Gotcha

1562 Words
Hardy melempar tumpukan kertas ke arah seorang pria yang memakai kemeja putih dibalut jas hitam. Pria itu hanya bisa menunduk lalu menyamping untuk menghindari kertas-kertas yang berhamburan ke arahnya. Ia paham mengapa kliennya sangat marah seperti itu. Tiga tahun ia melakukan pencarian dengan mengerahkan seluruh tenaga namun hasilnya tetap nihil. Sejak lama, ia menduga Bening, gadis yang dicari kliennya tersebut berada dalam sebuah sindikat tertentu, dalam hal ini mungkin saja Bening berada dalam sindikat penjualan anak. Hanya hal ini yang paling masuk akal, mengapa Bening sulit dicari bahkan oleh para polisi hingga kasus tersebut berakhir beberapa bulan lalu. Hardy tidak mampu meredam kemarahan, ia membuang semua benda yang ada di atas mejanya. Lima belas tahun hilang dan belum ditemukan, ini terlalu tidak masuk akal. Apa yang dikerjakan para polisi dan seorang detektif yang ia pekerjakan untuk turut mencari Bening? “AARGH…” Hardy berteriak keras, air mata merebak dan luruh dengan mudahnya. Apa yang akan dikatakan Hardy kepada mendiang ibunya jika suatu hari mereka bertemu? Ia tidak bisa menemukan Bening. Ia tidak bisa menjaga Bening. Ia tidak menepati janjinya. Hardy masih saja kesal setengah mati. Kali ini meja menjadi sasarannya, ia mendorong meja sekuat tenaga hingga meja tersebut jatuh di atas tumpukan kertas. “Pergi kamu! Aku memecatmu.” Suara itu begitu rendah dan parau namun menimbulkan rasa gemetar bagi seorang pemimpin sebuah perusahaan jasa pencarian anak hilang dan pengawalan tersebut. Hardy berjalan melewati pria itu begitu saja, ia harus keluar dan mencari udara segar. Di meja sekretaris yang berada di depan ruangannya, Hardy menghentikan langkah. Ia memandang seorang wanita muda yang berdiri dengan kepala tertunduk. Hardy melirik wanita itu, “batalkan semua jadwal hari ini.” Hardy tidak menunggu jawaban sekretarisnya, ia segera melangkah pergi bersama kemarahan yang tidak kunjung reda. Sang sekretaris akhirnya menghela napas lega, bosnya memang terkenal dingin tetapi jika berhubungan dengan adiknya, pria itu bisa berubah menjadi api yang bisa melahap siapapun. Ia melangkah masuk ke ruangan Hardy. Melihat ruangan tersebut begitu berantakan, bukanlah pemandangan baru baginya. *** Hardy melangkah di trotoar tanpa tujuan pasti. Ia hanya mengikuti kata hati dan terus melangkahkan kaki. Jalanan cukup padat, matahari cukup menyengat dan pantulan kaca yang berasal dari kaca-kaca pada gedung-gedung bertingkat, tidak membuatnya kembali ke bengkel. Hardy harus membuang semua kekesalan dan harus membuang semua energinya sebelum kembali bekerja. Hardy menarik napas panjang lalu membuangnya secara perlahan. Ia menggeleng perlahan, membuang apapun yang sedang menari-nari di kepalanya. Bening, adikku. Maafkan aku! Aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Kelak, jika kita bertemu lagi. Kamu boleh marahi aku, kamu boleh memukulku, kamu boleh melakukan apapun padaku. Langkah Hardy terhenti, ia melihat seorang gadis muda yang pernah ia lihat di sebuah restoran sedang tersenyum kepada seseorang yang ada di dalam sebuah mobil van putih. Hati Hardy kembali merasakan sesuatu yang aneh. Perasaan apa ini? Jika ini hanya perasaan tertarik kepada lawan jenis, Hardy tidak akan meneruskannya. Saat ini Hardy hanya fokus kepada pencarian adiknya, hanya itu. Tetapi Hardy tidak bisa melepaskan pandangan dari gadis itu. Ia memiliki warna kulit seputih batu pualam, seputih kulit adik serta mendiang ibunya. Gadis ini memiliki tubuh kurus kering, seperti mendiang ibunya. Gadis ini memiliki dua mata lebar, seperti adik dan mendiang ibunya. Entah mengapa, gadis ini memiliki semua kemiripan dengan adik serta mendiang ibunya. Namun gadis ini memakai pakaian sederhana yang tidak akan dipilih adiknya. Adiknya suka sesuatu yang bersifat feminim. Bening suka memakai rok dan semua yang berbau perempuan pasti melekat padanya. Bening tidak akan menyukai kaos hitam seperti yang dikenakan gadis itu. Apakah mungkin ia Bening? *** Bening baru saja keluar dari mobil Bowo, ia tersenyum kepada pria itu sebelum pria itu pergi dengan mobilnya. Bening melambaikan tangan, ia hendak masuk saat tanpa sengaja bersitatap dengan seorang pria yang ia lihat di sebuah restoran tempo hari. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang, perasaan apa ini? Bening menatap lekat pria yang ada di hadapannya, seolah ia sedang merekam semua yang ada pada pria itu. Pria itu memiliki tatapan tajam, sejenak ia teringat Sardi dan Hardy secara bersamaan. Pria ini jelas orang kaya, hanya melihat kemeja berwarna biru tersebut, Bening mampu memperkirakan seberapa mahal kemeja pria itu. Kemeja sederhana itu … Bowo juga memilikinya. Bening kembali memandang wajahnya. Pria ini memiliki rahang kokoh yang dipenuhi bakal janggut. Warna kulitnya sawo matang dengan rambut ikal yang dipotong pendek sekali. Ia benar-benar seperti … Kak Hardy. Bening terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari pikirannya. Ia sudah melupakan wajah kakaknya, tetapi pria ini membuatnya kembali teringat kepada sang kakak. “Shinta. Kamu sudah datang?” Suara Andra memecahkan perhatian Bening. Gadis itu beralih memandang pria yang mengenakan seragam koki berwarna putih dengan kancing-kancing besar berwarna hitam. Bening tersenyum kepada Andra namun ia kembali menoleh untuk kembali memandang pria yang telah membuatnya ingat kepada Hardy. Akan tetapi Bening harus kecewa karena pria itu telah pergi, entah kemana. Andra berdiri di samping Shinta, ia menoleh ke kanan serta ke kiri, entah apa yang sedang dicari gadis ini tetapi hal itu membuat Andra ikut penasaran. “mencari siapa?” tanyanya. Sebuah gelengan membuat Andra menaikkan satu alis sambil memandang Shinta. Oke, gadis ini sedang main rahasia-rahasiaan. Andra mengerucutkan bibir, kecewa karena lagi-lagi Shinta bersikap dingin kepadanya. “Aku sudah mempelajari lagu cindai. Nanti aku mengiringimu lagi.” Andra tidak sabar untuk menunjukkan kemampuan bermainnya. Bening tersenyum, ia memandang pria bermata sipit yang selalu membuatnya geleng-geleng kepala. “Om, ehm … Papaku bilang, nanti aku diiringi orkes musik miliknya.” Bening melihat ekspresi kecewa di wajah Andra, begitu lucu hingga ia kembali tersenyum. Arjuna melihat kedatangan Shinta bersama koki yang dengan seenaknya meninggalkan dapur tanpa ijin. Sial, pasti Andra sedang melakukan pendekatan kepada gadis yang sudah mencuri sebagian hatinya. “Andra. Kembali ke dapur! Kamu ini, jangan seenaknya pergi. Banyak pesanan, kasihan Bobby dan Restu kalau kamu suka seenaknya … bulan depan, kupotong gajimu.” Arjuna melotot, ia akan memotong gaji koki satu ini cukup banyak karena bulan ini Andra terlalu seenaknya. Andra merengut, ia tidak mempersoalkan pemotongan gaji. Bos satu ini suka sekali main potong gajinya, ia hanya pergi sebentar karena ia harus ke kamar mandi, sekalian meregangkan otot-ototnya yang kaku, tapi begitu saja si bos sudah main potong gaji. Tapi itu bukanlah masalah besar. Ia justru kesal karena Arjuna mengatakannya di