Bening berbaring di atas brankarnya saat dokter kembali menjahit lukanya. Gadis itu hanya memandang lukanya yang sedang dijahit, tatapannya kosong seolah tidak ada kehidupan disana. Dokter telah selesai melakukan tugasnya, ia kemudian membalut luka tersebut. Dokter itu hanya menarik napas dalam, gadis di depannya pasti di ambang kegilaan sampai berani melakukan hal sebodoh ini. “Jangan lakukan lagi! Kamu gadis cantik, masa depanmu masih sangat panjang,” nasehatnya.
“Terima kasih, dokter.” Bening tidak benar-benar ingin mengatakannya. Ia hanya ingin dokter itu pergi dan membiarkannya sendiri.
“Tolong jaga adikmu! Anak-anak jaman sekarang nekat-nekat.” Dokter melepas kaos tangan latexnya, ia memeriksa tangan Bening sekali lagi sebelum ia memutuskan keluar dari ruangan tersebut.
Pria itu sempat terkejut namun akhirnya ia hanya bisa tersenyum kecut sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Gadis itu memang secantik boneka manekin sementara dirinya lebih mirip raksasa bila berada di sampingnya. Pantas saja dokter itu menganggapnya sebagai saudara laki-laki gadis ini, bukan sebagai pasangan dewasa seperti yang sangat diinginkannya.
Entah mengapa melihat Bening membuat hatinya berdebar-debar. Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Tetapi gadis ini pasti memiliki masalah berat hingga sampai senekat ini dan ia sangat penasaran masalah apa yang dihadapinya. Apakah soal uang? Atau cinta? Entah mengapa kemungkinan terakhir membuat sisi lain dirinya merasa cemburu.
“Apakah sakit? ... Pasti sakit.” Pria itu ingin menggigit bibirnya sendiri. Ia boleh seorang pria pandai, tapi selalu jadi bodoh jika berhadapan dengan seorang wanita.
Bening memandang pria asing di hadapannya, pria itu berdiri di sebelah brankar masih dengan memandangnya saksama. Ia tidak pernah menyangka akan ada orang yang peduli dengannya atau mungkin pria ini bekerja di rumah sakit ini jadi ia merasa bertanggung jawab? Apapun alasannya, Bening tidak suka dengan hal ini.
Merasa diperhatikan, pria itu merasa canggung. Demi Tuhan, ia tidak pernah canggung apalagi di hadapan wanita, ehm gadis yang mungkin masih remaja ini. “Kamu tidak perlu berterima kasih, senang melihatmu selamat.” Oh sial, tidak seharusnya merasa kepedean seperti ini.
Bening mendesah, ia menarik napas panjang sebelum memutuskan membuang muka. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, jadi ia lebih memilih untuk diam.
“Namaku Ari, Ari Wiratya.” Pria bernama Ari tersebut mengulurkan tangan, namun sayang tangan mungil Bening masih belum bergerak dan masih tetap berada di pangkuannya.
Ari menarik tangannya, ia merasa geli dengan apa yang ia lakukan. Gadis ini benar-benar tidak menghiraukannya. “Apa tidak ada keluarga yang mendampingimu?” Setidaknya Ari berpikir harus melelehkan keheningan ini.
“Terima kasih atas bantuannya. Saya sudah tidak apa-apa sekarang.”
Ari terkejut dengan ucapan gadis itu, ia tahu ini adalah salah satu cara mengusir secara halus. Seorang Ari yang tampan diusir oleh gadis manekin? ... sangat tidak masuk akal.
Suasana kembali senyap, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Bening melirik, Ari masih berdiri terpaku di tempatnya. Pria asing ini benar-benar aneh, bagaimana mungkin ia bisa bertahan dengan seseorang yang asing sepertinya.
“Aku punya banyak waktu. Aku bisa menemanimu selama keluargamu pergi.” Ari menarik sebuah kursi, ia duduk di samping brankar Bening.
“Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.” Bening sudah terbiasa dengan kesepian. Sunyi adalah teman baiknya dan ia memang merasa baik-baik saja sekarang.
“Aku takut kamu berbuat nekat seperti tadi.” Ari bersikeras, ia ingin berlama-lama dengan Bening. Ia ingin berkenalan dan berhubungan lebih jauh dengannya, mungkin menjadi teman adalah pilihan yang baik sebelum pendekatan selanjutnya.
“Aku tidak punya keluarga. Aku bisa sendiri jadi kamu tidak perlu repot menjagaku. Aku bisa sendiri.” Kedua alis Bening bertaut, kali ini ia memandang Ari saksama.
“Kita belum berkenalan. Namaku Ari Wiratya, kamu bisa panggil aku Kak Ari atau Mas Ari juga boleh.” Ari melipat kedua tangan di depan d**a. Sejenak pria itu membuat Bening terpesona. Seandainya Hardy ada, pasti kakaknya memiliki postur bagus seperti pria ini. Lima belas tahun telah berlalu, tetapi sosok Hardy tidak akan pernah lekang oleh waktu. Senyumnya, tawanya, marahnya dan semua yang ada pada kakaknya masih melekat di ingatan Bening.
Dipandang saksama benar-benar membuat Ari ingin menjadi seekor kutu yang tidak terlihat. Gadis ini tidak memiliki rasa canggung sama sekali, terlalu berani untuk memandang dirinya lekat-lekat. Oh Tuhan, Ari benar-benar ingin mengenal kepribadian gadis ini.
“Apakah ada yang salah denganku?” Ari benar-benar penasaran, apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.
“Tidak ada. Maaf, tapi saya harus istirahat.” Untuk kedua kalinya, Bening memberi isyarat agar pria itu segera enyah dari pandangannya. Ia tidak memiliki ketertarikan untuk berhubungan dengan orang lain. Kecuali dengan orang-orang yang memang sejak awal sudah mengelilinginya.
“Kenapa kamu ingin aku pergi? Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin ... menjagamu sebelum keluargamu datang.” Ari bersikeras, ia teringat akan ucapan saudara lelakinya. Ari kerap menolak gadis yang menyukainya, suatu saat ia pasti mendapat balasannya. Ari tidak pernah berpikir sekarang ia benar-benar ditolak seorang gadis.
Bening hanya memandang Ari tanpa berbicara sepatah katapun. Ia lelah ... sangat lelah. Ia tidak lagi peduli dengan sosok Ari. Toh nanti jika ayahnya datang, Ari pasti menyesal telah bertemu dengannya. Sardi pasti akan membuat Ari membencinya. Seorang pria yang lebih sering terlihat setengah mabuk atau gila tidak akan memberi kesan baik.
Bening memutuskan berbaring dan menarik selimut hingga ke lehernya. Ia menghadap tembok untuk membelakangi Ari. Ia tidak dapat terpejam, bukan karena ada Ari di sisinya tetapi ia sedang mengasihani dirinya sendiri. Ia mengasihani semua yang terjadi di dalam hidupnya.
Air mata kembali mengalir, Bening memeluk tubuhnya sendiri. Kematian seolah sangat membencinya sehingga setiap kali ia mendekat, kematian justru menjauhinya. Kehidupan sedang mempermainkannya, Bening sangat meyakini hal itu. Kehilangan segala yang ia punya tidak cukup, ia justru harus hidup bersama orang yang sangat dibencinya.
Isak tangis perlahan keluar dari bibir Bening dan tertangkap oleh pendengaran Ari. Rasanya Ari ingin mendekap tubuh gadis itu dan menenangkannya. Apapun masalah yang dihadapi gadis itu, pasti sangat sulit. Lagi-lagi ucapan itu keluar di hati Ari.
Ari hanya duduk tanpa suara, ia mendengarkan isak tangis tertahan dari Bening hingga akhirnya suara itu menghilang. Perlahan Ari bangkit, ia berjalan memutar dan berhenti tepat di sebelah Bening. Ia terpesona melihat Bening yang sedang tertidur, meski wajah gadis itu murung namun entah mengapa gadis itu tetap terlihat sangat cantik.
Aku tidak akan pernah membuatmu menangis lagi! Aku akan membuatmu tertawa. Gadis manekin, aku akan datang lagi. Ari ingin menyentuh Bening, namun ia merasa menjadi orang m***m jika melakukannya. Ari memutuskan melangkah keluar, ia tidak mau terlalu lama disini walaupun sebenarnya sangat ingin. Ari tidak akan memenjarakan dirinya dengan seseorang yang bisa menimbulkan hasrat terpendam. Setidaknya tidak sekarang.
***
Mendengar penuturan perawat tentang apa yang dilakukan Bening membuat Sardi meradang. Apa sih yang ada di otak gadis itu sampai berbuat senekat itu? Sardi melangkah menuju ruang inap Bening. Gadis itu masih tertidur saat ia datang, terlalu lelap hingga kursi diseret hingga berdecit pun Bening tetap tidak bangun.
Sardi memandang punggung Bening, tarikan napas yang teratur membuat tubuhnya bergerak pelan. Sardi menjambak rambutnya sendiri, ia sedang sangat membutuhkan uang sekarang. Seharusnya Bening menjual kue atau membantu Bowo, bukannya enak-enakan disini dan menghabiskan uangnya.
“Bangun anak malas!” Segera gadis itu duduk sambil menatap Sardi dengan tatapan waspada. Seperti seekor kelinci melihat seekor elang.
“Aku sudah katakan, kalau bunuh diri lakukan dengan baik.” Sardi mencemooh, menganggap Bening adalah gadis yang teramat bodoh.
Semua orang menganggap Bening hendak melakukan bunuh diri. Memang benar, ia masuk kesini karena hendak bunuh diri tetapi kejadian di belakang rumah sakit adalah murni karena ia ingin melampiaskan perasaannya dengan cara menyakiti diri sendiri.
“Apa kamu senang, harus tetap disini dan tidak pulang-pulang?”
Bening melirik sang ayah, ia ingin sekali marah tetapi yang bisa ia lakukan hanya mengatur napasnya sebaik mungkin. Ia jengah dengan mulut Sardi yang tidak pernah terdengar menyenangkan.
“Pastikan kamu tidak melakukannya lagi. Uangku habis karenamu.” Sardi bangkit, beberapa saat ia memandang Bening sebelum akhirnya kembali melangkahkan kaki keluar dari ruangan Bening.
Kedua tangan Bening mencengkeram kain seprai, susah payah ia meredam emosi yang kembali menguat. Rasanya ia ingin berteriak, tetapi yang ia lakukan justru menyakiti sepuluh kuku jari yang ditekan kuat-kuat.
Ari melihat seorang pria baya keluar dari ruangan Bening, ia berpikir bahwa pria itu adalah ayah Bening. Ia ingin menyapa pria itu namun ia mengurungkan niatnya. Melihat langkah Sardi begitu lebar, ia berpikir bahwa pria itu sedang terburu-buru.
Ari masuk ke ruangan Bening. Gadis itu sedang duduk di atas brankar dengan tubuh teramat tagang. Urat-urat menonjol di sekitar lehernya, rahangnya mengeras dan Ari berpikir bahwa Bening sedang sangat emosi.
Bening menoleh, memandang Ari yang sedang berdiri di sebelah brankarnya. Perlahan ketegangan mengendur, berganti rasa heran mengapa pria ini kembali datang.
“Hai, bagaimana kabarmu?” Bening tidak menjawab, ia hanya memandang Ari saksama.
Ah, gadis ini benar-benar. Ia selalu saja memandang Ari saksama dan Ari selalu saja jadi merasa canggung karenanya. Ari menarik napas panjang, ia memilih menduduki kursi yang tadi diduduki Sardi. Ia tidak mau kalah, Ari pun menatap Bening saksama. Waktu seolah berhenti, dua anak manusia terpaku dengan kondisi bersitatap.
Kehadiran wanita yang membawa ransum makanan mengalihkan perhatian. Wanita itu meletakkan ransum di atas nakas lalu pergi begitu saja.
“Kenapa kamu kesini?” Bening kembali menatap Ari.
Rasanya sulit dipercaya, gadis ini menggunakan nada ketus untuk menyambutnya. Tapi tidak apa-apa, ini memang resiko baginya. Sejenak Ari memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan. Kenyataannya ia datang memang ingin menemui Bening tetapi tidak mungkin ia menjawab demikian. “Aku ... mengantar Mama. Jadi sekalian nengok kamu,” jawabnya.
Bening diam, ia mengalihkan pandangan ke depan, membuat Ari bisa bernapas lega. Meski sulit menghadapi gadis ini, tetapi Ari justru merasa bersemangat dan sangat penasaran tentang Bening.