Indah menatap tubuh telanjangnya. Luka memar menghiasi wajah, d**a, lengan bahkan dua pahanya pun dihiasi memar kebiruan. Air matanya meleleh, hati kecilnya sudah tidak sanggup lagi menerima Sardi namun tetap saja ia tidak tahu apa yang terbaik yang bisa ia lakukan.
Ajakan Hardy untuk pergi dari rumah ini kembali terngiang. Hatinya tidak buta, ia tahu anak-anaknya sudah tidak sanggup hidup bersama ayah kandung mereka. Tetapi kemana ia pergi membawa kedua buah hatinya? Sementara ia tidak akan mungkin meminta bantuan keluarganya dan juga tidak memiliki uang yang cukup banyak untuk pergi dari rumah ini.
Indah menghela napas berat, meraih blouse lusuh berwarna abu-abu. Mengancingkannya dengan dua tangan gemetar, isak tangis perlahan lolos dari bibirnya, sepasang matanya mengabur oleh linangan air mata yang luruh tiada henti.
Indah mencuci mukanya beberapa kali, berharap mata bengkaknya sedikit mengempis. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan anak-anaknya. Ia seharusnya menjadi pelindung sekaligus pelipur lara. Tetapi baru saja ia tidak mampu melindungi dua buah hatinya,membiarkan dua anaknya tersiksa luar biasa. Jika ia tidak mampu melindungi anaknya, setidaknya ia bisa menjadi pelipur lara.
Setelah memastikan dirinya berpenampilan lebih baik, ia keluar dari kamar. Sakit bersumber dari d**a membuat langkahnya pelan, setiap tarikan napasnya terasa sakit luar biasa. Tetapi Indah berusaha memberi senyum terindah kepada dua permata yang sedang menatapnya.
Ia menghampiri ikan mujair dan kangkung yang teronggok di teras. Mengambil dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ia ingin membuat makanan enak untuk kedua anaknya, berharap makanan sederhana ini bisa menghangatkan tubuh ringkih buah hatinya.
Indah masih sulit menepis setumpuk lara yang mengganjal di dalam hatinya. Sambil menyiangi kangkung, wanita itu kembali menangis. Sesekali ia terbatuk, memberi tambahan rasa sakit setiap kali batuk dan bahkan masih saja sakit setiap kali menghirup udara.
“Kenapa kamu memberi orang itu uang?” teriak Hardy.
“Ma ... maaf, Kak. Tapi kalau tidak dikasih. Nanti Ayah mukul kita. Aku tidak mau.” Suara isak tangis terdengar, membuat Indah meletakkan setangkai kangkung di atas meja dan menghampiri kedua anaknya.
“Kamu bodoh. Laki-laki itu tetap menyiksa kita meski kamu memberinya uang.” Hardy terdengar semakin berang.
“Tapi, Kak....” Tangis Bening semakin keras. Sementara itu Hardy melotot ke adiknya, membuat tangis Bening tidak berhenti.
Indah mendekati Hardy dan Bening, keduanya sedang duduk bersila, berhadapan di atas lantai di ruang tengah. Ia duduk diantara kedua anaknya, mengangkat tubuh Bening dan mendudukkan gadis itu dalam pangkuannya sementara tangan kanannya diulurkan kepada Hardy, membelai puncak kepala dan memberinya senyum menenangkan. “Maafkan Ibu ya, Nak! Ibu tidak bisa menjaga kalian.” Meski sulit, tapi Indah berusaha meredam perasaannya sendiri. Rasa bagai disayat sembilu, melukai setiap centi hatinya.
Hardy ingin marah kepada ibunya, tetapi saat ia melihat kedua mata sang ibu berkaca-kaca. Hardy mengurungkan niat, ia tidak akan tega mengadili ibu yang sama terluka seperti dirinya. “Bukan salah Ibu.” Suaranya tertahan, sulit menutupi amarah kepada sang ibu.
Hati Indah tersentak, melihat Hardy memalingkan muka setelah berucap adalah cara anak itu menahan kekesalannya. Ia menyondongkan badan, menarik kepala Hardy untuk dipeluk erat, seerat ia memeluk putri cantiknya. Mencium puncak kepala kedua anaknya, mengirimkan sejuta kasih sayangnya. “Ibu jahat ya. Ibu tidak bisa melindungi kalian.” Suara Indah bergetar, bersama air mata yang kembali luruh.
Air mata Hardy ikut luruh, ia merasa sangat bersalah karena marah kepada ibu. “Ini bukan salah Ibu. Maafkan aku, Bu.” Hardy memeluk Indah, menyerap aroma tubuh ibunya dalam-dalam, menekan kepalanya pada d**a wanita tersebut.
