Kala Hujan Tertawa

1634 Words
Hardy menghentikan langkah, memutar badan dengan tangan terkepal. Memandang seorang gadis kecil memakai kaos putih lusuh dengan rok biru dihiasi noda berwarna coklat, baju yang kotor terkena tanah basah saat ia jatuh tadi. Dua tangan gadis itu bertaut, matanya sembab namun sebuah senyum lebar sedang dipamerkan. Tahu sedang dipandangi sang kakak, Bening berlari kecil mendekatinya. Menarik tangan Hardy dan kembali memamerkan senyum cantiknya. “Kakak, maafin aku ya.” Sebuah cengir nakal muncul, membuat Hardy mendecak. Sadar bahwa sang adik sedang berusaha merebut hatinya. Hardy menarik tangannya, tanpa berbicara ia segera melangkahkan kaki. Ia mendongak, menatap langit berwarna abu-abu yang semakin memudar. Memejamkan mata, merasakan embusan udara dingin menerpa tubuhnya. Apa yang harus ku katakan ke Ibu? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang bisa ku lakukan? Sesaat, Hardy meratapi nasibnya. Hari ini hari yang cukup sial. Hujan membuat dagangannya tidak laku, hujan membuat warung banyak yang tutup, hujan membuat kue yang jatuh tidak bisa dijual lagi. Kenapa hari ini hujan turun? Setetes air membasahi pipi Hardy, diikuti tetesan lain yang membasahi mata, dahi dan perlahan tetesan itu semakin rapat. Alih-alih menangis, Hardy justru tertawa. Ia menertawakan kehidupan yang sedang mempermainkan hidupnya. Bening menengadah, memandang langit berhias tetes-tetes air. Mengangkat tangan, menerima tetesan hujan dengan telapak tangannya. Senyum lebar kembali merekah, doanya dikabulkan. Baru gerimis, tapi Bening yakin sebentar lagi hujan akan semakin deras. Hardy tidak mampu meredam perasaannya, kemarahan sedang menguasai dirinya. Ia mengepalkan tangan, mencengkeram keranjang sekuat tenaga. Berlari sekencang ia bisa, mencipratkan air dari kubangan saat ia menginjaknya. Hujan sedang tertawa riang, menertawai dirinya, menertawai nasibnya, menertawai ketidakmampuannya. Ia sanggup melawan teriknya matahari tapi tidak mampu melawan derasnya hujan. Hujan adalah hal yang paling dibencinya. Melihat Hardy berlari, Bening pun ikut berlari. Mencipratkan air dari tiap kubangan yang sengaja ia injak. Pada awalnya ia gembira, berlari saat hujan adalah permainan yang menyenangkan. Namun saat mengetahui Hardy sama sekali tidak menoleh, ia menjadi kesal. “KAKAK. TUNGGU AKU!” Bening mengerahkan tenaganya, mengejar Hardy dengan langkah kecilnya tetapi jarak antara keduanya justru semakin menjauh hingga puncaknya Bening terpeleset, membuat tubuhnya mendarat telentang, mendarat dengan kepala membentur tanah basah dan lembek. Bening menangis, ia marah kepada Hardy karena sudah berani meninggalkannya. Membiarkan dirinya terus telentang sampai kakaknya datang membantu. Membiarkan hujan menusuk kulitnya, memberi rasa geli setiap kali menyentuhnya. Hardy mendengar suara teriakan Bening, gadis itu pasti sedang mengejarnya. Ia sengaja semakin mempercepat larinya, biar gadis itu tahu rasa. Tetapi mendengar adiknya kembali menangis membuatnya berhenti. Ia memutar badan, melihat adiknya terpeleset sampai akhirnya jatuh telentang. Gadis itu tidak segera berdiri, ia menjadi sangat khawatir dengan adiknya. Hardy memandang Bening dengan dua alis bertaut, pada awalnya ia berpikir Bening masih menangis. Tetapi kenyataannya, gadis itu justru sedang bermain-main, membuka mulutnya lalu menutupnya kembali, persis seperti seekor ikan. “Apa yang kamu lakukan Bening?” Hardy menendang ringan kaki Bening, mata gadis itu segera beralih kepadanya. “Kakak. Aku jatuh....” Bening memelas, mengulurkan tangan kanan, meminta Hardy membantunya berdiri. “Dasar manja!” Meski demikian Hardy tetap membantu Bening berdiri. “Kakak ... masih marah? Maafin aku ya!” “Sudahlah, ayo pulang!” Hardy memutar badan, bersiap kembali berjalan pulang. “Kakak. Kakiku sakit.” Bening kembali merengek, berjalan setengah pincang. Ia meringis, berpura-pura sedang sangat kesakitan. Hardy menahan napas sebentar, mengembuskan perlahan ke udara. Mengepalkan tangannya, memejamkan mata erat. Menahan kesal yang kembali datang. “Kakak....” “Iya. Iya.” Hardy jongkok sambil  menoleh. Kode yang sudah bisa dibaca oleh Bening. Gadis kecil itu senang karena entah ke berapa kalinya Hardy tertipu olehnya. Tanpa membuang waktu, Bening menubruk punggung Hardy hingga bocah bongsor itu hampir terjatuh. “Bening, hati-hati!” Hardy mendecak, ingin sekali mencubit pipi gadis itu namun ia tidak ingin Bening semakin menjadi sehingga Hardy memilih menahan perasaannya. Bening memeluk Hardy erat, melingkarkan kedua kakinya di pinggang Hardy. Lelah kaki yang sedari tadi ia tahan akhirnya bisa diistirahatkan. Bagi Bening, Hardy adalah malaikat pelindungnya. Tidak peduli sekesal apapun anak laki-laki itu, pasti akan luluh juga. Tiba-tiba hujan kembali deras, menemani langkah seorang kakak yang sedang menggendong adik kecil di punggungnya. Lelah teramat sangat dirasakannya, tetapi ia berusaha kuat menahannya. Walau ia kesal dengan dirinya sendiri yang selalu kalah oleh bening. Bening, sampai kapan kamu seperti ini? *** Hardy berdiri di depan rumahnya namun ia tidak segera masuk. Hanya memandanginya di luar pagar terbuat dari bambu. “Kakak....” Dari balik punggung Hardy, Bening memandang sang kakak. Dahinya mengkerut, berpikir kenapa tidak segera masuk. “Bening. Mau main hujan-hujan?” tanya Hardy. Bening tersenyum, tentu saja ia mau. Ia menepuk pundak Hardy, meminta sang kakak menurunkannya dari gendongan. “Kita main ke sungai!” Hardy meletakkan kotak kuenya di dalam pagar rumah. Sesaat ia kembali memandang rumahnya sebelum ia menarik tangan Bening, mengajak adiknya berlari menuju sungai yang tidak jauh dari rumahnya. *** Bening tertawa senang, berlari mengejar Hardy. Setelah menepuk punggung Hardy, giliran Hardy harus mengejar Bening. Berusaha menepuk punggung Bening. Hujan yang pada awalnya membuat Hardy sedih, kini hujan membuatnya senang bisa bermain bersama sang adik. Derai tawa keluar dari bibir-bibir mungil sedikit membiru karena kedinginan, bermain hujan-hujan membuat segala masalah seperti lenyap walau sementara.  Hardy tersenyum kecil,  memandang kangkung menutupi sebagian sisi sungai. Tumbuhan satu ini bisa membantu membuat perut keluarganya kenyang. Yang lebih penting lagi adalah tidak perlu membayar sepeserpun dan bisa mengambil sebanyak yang ia mau. “Kamu mau makan sayur kangkung kan, Bening?” Tatapan Hardy tidak beralih dari kangkung. Bening tidak sedang memandang kangkung seperti halnya Hardy. Sebaliknya, Bening sedang memandang seekor ikan mujair berukuran cukup besar, sebesar telapak tangan Hardy, sedang berenang di permukaan. “Aku mau ikan itu, Kak.” Bening menunjuk ikan mujair. Air liur menggenang di dalam mulutnya, membayangkan betapa enak ikan mujair itu jika digoreng dan dimakan dengan sepiring nasi hangat. Hardy dan Bening saling bersitatap, senyum lebar menghiasi wajah mereka. Tanpa membuang waktu, keduanya menceburkan diri ke sungai. Hardy mencari ikan, sementara Bening memetik kangkung. “Ibu pasti senang kalau kita bawa ikan dan kangkung ya, Kak?” Bening memandang sang kakak yang sedang konsentrasi menangkap ikan. Hardy mengendap-endap, memandang seekor ikan mujair dengan ukuran sebesar telapak tangannya. Perlahan ia mendekatkan tangan, dengan sigap Hardy mampu menangkapnya. “Bening. Ini lauk untukmu.” Hardy mengangkat ikan tinggi-tinggi. Senyumnya lebar, puas setelah berhasil menangkap ikan. Bening ikut mengangkat segenggam kangkung yang ia dapat. “Ini sayur untukmu, Kak.” Tawa riang kembali keluar dari bibir-bibir sedikit membiru karena kedinginan. Hardy mencabut setangkai ilalang, memasukkannya ke mulut ikan dan mengeluarkannya melalui insang. Satu ikan belum cukup untuk mengenyangkan perut tiga orang sehingga Hardy kembali berburu. Dengan serius, ia memandang sungai keruh untuk mencari ikan lagi. *** Hardy puas sekali, sepuluh ikan mujair sebesar telapak tangannya sudah didapat. Ibunya akan makan tiga ekor, adiknya akan makan tiga ekor dan untuk dirinya sendiri empat ekor. Hardy membayangkan makan sayur tumis kangkung dengan ikan goreng atau ikan bakar, meski tanpa nasi tetap saja enak. Begitu juga Bening, ia sedang membayangkan makan malam yang enak sekali. Nasi yang mengepul, sayur tumis kangkung dan ikan goreng, ehm pasti sedap. Perut Bening bergejolak, ia sudah tidak sanggup menahannya. Ia menarik tangan Hardy, mengajaknya berlari agar cepat sampai di rumah. *** Sardi menendang pintu rumah dengan tenaga penuh, membuat suara keras saat daun pintu menabrak dinding. Membuat perhatian Indah segera tertuju kepadanya. Wanita itu sedang duduk di ruang tamu sambil menjahit tas putranya, menutup lubang pada tas itu. Mata mereka bertemu, mata merah karena marah dan mata merah karena lelah. Waktu seolah berhenti, kedua orang itu bergeming. Saling memandang dengan perasaan masing-masing. Sungguh ini adalah mimpi buruk bagi Indah, pria itu sudah pulang untuk kedua kalinya dalam satu hari ini. Entah apa yang ada dalam benak pria itu sampai ia kembali pulang setelah tadi... “Wanita sialan! Apa yang kamu katakan ke Mbok Pah sampai wanita itu tidak memberiku rokok?” Sardi mendekati Indah, melayangkan sebuah tamparan kuat yang tidak mampu ditolak, memberi rasa panas di pipi, kepala dipenuhi bintang dan telinga berdengung-dengung. “Mas. Kenapa kamu? ... aku tidak mengatakan apapun ke Mbok Pah.” Indah memejamkan mata erat, seluruh tubuhnya bergidik ngeri. Sekalipun sering mendapat kekerasan fisik namun Indah tetap saja tidak siap menerimanya. “Alah. Kamu pasti sengaja biar aku tidak bisa berhutang lagi, iya kan?” Sardi menarik kerah baju Indah, wajah mereka hanya berjarak setengah centi saja hingga napas busuknya masuk melalui lubang hidung Indah. Membuat perut wanita itu bergejolak dan ingin muntah. “Aku memang belum bayar hutang, Mas. Dagangan kita sepi.” Indah menatap mata Sardi dengan linangan air mata. “Kamu pikir aku bodoh, hah?” Tangan Sardi kembali melayang, mendarat keras ke pipi bekas ditamparnya tadi. Rasa panas terasa membakar telapak tangannya namun kemarahan membuatnya kembali melayangkan tamparan untuk ketiga kalinya. “Ampun, Mas. Ampun!” Indah menggulung tubuhnya, menyembunyikan wajah dengan dua tangannya. Sardi berdiri, napasnya terengah-engah, ada satu orang lagi yang bisa memberinya uang. Anak itu pasti ada di dalam kamarnya, pikir Sardi. Tetapi saat tahu Hardy tidak ada di seluruh penjuru rumah ini. Pria itu kembali mendekati Indah. “Dimana Hardy?” tanyanya. Indah terkejut, pria itu tidak cukup hanya menyakitinya. Ini tidak boleh dilakukan? Sardy tidak boleh menyakiti Hardy. Tidak ... jangan Hardy, jangan Bening. Jangan anak-anakku. “Ken ... kenapa mencari ... Hardy?” Batin Indah menjerit, ia tidak akan sanggup melihat Sardi memeras Hardy. Anak itu sudah terlalu menderita, ia tidak ingin melihat anaknya lebih menderita dari sekarang. “Anak itu pasti bawa uang. Aku butuh uang itu.” Sardi memandang keluar rumah, berharap anak itu segera pulang. “Jangan, Mas! Jangan sakiti Hardy. Dia anakmu.” Indah memohon, ia mendekati Sardi dan memeluk kaki suaminya. “Memangnya apa yang mau aku lakukan kepadanya? Dia anakku. Dia harus menurut padaku.” Sardi berdiri angkuh, memandang Indah memeluk kaki dengan derai air mata. “Jangan ambil uang Hardy! Kasihanilah anakmu!  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD