Persaingan Dua Pria

1596 Words
Rahmadi memandang seorang gadis yang kini sedang memandang dirinya. Gadis itu memakai kaos berwarna hitam serta celana jins berwarna biru dengan semburat putih di bagian depannya. Secara keseluruhan, tampilan gadis itu biasa saja. Namun wajah gadis itu bersinar, seolah sinar matahari hanya tertuju kepada gadis itu. Rambut panjang dan lurus, berwarna hitam pekat membingkai wajah mungil berkulit putih pucat dan terlihat lemah, memberi isyarat kuat bahwa ia harus melindungi gadis itu. “Pak Rahmadi. Apa bengkelnya belum tutup?” Arjuna memecah perhatian, ia memandang bengkel yang masih terlihat aktivitasnya. Sesaat Arjuna memandang Rahmadi sambil berusaha menahan diri untuk tidak mendecak sebal. Mengapa pria itu datang di saat yang tidak tepat? Apa tidak ada waktu baginya hanya berduaan dengan Shinta? Tadi di restoran ada Andra yang mengganggunya dan sekarang ada Rahmadi. Sial … sial. “Kalian mau kemana?” Rahmadi jelas tidak akan pernah membiarkan mereka berduaan. Entah ke berapa kalinya ia berkata demikian di dalam hati. “Kami mau … ke toko kue. Kebetulan Shinta suka kue jadi saya ingin menunjukkan toko itu kepadanya.” Arjuna ingin menggigit bibir sendiri, mengapa dengan mudah ia membagi informasi yang tidak seharusnya ia bagi kepada pria rivalnya itu. Rahmadi menyeringai, memiliki saingan sekelas Arjuna adalah hal paling mudah dalam hidupnya yang keras. Arjuna adalah halaman buku yang terbuka. Seperti google yang akan memberi semua informasi yang ia perlukan. “Kebetulan sekali. Aku juga ingin kesana.” Rahmadi ingin tertawa saat melihat Arjuna menyebik. Jelas sekali Arjuna sedang kesal kepada dirinya sendiri karena sudah memberi peluang bagi dirinya. Arjuna tidak bisa melakukan apapun selain mengajak Rahmadi serta. Setidaknya ia bisa berjalan di sebelah Shinta walau hanya sesaat, kini Rahmadi mengambil sisi lain Shinta. Mereka berdua bak pengawal bagi putri secantik Dewi Shinta. Bening merasakan ketegangan diantara dua pria yang kini sedang mengapitnya. Mereka terlalu kekanak-kanakan. Entah apa yang ada di dalam kepala kedua pria itu hingga melakukan semacam pertandingan tidak jelas demi dirinya. Bening tidak akan menikah, setidaknya sampai Hardy bersama dengannya. Tujuan hidupnya hanyalah Hardy. Pria itulah yang ia harapkan ada di sisinya, bukan pria lain. Ia tidak perlu menikah, asalkan ada sang kakak maka hidupnya akan sempurna. Namun jika suatu saat setelah bertemu Hardy, lalu pria itu memintanya menikah dengan seseorang yang dipilihkan oleh sang kakak, maka Bening akan menerimanya. Pusaran hidup yang sesungguhnya bagi Bening adalah Hardy. Kakak yang telah meninggalkannya sendiri, namun Bening selalu yakin itu bukan kehendak kakaknya. Karena itulah ia berharap kelak bisa bertemu lelaki itu untuk menanyakan alasannya. “Shinta. Itu tokonya.” Arjuna menunjuk sebuah sebuah toko kue yang cukup mewah. Berada di dekat sebuah bengkel mobil yang tak kalah ramainya dengan bengkel yang dimiliki Rahmadi, membuat toko tersebut ikut ramai pengunjung. Toko kue itu lebih terlihat sebagai sebuah restoran dengan menu yang ditawarkan hanyalah berbagai kue serta berbagai minuman. Kesan pertama toko tersebut adalah sebuah kemewahan, dengan lampu gantung berbentuk kotak berada di setiap satu meter di langit-langit ruangan itu, pencahayaan kuning, restoran ini sudah menunjukkan kelasnya. Beberapa kursi dan meja tertata di depan etalase berisi jajaran kue yang menggugah selera. Dengan dinding depan berupa kaca transparan, siapapun bisa melihat isi dalamnya terutama jika berdiri tepat di hadapan toko kue tersebut.  Rahmadi menarik lengan Shinta, gadis itu seketika menarik lengannya dan menghadiahi sebuah tatapan tajam kepada pria itu. Sesaat Rahmadi terkejut, ia tidak pernah mendapat penolakan dari seorang wanita sebelumnya namun gadis ini berbeda. Rahmadi menyeringai, ia mempersilahkan Shinta masuk ke dalam melalui pintu yang sengaja dibukakan oleh Arjuna. Wangi aroma kue segera menyambut kedatangan Bening, gadis itu sesaat mematung dan menikmati wewangian yang memanjakan indra penciumannya. Arjuna mengajaknya memilih kue, sementara Arjuna sudah memilih kue yang ia suka. Bening masih menikmati jajaran kue yang semuanya terlihat enak. Terdapat berbagai macam kue tradisional serta kue internasional seperti cheese cake, tiramisu, brownies, aneka cup cakes, chocolate devil, rainbow cake, red velvet dan masih banyak lagi kue-kue manis berjajar di etalase, juga ada roti-roti dengan cita rasa gurih seperti lemper, pastel, floss bun, pizza dan berbagai macam jenis kue lainnya. Bening kebingungan, begitu banyak kue dan ia menginginkan semuanya. Tetapi ia harus memilih satu atau dua kue saja. Satu kue manis dan satu roti gurih mungkin cocok, tetapi Bening masih bingung memilih salah satunya. Semua terlihat menggoda, semua terlihat indah. Setelah beberapa lama, akhirnya Bening memilih rainbow cake lalu ia berpindah ke etalase dimana berbagai jenis roti berjajar. Perlahan Bening menggeser tubuhnya hingga tanpa sengaja ia menabrak tubuh Rahmadi yang juga sedang sibuk memilih roti. Bening terkejut hingga ia berdiri sambil merapikan anak rambut ke belakang telinga. Rahmadi tersenyum, ia tentu saja senang dengan ketidak sengajaan ini. Rahmadi meminta Bening untuk memilih. Gadis itu sesaat memandangnya sebelum kemudian berpaling ke floss bun dan menunjuknya. Bibir Arjuna mengerut saat ia memandang bagaimana Rahmadi menikmati insiden kecil itu. Sudah jelas pria itu sengaja menguntit Shinta dan tidak perlu jenius untuk bisa berpikir bahwa Rahmadi memang merencanakan insiden kecil ala iklan TV yang pernah ia tonton. “Shinta. Kamu pesan minuman yang mana?” Suara Arjuna membuat gadis itu memutar tubuh. Ia mendekati Arjuna, ia memandang jajaran menu minuman yang sepertinya enak dan layak ia coba. Ia memandang daftar menu yang berada di atas etalase. Gadis itu menyentuh bibir bawahnya, mengamati setiap gambar minuman yang ditawarkan. “Ice choco marshmallow, minuman paling enak disini.” Arjuna berusaha membantu Bening. Pria itu menunjuk sebuah gelas berisi es coklat dengan tumpukan marshmellow berwarna putih, merah muda dan hijau serta serpihan coklat yang begitu menggoda. “Saya pesan ini.” Bening dengan mudah menyetujui rekomendasi dari Arjuna. Meski ia tidak terlalu suka manis, namun sesekali tidak apalah menikmati sesuatu yang terasa manis. Sementara itu, Rahmadi kesal karena Arjuna ternyata bisa menikungnya. Nampaknya pria itu tidak sebodoh yang ia kira. Rahmadi ingin menguasai Shinta, namun ia sadar akan terlihat bodoh jika ia terlalu bernafsu mendekati Shinta, jadi Rahmadi kembali memandang jajaran kue yang ada di hadapannya. Rahmadi menunjuk kue berbentuk seperti pastel berisi ikan tongkol pedas dengan nama lain kue panada. Ia tidak benar-benar memilihnya, ia hanya terbawa emosi dan ingin segera duduk. Rahmadi memutuskan ke kasir untuk membayar kuenya, kue Shinta serta Arjuna sialan yang sebenarnya tidak ingin ia bayari kecuali demi harga gengsi. “Totalnya seratus delapan puluh ribu rupiah, Pak.” Seorang kasir wanita menunjuk angka yang tertera pada layar komputernya. Rahmadi segera merogoh saku celana lalu mengambil sebuah kartu ATM. Ia hendak menyerahkan kartu tersebut kepada kasir namun Arjuna menahan lengan pria itu. “Biarkan aku yang bayar.” Arjuna merogoh kantong celana, bersiap membayar kue-kue mereka. “Tidak perlu. Biarkan aku saja yang membayar.” Rahmadi menyerahkan kartunya kepada kasir, namun Arjuna menarik kartu itu dan mengembalikannya kepada Rahmadi. “Aku yang punya ide kesini. Biarkan aku yang mentraktirmu.” Arjuna membuka dompetnya, kali ini Rahmadi menahan Arjuna. “Aku bisa membayarnya. Anda bisa duduk sambil menunggu pesanan kalian.” Arjuna bersikeras, kedua pria itu bersikeras. Mereka berebut membayar pesanan mereka, demi sebuah harga gengsi. Bening menggeleng-geleng, dua pria itu sama-sama mencari perhatiannya, itu sudah jelas. Tetapi satu hal yang jelas-jelas nampak dari kedua pria itu adalah kekeras kepalaan khas pria. Bening mengambil dompet dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sejumlah uang dan tanpa piker panjang ia menyerahkan uang tersebut kepada sang kasir. Kedua pria itu bahkan tidak menyadari bahwa mereka justru dibayar oleh gadis yang mereka sukai sampai lapang pandang Rahmadi menangkap Bening yang kini menerima struk pembayaran. Oh bagus, semua karena Arjuna. Andai pria itu membiarkannya membayar, tentu saja ia tidak akan dipermalukan seorang wanita seperti sekarang. Rahmadi melotot, ia kesal dengan pria berwajah ceria dan innocent seperti p****t bayi yang tidak berdosa. “Pak Rahmadi, Pak Arjuna. Tempat duduk kita ada di meja nomer lima.” Bening meninggalkan dua pria yang terbengong-bengong kepadanya. Arjuna kesal sekali, mengapa Rahmadi sok kaya dan sok mentraktirnya. Kalau hanya untuk beli semua kue disini, Arjuna bisa melakukannya. Apalagi kue yang hanya seharga hampir dua ratus ribu itu, uang segitu hanya seperti uang beli permen baginya. Rahmadi sialan, sombong sekali dia. Arjuna mengambil duduk di sebelah Bening, begitu pula Rahmadi. Meja bulat tanpa sudut memang member sebuah keuntungan, siapapun bisa duduk di sebelah siapapun apalagi jika hanya bertiga. Perang tatapan dingin sedang berlangsung hingga seorang pramusaji meletakkan kue-kue pesanan mereka kemudian disambung pramusaji lain yang meletakkan minuman pesanan mereka. Dua ice choco marshmallow pesanan Arjuna dan Bening serta secangkir kopi espresso untuk Rahmadi. Memandang apa yang dipesan Arjuna, Rahmadi mengejek pria itu melalui seringai di satu sudut bibirnya. Memangnya pria itu gadis belasan tahun? Rahmadi terheran-heran mengapa ada pria sok manis bak kucing garong duduk bersamanya, menjadi rivalnya demi seorang gadis manis seperti Shinta. Rahmadi tersenyum kecil sambil geleng-geleng, ia mengambil pisau dan garpu lalu memotong panada dan menusuknya. Pria itu memasukkan panada ke dalam mulutnya. Oh sialan, kue apa ini? Pedas sekali. Rahmadi tidak tahan pedas, lebih tepatnya ia tidak suka makanan pedas. Pria itu segera mengambil kopinya dan meneguk kopi panas yang justru membakar mulutnya. Melihat kondisi Rahmadi, Bening menyodorkan ice choco marshmallownya kepada pria itu. Tanpa pikir panjang, pria itu meredam sensasi pedas yang masih membakar mulutnya. Oh sialan dua kali, baru saja ia menghina Arjuna tentang gadis belasan tahun dan sekarang dia sendiri yang seperti gadis belasan tahun. Bening hanya bisa memandang Rahmadi dengan mata besarnya. Pria itu terlihat garang tetapi entah mengapa kini pria itu terlihat seperti bocah. Bahkan sekarang Rahmadi terlihat lucu meskipun rahangnya tertutup bakal janggut, pria itu sekarang tampak manis. Suara gemerincing terdengar, tanda seseorang masuk ke toko kue tersebut. Seorang pria yang menggetarkan hati Bening mendekati etalase dan memesan makanan. Bening menatap lekat pria itu, detak jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Perasaan ini, kenapa selalu seperti ini saat melihatnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD