Kepanikan

1566 Words
Romelah mengernyit saat sadar Bening tidak ada di sampingnya. Apakah gadis itu sudah bangun? Romelah memandang jam dinding, masih menunjuk angka empat pagi. Kemarin gadis itu bangun jam lima, mungkin saja gadis itu memang sudah bangun. Perlahan Romelah berjalan ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Ia berpikir gadis itu mungkin sedang menyalakan tungku. Bening sangat suka bermain tungku, katanya mengingatkan api unggun di perkemahan. Romelah tersenyum, gadis itu memang lucu dan menggemaskan. Namun mengetahui Bening tidak ada di dapur, Romelah menjadi khawatir. Tidak mungkin gadis itu ada di kamar mandi yang letaknya di luar rumah, di belakang rumah lebih tepatnya. Gadis itu selalu takut ke belakang sendirian kecuali mungkin saja Hardy menemani gadis itu. Tapi sepagi ini? Romelah segera membuka pintu dan berlari ke kamar mandi yang hanya berjarak dua langkah dari rumahnya. Tidak ada Bening maupun Hardy di kamar mandi. Kemana anak-anak itu? Romelah bergegas kembali ke rumah, mungkin Hardy dan Bening sedang bermain di kamar Fadli atau sedang duduk-duduk di teras sambil menunggu matahari terbit –yang masih lama—. Romelah melihat Fadli meringkuk di atas ranjangnya tanpa ada Hardy dan Bening disana. Jantung Romelah mulai berdetak cepat, kemana anak-anak itu pergi? Romelah mulai diserang rasa panik. Dua anak itu tidak mungkin hilang begitu saja tanpa alasan. Tapi kemana? Entah ke berapa kali ia bertanya sementara jawabannya tetap saja nihil. Romelah membangunkan Fadli, meminta anaknya membantu mencari Hardy dan Bening. Fadli segera bangun meski belum sadar betul, ia mengucek kedua matanya sebelum melihat Romelah berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. “Ada apa sih, Mak?” Fadli turun dari ranjang, berjalan keluar hendak menuju kamar mandi untuk mencuci muka. “Hardy dan Bening, hilang. Aduh kemana mereka sih?” Romelah benar-benar resah, kedua alisnya bertaut. Kepalanya mendadak pusing memikirkan kepergian dua anak itu. Mendengar ucapan ibunya, sontak Fadli menghentikan langkah lalu memutar badan. Ia menatap Romelah lekat-lekat seolah sedang mencari kebenaran cerita itu. Namun untuk apa Romelah bercanda? Fadli menggeleng sebelum akhirnya ia memutuskan mencari kedua anak itu di seluruh penjuru rumah. “Aku sudah mencari mereka. Mereka tidak ada.” Tubuh Romelah menjadi lunglai, lemas tidak bertenaga. Fadli geram, ia tidak mengerti kenapa dua anak itu pergi pagi-pagi buta tanpa minta ijin. Nanti jika mereka sudah pulang, Fadli berjanji akan membuat telinga mereka memerah. Fadli ingin memberi pelajaran kepada mereka berdua agar tidak bertindak seperti ini lagi. *** Bimo bersiap pergi ke Solo bersama Arini dan Ari, putra semata wayangnya. Mereka ingin melihat sendiri keadaan dua anak itu. Jika memang bisa, mereka juga ingin membawa kedua anak itu kembali ke rumah mereka. Mereka akan mengurus semua yang diperlukan untuk mengambil hak asuh. Bimo berpikir, dua anak itu lebih baik bersamanya. Mereka memang punya nenek namun tetap saja ini bisa dibicarakan dengan nenek mereka. Bimo yakin, nenek mereka akan mengijinkannya membawa kembali kedua anak itu dan mengasuhnya. Bimo bukan ingin memisahkan dua anak itu dari keluarganya. Ia hanya ingin menawarkan diri menjadi wali yang sah bagi mereka. Menjadikan keduanya anak angkat, bukan perkara sulit. Ia bisa melobi orang-orang yang berwenang dalam hal itu. Sekali ini, ia ingin egois. Hardy mengingatkan dirinya, Bening mengingatkan Arini. Dua anak itu sepertinya dan Arini saat masih muda. Mereka berdua harus diselamatkan atau harus melewati babak paling buruk dari kepedihan kehidupan mereka. Bimo telah selesai menyiapkan diri, ia segera keluar kamar menuju garasi. Ia menyalakan mobil untuk memanasi mesin sebelum berangkat. Hari masih gelap saat pintu garasi dibuka dari dalam. Namun mengingat perjalanan yang tidak singkat, ia harus berangkat subuh agar sampai sana masih belum terlalu siang untuk bertamu. *** Bis berjalan pelan, kondisi lalu lintas yang mulai padat membuat perjalanan sedikit tersendat-sendat. Sesekali bis berhenti lalu kembali berjalan pelan sehingga seandainya ada pelari maka pelari itu justru lebih cepat dari bis itu. Bening membuka kedua mata, ia mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sebelum kembali duduk sambil memandang keluar jendela. “Kakak, ini sampai mana?” Bening mengerjap, menoleh ke Hardy dan menunggu jawaban kakaknya. Hardy sendiri tidak tahu sekarang mereka sudah sampai mana. Tapi pasti sudah jauh dari Solo mengingat sinar matahari begitu terang. Malang adalah kota yang ia tuju. Kota yang cukup jauh dari kota tempatnya tinggal tetapi ia memang sudah berjanji untuk tidak kembali ke kota tempatnya tinggal. Ia ingin sejauh mungkin dari Sardi. Malang, kota bunga. Berada di gunung, sehingga Hardy tidak perlu kipas angin untuk membuatnya nyenyak tidur. Kota itu pasti tidak seramai Surabaya atau Sidoarjo. Ia yakin ayahnya tidak akan bisa mencari mereka berdua karena memang tidak ada sanak keluarga disana. Tidak keluarga dari Sardi maupun keluarga dari Indah. Kota yang tidak ada hubungan dengan kehidupannya, setidaknya sebelum ia menginjakkan kaki disana. Hardy mulai merencanakan apa saja yang akan ia lakukan disana. Pertama, ia harus mencari tempat untuk tinggal. Secepat yang ia bisa, karena ia tidak mau nanti malam tidur di bawah jembatan atau terminal. Uangnya hanya tiga ratus ribu rupiah, cukup banyak namun tidak banyak jika untuk memulai hidup baru. Hardy mendesah, ia yakin hidupnya tidak akan mudah. Ia menoleh, memandang Bening dengan rasa penuh kasih ia menyentuh puncak kepala adiknya. Demi Bening, ia akan melakukan apapun. Mungkin sekarang ia lemah, tetapi ia bertekad tahun depan ia akan memasukkan Bening ke sekolah. Ia ingin Bening bisa sekolah sampai kuliah. Ia akan mengorbankan hidupnya untuk Bening. Kedua mata Hardy berkaca-kaca, dadanya menjadi sesak. Teringat masa dimana pertama bertemu dengan Bimo, saat itu Bimo bertanya tentang cita-cita. Ia sadar tidak ada pilihan cita-cita baginya. Ia tidak bisa jadi polisi seperti yang ia inginkan atau menjadi tentara, pilot bahkan untuk menjadi pekerja kantoran pun ia takkan bisa melakukannya. Bis kembali berjalan setelah beberapa lama berhenti. Kondisi kemacetan kian parah. Beruntung bis yang ditumpangi Hardy dan Bening ber-AC sehingga keduanya tetap merasa nyaman. Bimo menggerutu, kakinya sudah lelah harus menginjak gas dan rem seperti menginjak pedal mesin jahit. Macet dua arah bertambah parah karena ini memang jam orang masuk kerja. Seandainya ia sabar, ia bisa pergi hari minggu nanti tetapi sayangnya keinginannya untuk segera membawa Hardy dan Bening terlalu menggebu-gebu untuk diacuhkan. Sebuah bis patas tiba-tiba menyerobot dan bisa saja menghantam depan mobilnya. Bimo mengerem mendadak sambil mengumpat. Ia mendongak, melihat ke arah bis. Sesaat ia merasa melihat Bening, tetapi ia merasa tidak mungkin Bening berada dalam bis tersebut. *** Bimo telah sampai ke tujuan, sesaat ia terkejut dengan kondisi rumah nenek Hardy. Rumah yang terbuat dari kayu lapuk yang sudah tidak layak ditinggali. Rumah yang jauh lebih buruk dari rumah orangtua mereka. Bimo menjadi sangat yakin akan mudah untuk membawa anak-anak itu pergi. Ia akan mengatakan kepada nenek mereka, bahwa ia berniat menyekolahkan dua anak itu hingga kuliah dan menjadi anak berguna yang nantinya menolong neneknya. Tetapi tentu saja sekarang ia harus berkenalan dulu dengan nenek Hardy. Bimo keluar dari mobil, diikuti Arini dan Ari. Ketiganya perlahan masuk ke halaman lalu berhenti di teras. Bimo mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada tanggapan. Dengan sabar, ia menunggu beberapa lama sebelum kemudian ia mengetuk pintu sekali lagi. “Apa mereka sedang ke sawah ya, Pa?” Arini melihat begitu banyak petani yang mulai pergi ke sawah, sehingga ia berpikir mungkin keluarga nenek Hardy juga ke sawah dan mengajak dua  cucunya. “Tunggu sebentar lagi ya, Ma! Tanggung.” Sudah sejauh ini, Bimo tidak ingin pulang tangan kosong. Sementara mencari mereka di sawah, ia terlalu lelah bahkan untuk berjalan beberapa langkah saja. Cukup lama Bimo dan keluarga menunggu hingga akhirnya seorang nenek berjalan bersama seorang pria dimana Bimo yakin pria itu adalah anaknya. Wanita itu terlihat cemas, langkahnya terburu-buru. “Kita harus ke kantor polisi. Kalau Pak RT tidak mau menolong kita. Polisi pasti mau.” Romelah geram, ia masih teringat bagaimana Pak RT mengacuhkan laporannya. Fadli menghentikan langkah, ia tadi melihat sebuah mobil di depan namun tidak berpikir bahwa ia akan kedatangan tamu asing yang sedang berdiri di teras rumahnya. “Anda mencari siapa?” Pertanyaan Fadli menghentikan keluhan Romelah. Wanita itu terlalu resah hingga tidak menyadari ada tamu di depan rumahnya. Bimo mendekati Romelah dan Fadli, ia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Romelah segera menjabat tangan Bimo sambil berpikir siapa mereka. “Saya, Bimo. Saya ... teman mendiang Bu Indah. Ini istri saya Arini dan ini anak saya, Ari.” Bimo memperkenalkan keluarganya. Romelah terkejut, ia sama sekali tidak menduga bahwa anaknya memiliki teman orang kaya seperti keluarga Bimo. Bagi orang desa seperti Romelah, orang yang memiliki mobil sekalipun itu mobil sedan tua yang sedang terparkir di depan rumahnya adalah orang kaya. Begitulah kesan pertama yang ia dapat dari keluarga Bimo. Terlebih saat melihat Arini begitu cantik dengan mengenakan gamis berwarna biru dipadu dengan jilbab warna senada. “Kami kesini, ingin melihat Hardy dan Bening. Kami sangat merindukan mereka jadi kami kemari,” ucap Bimo. Mata Romelah berkaca-kaca, air mata tidak lagi bisa ia tahan. “Hardy dan Bening ... mereka hilang.” Bimo terkejut mendengar ucapan Romelah. Bagaimana mungkin dua anak itu bisa hilang? Perlahan ia mengingat bis yang tadi dimana ia merasa melihat Bening duduk memandang keluar jendela. Apa mungkin? *** Bis telah sampai terminal Arjosari. Hardy mengajak adiknya segera keluar dari bis tersebut. Di depan pintu bis, Hardy melihat sekeliling terminal. Ia sangat asing dengan tempat ini tapi ia yakin ada kebahagiaan yang siap menantinya dan Bening. Bening berjalan di belakang Hardy, mengikuti kemanapun kakaknya pergi. Sementara Hardy, ia berjalan hanya mengikuti nalurinya. Saat ini, ia hanya harus mencari tempat kos yang tidak mempermasalahkan apapun kecuali uang. Ia tidak berpikir, hanya mengikuti perasaan yang akan membawanya ke sebuah tempat baru. Kehidupan baru.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD