Keputusan Mendadak

1618 Words
    Dengan takut-takut, Hardy mengintip dua pria dewasa yang sedang berdiri kaku di tengah halaman. Disinari cahaya bulan setengah sehingga dua bayangan pria itu selayaknya dua hantu berhadapan. Hardy menelan ludah, membayangkan hal buruk akan terjadi sebentar lagi. Bisa saja Fadli melakukan tindakan nekat dengan membunuh ayahnya.       Meski pernah berpikir untuk membunuh Sardi, namun sekarang ia berpikir membunuh pria itu bukanlah jalan yang baik. Fadli bisa masuk penjara dan Romelah pasti sangat sedih. Ia tidak ingin menjadi perusak kehidupan dua orang yang kini disayanginya.       Semoga Pakde Fadli tidak membunuhnya, kata Hardy dalam hati.       Fadli masih menggenggam erat gagang goloknya, jika Sardi macam-macam maka golok yang akan bicara. Sekarang saja Fadli ingin segera menebas perut Sardi dan mengoyaknya hingga ususnya berceceran di tanah. Fadli mengembuskan napas berat, berusaha fokus menatap Sardi dan ingin menunggu pria itu berbicara.       “Aku kesini hanya untuk menjemput anak-anakku.” Sardi sadar, jika harus bergelut dengan pria yang membawa golok maka tidak ada jaminan ia bisa pulang hidup-hidup.       “Biarkan mereka disini. Ibu mereka yang mengirimnya.”       “Mereka anak-anakku. Sudah pasti seharusnya bersamaku.” Sardi memandang golok yang terlihat sedikit mengilap saat gerakanya membuat sinar bulan memantul. Sardi menelan ludah, membayangkan bagaimana jika golok itu terayun kepadanya.       “Ini sudah malam. Mereka sudah tidur.” Ini hanya alasan untuk mengulur waktu. Fadli tidak ingin Hardy dan Bening ada di bawah pengasuhan ayahnya. Ia teringat pada surat yang dibuat Indah, mendiang adiknya jelas-jelas mengatakan bahwa ia tidak ingin anak-anaknya dirawat Sardi.       “Hardy masih bangun. Aku bisa mengajaknya dulu dan besok aku menjemput Bening.” Sardi hanya membutuhkan Hardy untuk mencarikannya uang. Sementara Bening, terserah mereka mau diapakan gadis itu. Bening tidak berguna baginya.       “Bagaimana kamu tahu? Aku sudah menyuruhnya masuk dan aku yakin anak itu tidur daripada melihat ... monster sepertimu.” Monster kejam yang membunuh adiknya, Fadli harus mencari kebenaran. Fadli harus menyelidiki masalah ini dari Hardy dan mencari cara agar Sardi bisa dijebloskan ke penjara. Fadli sangat meyakini apa yang keluar dari kepalanya.       “Monster?” Bagus, jika Hardy terlalu lama disini, ia yakin Fadli akan mencuci otak anak itu dan benar-benar akan menjauhinya.       “Pulanglah!” Sebelum golok ini benar-benar menyobek perutmu dan semut-semut siap mengerubungi ususmu.       Sardi terdiam, ia ingin membawa Hardy segera tapi melihat golok, nyalinya menciut. Sardi meludah, membuang kekesalan bersamanya. “Aku akan pulang. Tapi kupastikan padamu, aku tidak menyerah. Mereka anak-anakku.” Sardi memutar badan, sejenak ia merinding membayangkan Fadli membacok punggungnya. Ia ingin cepat-cepat enyah dari tempat itu sebelum Fadli benar-benar melakukannya.       Hardy menunduk, ia menjauhi pintu dan segera masuk kamar. Ia yakin Fadli akan menyerahkan dirinya dan Bening kepada ayah mereka. Jika itu benar-benar terjadi maka ia lebih baik mati. Mengajak Bening mati, bukan hal sulit untuknya. Gadis itu sekarang penurut, ia pasti mau mati bersamanya.       Fadli menutup pintu dengan keras dan menggerutu dengan suara yang jelas. “Sial, kenapa setan itu kesini? Ini pasti karena mereka.” Fadli kesal karena Sardi berani datang setelah apa yang dilakukannya kepada Indah. Pria itu benar-benar tidak tahu malu, otaknya ditaruh dimana? Hatinya kemana? Apa seluruh tubuhnya sudah digadaikan ke setan sampai ia tidak lagi punya perasaan dan pikiran? Fadli benar-benar kesal. Seharusnya tadi ia benar-benar menyabet goloknya ke perut Sardi. Biar pria itu tidak mengganggunya.       Fadli masuk ke kamar, memandang Hardy yang telah berbaring menghadap tembok. Sejenak ia mematung, perasaan kasihan kini masuk ke relung hatinya. Ia tidak ingin Hardy dan Bening kembali ke ayah mereka karena bisa saja keduanya bernasib sama seperti ibunya. Mati di tangan pria begundal macam Sardi.       Hardy kecewa, Fadli tidak benar-benar mengusir Sardi. Besok pria itu akan datang dan membawanya pergi. Hardy tidak ingin pulang, ia tidak ingin kembali menjadi bulan-bulanan ayahnya. Apalagi kini sudah tidak ada ibunya, ia tidak akan sanggup menghadapi pria itu sendiri. Hardy berharap bisa cepat dewasa dan bertubuh sebesar Fadli, pria itu sangat tinggi hingga harus sedikit menunduk saat melewati pintu. Hardy ingin setinggi Fadli namun kekar seperti pria-pria yang ia lihat di majalah. Dengan tubuh sebesar itu maka ia yakin Sardi akan menciut seperti cacing lalu berlari terbirit-b***t seperti tikus.       Hardy mengembuskan napas panjang ke udara. Ia akan dewasa bersama berjalannya waktu. Tapi sekarang yang harus ia lakukan adalah pergi dari tempat ini. Ia tidak ingin dibawa pulang oleh ayahnya. Ia tidak boleh bersama pria itu.       Hardy menunggu sampai Fadli tidur. Ia akan mengemasi barangnya dan barang Bening lalu membangunkan adiknya. Ia masih punya sedikit uang untuk pergi ke luar kota. Ia bisa hidup di tempat yang jauh dan asing bersama Bening. Ia yakin itu.  ***       Sardi kesal setengah mati, seharusnya tadi dia bawa sabit atau pisau kecil sebagai senjata sebelum bertemu Fadli. Ia lupa betapa garangnya kakak lelaki Indah. Dulu pun Fadli pernah membuatnya lelah setengah mati karena harus menggarap sawah seorang diri. Sial!       Sardi berjalan ke terminal, ia mencari bis yang akan membawanya pulang. Untuk saat ini ia terpaksa mengalah, tetapi besok ia harus bisa membawa Hardy dan Bening. Setelah dipikir-pikir, ia yakin suatu saat Bening bisa dimanfaatkan.  ***       Kamar sangat sunyi, hanya detak jam dinding dan suara dengung nyamuk yang memenuhi ruangan. Perlahan Hardy bangkit, ia menatap Fadli yang sedang tertidur telentang dengan mata ditutup satu lengan.       Perlahan Hardy turun dari ranjang, ia segera mengambil tas ransel yang ia simpan di atas lemari. Ia membuka lemari dengan perlahan, dengan tergesa namun tetap waspada, Hardy memasukkan semua pakaiannya. Ia mengenakan ranselnya, sebelum keluar ia kembali memandang Fadli. Pria itu tadi begitu baik, ia berpikir hubungannya dengan Fadli akan membaik tetapi mengingat apa yang dikatakan Fadli tadi kepada Sardi, Hardy kecewa.       Hardy masuk ke kamar Romelah, ia mengambil tas ransel Bening lalu membuka lemari. Seperti yang telah ia lakukan tadi, Hardy memasukkan pakaian Bening dan setelah selesai, ia membangunkan Bening.       Bening terkejut, mimpinya buyar begitu saja. Ia merasakan seseorang menggoyang pundaknya, gadis itu menggumam namun Hardy segera menutup mulut Bening dengan telapak tangannya.       “Ini aku. Ayo kita keluar!” Hardy tidak menunggu gadis itu benar-benar sadar. Ia tidak ingin membuang waktu terlalu lama.       Hardy menarik tangan Bening dan mengajaknya keluar. Seperti yang ia duga, Bening tidak akan banyak bicara. Hardy tahu jika Bening terlalu mengantuk, gadis itu tidak akan bawel.       Hardy membuka pintu dengan sangat hati-hati. Setelah terbuka, ia kembali menggandeng tangan Bening. Gadis itu mengucek mata, ia menggeleng cepat untuk mengumpulkan kesadarannya. “Kakak, kita mau kemana?” Bibir Bening mengerucut, ia kesal karena Hardy mengajaknya keluar padahal ia sudah tidur nyenyak.       “Kita harus pergi sekarang, Bening! Nanti kalau sudah naik bis, kamu bisa tidur lagi.” Hardy kasihan kepada adiknya tetapi akan lebih kasihan jika harus hidup dengan Sardi. Jadi ini kesempatannya untuk menjauh dari pria biadab itu.       “Iya, tapi kemana?” Bening menarik tangannya, ia melirik kakaknya sebal.       “Kamu mau ikut aku, engga? Atau kamu disini saja sama Nenek?” Hardy menunggu Bening menjawab pertanyaannya.       “Ikut Kakak.” Bening merajuk, ia merebut tas ransel merah mudanya dari tangan Hardy lalu memakainya.       “Bagus. Mulai sekarang, kamu dan aku hidup berdua. Aku akan menjagamu, Bening. Aku akan buatkan rumah yang besar untukmu.” Janji itu entah ke berapa kali Hardy mengucapkannya, namun toh janji itu masih saja membuat mata Bening berbinar.       Hardy dan Bening berjalan beriringan melewati pematang sawah yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan dan tebaran bintang-bintang di angkasa. Mendengar suara gagak dan burung hantu bersahut-sahutan, Bening memeluk lengan Hardy. Gadis itu sangat ketakutan, ia memandang sekitarnya. Pohon tebu yang memenuhi sawah seolah berubah menjadi bayangan setan dan siap menerkamnya. Tubuh Bening terpaku, terlalu takut hingga tidak dapat bergerak.      “Jangan takut! Ada aku.” Hardy merangkul Bening, menarik gadis itu untuk kembali melangkah.       “Kakak, kita kembali saja! Besok saja kita perginya.” Bening menoleh. Oh tidak, ia sudah ada di tengah pematang sawah. Terlalu jauh untuk kembali dan terlalu jauh untuk melanjutkan perjalanan. Bening mulai terisak, air matanya meleleh.       “Ayo! Sampai terminal, aku belikan es krim.” Hardy setengah menyeret Bening.  ***       Sardi telah sampai di depan warung langganannya. Ia ingin menikmati segelas kopi, beberapa puntung rokok dan ehm, Laila si janda kembang sepertinya bisa diajaknya tidur. Malam ini terlalu dingin jika harus tidur sendirian. Sardi menyeringai, selama ini ia terlalu setia kepada Indah sampai tidak pernah berpikir bermain bersama wanita lain pasti memberinya pengalaman baru.       Jaidi, teman berjudinya berlari tergopoh-gopoh saat melihatnya mendekati warung. Wajahnya pias, ia terengah-engah padahal hanya berlari sekitar lima meter saja.       “Kamu ini kenapa?” Sardi terkekeh melihat temannya yang berbobot hampir seratus kilo itu masih berdiri sambil mengatur napas.       “Kamu ngapain kesini? Polisi mencarimu,” ucap Jaidi.       Sardi terkejut, ia segera teringat Bimo. Pasti pria itu yang melaporkannya ke polisi. Tapi kenapa? “Apa maksudmu?” Sardi ingin tahu lebih banyak.       “Aku tidak tahu. Tapi ini jelas tidak ada hubungan sama kami. Mereka tidak menangkap kami, hanya mencarimu. Lebih baik kamu sembunyi!”       “ITU DIA,” teriak seorang polisi yang mengacungkan senter ke arah Sardi.       “Sial,” desis Sardi. Seketika Sardi berlari cepat untuk menghindari kejaran seorang polisi yang kini menjadi tiga polisi.       Bimo sialan, akan kubalas kau!  ***       Hardy dan Bening telah duduk di sebuah bis. Bening menempelkan kepalanya di jendela. Matanya telah terpejam, ia kembali melanjutkan tidur yang sempat tertunda.       Hardy memandang jalanan yang sepi melalui jendela. Ia memikirkan rencana-rencana melanjutkan hidup berdua dengan Bening. Ia harus mulai berpikir tentang bagaimana caranya membuat mereka mendapatkan uang dan mewujudkan impiannya, cita-citanya menjadi orang kaya.       Di saat seperti ini, harapannya menjadi orang kaya tetap ada di dalam hati. Hardy merasa ini sangat lucu. Ia miskin, tidak sekolah dan menjadi orang kaya adalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi.       Selanjutnya, Hardy hanya bisa menghela napas. Ia harus mengubur impiannya bersama mendiang ibunya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah menghadapi kenyataan. Karena ia mengurungkan niat untuk mengajak Bening mati bersamanya. Ia masih takut mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD