Hardy lapar, ia tidak mampu menahan rasa itu sekarang. Ia terlalu sibuk bekerja hingga melewatkan makan siang. Pria itu segera bangkit lalu mengambil tas, memasukkan laptop ke dalam tas jinjingnya dan segera keluar dari kantornya.
Mayya, sekretaris lajang yang sangat berharap sebuah keramahan dari bosnya melihat pria itu keluar dari ruangannya. Tumben sekali pria itu tidak bekerja hingga larut malam? Tetapi Mayya bersyukur karena itu artinya ia juga bisa pulang dua jam lebih cepat dari yang seharusnya.
“Kirim jadwalku ke email!” Hardy berbicara dengan nada dingin, seperti biasanya. Hardy memang pria dingin namun terbalut kemasan sederhana. Wajah manis khas Indonesia tidak dapat menutupi sifat asli pria itu.
“Baik, Pak.” Mayya segera melaksanakan tugasnya, mengirimkan jadwal bos untuk esok hari adalah kegiatan rutinnya sebelum pulang. Sudah tiga tahun ia bekerja di bawah Hardy, tetapi pria itu selalu memberinya pesan yang sama selama tiga ratus enam puluh hari kali tiga.
Hardy menuruni anak tangga, ia tidak lagi melihat situasi bengkelnya. Ia ingin segera ke toko kue yang ada di sebelah kantornya. Ia ingin makan beberapa kue sambil minum kopi disana. Sebenarnya bisa saja ia meminta Mayya membeli kue-kue itu dan memesan kopi dari kafé yang ada di dalam bengkelnya, tetapi ia membutuhkan suasana baru untuk menyegarkan otaknya.
Hardy berjalan dengan langkah lebar hingga tidak perlu waktu lama, pria itu kini sudah masuk ke sebuah toko kue yang sebenarnya lebih terlihat seperti sebuah restoran berbintang.
Suara gemerincing terdengar riuh saat ia membuka pintu. Hardy mendekati meja kasir untuk memesan sekaligus membayar pesanannya. “Pastel, lemper, lumpur dan donat misis … kopi hitam satu.” Wanita penjaga kasir segera memasukkan daftar harga yang harus dibayar oleh Hardy. Setelah mengetahui jumlah yang harus dibayar, Hardy segera merogoh kantong celana dan mengeluarkan dompetnya.
Bening memandang Hardy dengan perasaan campur aduk, ia terheran-heran mengapa hatinya bisa seperti ini. Perasaan rindu akan kakaknya seolah menguat sekaligus terobati hanya karena menatap pria yang sedang berbalik dan kini sedang memandangnya.
Waktu seolah terhenti, mata kedua insan tersebut bersitatap. Debar jantung keduanya melompat tinggi, memberi rasa nyeri yang tidak tertahankan.
Hardy memandang gadis yang pernah ia lihat tanpa sengaja. Gadis dengan dua mata bulat yang mengingatkannya akan mendiang ibu serta adiknya. Gadis yang sangat cantik sekali. Tetapi saat melihat dua pria ada diantara gadis itu, Hardy mencemooh. Ia memang tidak mengenal dua pria itu, tetapi bukan berarti ia tidak mengetahuinya. Sang pemilik restoran Ramayana dan pemilik bengkel saingannya, R auto. Gadis itu sepertinya sama dengan gadis-gadis lain yang mengincar pria-pria lajang dan mapan.
Hardy segera membuang muka, ia segera mencari tempat kosong. Sialnya hanya ada satu meja kosong sekarang, berada di belakang gadis itu. Tetapi itu bukan persoalan besar kan? Ia tidak memiliki hubungan apapun dengan ketiga orang itu.
Hardy segera mendekati meja lalu menarik kursi tepat di belakang Bening. Duduk dengan punggung hampir bersentuhan ternyata memberi sensasi aneh bagi Hardy. Gadis itu, gadis asing yang berani menggetarkan perasaannya. Siapa gadis itu? Apakah ia Bening ataukah … jodoh? Hardy akan membunuh hatinya jika benar bahwa bisa saja perasaan ini adalah cinta. Ia tidak boleh jatuh cinta sebelum menemukan adiknya.
“Shinta. Aku pesankan minuman lagi untukmu. Kamu disini saja.” Suara Rahmadi memberi tahu Hardy bahwa gadis itu bukan gadis yang ia cari. Syukurlah, itu artinya ia harus menjaga jarak dengan gadis bernama Shinta. Perhatiannya tidak boleh beralih kepada sosok lain.