Meski harus menahan rasa sakit tapi Indah tidak mengindahkannya. Ia membiarkan Hardy menenggelamkan diri, mendengarkan detak jantungnya yang berdetak kencang. “Ibu sayang kalian. Terima kasih sudah menjadi anak-anak Ibu.” Tuhan tahu seberapa besar cinta kasih Indah.
Setelah beberapa lama, Indah melepas Hardy dan Bening. Membelai wajah kedua anaknya, mencium dahi mereka satu-persatu. “Hardy, jangan marahi Bening! Maksud Adikmu baik,” nasihatnya kepada Hardy.
“Soal itu lain, Bu. Bening sudah membuatku marah sedari pagi. Dia pantas dimarahi,” sungut Hardy.
“Kakak. Jangan marah, ya. Maafin aku!” Bening mencebik, ia menyembunyikan wajah di lekuk leher Indah.
“Bening harus menurut Kak Hardy! Jangan suka buat jengkel Kakakmu, ya?” Indah menasehati si bungsu.
“Bening menurut Kak Hardy. Janji Bu.” Bening mengangkat tangan, menunjukkan jari kelingkingnya. Berjanji akan selalu menurut kepada sang kakak.
Hardy mencibir, ia tahu janji Bening adalah janji palsu. Sejuta kali pun gadis itu berjanji maka sejuta kali pula ia ingkar. Dasar anak kecil, dengusnya dalam hati.
Indah memandang Hardy, meski tahu Hardy masih kesal tapi ia ingin kedua anaknya kembali akur seperti sedia kala. Tatapan Indah pun terbaca, Hardy menghela napas berat. Ia menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Bening. Tapi kali ini ia berjanji jika Bening melanggar janjinya maka tidak akan ada ampun lagi.
Bening lega, akhirnya Hardy mau menerima janjinya. Ia memamerkan deretan giginya saat tersenyum lebar. Kebahagiaan kecil ini menguapkan kesedihan akibat perbuatan ayahnya. Terlebih saat suara gemuruh laksana guntur menggelegar keluar dari dalam perut Bening. Tawa ketiga orang tersebut pecah seketika, membiaskan luka yang baru saja mereka dapatkan.
***
Indah kembali sibuk menyiapkan makanan di dapur. Beban itu masih bercokol kuat dalam sanubari, namun mendengar canda tawa dari anak-anaknya, sedikit mengobatinya. Dua tangannya berjibaku dengan pisau, mengiris bawang merah dan bawang putih. Akan tetapi pikirannya berkelana, memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan esok hari.
Pikirannya kalut, ia sudah tidak memiliki uang sepeser pun. Darimana ia bisa mendapatkan uang jika modal berdagang pun tidak ada? Apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan uang untuk beli beras, membeli lauk dan sayur esok hari dan esok-esok hari lainnya?
Beberapa butir bawang merah dan bawang putih telah diiris. Indah mengambil sebuah tomat berukuran cukup besar, membelahnya menjadi delapan dan beralih kepada lima buah cabe rawit.
Pikirannya masih berkelana, sekalipun dua tangannya bekerja dengan sangat lihai. Menyalakan tungku dengan kayu yang ia dapat dari kebun tetangga. Sebenarnya ia memiliki tabung gas tiga kilo, namun telah habis beberapa hari yang lalu. Karena terlalu sayang apabila harus mengeluarkan uang untuk membeli gas isi ulang maka Indah membuat tungku sederhana dari tumpukan beberapa batu bata. Membiarkan abu pembakaran menghitamkan tembok dan asapnya memenuhi rumah.
***
Hardy duduk bersila di ruang tengah, ia sedang mengajari Bening ilmu matematika. Mengajarkan perkalian yang baginya sangat mudah namun sejak tadi Bening tidak juga mengerti.
Sesekali ia memandang ibunda tercinta. Wanita tersebut dengan gerakan lamban memasak di dapur. Antara ruang tengah yang juga berfungsi ruang makan dengan dapur berbeda ruangan, namun Hardy tetap bisa melihat ibunya melalui pintu pemisah dua ruangan tersebut.
Hardy melihat Indah terbatuk sambil mendekap dadanya. Wajah wanita tersebut menyiratkan bahwa ia sedang sakit. Hal ini membuat Hardy khawatir. Ia meletakkan buku yang sedari tadi ada dalam pangkuannya demi menghampiri ibunya.
“Kakak. Aku belum selesai.” Bening merajuk, PR yang begitu sulit harus segera diselesaikan karena ada PR lain yang juga harus dikerjakan.
Hardy tidak menggubris, ia tetap meninggalkan Bening dan mendekati Indah. Berdiri di tengah pintu, memerhatikan ibunya yang tidak segesit biasanya. Wanita itu berjalan setengah membungkuk, pelan seperti seorang nenek tua renta. Sangat jauh berbeda dari Indah yang dikenal Hardy selama ini.
“Ibu sakit?” Hardy tidak mampu mencegah pertanyaan itu. Bahkan ia yakin sakit yang baru saja dialami sang ibu adalah buah dari siksaan ayahnya.
Indah berdiri di hadapan Hardy, memandang putranya dengan tatapan sendu. Ia membenarkan pertanyaan anaknya tetapi tentu saja ia takkan memberitahukan yang sesungguhnya. “Ibu baik-baik saja,” dustanya.
“Ibu tidak seperti biasanya. Istirahat saja kalau sakit! Biar aku yang masak.” Meskipun sebenarnya Hardy belum pernah memasak sebelumnya, tapi beberapa kali ia mengamati ibunya memasak. Ia yakin bisa melakukannya.
“Jangan! Nanti ikannya gosong.” Indah sedikit berkelakar, namun melihat Hardy bergeming. Indah hanya bisa menghela napas panjang.
Bening mendekati kakaknya, memeluk buku LKS (lembar kegiatan siswa) dimana beberapa soal yang menjadi PR harus dikerjakan. Gadis ini mencebik, menarik ujung kaos Hardy untuk meminta perhatiannya.
“Ibu sakit, Bening.” Hardy menengok Bening setelah gadis itu menarik ujung kaosnya. Meminta pengertian si bungsu super manja yang sangat ia sayangi.
Bening terbelalak kaget, memandang ibunya yang kembali terbatuk-batuk. Ia menjadi khawatir dengan kondisi ibunya. Ini pasti karena ibu memasak pakai kayu, pikir Bening. “Pakai tabung gas dong, Ibu,” celetuknya.
Indah tersenyum hambar, andai ada uang untuk membelinya sudah pasti ia sudah membelinya. Tetapi mana mungkin ia mengeluh kepada dua anaknya. Indah hanya bisa meredam perasaannya sekaligus membesarkan hati anak-anaknya. “Tunggu sebentar. Tinggal menunggu pepes mujair,” katanya.
Bening mengerucutkan bibir. Ia ingin makan ikan mujair goreng, bukan pepes ikan mujair. “Aku mau mujair goreng,” protesnya.
Hardy melirik Bening, menjentikkan jarinya di dahi gadis yang hanya setinggi pundaknya. Anak kecil satu ini tidak tahu kalau minyak goreng sangat mahal. Pepes mujair juga sudah cukup bagus untuk mereka santap.
“Apa?” Bening tidak terima, ia menggosok dahinya yang panas setelah dijitak Hardy. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu sehingga ia membalas kakaknya dengan menginjak kakinya kuat-kuat. Membuat Hardy mengadu kesakitan.
“Dasar Bening. Nakal kamu!” maki Hardy. Ia menjewer telinga adiknya, membuat gadis itu menjerit kesakitan.
Bening tidak mau kalah, ia menarik lengan Hardy lalu menggigitnya kuat-kuat. Kali ini Hardy menjerit kesakitan, ia mendorong Bening sekaligus menarik lengan dari tancapan gigi-gigi tajam gadis itu. “Gigimu lancip seperti gigi ikan mujair,” cibirnya.
Mendengar olok-olokan Hardy, Bening melotot. Ia menubruk badan Hardy dan terjadi pergulatan hebat diantara kakak beradik itu. Berguling-guling di atas lantai yang dingin. Bening berusaha menggigit Hardy sementara Hardy mendorong badan Bening yang melekat kuat padanya.
Melihat perseteruan dua anaknya, Indah menjerit. “Sudah berhenti!” Ia menarik badan Bening. Melepaskan gadis yang sedang mengamuk.
“Kak Hardy nakal, Bu,” lapornya.
“Bening, Bu. Sudah jelek, bodoh lagi.” Hardy tidak mau kalah.
Adu mulut kini terjadi, kepala Indah serasa mau pecah mendengar jeritan anak gadis dan ucapan anak lelakinya. “Sudah hentikan! Uhuk-uhuk.” Indah batuk hebat, badannya sampai berguncang hebat dan akhirnya merosot karena badannya tiba-tiba lemas.
Melihat kondisi ibunya, sontak kedua anaknya berteriak bersamaan. “IBU....”