Tidak ada alasan logis bagi dua kata ajaib di dunia ini. Kasih dan sayang, datang kepada siapa saja dan jatuh ke siapa saja tanpa mengenal kasta, rupa maupun harta. Seperti itulah rasa yang kini ada dalam diri Ari. Bening bukan siapa-siapa, hanya gadis asing yang ia lihat di halaman belakang rumah sakit. Namun siapa sangka, pertemuan pertama itu membuat Ari ingin terus berada di dekat Bening.
Bening, nama yang sangat bagus. Ari mengetahui nama itu setelah bertanya kepada perawat. Tidak ada keterangan lain yang ia dapat kecuali sebuah nama, tetapi mencari sebuah informasi adalah hal mudah baginya. Yang terpenting, Ari tahu nama gadis itu karena ia tidak ingin terus melabeli Bening dengan julukan gadis manekin.
Gadis itu masih duduk dengan cara yang sama seperti saat ia melihatnya kemarin. Duduk sambil memeluk lutut dengan sangat erat. Rasanya ingin sekali membawa ia pulang dan menempatkannya di tempat yang nyaman. Rasanya ingin sekali membaringkan tubuh rapuh itu di peraduannya. Ari menghela napas, pikirannya mulai melantur kemana-mana.
“Kamu tidak makan? Makanlah! Nanti kamu sakit.” Ari berinisiatif mengambil makanan di atas nakas dan ia lagi-lagi merasa Bening sedang memandangnya, tetapi gadis itu memang sedang memandangnya.
Bening tidak suka dengan nada perintah yang baru saja ia dengar. Apakah semua laki-laki suka memerintah? Seperti ayahnya, bahkan Hardy pun melakukan hal itu. Bening tidak suka diperintah, apalagi orang asing seperti Ari.
Ari membuka tutup ransum berbentuk bulat tersebut lalu menyerahkannya kepada Bening, namun Bening bergeming. Gadis itu kembali menatap mata Ari dengan dua alis bertaut dan tarikan napas panjang-panjang.
“Bening, makanannya enak. Coba saja!” Ari menyerahkan ransum makanan namun oleh Bening diletakkan di depan kakinya sendiri. Gadis itu enggan untuk makan, ia hanya ingin duduk atau berbaring tanpa melakukan apapun termasuk makan.
Ari menghela napas panjang, satu hal yang baru ia ketahui tentang Bening. Gadis ini keras kepala, tetapi Ari tetap suka. Ari benci perasaannya, sejak kapan ia suka dengan gadis keras kepala? Terhadap perempuan lain, Ari pasti akan segera enyah dari pandangan perempuan yang tidak mau menurut kepadanya. Tetapi Bening adalah ratu, jadi gadis itu bisa berbuat sesuka hati terhadapnya. Sial!
“Jika kamu takut aku bunuh diri. Tenang saja! Aku tidak akan melakukannya.” Bening menarik napas panjang.
Bening kembali memandang ransum tanpa ada hasrat untuk memakannya. Nasi, sayur bayam, ayam goreng, tahu goreng dan sebuah pisang ambon tidak menggugah seleranya sama sekali. Bening kembali membaringkan tubuh, ia memeluk lututnya dalam kondisi tidur miring dan membelakangi Ari. Bening terdiam, pikirannya berkelana kemana-mana tetapi selalu berujung kepada kematian yang sulit ia dapatkan.
“Kenapa mati saja begitu sulit?” lirih Bening. Gadis itu mengangkat tangannya yang terluka. Ia memandang perban dengan noda kemerahan oleh darahnya sendiri.
Apa yang sedang Kau rencanakan, Tuhan? Aku sudah melakukan semua kewajibanku. Aku tidak melakukan laranganmu kecuali menyanyi di atas panggung. Itupun aku yakin Engkau tahu alasannya. Tuhan, mengapa Kau tidak membiarkanku mati?
Ari merasa trenyuh, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Gadis ini tidak menghiraukannya, selalu menganggapnya tidak ada. Ari membenci sikap tak acuh itu. Ia berjalan memutar brankar untuk memandang wajah murung Bening. “Apa kamu mau jalan-jalan? Udara segar bisa memberimu semangat,” tawarnya.
Iris mata Bening bergerak perlahan ke arah Ari. Ia memang membutuhkan udara segar, lebih baik ia keluar dari tempat ini sebelum ia kembali berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Perlahan Bening bangkit, ia segera turun dari brankar dan berdiri di depan Ari. Ari merasa melihat bidadari turun dari langit. Meskipun Bening hanya mengenakan kaos berwarna merah muda dengan celana pendek berwarna biru, namun tetap saja gadis itu sempurna di matanya.
Bening mengambil tiang infus sebelum memutuskan melangkahkan kaki. Ari berjalan di sebelahnya. Dilihat dari dekat, Ari terlihat besar sekali namun tidak lebih menakutkan daripada bersama Sardi. Teringat Hardy, Bening tidak kuasa menahan air mata. Kemana perginya sang kakak hingga sekarang ia tidak lagi bertemu?
Bening mencengkeram tiang, tubuhnya lemah dan gemetar hingga hampir merosot ke lantai. Secara spontan, Ari menangkap pinggang Bening. Ari terkejut dengan sikapnya, tetapi lebih baik seperti sekarang daripada melihat Bening jatuh. Tetapi apakah tadi Bening hendak jatuh? Ari jadi gelagapan sendiri dan akhirnya melepas Bening begitu saja. “Maaf,” ucapnya.
Bening terkejut, orang asing satu ini membuat degup jantungnya berdetak cepat. Bening mengerjap beberapa kali, ia juga menarik napas panjang untuk meredam perasaannya sendiri.
Ari bukan Hardy, itu sudah jelas. Bening tidak bisa terus membayangkan Ari sebagai Hardy karena memang keduanya berbeda. Ari tidak boleh membuatnya ingat akan Hardy, karena ia tahu dengan teringat sosok kakaknya, Bening akan kembali lemah dan terluka.
Perlahan Bening berjalan keluar ruangan. Sambil menarik tiang infusnya, Bening berjalan perlahan. Ari berada di sebelahnya, berjalan bak seorang pengawal sedang melindungi kliennya.
Ari, orang aneh yang datang tiba-tiba dan mengganggunya dua hari ini. Entah mengapa, Bening merasa keberadaan Ari membuatnya lebih baik. Ia terbiasa kesepian, anak-anak seusianya menjauhinya karena siapa juga yang mau berteman dengan orang seperti dirinya.
Selepas sekolah menengah, kehidupan Bening hanya dihabiskan untuk berjualan kue serta manggung dari panggung ke panggung. Hanya teman-teman di orkes musik yang mau berteman dengannya. Tetapi sayang, Bening tidak ingin berada dalam lingkaran kehidupan disana. Orkes musik tempatnya bernaung, tidak hanya menyajikan musik serta lagu yang enak namun juga menyajikan hubungan sama-sama menguntungkan antara perempuan dan laki-laki. Bening sangat membencinya.
“Apa ada yang kamu pikirkan?” Ari tidak suka kebekuan yang kembali mengisi keduanya. Bening selalu seperti mayat hidup. Raganya disini namun pikirannya entah berkelana kemana.
Bening menggeleng, ia sadar sedang kembali masuk ke dalam pemikirannya. Ia menghentikan langkah, memutar badan agar bisa berdiri di hadapan Ari. “Mamamu pasti mencarimu. Aku tidak apa-apa sendiri.” Meski ingin Ari ada bersamanya, namun Bening sadar bahwa itu bukanlah hal yang sepatutnya.
“Soal aku, jangan kamu pikirkan. Aku bisa menemanimu selama yang kamu mau.” Ari tidak akan mau diusir lagi. Bening tidak akan membuatnya menjauh, sekalipun ia diusir secara terang-terangan. Harga diri lelakinya tidak akan setuju jika harus menurut kepada seorang gadis bernama Bening.
“Kamu tidak kerja?” Bening sedang mencari cara supaya Ari menjauh darinya.
“Aku ... ehm, masuk malam. Iya ... masuk malam.” Ari ingin tertawa, ia hampir tidak pernah berbohong. Tetapi ia tidak akan menjawab sekarang ia sedang menganggur, lagi-lagi soal harga diri sebagai seorang lelaki.
“Kamu seharusnya pulang dan...”
“Aku terbiasa tidak tidur. Bening, aku ingin menemanimu. Setidaknya sampai Ayahmu kembali,” sahut Ari.
Bening seketika terkejut, darimana Ari mengetahui namanya dan apakah ia mengenal Sardi? Bening tidak suka berhubungan dengan orang-orang yang memiliki hubungan dengan ayahnya kecuali orang-orang yang dianggapnya baik.
Bening kembali mengamati sosok Ari. Pria ini memiliki tubuh tinggi dan tegap, seperti orang-orang Bowo di rumah bos besar orkes musik itu. Seharusnya sejak awal Bening mengetahuinya. Tentu saja tidak ada orang yang benar-benar asing, pasti Bowo mengirim salah satu orang untuk menjaganya. Ia sadar Bowo adalah pria protektif, seperti seorang induk semang. Pria itu akan menjaga anak-anaknya termasuk Bening.
“Apa kamu mau ke taman?” Ari ingin duduk berdua di taman yang ada di belakang rumah sakit. Tempat itu sangat nyaman karena ada beberapa pohon besar dengan daun yang rindang.
“Katakan pada Pak Bowo, aku baik-baik saja. Aku tidak akan melakukannya lagi. Katakan padanya, ia bisa mempercayai ucapanku.” Ia tidak mau menjadi bagian dari para gadis yang berada di bawah penjagaan ketat Bowo. Toh selama ini Bowo tidak pernah mengirim pengawal untuknya, jadi mengapa sekarang ia mengirimnya kecuali bahwa Bowo takut Bening melakukan tindakan bunuh diri lagi.
Ari terkejut, ia tidak tahu mengapa ia dihubungkan dengan seseorang bernama Bowo. Siapa Bowo sampai Bening kembali emosi? Apakah Bowo yang membuat Bening menjadi senekat ini? Ari benar-benar pusing dengan sosok manekin yang mencuri hatinya.
“Aku tidak kenal Bowo. Siapa dia?” Ari harus mengorek informasi mengenai Bowo. Ia yakin, ada jalan keluar yang bisa ia tawarkan jika ia tahu duduk permasalahannya.
Jika tadi Ari yang terkejut, kini Bening yang justru sangat terkejut. Melalui tatapan Ari, ia tahu pria itu tidak ada hubungannya dengan Bowo. Jadi Ari benar-benar orang asing yang datang ke dalam hidupnya secara tiba-tiba.
Bening pelan-pelan menggeleng, tidak ada siapapun yang boleh mengetahui kehidupannya dengan Bowo. Pria itu seusia Sardi dan memperlakukannya secara istimewa. Di saat biduan lain dipaksa berhubungan dengan klien yang datang maka Bening dibiarkan hanya menjadi biduan dan penjual kue. Pria itu tidak pernah memaksanya melakukan hal tak senonoh itu.
“Bening, katakan padaku! Siapa Bowo?” Ari benar-benar penasaran. Pria itu memegang kedua pundak Bening dan mengguncangnya perlahan.
Bening menatap Ari laksana pemburu melihat buruannya. Ia memandang dua pundak yang masih ditahan oleh telapak tangan Ari. Pria itu sadar, ia terlalu memaksa. Kecemburuan membuatnya mudah emosi terhadap nama pria yang keluar dari bibir Bening.
“Dia bukan siapa-siapa. Bagaimana Kakak bisa tahu namaku?” Bening berusaha merubah topik pembicaraan.
Ari paham maksud Bening, namun ia memilih menyudahi pembahasan tentang Bowo karena ia tidak ingin hubungan yang baru ia bentuk menjadi hancur hanya karena satu orang. “Aku bertanya ke perawat,” jawabnya singkat.
Bening hanya ber-oh saja, ia kembali melangkah perlahan. Mendung sedang bergelayut, membuat Bening mendesah pelan. Ia tidak suka hujan karena hujan selalu mengingatkannya kepada ibu dan kakaknya. Gadis itu memilih kembali ke ruangannya sebelum hujan benar-benar datang.
“Kenapa? Bukannya kita mau ke taman?” Ari tidak mengerti mengapa Bening memutar badan.
“Mendungnya gelap. Hujan mungkin turun sebentar lagi.” Bening segera berjalan kembali ke ruangannya.
Suara guntur sangat keras membuat Bening terkejut dan spontan ia menutup kedua telinga serta matanya. Setelah bunyi itu hilang, ia bergegas kembali ke ruangannya diikuti Ari yang dengan setia berada di belakangnya.