Ada tiga jalan masuk ke Restoran Ramayana. Bening memilih masuk dari pintu utama, sementara Yanto segera bergegas mencari Arjuna dengan masuk dari pintu sebelah kiri. Dengan langkah lebar ia segera ke dapur untuk mencari pria itu.
Selain menjadi pemilik restoran, Arjuna adalah seorang chef yang setiap hari berjibaku dengan dapur. Sehingga Yanto berpikir kalau Arjuna ada di tempat itu, bahkan meskipun hari sudah malam.
Akan tetapi sampai dapur,Yanto menerobos masuk ke dalam. Padahal ada tulisan selain karyawan dilarang masuk, tapi itu bukan hal yang penting.
“Maaf, Pak. Anda dilarang masuk!” ujar seorang karyawan yang memakai apron hitam dan berseragam kaos polo warna oranye dengan tulisan Restoran Ramayana di punggungnya.
“Saya mencari Pak Arjuna,” ujarnya masih tak menerima saat pelayan itu mendorongnya mundur dari pintu masuk ke dapur.
“Pak Arjuna sudah pulang, Pak. Lebih baik besok pagi anda datang lagi,” kata lelaki bertubuh tambun itu kepada Yanto.
Tapi Yanto tidak bisa menerima ucapan pria itu. Ia justru mendorong balik pria itu lalu masuk secara paksa. Mencari Arjuna di seluruh dapur namun nyatanya pria itu memang tidak ada.
Tak puas hanya mencari di dapur, Yanto segera masuk pendopo yang merupakan gedung utama restoran. Mendekati empat pegawai yang sedang berdiri dan berbisik – bisik satu sama lain.
“Dia Sinta kan?” ujar wanita yang memakai hijab hitam.
“Sinta siapa?” tanya pegawai pria berambut blonde.
“Dulu dia pernah jadi penyanyi disini, tapi tahu – tahu nggak datang. Katanya dia melarikan diri sama Andra,” kata pria berambut gimbal.
“Oh, aku pernah lihat pas masuk kerja hari pertama kali dulu,” sahut wanita berambut keriting.
Yanto jadi kesal karena empat orang itu sibuk membicarakan anaknya. Napasnya sudah memburu, dorongan untuk mendamprat ke empat orang itu sudah menggebu – gebu.
“Dengar – dengar dia bisa di BO,” kata pria berambut gimbal membuat Yanto semakin menegang.
“Masak sih. Mukanya innocent gitu,” kata wanita berhijab.
“Eh beneran. Andra sendiri yang cerita. Sayang dia tahu – tahu mengundurkan diri. Nggak tahu alasannya kenapa.”
“Wah, sayang sekali ya dia. Padahal cantik sekali.”
Yanto sudah melangkah dan siap memukul muka dua pegawai lelaki itu. Namun tiba – tiba seseorang menepuk pundaknya lalu menarik pundaknya agar tidak melakukan tindakan yang tidak baik.
“Tahan dirimu!” ujar Rudi kepada Yanto.
Mata Yanto berkaca – kaca. Napasnya masih memburu dan jantungnya masih berdegup dengan kencang.
“Saya tidak terima ucapan mereka. Bening tidak pernah melakukan hal buruk seperti yang mereka ucapkan. Justru sebaliknya…,” ucapannya menggantung saat melihat Hardy yang berdiri di sebelah Rudi.
“Aku mengerti perasaanmu. Kita urus mereka dengan cara yang benar,” ucap Rudi sambil melirik empat orang yang membelakangi mereka, sehingga tidak tahu kalau ada tiga orang yang sedang mereka buat kesal.
“Bening sudah menunggu kita di saung paling belakang. Sebaiknya kita cepat kesana.” Rudi menepuk pundak Yanto lalu menepuk pundak Hardy agar mengikutinya.
Langkahnya begitu tenang seakan tak pernah terjadi apa – apa.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Yanto, Hardy apalagi Bening.
Beberapa saat yang lalu saat mereka masih di rumah dan Bening meminta untuk makan di Restoran Ramayana.
Rudi menghubungi Arjuna untuk mengatur semuanya.
Rudi : Halo, Arjuna.
Arjuna : Halo, Kek. Gimana kabarnya?
Rudi : Aku baik – baik saja.
Arjuna : Syukurlah. Tumben Kakek menghubungiku.
Rudi : Sejam lagi aku akan makan di tempatmu. Aku ingin kamu meninggalkan restoran selama aku disana.
Arjuna : Memangnya kenapa, Kek. Aku ingin bertemu denganmu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.
Rudi : Kapan – kapan kita bisa melakukannya.
Arjuna : Kakek janji ya.
Rudi : Apapun akan kulakukan untukmu. Karena itu, lakukan saja perintahku.
Arjuna : Meskipun aku penasaran alasannya, tapi akan saya lakukan.
Rudi senang karena ternyata Arjuna mengikuti perintahnya. Meskipun sedih melihat Bening yang tampak kecewa, tapi untuk saat ini ia hanya ingin menunda masalah.
Hubungannya dengan Hardy juga jadi kaku sejak mengetahui kalau mereka berdua adalah saudara kandung.
“Aku sudah mengatur janji dengan lab. Besok mereka akan datang untuk mengambil sample,” kata Rudi membuat Hardy memandangnya beberapa saat.
“Saya rasa itu tidak perlu, Kek. Semua bukti sudah jelas.” Hardy sudah sangat yakin dengan Bening.
“Meski begitu. Kita harus punya data yang meyakinkan.” Rudi hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bening dan Hardy memang saudara kandung. Jika tidak ada bukti nyata, ia masih meragukannya meski bukti – bukti sudah menunjukkan kalau mereka saudara kandung.
Tidak ada yang mendebat ucapan dan permintaan Rudi. Semua orang cenderung menyetujuinya.
Seperti yang sudah direncanakan, Hardy dan Bening melakukan tes DNA. Hanya untuk menyenangkan hati Rudi, pria yang usianya sudah di pertengahan tujuh puluh.
Mereka berdua pergi bersama ke laboratorium kemudian memutuskan ke mall untuk menghabiskan waktu. Mumpung Hardy mengambil cuti.
“Kamu mau beli apa, Bening? Aku akan membelikan apapun untukmu,” ucap Hardy sedikit menyombong.
“Aku ingin membelikan ayah dan kakek baju, Kak.”
“Pilih saja sesukamu. Kamu juga belilah beberapa baju, tas, sepatu … apapun yang kamu mau,” kata Hardy.
Bening melirik kakaknya lalu terkikik geli. Selain kakeknya, Hardy adalah orang kedua yang menawarkan diri untuk membelikan apapun yang ia mau.
“Sebenarnya, aku ingin sepeda, Kak. Aku ingin naik sepeda,” ungkap Bening membuat Hardy menaikkan kedua alisnya.
Lagi – lagi kisah mereka berdua seperti dulu saat masih kecil. Saat Bening merengek meminta sepeda sampai Hardy pusing tujuh keliling untuk mendapatkannya.
“OK. Kita beli sepeda yang kamu inginkan,” ajak Hardy.
Bening senang bukan kepalang. Padahal ayah dan kakeknya menolak permintaan itu karena merasa kalau bersepeda adalah kegiatan yang sangat berbahaya.
Bening mengajak Hardy masuk ke sebuah departemen store. Membawa lelaki itu ke bagian pakaian laki – laki. Memilih T shirt yang berjajar rapi. Bening menarik T shirt berwarna hijau army polos.
“Ini bagus deh, buat Kakak,” ujar Bening sambil menempelkan T shirt itu di depan Hardy.
“Aku tidak butuh pakaian, Bening.” Hardy tidak merasa perlu untuk membelinya.
“Aku ingin membelikan ini untukmu,” kata Bening.
Hardy mengangguk saja, tak ingin menolak niat baik adiknya meskipun ia harus membayar pakaian itu. Apapun yang diinginkan Bening, akan ia kabulkan.
Saat Bening memilih – milih pakaian, Hardy mengangkat telepon dari Ari.
Hardy : Assalamualaikum.
Ari : Waalaikumsalam. Papa Mama sudah sampai rumah. Kamu dimana?
Hardy : Oh ya. OK sebentar lagi aku pulang.
Ari : OK. Assalamualaikum
Hardy : Waalaikumsalam.
Hardy menutup sambungan telepon sambil terus mengekor di belakang Bening yang sibuk mencari pakaian untuk ayah dan kakeknya.
Meski tak sabar ingin mempertemukan Bening dengan dua orang tuanya. Orang baik yang dulu pernah menolong mereka.