Ibu Sedang Sakit

1627 Words
Beberapa hari, Indah hanya terbaring lemah di kamar. Batuk seperti tidak berjeda, membuatnya kurang istirahat, badannya jadi selemah siput tanpa rumahnya. Ia menutup mulutnya dengan sapu tangan, batuk keras yang sangat menyiksa membuat napasnya sesak dan tenggorokannya gatal luar biasa. Indah tahu ini batuk kering, tidak ada dahak dan jenis batuk paling menyebalkan baginya. Hardy masuk ke kamar dengan membawa semangkuk makanan yang masih mengeluarkan asap tipis . Mencium aromanya, ia tahu itu adalah semangkuk mi instan. Tetapi bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya. Melainkan sosok yang telah membawa makanan itu. Darimana anak ini mendapat uang? Pertanyaan itu muncul begitu saja. “Darimana kamu...” “Aku menjual kangkung di pasar,” sela Hardy. Ia tahu pertanyaan itu pasti akan keluar dari bibir ibunya. “Kangkung?” Indah menelengkan kepala. Memikirkan dimana Hardy bisa menemukan kangkung untuk ia jual. “Aku mencari di pinggir sungai. Mengikatnya dan menjualnya. Aku juga jualan mujair tangkapanku, Bu. Hasilnya lumayan.” Mengerti apa yang dipikirkan Indah, Hardy ingin sang ibu tahu dimana ia menemukannya. Hardy duduk di tepi ranjang, menunjukkan isi mi dalam mangkuk putih sederhana. Memandang wajah ibunya yang sangat pucat. Gurat-gurat keriput tipis terlihat jelas, semakin memperjelas kerapuhannya.  “Makan dulu, Bu!” katanya. Dengan badan bergetar, Indah berusaha duduk. Tubuhnya sangat lemah ditambah kepala yang berat memberi efek melayang saat ia mengangkat kepala. Suhu tubuhnya agak tinggi dan meriang. Kondisi yang sangat dibenci Indah, sekaligus membuatnya tidak berdaya. Indah duduk bersandar pada dinding, kepalanya serasa berputar, seperti habis bermain di sebuah permainan di pasar malam, wahana gelombang air dimana sebuah roda terbuat dari kayu yang didudukinya diputar oleh pria-pria gagah, memberi efek seolah sedang ada di tengah lautan. Pandangannya agak gelap dari yang seharusnya, bintang-bintang berukuran mini memenuhi lapang pandangnya. Indah menggeleng pelan, berusaha memfokuskan pandangannya. “Aku suapi ya, Bu.” Hardy tidak membuat pertanyaan, melainkan pernyataan bahwa ia ingin sekali membantu ibunya makan. Seperti saat ia atau adiknya sedang sakit, ibunya menjaga mereka selama dua puluh empat jam. Begitulah yang ingin dilakukan sekarang, ia ingin merawat ibunya. “Bening mana?” Indah tidak bertemu dengan putrinya sejak pagi. Ah, ini pertanyaan salah. Seharusnya ia mempertanyakan pertanyaan lain. “Kamu tidak sekolah, Hardy?” ralatnya. Hardy menyendok mi, meniup pelan beberapa kali lalu menyuapkannya. Tetapi Indah tidak serapuh itu sampai harus makan dari tangan sang putra. Indah hanya menerima suapan pertama, selanjutnya ia merebut sendok beserta mangkoknya. “Aku libur,” dusta Hardy. Bagaimana ia tega meninggalkan wanita sesakit ibunya. Bolos beberapa hari tidak akan membuatnya ketinggalan pelajaran. Hardy menyadari ia anak yang cukup pandai di hampir semua mata pelajaran selain pelajaran bahasa, khususnya bahasa daerah. Tapi tetap saja mengejar pelajaran itu semudah ia menangkap mujair di sungai. “Harusnya kamu masuk, Hardy. Kalau kamu suka bolos. Bagaimana dengan niliai-nilaimu?” Indah tidak ingin nilai Hardy yang sempurna, jatuh karena harus merawatnya. “Soal itu, Ibu tidak perlu khawatir. Aku anak pintar, Bu.” Hardy memainkan dua alisnya, juga mengangkat ujung kaosnya, bermaksud menyombongkan diri. Indah tertawa kecil, tingkah anak lelakinya memberi sedikit penghiburan sekaligus rasa bangga luar biasa. “Cepat sembuh ya, Bu. Aku sudah punya modal untuk dagang kue lagi. Aku bisa jualan kue sama mujair dan kangkung. Hasilnya pasti lumayan.” Hardy membayangkan berapa banyak uang yang bisa ia kumpulkan. Indah hanya bisa tersenyum, memandang buah hati kesayangannya terlihat sangat senang. Ia kembali menyendok mi dan melahapnya. Rasa gurih mi instan tersebut terasa pahit di lidahnya. Meski demikian, ia tetap saja memakannya. *** Bening pulang sekolah dengan wajah ditekuk, berjalan di pinggir jalan yang terik sekali. Pulang sendirian beberapa hari ini membuatnya tidak ingin sekolah. Tanpa Hardy bersamanya, sekolah menjadi tidak menyenangkan. Bening mengusap peluh, perjalanan jauh dan sendirian membuatnya cepat merasa lelah. Manalagi kerongkongannya haus lagi. Ia ingin sekali meneguk segelas es jeruk, pasti rasanya segar sekali. Dalam perjalanan pulang sekolah, Bening melihat ayahnya sedang duduk bersama beberapa pria dewasa di sebuah warung sederhana. Melihat pria itu menyedot es jeruk, membuatnya tanpa sadar mengusap bibir dengan lidahnya. Kalau aku minta es Ayah. Apa Ayah akan memberinya? Bening menimbang-nimbang. Tetapi gadis itu menunduk sambil menghela napas. Ia yakin ayahnya hanya akan menghardik dan mencacinya. Hardy pernah menasehatinya untuk tidak mengganggu ayah mereka. Menganggap pria itu bukan siapa-siapanya. Dengan langkah berat, Bening melanjutkan perjalanan. Beberapa anak berseragam sekolah seperti dirinya melintas dengan sepeda mereka. Bening juga ingin punya sepeda. Pasti enak kalau sekolah sambil mengendarai sepeda, berboncengan dengan Hardy. Tidak perlu capek berjalan setiap berangkat dan pulang sekolah. Sepeda juga bisa membantu mereka berjualan. Bening berpikir, ia akan meminta Hardy membeli sepeda. Kakak kan sudah punya uang banyak, pikir Bening. Memikirkan sepeda, Bening melangkah dengan ceria. Tidak sabar untuk pulang dan memintanya. Membayangkan ia dan Hardy bersepeda, membuat wajahnya bersinar ceria. Hingga tidak lama kemudian ia telah sampai di rumah. “IBU, KAKAK. AKU PULANG,” teriaknya. Mendengar suara berisik Bening, Hardy dan Indah sama-sama melihat ke arah pintu. Gadis itu selalu masuk ke kamar Indah setiap pulang sekolah. Ia akan berceloteh panjang lebar, menceritakan semua hal yang terjadi di sekolah. Hardy menghela napas, sebelum gadis itu masuk ke kamar, sebaiknya ia segera pergi sebelum ia harus mendengar suara melengking Bening. Tetapi baru saja ia berdiri, gadis itu sudah melesak masuk. Hardy melirik ibunya, melihat wanita itu tersenyum masam. Hardy berpikir bahwa ibunya juga akan menahan siksa dari Bening. Tanpa sadar, ia tersenyum geli. Bening menghambur ke kamar, menjatuhkan pantatnya ke kasur dengan cukup keras. Ia memandang mangkok yang sudah kosong. Melihat sisa-sisanya, Bening tahu apa yang telah dimakan ibunya. “Apa kamu lapar, Nak?” Indah gemas dengan putri kecilnya. Gadis lucu, imut, menyenangkan namun sangat manja kepadanya dan juga Hardy. Bening menggeleng, bukan mi yang sedang ia minta. Perutnya juga belum lapar setelah tadi pagi menyantap sepiring nasi dan separuh porsi mi instan. Ia memandang Hardy, senyumnya melebar dan sepasang matanya dihiasi binar penuh permohonan. Syarat itu terbaca oleh Hardy, Bening selalu melakukan hal yang sama setiap kali ingin meminta sesuatu kepadanya. “Minta apa?” dengusnya. Bening tertawa, kakaknya memang yang terbaik. Belum bicara apa-apa sudah tahu kalau ia mempunyai sebuah keinginan. Gadis itu menatap ibunya, “Bu, beliin sepeda ya....” Bening mengedip beberapa kali, sedikit menelengkan kepala lalu memandang Hardy dengan cara yang sama. Hardy terkejut, tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba adiknya meminta sepeda. Bagaimana bisa Bening bisa memiliki keinginan itu? Apa ia tidak tahu seberapa mahal harga sebuah sepeda? Hardy menatap tajam adiknya. Bersiap menyemprot habis-habisan, sayangnya genggaman tangan ibu di lengannya membuat perhatian Hardy berpindah. “Kapan-kapan, jika punya uang. Ibu pasti membelikanmu sepeda,” janji sang ibu. Beli sepeda saja menunggu punya uang, huft. Dahi Bening mengerut, pipinya menggembung dan bibirnya terkatup rapat. Ia ingin segera mendapatkan sepeda secepatnya. Jika harus menunggu lebih lama lagi, bisa-bisa sepedanya sudah habis terjual. Itu yang ada di dalam pikiran Bening. “Jangan sewot gitu. Jelek tahu!” sindir Hardy. Melirik adik kecilnya masih mencebik, membuatnya gemas dan mencubit satu pipi adiknya kuat-kuat. “Kakak, sakit...” keluh Bening. Ia mencubit pinggang Hardy sama kuatnya. Dahinya mengerut, menyatukan dua alis tebalnya. Kesal dengan sikap Hardy, ia mengusap pipi sambil memicingkan mata kepada satu-satunya kakak yang ia punya. “Kamu ini ngapain sih, pakai minta sepeda segala? Tumben-tumbenan,” tanya Hardy. “Aku capek, Kak. Masak setiap hari jalan kaki. Kalau sama Kakak masih mending. Tapi kalau sendirian, gak enak.” Bening melipat kedua tangan, bibirnya mengerucut. “Bening, Sayang. Maafkan Ibu ya ... karena Ibu, kamu harus sekolah sendirian.” Indah sedih sekali. Karenanya, kedua anaknya harus mengalami kesulitan. “Bukan salah Ibu. Kak Hardy aja yang suka bolos. Pakai alasan menjaga Ibu. Ibu kan sudah besar.” Bening melirik Hardy, ia memperolok alasan Hardy. “Kamu ini mana mengerti bocah kecil,” ledek Hardy. Mata Bening membulat, tidak menyangka bahwa sang kakak membalasnya. Ia siap menyembur, namun sentuhan tangan lembut Indah di pergelangan tangan membuatnya beralih memandang Indah. “Ibu, Kakak nakal,” rajuknya. “Mengadu terus,” timpal Hardy. Sikapnya dihadiahi tatapan tajam serta gelengan pelan dari sang ibu. Hardy hanya bisa menghela napas dan juga menelan kembali semua olok-olok yang sudah ia siapkan. “Bening, ganti pakaian dulu ya Sayang!” pinta Indah. Bening bergeming, sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau. Ia tidak mau meninggalkan kamar ini. Bening memeluk lengan ibunya, menyandarkan kepala di sela leher wanita itu. “Ibu beliin sepeda ya. Please....” Perlahan Bening mengguncang lengan ibunya. Merengek demi mendapatkan apa yang ia mau. “Nanti jika Ibu sudah punya uang. Ibu pasti beli sepeda untukmu,” janji Indah. Ia membelai puncak kepala Bening. Tetapi Bening tidak mau menunggu, ia ingin mendapatkan sepeda sekarang juga. Ia ingin besok berangkat dengan naik sepeda. Gadis itu kembali merajuk, bibirnya kembali mengerucut. Melihat tingkah Bening membuat Hardy kesal. Bocah manja itu selalu saja seenak perutnya. Dia pikir beli sepeda semudah beli es jeruk di warung. Untuk makan sehari-hari saja susahnya minta ampun, harus bekerja siang dan malam. “Kamu seperti tidak tahu sulitnya mencari uang saja, Bening,” desahnya. Bening melirik Hardy, ia tahu mencari uang itu sulit. karena itulah mereka membutuhkan sepeda agar dapat bekerja dengan lebih mudah. Ah, Kakak tidak sepintar itu rupanya, kata Bening dalam hati. “Harusnya Kakak membeli sepeda dari dulu. Biar kita jualannya tidak capek-capek,” gerutunya. Indah memerhatikan dua anaknya yang kembali memulai pertengkaran mereka. Terkadang Indah heran, mengapa dua anaknya suka beradu mulut lalu terlihat mesra seperti tidak pernah terjadi sesuatu? “Pokoknya belikan sepeda. Se-ka-rang!” Bening melipat dua tangan. “Ibu kan sudah janji. Nanti kalau sudah punya uang pasti dibelikan sepeda,” jawab Hardy dengan nada kesal. “Janji-janji mulu.” Bening semakin kesal, jauh lebih kesal dibandingkan Hardy. “Kamu itu harus mengerti keadaan kita, Bening,” hardik Hardy. “Kakak yang harus mengerti ... pokoknya aku mau sepeda. Se-ka-rang!” teriak Bening.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD