“Sinta!” seru Arjuna yang berdiri di belakang saung tempat Bening duduk. Bening mendengar panggilan itu, tetapi karena bukan namanya, ia pun bersikap acuh tak acuh. Arjuna masih terpaku beberapa saat. Masih memandang punggung gadis berambut pendek yang memiliki postur mirip dengan Sinta yang ia kenal. Rambutnya memang tak sama, tetapi ia belum lupa dengan gesturnya. Bagaimana ia duduk, bagaimana ia berdiri, bagaimana ia melangkah, apalagi senyum dan tawanya. Semua hal tentang Sinta masih ia ingat dengan jelas. Arjuna menghela napas berat lalu mulai melangkahkan kaki menuju dapur. Namun seketika langkahnya terhenti saat mendengar seorang pria memanggil nama lain Sinta. “Bening, kamu pesan apa?” Arjuna segera memutar badan dan melangkah lebar menuju saung. Menerobos masuk dengan cara

