertemu buah hati yang telah pergi lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Hardy menunduk, menarik napas dalam. Ia merogoh saku celana untuk mengambil surat yang ditulis ibunya. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan surat tersebut kepada neneknya.
Romelah mengernyit, ia menerima surat itu sambil bertanya-tanya kenapa Indah menulis surat untuknya. Beberapa pikiran negatif sempat terpikir namun sesegera mungkin ia menepisnya. Dengan tak sabar, ia membuka surat lalu membaca dalam hati.
Tangan Romelah tiba-tiba gemetar, air mata keluar dari pelupuk mata namun ia tahan agar tidak jatuh. Ini surat wasiat dan ini artinya? Romelah memandang Hardy dan Bening, sejuta perasaan memenuhi hatinya, tatapannya sarat makna.
Fadli, kakak satu-satunya Indah baru saja keluar. Ia memandang heran terhadap ibu dan dua anak, entah anak siapa. Melihat ibunya memegang sepucuk surat, ia segera merebutnya. Ia membaca beberapa lama, ia menggeram dan amarah seketika meluap.
***
Bimo telah sampai di tengah perjalanan, ia menyetir dengan satu tangan sementara tangan lain sibuk menggigit kuku. Pria itu ingin secepatnya melihat Hardy dan Bening, ia ingin melihat secara langsung bahwa keduanya aman di tangan nenek mereka.
Bimo memiliki berbagai rencana untuk kehidupan kedua anak itu. Ia ingin Hardy dan Bening hidup bahagia bersama keluarganya serta sebelas anak asuhnya.
Dering telpon memecahkan suasana, Bimo menepikan kendaraannya untuk mengangkat telepon. Ia memandang layar HP, nama kepala Polsek tertera disana. Pasti hal sangat penting sampai kepala Polsek sendiri yang menghubunginya.
“Bimo. Kemana kamu? Ada kasus pembunuhan di Desa Weringin. Kamu segera kesana!” Perintah itu tentu tidak bisa diabaikan.
Bimo menjadi kesal hingga ia menepuk setir mobil, di saat yang genting begini mengapa ada kasus segala. Tapi sayangnya Bimo tidak bisa melawan perintah, ia hanya bisa menghela napas berat sebelum akhirnya ia memilih memutar kemudinya untuk segera ke tempat kejadian perkara.
***
Fadli mengawasi dua anak hasil pernikahan Indah dan Sardi. Dengan saksama ia meneliti keduanya. Hardy memiliki wajah perpaduan antara Indah dengan Sardi, anak itu memiliki sorot mata tajam seperti ayahnya namun memiliki bentuk bibir seperti ibunya. Sementara Bening, boleh dikatakan sebagai duplikat ibunya saat masih anak-anak.
“Jadi benar kalian ini anak-anak Indah, adikku?” Fadli duduk di ruang tamu sederhana, hanya berupa meja dengan kursi berbahan rotan yang sudah hampir rusak termakan usia.
Hardy memandang Fadli, mendengar pertanyaan dengan nada suara tidak ramah membuat alarm siaga dalam dirinya menyala. Fadli tidak suka dengan keberadaannya dan Bening, sinyal itu terlalu sulit untuk diabaikan.
Fadli mengangkat satu alisnya, ia benci sorot mata yang segera mengingatkan kepada b*****h yang membuat adiknya minggat dari rumah. Ia ingin mengabaikan anak-anak itu tetapi sebelumnya ia ingin tahu tentang kabar Indah, adiknya.
“Saya dan Bening, anak Ibu Indah. Ibu meminta kami kesini dan menurut apapun yang dikatakan Nenek.” Hardy benci keadaan ini tetapi ia tidak memiliki tempat lain untuk berlindung.
“Lalu dimana Ibumu sekarang?” Meski masih ada perasaan kesal namun Fadli sangat ingin bertemu dengan adiknya. Sudah terlalu lama ia berpisah dengan saudara satu-satunya.
“Ibu….” Hardy menunduk, ia tidak mampu mengatakan bahwa ibunya telah pergi jauh. Tanpa terasa, air mata luruh begitu saja.
Melihat pemandangan ini, tak ayal membuat Fadli bertanya-tanya. Mengapa anak itu tidak menjawab pertanyaannya? Ataukah Indah sedang sakit keras?
Romelah datang dengan sebuah nampan berisi dua gelas teh hangat. Dua tangannya bergetar saat ia meletakkan nampan di atas meja. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui. Apakah surat itu memang benar?
“Katakan padaku!” Fadli melotot, suaranya cukup keras hingga membuat Hardy dan Bening terkejut.
“Cukup! Apa kamu tidak mengerti situasinya?” Romelah memandang anak sulungnya dengan tatapan kesal. Ia yakin Fadli sudah membaca surat itu, tetapi mengapa ia tidak bisa menarik kesimpulan bahwa…
“Apa benar Indah … meninggal?” Romelah tidak bisa menyembunyikan kesedihannya sambil berharap apa yang ia pikirkan adalah salah. Tetapi anggukan lemah Hardy seperti sebuah petir menyambar, tubuh wanita itu merosot, ia telah kehilangan Indah untuk waktu yang sangat lama namun mengetahui anaknya telah tiada tetap saja hati seorang ibu bagai dicabik-cabik.
Sungguh malang, anakku. Romelah terisak, ia tidak pernah menyangka nasib anak bungsunya seburuk itu.
Fadli merangkum wajahnya, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ini pasti karena Sardi, tidak salah lagi. Fadli kesal sekali, ia mengepalkan kedua tangan lalu menepuknya di sandaran kursi. Otot-otot lehernya mencuat, rahangnya mengeras dan gigi-geliginya bergemelutuk. Pemandangan itu membuat nyali Hardy dan Bening menciut.
“Mak, ini pasti ulah Sardi. Aku harus menuntut balas.” Fadli bangkit, ia tidak tahan lagi. Ia sangat ingin mencekik leher Sardi dan membuatnya mati. Pria itu sudah menghancurkan kehidupan adiknya, dulu ia bisa bertahan demi menjaga perasaan Indah, tapi sekarang setelah tahu apa yang dilakukan Sardi kepada adiknya. Tidak ada lagi alasan untuk tidak membinasakan makhluk k*****t seperti Sardi.
Romelah bangkit, ia segera mencekal lengan anaknya. Menahan Fadli agar tidak berbuat hal bodoh seperti membunuh Sardi. Wanita itu sama kesalnya dengan Fadli, tetapi apapun yang akan dilakukan tidak akan bisa membuat Indah hidup.
“Mak, aku harus membunuh b*****t itu.” Fadli menarik lengannya dari cekalan Romelah. Ia berjalan cepat ke dapur, mengambil golok dan hari ini juga ia akan menuntut keadilan.
Romelah menarik lengan Fadli, ia tidak akan membiarkan anaknya melakukan sebuah kejahatan. Ia pun marah kepada Sardi, tapi ini bukan cara terbaik untuk menuntut balas. “Kita laporkan polisi saja! Jangan berbuat aneh-aneh!” Romelah merebut golok dari tangan anaknya lalu membuangnya.
Fadli menahan kesal dengan menjambak rambutnya, ia kembali ke ruang tamu lalu duduk di depan Hardy dan Bening. Tetapi melihat kedua anak itu malah membuat Fadli kembali meradang, ia pun kembali bangkit lalu melangkah masuk ke kamarnya.
Melihat tingkah anaknya, Romelah hanya bisa menarik napas panjang. Ia mendekati Hardy dan Bening. Sebagai seorang wanita, terlebih sebagai ibu dan kini sebagai nenek, ia tidak akan menelantarkan cucunya. Kesalahan ayah mereka memang tidak bisa termaafkan dan kedua anak itu tidak ada sangkut pautnya.
Romelah mendekati Hardy dan Bening, ia tentu tidak bisa mengabaikan keberadaan dua cucunya. Romelah menarik napas dalam, ia harus bekerja ekstra untuk merawat dua cucunya. Astaga, di usia senjanya ternyata ia masih harus bekerja demi merawat dua cucu yang tiba-tiba datang kepadanya.
Aku pasti bisa mengatasi ini, kata Romelah dalam hati.
“Hardy, Bening. Seperti yang kalian lihat. Kehidupan Nenek tidak sebaik kalian.” Ucapan Romelah seolah ia tahu bagaimana kehidupan Hardy dan Bening. Wanita itu berpikir bahwa Sardi sekarang tentu telah menjadi pria yang sukses. Dahulu saja pria itu sudah jadi mandor, mungkin sekarang pria itu sudah menjadi manajer. “Nenek tidak akan mengusir kalian. Tapi kalian harus bisa menerima keadaan Nenek. Kalau kalian keberatan, kalian bisa kembali ke Ayah kalian…”
“Tidak, Nek. Kami ingin disini sama Nenek. Saya dan Bening janji tidak akan menyulitkan Nenek.” Hardy menyela ucapan neneknya.
“Baguslah. Mulai sekarang, kalian bisa tinggal disini. Bening bisa tidur dengan Nenek. Kamu bisa tidur dengan Pakde Fadli.” Romelah kembali bangkit, ia harus menyiapkan makanan cukup banyak untuk dua pendatang barunya.
***
Hardy baru saja masuk ke kamar, melihat Fadli berbaring di atas ranjang dengan kasur tipis membuatnya berdiri canggung. Hardy sadar, Fadli sedang mengamatinya. Kesan pertama yang tidak baik, Hardy benar-benar tidak nyaman dengan keadaan ini.
Fadli mengembuskan napas berat, ia memilih bangkit daripada melihat sepasang mata yang mengingatkannya kepada Sardi. Ia sadar bahwa ini tidak ada hubungannya dengan Hardy, tapi perasaannya pun tidak bisa didiamkan begitu saja.
Fadli berjalan dengan langkah lebar, melewati Hardy begitu saja. Ia tidak pernah berpikir bahwa Hardy pun adalah korban dari kekejaman Sardi. Ia tidak paham bahwa apa yang ia lakukan sekarang hanya membuat beban Hardy kembali berat.
Hardy meletakkan tas ranselnya di atas lantai. Dua tangannya mengepal, ia menggigit bibir bawah untuk menahan diri. Untuk ke sekian kalinya, Hardy meneteskan air mata. Ia yakin kehidupan disini tidak akan semudah yang ia bayangkan. Tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menjalani babak baru dalam hidupnya.