Kecemburuan

1571 Words
Satu gigitan besar kue pie itu, memberi sensasi luar biasa bagi Bening, rasa manis segera menusuk lidahnya, kulit pie terasa terlalu manis dan ditambah dengan fla yang juga sangat manis, tak ayal membuat Bening ingin mengeluarkan kue itu dari mulutnya. Namun Bening tidak melakukannya, ia mengunyah sambil meringis, berusaha menelan kembali air liur yang menggenang, dengan susah payah pula Bening menelan kue itu. Selain itu, kue pie buatan Arjuna terlalu keras. Bening berpikir kulit pie yang harusnya renyah menjadi sekeras ini mungkin karena Arjuna menambahkan air atau mungkin memasukkan putih telur ke dalamnya. Kulit pie seharusnya hanya menggunakan kuning telur, bukan dengan putihnya sekalian. Bening tidak akan sanggup menggigitnya sekali lagi, ia meletakkan pie itu di meja lalu mengambil segelas es jeruk untuk menetralisir rasa manis yang masih menggigit lidahnya. Akan tetapi es jeruk yang ia minum pun ternyata terlalu manis. Bening meletakkan es jeruk setelah meneguknya sekali. Bening menarik napas dalam-dalam, sepertinya Arjuna terlalu memuja sesuatu yang manis dan semoga pria itu tidak terkena diabetes karena kesukaannya. Arjuna mengernyit, apakah kue buatannya tidak enak? Es jeruk buatannya sudah dibuat lebih manis dari es jeruk yang biasanya dibuat Bobby. “Apakah kuenya keras? Atau kurang manis?” Arjuna merasa tidak enak jika ternyata ia tidak bisa menyenangkan hati Shinta. Bening menggeleng, sesaat ia memikirkan jawaban apa yang sebaiknya ia katakan. “Saya … tidak terlalu suka makanan manis.” Bening suka makanan manis, namun bukan makanan yang terlalu manis. Sialan Bowo … pria itu membuatku jadi terlihat bodoh. Arjuna menarik napas dalam, ia mengambil piring dan membawanya kembali ke kulkas. Ia tidak akan pernah termakan kebohongan Bowo lagi. Arjuna berjanji, ia akan membalas keisengan Bowo kepadanya. Pria itu terlalu tua untuk melakukan hal sekonyol ini. Arjuna kembali memandang Shinta dengan perasaan bersalah. Ia membuat kue itu dari pagi tadi, sesuai resep yang ia temukan di google dan dimodifikasi sedikit untuk … menambah kenikmatannya. Tetapi yang ia dapat justru kue gagal yang mempermalukannya. “Soal kue itu, aku minta maaf. Aku belum pernah membuat kue sebelumnya. Ini pertama kalinya, aku membuatnya karena Pakde Bowo bilang, kamu suka kue.” Arjuna kembali mendekati Bening, ia duduk di sofa, berada di sisi lain dari Bening. Bening tersenyum, ia kembali teringat saat pertama kali ia membuat kue sebelum akhirnya menjadi enak lalu menjualnya. “Saya juga pernah gagal membuat kue.” Kala itu, Sardi marah besar saat mengetahui dapur menjadi berantakan dan semua bahan makanan habis karena ulah Bening. Saat itu Bening baru berusia delapan tahun, gadis itu ingin kembali menjual kue seperti saat masih ada ibu dan kakaknya. Mengingat kejadian itu, Bening tersenyum masam. Pengalaman itu tak akan pernah terlupakan. Hari itu adalah awal dari setiap siksaan yang ia dapat dari ayahnya tanpa perlindungan siapapun. “Apa kamu pernah membuat kue pie?” Arjuna bersemangat, ia sangat menyukai wanita yang bisa memasak di dapur. Tidak peduli jenis masakan apapun itu. “Saya bisa membuat beberapa kue. Pastel, lemper, kue lumpur, bolu dan masih banyak lagi.” Senyum Arjuna merekah, bagaimana jika ia mengajak Bening ke dapur lalu memasak kue-kue itu berdua? Pasti sangat menyenangkan. Tapi di dapurnya ada Andra, bocah itu pasti menjadi pengganggunya. Sialan si Andra, di saat seperti ini mengapa ia mempunyai karyawan seperti dia. “Anda tidak apa-apa?” Bening melihat Arjuna yang sedang merutuki Andra. Tentu saja Bening tidak tahu bahwa Arjuna sedang melakukan hal itu, ia mengira Arjuna sedang kesakitan. Walaupun ia tidak tahu kesakitan karena apa. “Oh tidak apa-apa. Jadi kamu bisa buat kue? Ibuku pasti menyukaimu.” Arjuna mulai terbawa suasana, terlalu bersemangat. Kedua mata Bening terbelalak, ia tentu saja terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. Arjuna terlalu kentara, tetapi ini membuat Bening yakin bahwa Arjuna orang yang baik. Setidaknya pria ini mungkin sekali atau dua kali berhubungan dengan wanita dan mungkin juga belum pernah berhubungan dengan wanita. Pendek kata, Arjuna adalah pria apa adanya, seperti selembar halaman dari buku terbuka. Melihat ekspresi Bening, Arjuna segera sadar jika ia terlalu berlebihan. Ini baru pendekatan tetapi mulutnya sulit dikendalikan. Oh sial, Bening seorang gadis pendiam tapi bukan berarti gadis bodoh. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu sekarang. “Jadi, kamu suka membuat kue. Apakah kamu juga suka makan kue? Maksudku…” “Aku suka kue. Kue yang tidak terlalu manis.” Bening secara tidak sengaja melirik kulkas, menunjukkan bahwa ia tidak terlalu suka kue semanis pie buatan Arjuna. Arjuna tertawa, ia mengerti apa yang dimaksud Bening. “Begini saja. Kamu bisa bekerja mulai jam tujuh malam. Ini masih jam tiga sore. Ada toko kue tidak terlalu manis di dekat sini. Kita kesana sekarang!” Arjuna bangkit, ia terlalu tidak sabar mengajak Bening pergi ke toko kue langganannya. Berjalan berdua di tepi jalan, makan kue sambil berbicara panjang lebar, hari ini terlalu indah. Bening menelengkan kepala, ia tidak berpikir Arjuna seagresif sekarang sebelum ini. Tapi sepertinya agresif bukan kata yang tepat. Pria ini terlalu terbawa suasana, menurut Bening ini bukan masalah besar. Arjuna pria baik, ia tahu itu. Arjuna membuka pintu, Andra entah sejak kapan sudah berdiri disana. Mata Arjuna menyipit, baru dipikirkan saja pria itu sudah ada di hadapannya. Sepertinya Andra akan berusia sangat panjang. Tetapi kemudian Arjuna tersadar akan suatu hal, “apa yang kamu lakukan?” Tidak seharusnya Andra berada disini … menguping … sial!. Andra terkekeh, ia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Ia sudah ketahuan menguping, sangat memalukan, apalagi Bening memandangnya dengan dua mata bulat. Menggemaskan sekaligus membuatnya ingin segera kabur dari sana. Andra pun tidak membuang waktu, sekarang yang bisa ia lakukan hanya berjalan cepat meninggalkan ruangan Arjuna sebelum pria itu memangkas gaji bulanannya … lagi. Arjuna menghela napas panjang, ia memandang punggung Andra hingga menghilang ke dapur. Arjuna tidak mau hari baiknya terganggu oleh sikap Andra yang bisa menaikkan kadar tekanan darahnya. Arjuna memutar badan, ia memandang Bening yang masih memandang ke arah dapur. Perasaan Arjuna jadi tidak enak, ia ikut memandang ke arah pandangan Bening dan benar saja, ternyata kepala Andra melongok dari tembok, entah tujuannya untuk apa. “Ayo Shinta, mumpung restoran sepi.” Arjuna kembali memutar tubuh, ia berjalan menjajari Shinta, dengan langkah sedikit dipelankan agar Shinta bisa berjalan dengan santai. Keluar dari restoran, Arjuna berpikir Andra pasti sedang memandang kepergian mereka sambil gigit jari. Hal itu memberi kepuasan tersendiri hingga ia tidak mampu meredam senyumnya. Langkah kedua anak manusia itu akhirnya membelok menuju trotoar yang sepi. Hanya ada Bening dan Arjuna yang sedang berjalan beriringan. Mobil-mobil terjebak kemacetan lalu lintas seperti biasanya, mengeluarkan asap dari cerobong knalpot mereka, namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah keduanya. “Apa kamu tinggal dengan Pakde Bowo?” Arjuna membuka perbincangan, ia memandang gadis yang berjalan seolah memakai kacamata kuda. Gadis itu hanya memandang ke depan, tanpa menoleh ke manapun termasuk kepadanya. “Iya, saya tinggal dengan Papa.” Menyebut Bowo dengan sebutan Papa membuat hati Bening menghangat, pria macam Bowo adalah figur ayah yang sangat ia dambakan. Tidak peduli bisnis seperti apa yang digeluti pria itu, Bening hanya tahu Bowo sangat baik kepadanya. Arjuna mengangguk, “apa kamu ikut bernyanyi bersama orkesnya?” Langkah kaki Shinta berhenti, Arjuna menjadi tidak enak karena ia pikir mungkin saja pertanyaannya membuat Bening merasa terluka. Dasar mulut asal bicara, Arjuna harus ekstra hati-hati dalam melakukan penjajakan dengan gadis yang sangat ia harapkan kelak bisa menjadi pendamping hidupnya. Bening memandang Arjuna, ia tidak tahu kemana arah pembicaraan Arjuna. Akan tetapi Bening mulai tidak suka dengan arah pembicaraan ini. “Saya dulu bernyanyi di orkes Papa, tapi hanya itu. Sekarang, Papa tidak lagi memiliki orkes musik sejak … kami pindah kemari.” Tidak ada yang perlu ditutupi, Bening mengatakan yang sebenarnya. Arjuna lega karena Bening tidak marah karena kelancangannya. Ia kembali mengajak Bening berjalan melewati dua bengkel besar dimana salah satunya adalah milik Rahmadi … rivalnya. *** Rahmadi baru saja selesai menandatangani laporan yang dibuat anak buahnya. Pekerjaan hari ini sudah selesai, ia ingin segera pulang lalu mandi dan bergegas ke restoran Arjuna. Ia harus kesana lebih awal demi bisa berbincang dengan Shinta … gadis yang sudah mengisi hatinya sejak pandangan pertama. Rahmadi bangkit dari kursinya. Ia mengambil jas hitam yang ia gantung di kursinya sendiri. Lelaki itu merapikan penampilan sebelum akhirnya bergegas keluar dari ruangannya. Kantor Rahmadi ada di lantai dua. Bengkel yang sudah ia dirikan sejak lebih dari lima tahun yang lalu tersebut hampir keseluruhannya berdinding kaca sehingga siapapun bisa melihat semua yang dilakukan di bengkel tersebut kecuali di kantornya sendiri. Kantornya juga berdinding kaca namun kaca gelap yang tidak dapat dilihat dari luar namun dari dalam siapapun bisa melihat pemandangan diluar. Sesaat Rahmadi memandang anak buahnya, mereka sedang sibuk memperbaiki mesin-mesin mobil. Suasana begitu ramai oleh suara dentingan alat-alat yang bertumbukan serta suara mesin yang menderu dan mengeluarkan asap tebal. Hanya sesaat Rahmadi memeriksa kinerja anak buahnya, setelah itu ia memilih keluar bengkel untuk menghirup udara segar sebelum ia memutuskan untuk pulang. Rahmadi berdiri di depan pintu saat tanpa sengaja melihat Shinta dan Arjuna berjalan beriringan entah kemana. Insting lelakinya berteriak, berkata bahwa ia tidak akan membiarkan Arjuna berduaan saja dengan Shinta, apapun alasannya. Perasaan aneh menyeruak, menyelubungi seluruh hatinya. Perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan apa ini? Rahmadi tidak mau membuang waktu, ia tidak akan pernah membiarkan Arjuna melancarkan aksinya. Biarkan saja pria itu memiliki satu keuntungan, tapi ia tidak akan pernah memberi keuntungan yang lain. “Pak Arjuna.” Rahmadi menghentikan langkah Arjuna dan Shinta. Bening memandang pria bertubuh besar dan berkulit sawo matang dengan sorot mata tajam yang kini juga sedang memandang dirinya.   #to be continue      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD