Persoalan sepeda masih terus bertahan selama berhari-hari. Bening yang selama ini ceria, berubah menjadi murung dan mudah uring-uringan. Sulit sekali membujuk anak perempuan berkulit kuning langsat tersebut. Selama ini baik Indah maupun Hardy selalu bersikap lunak kepadanya. Namun sepeda bukan barang murah yang mampu dibeli dengan cepat. Seandainya saja Indah memiliki uang, tentu saja ia ingin segera mengabulkan keinginan putrinya. Namun kenyataannya, uang yang didapat hanya mampu menopang kebutuhan dasar mereka. Itu pun jika tidak direbut oleh Sardi.
Puncaknya adalah hari ini dimana Bening mogok makan. Gadis itu menghabiskan waktunya hanya duduk di kamar sambil memandang keluar jendela. Ia akan makan jika sudah merasa lapar lalu kembali ke kamarnya. Dalam sehari semalam, bisa dihitung berapa kali ia keluar kamar.
Saat sekolah pun, Bening memilih segera pulang setelah jam pulang usai. Tidak menunggu Hardy seperti biasanya. Sampai rumah, gadis itu masuk kamar dan tidak melakukan aktifitas apapun. Bermain dengan teman-teman sebayanya pun tidak.
Tanpa celoteh Bening, rumah menjadi sangat sepi. Hardy terlalu sibuk sekolah dan bekerja sehingga ia jarang berbicara dengan ibunya. Sementara dengan Sardi, Indah berharap pria itu lebih jarang pulang. Bila Sardi tidak pulang, setidaknya Indah merasa lebih nyaman. Ia hanya perlu menjaga kesetiaannya tetapi tidak perlu berusaha memperbaiki komunikasi dengan pria itu. Tidak setelah apa yang dilakukan pria itu tempo hari. Ia hanya perlu menunggu kematian menjemput salah satu dari mereka. Hanya itu cara berpisah dari Sardi.
Indah menggeleng, di saat seperti ini bukan saatnya memikirkan soal kondisi rumah tangganya dengan Sardi. Dua anaknya adalah hal yang paling terpenting dalam hidupnya. Dengan membawa sepiring makanan, Indah menghampiri Bening lalu duduk di tepi ranjang.
“Bening, Sayang. Kamu makan ya, Nak.” Indah membujuk Bening.
Indah menarik napas dalam, berusaha bisa bersabar menghadapi Bening. Demi meluluhkan hati Bening, Indah sengaja membuatkan makanan spesial. Sayur sop dan ayam goreng yang jarang sekali ia masak.
Indah mendorong sesendok nasi dengan potongan daging ayam, tetapi mulut Bening seolah terkunci rapat. Gadis itu benar-benar keras kepala, sikapnya menurun dari sang ayah. Satu sifat jelek yang tidak disukai Indah. “Ayo, Sayang. Ini ayam gorengnya enak lo,” rayunya.
Bening menggeleng, tekadnya sudah bulat. Ia ingin mendapatkan sepeda seperti yang dimiliki beberapa teman sekolahnya. Sepeda dengan boncengan di belakang agar Hardy bisa memboncengnya. Ia tidak peduli dengan warna maupun ukurannya. Bagi Bening yang penting ia punya sepeda.
“Kapan Ibu beli? Ibu sudah janji kan.” Untuk ke sekian kalinya, Bening menagih janji sang ibu.
“Bening, Ibu masih sakit. Beberapa hari ini hanya kakakmu yang jualan. Nanti kalau Ibu sudah jualan dan uangnya sudah cukup. Ibu janji mengantarmu ke pasar. Kamu boleh pilih sepeda seperti yang kamu mau,”
Mendengar pernyataan sang ibu, hati Bening menjadi luluh. Ia sangat menginginkan sepeda, namun ia tidak ingin memaksa ibunya yang sedang sakit untuk segera membelikannya. “Maafkan aku, Bu. Habisnya, aku capek kalau harus berjalan jauh setiap hari,” ungkapnya.
“Ibu tahu. Tapi sepeda itu harganya mahal. Kita harus menabung dulu.” Kedua mata ibu dan anak tersebut bersitatap. Sepasang mata sayu Indah tak pelak membuat hati Bening trenyuh, ibunya pasti sangat sakit sampai ia tidak bekerja selama beberapa hari.
“Kapan Ibu mulai kerja? ... apa Ibu sudah sehat?”
Indah mengangkat dua alisnya, senyum tipis terbentuk. Ternyata Bening mengkhawatirkan kondisinya. Semoga Bening bisa mengerti keadaannya, “Ibu sudah sehat. Besok Ibu mulai membuat kue,” ucapnya.
“Apa artinya secepatnya kita bisa beli sepeda, Bu?” Perasaan Bening berbunga-bunga. Keinginannya kembali menguat, ia sudah sangat tidak sabar untuk segera memiliki sepeda.
“Iya. Tapi janji ya. Bening harus giat belajar dan jadi anak penurut!” ucap Indah.
Mata Bening berbinar, ia mengangguk beberapa kali. Senyum lebar ia tunjukkan, memberi perasaan lega karena Bening sudah kembali ceria.
“Sekarang ayo makan! Setelah itu, kamu tidur siang ya!” perintah Indah.
Indah kembali mendorong sendok berisi makanan ke mulut Bening. Kali ini Bening segera membuka mulut, menerima suapan sang ibu. Sop dan ayam goreng buatan ibu memang sangat luar biasa memanjakan lidah. Dengan lahap, Bening menerima setiap suapan dari sang ibu.
Hardy berdiri bersandar pada pintu kamar, melihat Ibu dengan sabar menyuapi si bungsu nan manja tak pelak membuatnya tersenyum.
Hardy bersyukur karena akhirnya Ibu mampu meluluhkan hati Bening, bibir Hardy melengkung ke atas. Sepertinya hanya sang ibu yang mampu merubah hati seorang Bening.
Hardy hendak berpamitan ke ibunya untuk ke sungai, mencari kangkung dan ikan mujair. Setelah itu, ia akan membawanya keliling kampung untuk menjajakannya.
Dalam hati Hardy berjanji akan bekerja lebih giat lagi, semua dilakukan demi mewujudkan keinginan Bening. Ia berencana ke pasar untuk sekedar ingin tahu berapa harga sebuah sepeda, supaya ia tahu seberapa banyak uang yang harus dikumpulkannya.
Bening melihat Hardy membalik badan. Ia yakin sang kakak hendak berangkat bekerja. Karena marah, beberapa hari ia tidak mau membantu Hardy karena Hardy suka sekali marah setiap kali tahu ia meminta sepeda. Namun sekarang Bening sudah tidak marah lagi.
Bening segera bangkit, berlari kecil untuk mendekati Hardy. Berdiri di tengah pintu, menghadang Hardy dengan dua tangan terbuka lebar, menutupi pintu berukuran setengah meter tersebut.
“Kamu kenapa lagi, Bening?” Hardy mulai was-was, Bening sudah tidak lagi merajuk, sudah tidak melakukan aksi meminta sepeda. Itu artinya, Bening kembali merecokinya, kembali menjadi bayang-bayang dimanapun ia berada.
Gadis itu tersenyum lebar, menunjukkan barisan gigi rapi sekaligus menunjukkan niat baiknya. Bening merasa sangat antusias, ia yakin dengan bantuannya maka Hardy akan mendapat uang jauh lebih banyak dan semakin cepat pula ia mendapatkan sepeda.
“Sudahlah, kamu di rumah saja menjaga Ibu!” Hardy mendengus. Hari-hari tanpa Bening sepertinya sudah berakhir. Gadis itu akan kembali membuatnya kerepotan.
“Ayo kita ke sungai!”
Indah bangkit, dengan mangkok masih berisi makanan. Ia mendekati Bening, ia ingin anak gadisnya menghabiskan makan siangnya. “Biarkan Kakakmu sendiri, Bening! Sekarang kamu di rumah sama Ibu. Ayo, Ibu suapi makan,” rayunya.
“Tapi, Bu. Kak Hardy butuh aku,” elak Bening.
“Tadi kamu berjanji jadi anak penurut kan Bening?” Hardy mengingatkan.
Pipi Bening seketika menggembung, dua alisnya mengkerut. Dua tangannya berkacak pinggang. Meminta Hardy menuruti kemauannya. Meski tanpa berucap, ia yakin Hardy tahu maksud hatinya. Begitulah kenyataannya, dua hati kakak beradik ini bagai terikat benang merah hingga keduanya saling mengerti satu sama lain, tanpa harus mengatakan maksudnya.
“Kalau kamu tidak menurut. Tidak ada sepeda untukmu,” ancam Hardy.