Getaran aneh itu bak suara gendang yang menabuh hati Bening. Rasa hangat dan kelegaan itu melingkupi seluruh raganya. Perasaan damai yang belum pernah ia rasakan selama lima belas tahun belakangan ini. Siapa pria itu? Pertanyaan itu memenuhi kepalanya.
“Shinta. Apa kamu baik-baik saja?” Arjuna heran mengapa Shinta terlihat melamun. Apa yang sedang gadis itu pikirkan?
Bening terperanjat, Arjuna membangunkannya dari lamunan. “Saya baik-baik saja, Pak.” Bening mengerjap, mengembalikan fokus kepada Arjuna dan Rahmadi yang kini kembali duduk.
“Dimana rumahmu, Shinta?” Rahmadi memandang gadis yang entah mengapa terlihat lebih pucat dari sebelumnya. “Shinta, apa kamu sakit?” Rahmadi khawatir jika apa yang ia pikirkan benar.
Bening menggeleng, ia tidak apa-apa. Hanya saja hatinya seperti sedang dicuri seseorang asing yang kini duduk memunggunginya. “Sepertinya kue ini benar-benar enak.” Bening berusaha mengalihkan pikirannya sendiri. Ia mengambil rainbow cake dengan tangan kanannya lalu menggigit ujungnya.
Rasa gurih dari keju dan rasa manis dari krim segera memanjakan lidah Bening. Arjuna benar, kue disini memang enak. Ia sendiri tidak berani membandingkan kue buatannya dengan kue dari tempat ini. Bening berpikir nanti jika ia mendapatkan gaji pertama, ia akan membeli beberapa kue disini untuk Bowo, Tulus dan saudari-saudari yang masih tinggal bersamanya.
Kemarin Sherly pergi, hari ini entah siapa lagi yang akan pergi dan entah siapa lagi yang akan datang. Gadis-gadis datang dan pergi adalah hal biasa yang terjadi di bisnis milik Bowo. Bening yakin tidak ada gadis yang ingin terus berada di bawah naungan Bowo. Mereka memiliki cita-cita lebih tinggi daripada hanya menjadi biduan dangdut orkes musik kecil milik Bowo.
“Bagaimana rasanya?” Arjuna sangat menikmati pemandangan di depannya.
Shinta terlihat sangat mengagumkan, melihat bagaimana rahang gadis itu mengeras sebelum kemudian bergerak perlahan. Arjuna tahu Shinta sedang mencecap setiap rasa manis dari kue yang ia makan. Oh, bagaimana rasanya berbagi kenikmatan kue dari dua mulut yang menyatu? Saling berebut kue dengan bertarung lidah? Sial-sial-sial, bukan saatnya berpikir sekotor sekarang.
Arjuna segera menggigit red velvetnya lalu menyedot ice choco marshmallownya. Pandangannya beralih ke Rahmadi. Pria itu memandang Shinta tanpa berkedip. Jangan-jangan otak Rahmadi sama kotornya. Arjuna yakin, Rahmadi sedang berfantasi dengan Shinta sebagai obyeknya. Perasaan cemburu yang menggebu-gebu ini tidak bisa ia tahan.
“Shinta. Setelah ini kita kembali ke restoran! Kamu harus bersiap-siap. Tidak apa-apa kan?” Arjuna ingin menunjukkan kepada Rahmadi, ialah yang menguasai Shinta.
Rahmadi memandang Shinta tanpa memedulikan Arjuna yang sedang bersikap kekanak-kanakan. “Aku tidak sabar mendengarkan suara indahmu, Shinta.” Rahmadi memberikan senyum terbaiknya.
Bening sekali lagi memandang Arjuna dan Rahmadi bergantian. Ingin sekali ia berkata, hentikan saja pertarungan tidak penting ini. Tetapi Bening hanya bisa menghela napas berat. Lebih baik ia diam saja dan membiarkan dua pria itu saling memperebutkan sesuatu yang tidak akan mereka dapatkan.
Bening menikmati rasa manis dan gurihnya makanan yang sedang ia santap. Membiarkan dua pria itu saling berebut perhatiannya. Bening justru lebih tertarik dengan pria yang memunggunginya. Sedang apakah pria itu? Makan sendirian tanpa ada yang menemani, apakah pria itu tidak memiliki teman? Ataukah pria itu memang terbiasa sendiri, seperti dirinya?
Bening memiliki kawan, gadis-gadis di bawah naungan orkes musik tresno serta pria-pria pemain musik disana selalu baik kepadanya. Bowo dan Tulus juga baik kepadanya. Hanya Sardi yang selalu mencari kesempatan menyiksanya secara lahir dan batin. Kini ada Arjuna, Rahmadi dan Andra yang juga mau berteman (meski sebenarnya mereka menuntut lebih) dengannya. Bahkan Bening yakin para karyawan di restoran Ramayana akan bersedia menjadi kawannya.
Hardy kembali mencemooh, berpikir bahwa gadis yang ada di belakangnya pasti sedang menikmati masa kejayaannya. Gadis-gadis disini selalu suka jika bisa dekat dengan para bos seperti dua pria yang sedang duduk bersama gadis itu.
Beningku pasti tidak akan berbuat serendah itu. Gadis itu terkenal judes terhadap lelaki yang berusaha mendekatinya. Hardy sendiri yang mengajari adiknya untuk jual mahal kepada pria manapun.
Bening, dimana kamu Dek?
Hardy makan dengan cepat, ia ingin segera pulang dan menemui Ari. Ia yakin Ari mempunyai petunjuk untuk menemukan keberadaan Bening. Pria itu jenius. Selama kiprahnya sebagai polisi, Ari menunjukkan kinerja terbaiknya, beberapa prestasi ia dapatkan dengan mudah.
Dengan sekejap, kue favorit Hardy telah berpindah ke dalam perutnya. Ia meneguk habis secangkir kopi hitam tanpa gula tanpa mencecap rasa pahitnya kecuali setelah tegukan terakhir. Hardy segera beranjak dari tempatnya, ia tidak akan membuang waktu barang sedetik pun jika berhubungan dengan Bening.
Bening mendengar suara deritan kursi di belakangnya. Pria itu pasti sudah selesai makan, banyak sekali pria yang makan dengan cepat jadi Bening tidak kaget bila pria itu pun melakukannya.
Setelah bunyi gemerincing tanda pintu terbuka, Bening memberanikan diri menoleh ke arah pintu. Ia melihat pria asing itu keluar dengan langkah lebar. Seketika hatinya kembali terasa hampa, pria itu membawa pergi hatinya. Pria asing itu … mencuri hatinya.
***
Hardy berada di ruang tamu rumah keluarga angkatnya bersama Ari yang duduk lesu di atas kursi, berhadapan dengannya. Ari duduk tenang, sedikit membungkuk dengan dua tangannya menyangga dagu. Meski tubuhnya terlihat rileks namun Hardy bisa membaca perasaan gundah dari tatapan Ari.
“Apakah itu artinya…” Hardy tahu Ari belum menemukan keberadaan Bening, tetapi mengatakan kenyataan itu, Hardy tetap saja tidak mampu.
“Maafkan aku. Sepertinya dugaan polisi benar. Bening ada di dalam … sindikat perdagangan manusia. Aku tidak yakin ini mudah. Tapi aku yakin, kita bisa menemukannya.” Hati Ari bergetar, ia menyesal mengapa ia tidak secepatnya membawa Bening pergi saat itu.
Sesaat Hardy menahan napas, apakah pendengarannya tidak salah? Sindikat perdagangan manusia. Apakah kejahatan semacam itu benar-benar ada di dunia? Sulit dipercaya. Tetapi tidak mungkin Ari bercanda kan?
Hardy tidak mampu meredam kesedihan, ia membuang muka lalu mengusap kasar mukanya. Air mata keluar dengan mudahnya. “Tidak mungkin. Bening tidak mungkin…” Hardy kembali memandang Ari. Pria itu hanya bisa memejamkan mata sambil mengangguk.
Dunia Hardy kembali runtuh, pertama kali dunianya runtuh saat ibunya meninggal, kedua kalinya dunianya runtuh saat kehilangan Bening dan sekarang … “Kamu bilang, kamu bertemu dengannya bukan? Apakah itu artinya, adikku masih hidup?” Hardy berharap ada secercah harapan walau hanya sekecil debu.
Ari mengangguk, hanya untuk membuat harapan Hardy tidak sirna.
Aku akan menemukan Bening, bagaimanapun caranya. Tunggulah sebentar, Hardy.