Kemarahan Ayah

1575 Words
Hardy berdiri di teras rumah dalam keadaan basah, tangan kanannya masih menggenggam ilalang dengan sepuluh ekor mujair hasil tangkapannya. Rahangnya mengeras, gigi geliginya bergemulutuk. Paduan antara kedinginan sekaligus kemarahan. Hardy melirik kotak yang teronggok di dekat pintu dengan segulung uang hasil jualan di dalamnya. Bening menggigil, perpaduan antara kedinginan dan ketakutan. Ia memandang sang ayah sembari merapatkan tubuhnya pada Hardy. Perlahan gadis itu menyembunyikan dirinya di belakang Hardy. Mencari perlindungan dari kakaknya, gadis itu merasa sang ayah sedang sangat marah besar dan entah apa yang bisa dilakukan pria itu kali ini. Indah memejamkan mata, berharap Sardi tidak melakukan apapun kepada anak sulungnya. Sekalipun ia sadar harapannya adalah sebuah ketidakmungkinan namun itulah yang ada dalam benaknya. Sebaliknya, kelegaan muncul dalam hati Sardi. Kerongkongannya sedang sangat kering dan perlu dibasahi minuman keras. Otaknya serasa beku jika tidak tersirami oleh kehangatan minuman itu. Pria itu mengangkat ujung bibirnya, “mana uangnya?” Suaranya lebih terdengar seperti geraman. Sardi menadahkan tangan. Hardy melirik sang ibu, melihat wanita itu menggeleng pelan sebelum kembali menatap ayahnya. “Aku tidak punya uang,” jawabnya singkat. Waktu serasa berhenti seketika. Tiga manusia sedang berdiri kaku, sekaku tubuh Sardi yang menegang karena diliputi amarah menggunung dan siap diletuskan. “Cepat ... aku tidak punya waktu.” Sardi sedang berusaha menahan diri. Ia tidak ingin dicap sebagai orang bertemperamen buruk, walaupun sebenarnya memang demikian. Hardy berkeras hati, mata batinnya menatap gulungan uang yang ia simpan di dalam kotak kue. Ia berharap sang ayah tidak melihatnya. Uang tidak  seberapa itu hanya cukup untuk dijadikan modal dagangannya esok hari. “Hardy. Kamu tidak mendengar ayahmu?” Sardi menggeram, satu tangannya masih setia menunggu uang datang. Ia mendesis, menunggu bukanlah hal yang sangat disukainya, tapi biarkan untuk sementara ini ia melakukannya. Ia hanya tidak ingin tangannya kembali panas karena harus menampar pipi mulus anak sulungnya. Tetapi semenit berlalu, bocah itu masih bergeming. Anak sialan yang tidak tahu diuntung itu sedang menguji kesabarannya. Sekali lagi ia mendesis, baru saja ia ingin bersabar tapi anaknya sudah membuat kesabarannya hilang. Sekali lagi Sardi menggerakkan tangannya yang terbuka sementara tangan lainnya terkepal. Tetapi apa yang diinginkannya belum kunjung didapat. Tangan kanan Sardi terangkat lalu melesak cepat, menampar pipi kiri Hardy hingga bocah itu tersungkur. Pipinya panas, rasa tamparan itu pun menyisakan telinga yang berdengung-dengung dan matanya serasa melihat ribuan bintang di angkasa. Tamparan itu hanyalah awal dari siksaan fisik selanjutnya. Hardy bahkan belum sempat berdiri saat siksaan lain harus ia dapatkan. Hadiah bagi seorang pembangkang adalah cambukan keras ikat pinggang berkali-kali. Itulah ganjaran yang didapat Hardy karena melawan Sardi. Hardy meringkuk menahan rasa kebas akibat cambukan di punggungnya. Ia melingkarkan tangan di kepala, melindunginya dari cambukan itu. Matanya terpejam erat, sakit luar biasa masih dirasakannya. Melingkarkan tubuh seperti kura-kura masuk ke dalam cangkangnya. Andai saja bisa seperti itu maka cangkang yang keras mampu melidunginya. Tetapi sayangnya, lapisan kaus lusuh yang melekat erat di tubuhnya tidak mampu meredam sakit bertubi-tubi. Indah menahan tangan Sardi, memohon dengan berlinang air mata. Menggeleng keras dengan suara isak tangis yang tidak mampu ia redam. “Jangan sakiti Hardy, Mas!” Indah memandang Hardy, bocah itu masih meringkuk di tempat yang sama. Bening memeluk satu kaki Sardi, memohon agar sang ayah tidak lagi mencambuk kakaknya. Tangisnya pecah, memandang Hardy yang tidak berdaya. “Jangan sakiti Kak Hardy, Ayah! Ambil uangnya tapi jangan pukul Kakak!” Gadis ini sangat putus asa, ia tidak akan sanggup jika harus melihat Hardy kembali harus tersakiti. Namun tidak demikian dengan Hardy. Ia rela harus menderita asalkan uang itu tidak dibawa ayahnya. Sedikit uang itu bisa dijadikan modal dagang untuk esok hari. Sungguh sangat b******k, mengapa seorang ayah bisa bertindak sedemikian kejam. Adakah nurani dalam hatinya? Hardy memandang nanar Sardi, sepasang matanya mengobarkan api kemarahan. Perasaan itu begitu besar hingga mengaburkan rasa kebas, rasa perih dan rasa panas yang seharusnya masih bisa ia rasakan. “Kenapa kamu melihatku seperti itu, ehm?” Sardi melihat amarah Hardy, membuat pria itu kembali geram. Ia melangkah, ingin kembali menyiksa Hardy yang sudah berani menantangnya. Tetapi Indah mencegah sekuat tenaga dan Bening semakin memeluk kakinya erat. “Lepaskan!” teriak Sardi. “Bunuh saja anakmu daripada kamu menyiksanya terus!” Dalam keputusasaan, Indah menjerit. “Jangan pukul Kakak, Ayah!” Bening bertekad tidak akan melepaskan ayahnya, ia tidak ingin Hardy kembali disiksa. “Dasar anak tidak tahu diuntung!” Sardi mendorong tubuh Indah, wanita tersebut jatuh di dekat Hardy. Seketika ia bangkit, memeluk tubuh sang putra, menjadi tameng pelindung bagi anaknya. “AYAH!” Bening terpekik, ia masih memeluk kaki ayahnya. Walau tangisnya semakin keras dan apapun bisa terjadi kepadanya namun nyalinya tidak pernah menciut. Dalam pikiran anak itu hanya bagaimana melindungi kakaknya. Sardi memandang Bening, anak lemah dan tidak bermanfaat itu hanyalah pengganggu saja. “Lepaskan aku bocah nakal!” Sardi menjambak rambut Bening, begitu kerasnya hingga rasa panas dan sakit berdenyut-denyut dirasakan Bening. Melihat hal tersebut, Indah berteriak histeris. Merebut tangan Sardi dan berupaya melepaskan genggamannya dari rambut Bening. “Maafkan dia, Mas! Dia hanya anak kecil.” Indah tidak mampu lagi meredam tangis. Sardi menyentakkan tangannya, melepas rambut Bening dan mengibaskan tangan untuk membuang rambut panjang anak kandungnya yang tercabut, menggosokkannya ke celana sampai rambut itu benar-benar hilang. Indah merenggut sang putri, menariknya dan memasukkannya ke dalam pelukan. Dengan susah payah ia bergeser mendekati putranya, memeluk kedua anak yang sangat berbakti kepada dirinya. Sungguh perbuatan Sardi tidak termaafkan, tetapi ia tidak memiliki daya apapun untuk melawannya. Dalam hatinya masih berharap suatu hari pria itu kembali seperti sedia kala, menjadi seorang suami yang sabar dan ayah yang sangat penyayang. Tiga anak manusia lemah itu hanya duduk saling berpelukan, bertahan dari amukan pria kurus yang sejatinya adalah penanggungjawab keluarga, pemberi nafkah lahir dan batin anak istrinya. “Bening, Sayang. Katakan pada Ayah! Dimana uang itu disimpan Kakakmu? Kalau kamu memberi tahu Ayah, Ayah janji tidak akan memukulmu.” Sardi berlutut, menyentuh puncak kepala Bening. Bening meringsut, menunduk dalam-dalam. Seluruh tubuhnya bergidik ngeri, pikirannya dipenuhi siksaan-siksaan lain yang bisa saja ia dapatkan. “Kamu anak baik kan?” Cara lain digunakan oleh Sardi, berharap dengan cara ini anak bungsunya bisa menyerahkan uang yang sangat dibutuhkannya. “Atau kamu ingin Ayah memukulmu, kakak tersayangmu dan ibumu?” imbuhnya. Seringai menyeramkan tergambar pada satu sudut bibirnya. Tidak ...  teriak batin Bening alih-alih wajah gadis kecil itu merebak, memerah dan airmata berlinang dengan mudahnya. Ia menggeleng pelan namun cepat. Ia tentu saja tidak ingin menerima siksaan lagi. Bening hendak berdiri namun lengannya dicekal Hardy, bocah  laki-laki berparas manis itu menggeleng, melarang Bening beranjak dari tempatnya. Apapun boleh terjadi tapi uang itu tidak boleh dirampas darinya. “Bening....” untuk ke sekian kalinya Sardi mencoba sehalus mungkin namun itu bukan hal mudah baginya. Ah, tetap saja Sardi berusaha keras demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan. Bening memandang Hardy. Lelaki pelindungnya menggeleng pelan, memberi isyarat agar Bening tidak menuruti perintah ayahnya. Gadis itu kebingungan, memandang ayah dan kakaknya bergantian. Menimbang apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi ia takut kemurkaan ayah, di sisi lain ia takut Hardy marah kepadanya. Bening dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat sulit. Sardi dan Hardy sama-sama orang yang keras dan sulit dibantah. Terhadap Sardi, Bening sangat takut disiksa tetapi terhadap Hardy ia takut bila kakaknya tidak lagi membantunya belajar dan  tidak mengajaknya bepergian. Sekali lagi Bening memandang kedua lelaki yang sedang menunggunya. Memikirkan apa yang harus ia lakukan. Jika memberi uang itu maka ayahnya akan pergi tapi tentu saja ia harus menghadapi kemarahan Hardy. Tetapi jika menurut kepada Hardy maka sudah jelas ia, kakaknya dan ibunya akan disiksa habis-habisan. Bening tidak ingin kedua orang yang sangat disayanginya terluka. Ia memberanikan diri memilih melawan Hardy demi menolong kakak dan ibunya. Gadis itu perlahan menarik lengan dari genggaman tangan Hardy. Segera ke teras untuk meraih kotak dan membukanya, mengambil gulungan uang dan menyerahkannya ke Sardi. Hardy berang, ia mengabaikan rasa sakit luar biasa kala ia bergerak. Ia tidak ingin menyerahkan uang itu. Dasar Bening, kenapa semudah itu ia menyerahkannya setelah seharian berkutat dengan kue dan berjalan dalam hujan hampir setengah hari. Didera kemarahan, Hardy berlari mendekati Bening namun sayang Sardi lebih dulu ada di hadapan Bening dan berhasil merenggut uang tersebut. “Jangan ambil uang itu!” Hardy berusaha merebut uang yang sudah digenggam Sardi. Dengan tangan dingin, pucat dan mengkerut. Ia sekuat tenaga membuka genggaman tangan sang ayah, namun semua sia-sia. Justru yang ia dapatkan adalah dorongan kuat hingga membuatnya terjerembab dengan sangat keras. Begitu kerasnya hingga ia sangat kesakitan walau rasa itu ditahan sekuat tenaga. Hardy berusaha bangkit, berusaha mendapatkan satu-satunya uang yang ia miliki. Tidak peduli jika luka-luka akibat siksaan fisik kembali ia dapatkan. Sebuah tendangan kuat dan tamparan keras tidak menyurutkan niatnya, uang tidak berhasil ia dapatkan tapi pukulan dan tendangan bertubi-tubi justru ia dapatkan. Melihat kondisi ini, Indah menjerit lalu berlari secepat yang ia bisa. Merengkuh tubuh anak lelakinya. Menjadi cangkang untuk melindunginya dari tendangan kuat sang suami yang kalap. “Jangan siksa dia lagi! Uang itu sudah kamu dapatkan,” teriaknya. Indah berlutut membelakangi Hardy, dua tangannya direntangkan, tatapannya penuh kobaran api kemarahan. Perbuatan Sardi kali ini sudah sangat kelewatan. Ia takkan sanggup melihat anak-anaknya lebih terluka dari sekarang. Untuk ke sekian kalinya, Sardi menendang dengan kekuatan penuh. Tendangan itu mengakibatkan luka luar biasa pada d**a Indah. Sakitnya serasa ada ledakan bom bersumber dari jantungnya. Demi anak-anaknya, Indah menelan rintihan sakit. Ia tidak ingin menunjukkan bahwa luka yang ia dapat kali ini sangat menyiksa. Ia tidak ingin membuat anak-anaknya khawatir kepadanya. Biarkan aku yang menerima ganjarannya. Anak-anakku adalah permata yang harus kujaga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD