Setelah hampir sehari penuh Hardy mencari tempat tinggal, pada akhirnya ia harus puas dengan sebuah rumah yang lebih mirip dengan gubuk sebagai tempat tinggal sementara. Rumah ini sangat tidak layak untuk ditinggali, rumah seluas tiga kali empat meter persegi berbahan gedek, beratap genteng usang dan beralas tanah. Beruntung di tempat itu disediakan sebuah dipan dengan tikar pandan di atasnya sehingga Hardy dan Bening bisa beristirahat dengan lebih baik.
“Ini bayarnya seratus lima puluh sebulan, aku murahin lima puluh. Kalian benar-benar yatim piatu kan? Bukan bocah minggat?” Ibu kos berbadan tambun tersebut mengernyit, tatapannya penuh selidik. Ia tidak mau terkena masalah karena memberikan sewa rumah kepada anak-anak tanpa orangtua.
“Kami baru saja kehilangan ayah dan ibu. Ini saja uang dari sawer, Bu.” Untuk kedua kalinya Hardy menjelaskan persoalannya.
Ibu kos menghela napas panjang, urusan itu bisa nantilah, yang penting ia mendapatkan uang untuk membayar hutang. Lagipula rumah ini sudah tidak layak huni, selain mereka berdua ia yakin tidak ada orang lain yang bersedia menyewanya.
Ibu kos menyerahkan beberapa baskom plastik kepada Hardy, “siapa tahu kalian butuh,” ucapnya.
Hardy menerima baskom itu tanpa banyak bicara lagi. Ia terlalu lelah karena entah berapa kali ia ditolak menyewa kamar hanya karena usianya terlalu muda. Hardy melihat kepergian ibu kos tersebut, wanita itu tidak terlalu ramah tetapi paling tidak ia memberikan sewa rumah tanpa bertanya macam-macam kecuali tentang dimana orangtuanya.
Hardy memeriksa setiap penjuru ruangan. Hanya ada dua ruangan yang disekat dengan sebuah gedek serta satu ruangan lain yang merupakan sebuah kamar mandi sederhana. Sebuah toilet jongkok dan satu ember besar dengan sebuah kran di atasnya. Hardy cukup beruntung karena setidaknya rumah gedek ini dialiri air sumur dengan menggunakan mesin, ia tidak perlu menimba air untuk mandi seperti yang ada di rumah neneknya.
Bening tidak begitu peduli dengan tempat tinggal barunya, gadis ini terlalu terbiasa dengan kehidupan serba susah jadi tempat kos ini bukan masalah baginya. Ia justru lebih tertarik kepada dua bungkus nasi yang tadi sempat ia beli sebelum menemukan tempat ini.
Bening menikmati sebungkus nasi campur berisi oseng-oseng buncis, mi goreng, kering tempe, sepotong ayam dan tidak lupa sedikit sambal. Rasanya begitu memanjakan lidah Bening, rasanya sudah jelas enak ditambah dalam kondisi sangat lapar, makanan ini menjadi luar biasa sedap.
Hardy mendekati Bening, ia tersenyum memandang adiknya yang tiba-tiba menjadi baik semenjak ditinggal ibu mereka. Bening sangat jarang rewel, jauh berbeda saat ibunya masih hidup. Meski lebih baik melihat Bening semanja dulu saat bersama ibunya namun sekarang ia bersyukur karena Bening jarang membuatnya marah seperti dulu.
Hardy membuka sebungkus nasinya, dengan menggunakan sendok plastik yang ia dapat saat membeli nasi bungkus itu, Hardy juga makan dengan lahap. Sesaat ia melupakan tentang rencana-rencana mengumpulkan uang karena uang yang ia pegang sekarang tinggal lima puluh ribu rupiah. Hardy hanya ingin menikmati makan malam nikmat bersama adiknya lalu tidur. Biarkan hari esok yang akan menyambutnya bersama ide-ide baru. Semoga saja.
***
Bimo telah mengajukan laporan kehilangan kepada pihak berwajib. Namun tentu saja mencari dua bocah di penjuru kota bahkan mungkin seluruh pulau bukanlah hal yang mudah.
Bimo memetakan perkiraan dimana bocah itu pergi. Mungkin kembali ke rumahnya, walau kemungkinan itu kecil mengingat Sardi masih ada disana. Lalu kemana kira-kira kedua anak itu pergi?
Ah, Bimo hanya bisa melepas amarah melalui hentakan tarikan napas panjang. Sesaat ia menikmati rasa sakit kepala yang tiba-tiba datang, buah dari berpikir keras. Padahal dua anak itu sama sekali tidak ada kaitan dengan hidupnya, tetapi mengapa ia harus sesusah ini memikirkan mereka. Kasih memang tak harus memiliki kaitan, tak harus memiliki hubungan darah dan tidak perlu mencari alasan untuk menghubungkannya.
Bimo memutuskan mengajak anak istrinya pulang. Tidak ada yang bisa mereka perbuat disini. Petunjuknya terlalu minim dan selain itu ada banyak tugas lain sedang menunggu. Anak-anak asuhnya yang lain juga membutuhkan perhatiannya.
Romelah hanya bisa pasrah dan berdoa semoga dua anak itu baik-baik saja. Pertemuan mereka terlalu mendadak dan begitu mendadak pula cara mereka berpisah. Seperti diberi sebuah bingkisan besar lalu bingkisan itu ditarik lagi.
Wanita itu hanya bisa menangis sambil membayangkan senyum kedua anak yang begitu manis itu. Mereka anak-anak baik yang dengan mudah mencuri hatinya. Hardy, anak yang dewasa dan penurut serta Bening, anak yang manis dan penurut. Romelah baru saja membangun impian kelak ia akan menyaksikan Hardy dan Bening tumbuh remaja dan bila Tuhan mengijinkan, ia mungkin saja melihat dua anak itu menikah. Tapi sekarang impian itu sirna bersama hati yang dibawa pergi.
Hardy, Bening. Mengapa kalian meninggalkan Nenek?
***
Hari telah berganti, Hardy menikmati sebungkus nasi pecel yang ia beli tadi. Dua bungkus nasi pecel dan peralatan mandi baru saja ia beli. Uang yang tersisa hanya dua puluh lima ribu rupiah. Ia harus segera keluar untuk mencari pekerjaan apapun asalkan bisa mendapat uang halal. Tetapi dimana? Hal ini sudah membanjiri kepalanya sejak beberapa menit setelah bangun pagi tadi.
Hardy memandang Bening, gadis itu menikmati sarapannya dengan lahap. Bening sekarang tampak lebih tegar meski tidak seceria dulu. Ia ingin sekali memberi adiknya sesuatu agar ia terlihat senang tetapi keinginan itu harus ditunda sampai ia memiliki cukup uang.
Uang
Uang
Uang
Bukankah sejak awal, kesulitan hidupnya berasal dari kata itu? Seandainya ia lahir dari keluarga mampu tentu saja ia tidak perlu merasakan kemalangan ini. Seandainya ia memiliki uang banyak, ibunya tidak perlu menderita sampai akhir hayatnya.
Hardy bertekad akan mendapatkan uang sebanyak yang ia bisa. Ia akan membuat rumah yang besar dengan lampu-lampu besar dan tentu saja kipas angin yang besar. Ia akan membuat kolam ikan besar di belakang rumah, akan membuat taman yang indah untuk Bening. Ia akan membelikan Bening baju-baju yang bagus, mainan yang banyak dan makan-makanan yang enak. Tekad Hardy sangat kuat dan ia tidak bisa menundanya bahkan untuk semenit saja.
Hardy makan dengan rakus seolah makanan itu lenyap jika tidak secepatnya masuk ke dalam perutnya. Bening hanya bisa geleng-geleng saat melihat cara kakaknya makan. Gadis itu menggeser segelas air mineral mendekati Hardy, anak itu segera menancapkan sedotan lalu menyesapnya hingga kandas.
“Bening, kamu di rumah saja! Nanti sore aku kembali.” Hardy tidak ingin Bening ikut mencari kerja, ia tidak yakin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan nanti, tapi yang pasti jelas tidak akan membuat Bening nyaman.
“Tidak mau. Aku maunya sama Kakak.” Bening merajuk, ia tidak ingin ditinggal sendirian. Ia takut sendirian di tempat ini, jadi kemanapun Hardy pergi, ia akan ikut bersamanya.
Hardy melotot, entah apa yang dipikirkan adiknya hingga mau ikut bersamanya mencari kerja. “Aku tidak tahu nanti dapat kerja apa. Lebih baik kamu di rumah! Nanti aku belikan makan.”
“Kakak, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku maunya sama Kakak.” Airmata mulai merebak. Hardy menghela napas, adiknya sekarang mudah sekali meneteskan airmata. Wajah cantiknya mudah sekali murung dan itu membuat hati Hardy tidak tega.
“Ya sudah. Tapi janji kamu tidak rewel ya! Kalau kamu rewel, nanti malam kita tidak bisa makan,” ancam Hardy.
Bening tersenyum sambil mengangguk, ia tidak akan membua Hardy jengkel. Lebih baik ia merasakan panas atau hujan diluar sana bersama Hardy ketimbang harus di dalam rumah sendirian.
Tetapi itu hanya sebatas teori karena prakteknya tidak semudah itu.
Bening menyeka keringat, ia tidak percaya bahwa kota Malang yang katanya dingin, nyatanya panasnya hampir sama dengan kota asalnya. Sedari pagi Hardy berjalan mencari pekerjaan tetapi sampai sekarang mereka berdua tidak mendapatkan pekerjaan apapun.
Hardy akhirnya mengajak Bening istirahat di sebuah bangku yang ada di depan deretan toko. Hardy membeli sebotol air mineral dari seorang penjaja minuman yang lewat di depannya. Ia ingin berjualan seperti orang itu, namun ia tidak memiliki modal cukup sehingga saat ini yang harus ia lakukan adalah mencari modal. Tapi bagaimana caranya? Uang yang ia pegang tinggal dua puluh ribu rupiah, jika ia belikan minuman sebagai modal maka ia harus menjualnya sesegera mungkin agar bisa membeli makanan untuk nanti sore.
Hardy membuka botol air mineral itu lalu meminumnya sedikit. Ia bahkan harus menghemat air yang ia minum. Ia tahu ia harus secepatnya mendapatkan uang.
“Permisi. Saya adalah pengamen jalanan yang mengamen untuk sesuap nasi….” seorang pengamen membawa gitar sederhana sedang bernyanyi di depan toko di dekat Hardy.
Hardy menatap pengamen itu, suara anak itu pas-pasan tapi toh seseorang keluar lalu memberi selembar uang seribu rupiah, sekalipun dengan muka jutek.
Hardy segera bangkit, yang harus ia lakukan sekarang adalah membuat sebuah alat untuk mendukungnya mengamen dan sebuah lagu yang harus ia ciptakan karena ia hanya memiliki satu lagu yang ia bisa. Lagipula, ia tiba-tiba terdorong untuk membuat sebuah lagu yang mengisahkan kisah hidupnya.
Di ujung pertokoan, Hardy melihat sebuah kios penjual minuman. Ia melihat tutup botol berceceran di bawah kotak minuman itu. Hardy pernah melihat seorang pengamen membuat alat musik dari tutup botol yang dirangkai. Ia berniat akan membuat alat yang serupa.
Hardy mendekati kios dan dengan mudah ia mendapatkan tutup botol setelah meminta ijin dari penjualnya terlebih dahulu. Tanpa menunggu, ia mematahkan ranting pohon lalu menginjak tutup botol hingga gepeng. “Kamu tunggu disini ya Bening! Jaga tutup botol itu!” Hardy mencari alat untuk melubangi tutup botol. Sebuah paku adalah ide pertama yang muncul.
Kreatifitas adalah modal awal bagi Hardy untuk mencapai impiannya. Sebuah rumah yang indah untuknya dan juga Bening.