Ancaman Hardy seketika membuat hati Bening menciut. Tetapi yang membelikan sepeda adalah Ibu, jadi kenapa takut dengan Hardy? Nyali Bening kembali seperti semula, tekadnya untuk selalu membantu Hardy bekerja, kembali membulat. “Pokoknya aku mau, titik!” teriaknya.
Hardy melirik ibunya, berharap sang ibu mengerti keinginannya. Tetapi Hardy hanya bisa menghela napas berat, ibu memintanya menuruti keinginan Bening. Seperti biasa, ibunya tidak mau mendengar rengekan Bening yang bisa berlangsung sangat lama.
“Ayo!” Hardy pun mau tidak mau mengajak Bening ikut bersamanya.
Bening tertawa senang, sambil melompat seperti seekor kelinci. Ia mengikuti langkah Hardy. Sebelum ia beranjak dari rumah, Bening menyempatkan diri melambaikan tangannya kepada sang ibu. Memberi wanita itu senyuman paling indah yang dimilikinya.
***
Bening tertawa senang, menatap kakak tercinta sedang menangkap ikan mujair dengan menggunakan jala sederhana buatannya sendiri. Terbuat dari jalinan tali tampar kecil dengan pemberat terbuat dari batu yang diikatkan di setiap bagian bawah jala tersebut. Bentuknya hampir sama dengan jaring yang dijual di toko pancing, pembedanya hanya pada bahan jala tersebut. Jala di toko menggunakan jalinan tali senar dan menggunakan bahan logam sebagai pemberatnya.
Hardy berdiri di tepi sungai, melempar jaring kemudian menunggu beberapa saat sebelum menariknya perlahan. Ia harus mengerahkan seluruh tenaganya, jaring dengan pemberat saja sudah cukup berat apalagi sekarang saat ia menariknya. Beratnya hampir dua kali daripada sebelumnya.
“Pasti ikannya besar,” gumamnya. Secara perlahan jaring mulai menepi. Hardy menarik jaring tersebut sampai ke tepian. Menyentak beberapa kali untuk membuang kotoran-kotoran serta beberapa ketam yang tersangkut pada jalanya.
Senyum senang terpahat, seekor ikan gabus seukuran tangannya berhasil ditangkap. Dua ekor ikan mujair sebesar telapak tangan Bening juga ia dapat. Hasil tangkapan besar baru saja ia dapatkan.
Hardy segera mengambil ikan-ikan tersebut dan memasukkannya ke dalam ember yang telah ia persiapkan sebelumnya. Hardy berharap hasil tangkapannya akan seperti ini terus. Pasti uang untuk membeli sepeda, bisa secepatnya terkumpul.
jaring kembali dipersiapkan untuk mencari ikan, membersihkannya dari sampah-sampah yang ikut terangkat. Ia bangkit, mengambil ancang-ancang lalu kembali melemparkan jaringnya. Namun tangkapan kali ini hanyalah dua ikan sapu-sapu, ikan yang dianggap pengganggu bagi para pencari ikan di sungai ini.
Hardy melempar ikan sapu-sapu ke tengah jalan, ia tidak ingin ikan itu kembali tersangkut. Hal yang sangat lazim dilakukan oleh para pencari ikan di tempat ini.
Terik matahari yang benar-benar menyengat tidak menjadi halangan bagi dua anak yang sedang mencari sesuatu untuk dijual. Meski beberapa kali mengusap dahi dari keringat, namun tetap saja tidak menyurutkan semangat keduanya. Demi sebuah sepeda, mereka berjanji akan giat bekerja.
Bening sudah merasa sangat lelah, ia telah mengumpulkan hampir satu kresek besar. Ia merasa sudah cukup, Bening mulai menyatukan kangkung yang ia dapat. Mengikat setiap setangkup kangkung yang akan dihargai seribu lima ratus rupiah.
Hardy memandang ember yang telah berisi ikan separuhnya. Ikan yang akan dijual seharga lima puluh empat ribu rupiah untuk seluruh ikan di ember tersebut. Harga yang sangat pantas karena ada dua ikan gabus disana. Jenis ikan yang sangat diminati orang karena manfaat dan gizi yang dikandungnya.
Hari sudah menjelang sore saat keduanya siap berjualan. Hardy menenteng ember di tangan kanan, sementara tangan kirinya menjinjing tas kresek berisi kangkung. Berjalan menuju kampung terdekat, kedua anak itu tampak sangat bersemangat sekali.