depan Shinta, cewek yang kini menjadi incarannya. “Tunggu apalagi….” Kepala Arjuna jadi pusing jika berurusan dengan Andra. Andra mendengus, dengan terpaksa ia meninggalkan Shinta. Saat ia berada sangat dekat dengan Arjuna, sesaat Andra memandang lekat bosnya. Dalam hati, ia menyumpah serapah si bos yang sudah membuatnya malu. Dasar Bos, awas saja! Cukup melihat bagaimana Andra memandangnya, Arjuna tahu kalau kokinya sedang berbicara dalam hati. Ia yakin tidak ada hal baik tentangnya, ia yakin Andra tidak sedang memujinya dalam hati. Pada akhirnya Andra kembali melangkah, ia kembali memandang Arjuna sebelum masuk ke dapur. Arjuna geleng-geleng, ia menarik napas panjang sebelum ia tersenyum kepada Shinta. “Apa Pakde Bowo tidak ikut kesini?” Arjuna melongok ke belakang Shinta, namun saat mengetahui tidak ada siapapun disana. Arjuna merasa sangat senang. “Papa tadi langsung pergi. Apa Pak Arjuna ada perlu dengannya?” “Tidak!” Arjuna menggeleng keras. Siapa juga yang punya keperluan sama pria berkumis tebal itu? Yang benar saja, kalau ada Bowo ia yakin pria itu akan menjadi pagar betis bagi Shinta. Sial sekali, ia mengingat bagaimana Bowo memandangnya seperti seorang induk buaya memandang musang yang hendak mencuri telurnya. Dasar bapak-bapak over protektif. “Apa kamu sudah makan?” tanya Arjuna. “Sudah.” Bening menjawab seperlunya. Ia memang bukan tipe yang merasa nyaman berbicara dengan pria, kecuali Andra. Pria itu tidak memiliki sisi laki-laki yang membuatnya gentar. Pria itu alay, begitu kira-kira yang akan diucapkan Sherly. Pria alay tidak membuat Bening merasa harus memasang perisai transparan. “Ayo masuk! Panas sekali hari ini ya?” Arjuna memandang langit, matanya segera terpejam saat melihat ke langit biru yang dihiasi gumpalan awan yang sangat menyilaukan.  Arjuna menggerakkan dagunya, ia mengajak Bening masuk ke restoran. Arjuna mengajak gadis itu ke dalam ruangannya, karena ia tidak ingin Andra mengacaukan segalanya. Bening memandang seisi ruangan seluas tiga kali tiga meter persegi tersebut. Ruangan itu berupa dua kursi berhadapan dengan sebuah meja di tengahnya. Sebuah sofa panjang berwarna merah, berbahan kulit ada di dekat pintu. Sebuah kulkas dua pintu berada di sebelah kursi yang Bening yakin, kursi itulah yang sering diduduki Arjuna. “Duduklah! Kamu mau minum apa? Oh ya, aku tadi membuat cemilan dengan resep baru. Aku ingin kamu mencobanya.” Arjuna terlalu kentara dalam melakukan pendekatan kepada Bening. Gadis itu dengan sangat mudah, dapat mengetahuinya. Seandainya Arjuna bukan bos barunya, Bening memilih menjauh dari pria itu. Tetapi Bowo sudah berkata kepadanya, Arjuna pria yang baik. Jadi Bening akan mencoba memercayai pria itu. Bening duduk di sofa panjang. Ia melihat Arjuna membuka kulkas besar tersebut. Pria itu mengeluarkan sebuah piring besar dengan kue-kue kecil yang ada di atasnya. Dengan penuh semangat, Arjuna membawa piring berisi pie yang ia buat khusus untuk Bening. Bowo berkata, Bening suka makanan manis dan Bening sangat suka makan buah. Ia pun berpikir pie buah pasti sangat cocok bagi Bening. Kulit pie ia buat terasa manis, bukannya gurih seperti yang seharusnya. Isian pie, terdiri dari fla s**u dengan potongan kiwi dan stroberi di atasnya. *** Bowo mengendarai mobilnya sambil menahan tawa geli, ia yakin Arjuna sedang mencari perhatian dengan pie yang dibuat berdasarkan resep yang ditunjukkan olehnya. “Mati kau Arjuna. Jangan seenaknya mendekati anakku,” ucapnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD