Hardy tidak pernah sekalipun membayangkan bahwa ia harus menjalani kisah semacam ini. Ia benar-benar merasa sendiri, merasa harus bertanggung jawab atas kehidupan adiknya sehingga ia harus mencari jalan aman untuk dilewati. Pada awalnya jalan ini sudah ia yakini akan menjadi jalan terbaik, namun sekarang ia sama sekali tidak yakin.
Dunia begitu kejam pada dirinya, tidak cukup hanya memiliki ayah seperti Sardi, kini ia harus kehilangan ibunya, wanita yang selama ini menjadi sandarannya, tempat pelipur lara. Hardy telah kehilangan sosok yang terlalu berarti baginya. Oh Ibu, tahukah engkau bahwa aku sangat membutuhkanmu.
Hardy sadar kini bukan saatnya untuk larut dalam kesedihan. Ia harus menjadi kuat demi Bening, demi gadis yang kini hanya memiliki dirinya. Seharusnya Hardy merasa beruntung karena setidaknya ia memiliki saudara yang akan menggenggam tangannya, bersedih serta bersuka cita bersamanya.
Hardy meletakkan ransel di atas meja, sesaat ia berdiri sambil memerhatikan seisi kamar kecil bercat putih yang telah mengelupas disana sininya. Sebuah ranjang kecil dengan seprai merah muda yang warnanya telah memudar ada di sebelah kanan, bersebelahan dengan jendela berteralis bambu.
Hardy duduk di tepi ranjang, merasakan dingin lembab di permukaannya. Ia memandang sebuah poster artis dangdut terkenal Cita Citata berbalut busana berwarna biru dan memakai rambut palsu berwarna senada.
Pandangan Hardy beralih pada sosok gadis yang tiba-tiba membuka tirai penutup pintu. Gadis itu segera duduk di sebelahnya lalu menyandarkan kepala di pundaknya. Wajah gadis itu muram, keceriaan Bening kini menjadi hal langka. Hardy sangat merindukan masa-masa dimana mereka tertawa ceria.
“Bening. Kamu kenapa?” Pertanyaan bodoh, tapi toh tetap saja ditanyakan.
“Kakak. Enakan di rumah Pak Bimo,” desah Bening. Ingatan tentang betapa nyamannya rumah Bimo membuat mulut Bening mengerucut.
Hardy setuju dengan Bening, tetapi Bimo bukan keluarganya. Disinilah tempat bagi keduanya untuk berteduh dan berlindung.
“Aku akan mencari uang banyak. Kelak aku akan beli rumah indah buat kita. Aku akan membuatkanmu kamar serba pink. Kamu sabar saja!” Tekad ini tertanam sangat kuat di hati Hardy.
“Asal aku bisa terus sama Kakak. Aku sudah senang kok.” Bening menyeka air mata, ia memandang Hardy dengan tatapan yang begitu hangat.
Hardy tersenyum, ia harus segera bangkit untuk menata kembali hidupnya. Ia mengacak-acak rambut Bening. Biasanya gadis itu sebal jika rambutnya diacak-acak, namun sekarang ia merasa bahagia hingga tidak lagi peduli dengan tatanan rambutnya.
Hardy bangkit, diikuti oleh Bening. Meski belum bisa lepas dari kesedihan namun keduanya berbagi senyum. Hari esok masih misteri namun keduanya yakin bisa menghadapinya karena mereka saling memiliki.
***
Romelah terkejut dengan Hardy dan Bening yang bersikukuh akan membantunya bekerja di ladang. Ia tidak yakin dua anak kota bisa bekerja keras namun ia sendiri tidak bisa menahan keinginan dua cucunya.
“Aku kuat, Nek.” Hardy menunjukkan bisepnya yang kurus, bergaya ala binaragawan.
“Aku juga kuat.” Bening tidak mau kalah.
Romelah hanya bisa geleng-geleng, pada akhirnya ia mengalah pada kedua cucunya. Rasanya bahagia memiliki dua cucu baik seperti mereka. Meski serba kekurangan namun Romelah yakin bisa merawat anak-anak Indah.
Perjalanan menuju ladang membutuhkan waktu lima belas menit, mereka melintasi rumah-rumah warga sebelum akhirnya sampai di ladang yang luas.
Sawah membentang, padi menguning siap dipanen. Beberapa petani juga baru sampai, para lelaki memanggul cangkul sementara para wanita membawa arit. Mereka terkejut dengan kehadiran Hardy dan Bening, satu diantaranya bertanya langsung kepada Romelah. “Siapa mereka?” tanya pria memakai kaos lusuh berwarna putih dan memakai topi capil.
“Cucuku. Anak-anak Indah.” Romelah memandang Hardy dan Bening sambil bertukar senyum.
Para petani kompak mengangguk, mereka ingin bertanya kembali namun pekerjaan sudah menunggu sehingga mereka kembali melangkah melewati parit lalu berjalan di jalan setapak.
Panas cukup menyengat, namun baik Hardy maupun Bening tetap bekerja keras membantu Romelah. Keduanya dengan cepat mempelajari cara memanen dari nenek mereka, mengumpulkannya di tepi lalu kembali menyabit padi.
Keringat mengucur, pakaian mereka basah oleh keringat namun mereka sangat menikmati pengalaman baru mereka. Ini pertama kalinya mereka berada di tengah sawah. Di tempat mereka tinggal sudah tidak ada sawah karena semua lahan kini dibangun perumahan ataupun ruko-ruko.
Romelah tersenyum kala melihat dua kakak beradik itu bahu membahu membantunya. Indah pergi meninggalkan dua anak yang sangat luar biasa. Romelah menengadah, mamandang langit biru yang cerah. Ia menutup kedua mata dan membiarkan embusan angin menampar wajahnya. Ia sangat merindukan Indah, tetapi ia yakin Tuhan sangat menyayangi buah hatinya hingga anaknya diambil secepat ini.
“Anak-anak, waktunya makan siang.” Romelah memandang Hardy dan Bening, dua anak itu juga sedang memandang dirinya sebelum kemudian mereka menjatuhkan beberapa tangkai padi lalu berlari ke arahnya.
Romelah mengajak kedua cucunya ke sebuah gubuk untuk menikmati makan siang sederhana namun kali ini terasa benar-benar nikmat.
***
Setiap kali melihat Fadli, Hardy merasa sangat tidak nyaman. Tatapan pria itu laksana pemburu yang memburunya, alarm siaga dalam dirinya entah mengapa selalu saja menyala setiap kali pandangan mata mereka bertemu.
Duduk di ruang makan sederhana dengan satu set meja kursi terbuat dari kayu yang telah lapuk. Hardy sesekali mencuri pandang ke arah Fadli yang sedang menikmati makan malamnya.
“Kenapa Ayahmu tidak pernah kesini? Apa dia lupa punya anak?” Fadli menggigit kerupuk, tatapannya benar-benar menusuk. Mulutnya bergerak saat mengunyah, namun itu tidak bisa menutupi wajah geramnya,
Fadli menyumpah serapah dalam hati, lagi-lagi ia ingin marah setiap kali melihat sepasang mata Hardy. Dari sekian banyak bagian tubuh pria begundal itu, mengapa mata --bagian tubuh Sardi yang paling ia benci-- justru menurun kepada keponakannya.
Fadli cepat-cepat menyelesaikan makannya, masih sambil terus menghina ayah Hardy. Mungkin seandainya ia bisa hidup seribu tahun, ia tetap akan terus menghina Sardi karena bahan hinaan itu terlalu banyak menumpuk di otaknya.
Kata-kata Fadli menyakiti Hardy, ia juga membenci ayahnya tetapi entah mengapa jika orang lain yang menghina pria itu, ia merasa sangat tidak nyaman. Hardy hanya bisa menelan kata-kata yang keluar dari mulut Fadli tanpa bisa berkomentar apapun.
Setiap kali bertemu muka, Fadli akan mengulang ucapannya tentang kebenciannya kepada Sardi. Mungkin itu bisa melegakan perasaan Fadli tapi bagi Hardy ini semacam minum jamu yang sangat pahit dan harus diulangi tiga kali dalam sehari.
Semilir angin malam berhembus. Memainkan dedaunan menimbulkan suara gemerisik yang menenangkan. Hardy duduk di kursi panjang yang ada di teras rumah. Memandangi bintang-bintang yang terlihat di sela-sela dedaunan. Depan rumah Romelah terdapat pohon mangga yang sangat besar hingga dedaunan menutupi pemandangan bagian atas. Hardy tidak bisa melihat bintang yang malam ini bertebaran kecuali jika ia mau berjalan ke pinggir jalan.
Kehidupan disini jauh lebih menenangkan daripada saat ia berada di rumahnya bersama Sardi. Fadli memang membuatnya tidak nyaman, pria itu seperti dengungan nyamuk. Suaranya bahkan masih terngiang padahal orang itu sudah tidur di kamarnya. Neneknya begitu baik, tidak jauh berbeda dengan ibunya.
Hardy menarik napas dalam, ia selalu merasa terluka setiap kali mengingat ibunya. Sardi membunuh Indah, Hardy sangat yakin itu. Seharusnya ia mengatakannya kepada Bimo sebelum memutuskan pergi.
Mungkin kapan-kapan ia akan mengunjungi Bimo dan mengatakannya. Hardy mengangguk, menyetujui gagasannya sendiri.
“Ternyata kamu disini.” Suara itu mengejutkan Hardy. Suara orang yang tidak ingin ditemui selamanya, namun pria itu berdiri di sampingnya. Lampu kuning yang remang-remang membuat pria itu tampak bengis, sebengis tindakannya.
Hardy bangkit, berdiri kaku sambil mengepalkan kedua tangan. Alarm balas dendam menggema, sekuat tenaga Hardy menahannya. “Kenapa kamu kesini?” geramnya.
Sardi terkekeh, anak kurang ajarnya semakin kurang ajar setelah beberapa hari tidak bersamanya. Ia memandang lekat Hardy, perasaannya meletup-letup sehingga ia menggertakkan giginya sambil menarik lengan anaknya.
Hardy terkejut, ia menarik tangannya namun cekalan Sardi terlalu erat. Meski meronta namun Hardy tetap saja tidak bisa melawan. Sardi membawa Hardy entah mau kemana dan apa yang akan pria itu lakukan tetapi ini jelas bukan hal baik.
“PAKDE FADLI, TOLONG!” Hardy menjerit, seandainya ia mampu ia lebih memilih menyelesaikan masalah ini sendiri namun masalahnya adalah ia sadar betul bahwa kekuatan fisiknya tidak akan bisa melawan Sardi.
Fadli mendengar teriakan Hardy, ia segera bangkit dari tempat tidur dan berlari ke sumber suara. Melihat Sardi menyeret keponakannya, Fadli kembali masuk dan berlari ke dapur untuk mengambil golok. Pria itu bodoh karena masuk ke kandang singa, Fadli tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Dengan golok di tangan, Fadli kembali berlari keluar. “LEPASKAN DIA, b***t!” Teriakan Fadli bak gemuruh tanah longsor yang menderu-deru. Perhatian Serdi seketika berpindah kepada sosok pria yang berlari ke arahnya dengan golok teracung.
Secara refleks, Sardi melepas Hardy. Anak itu segera berlari ke belakang Fadli untuk mendapat perlindungan. Fadli sedikit menoleh, “masuk!” Ini urusan orang dewasa, lagipula ia tidak ingin Hardy melihat pertumpahan darah.
Hardy mundur selangkah, hanya untuk menyembunyikan diri dari pandangan dua orang dewasa yang menguarkan aroma kebencian. Ia menyembunyikan diri di balik pintu, kepalanya sedikit menyembul. Seandainya Sardi tidak terlalu fokus dengan Fadli, ia pasti bisa melihat keberadaan Hardy. Namun tentu saja Sardi tidak lagi peduli dengan Hardy, sejak awal kedatangannya pun bukan dua anaknya yang ia pedulikan. Ia datang hanya karena … ia butuh kedua anaknya.
“Kenapa kamu kemari?” Fadli masih dalam posisi bersiap menyerang.
“Mereka anakku. Tentu saja aku harus menjemput mereka.” Sardi sebenarnya ngeri membayangkan golok itu melayang kepada dirinya, namun ia jauh-jauh ke tempatp itu bukan untuk mati.
Sardi datang untuk mengambil miliknya, dua anak itu harus bekerja untuk dirinya. Hanya karena ibu mereka mati, bukan berarti keduanya bisa lepas dari dirinya.
Tidak selama ia hidup.