JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕
SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕
JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕
DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕
MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕
HAPPY READING ❕
Setalah mengunci pintu kamar mandi, Shiny menumpahkan air matanya. Ia memeluk kedua lututnya, lalu membenamkan wajahnya di sela kaki.
"Soni betah banget memelihara menantu seperti Shiny. Sudah tiga tahun menikah, tapi belum memberikan keturunan. Apa jangan-jangan Shiny tidak bisa mengandung alias mandul lagi?"
"Kalau aku jadi Soni, sudah ku usir wanita itu dari kehidupan putera ku. Bagiku dia hanya menantu benalu tanpa memberikan keturunan."
"Benar, aku juga merasa bingung dengan Varun. Dia sudah mapan, ganteng, masih muda lagi. Tapi, kenapa masih mau bertahan dengan istri yang tidak bisa memberikannya keturunan? Padahal semua wanita masih mau menerima dirinya dengan lapang dada."
"Mungkin diguna-guna kali sama Shiny."
"Sebenarnya Khyati tidak suka Kak Shiny. Khyati merasa risih kalau dia yang menjadi istri Kakak,"
"Kamu tidak berniat untuk melakukan sesuatu pada Shiny?"
"Tapi, aku pengin kamu yang bersama Kak Varun. Aku merasa risih dengan Shiny."
"Aku tidak percaya kalau Shiny bisa memberikan keturunan pada keluarga kami."
"Sudah tiga tahun lebih mereka menikah dan sampai saat ini Shiny belum memberikan keturunan pada kami."
Shiny diam bukan berarti dia tidak mendengar semua perkataan mereka. Shiny diam karena dia tidak ingin dikatakan lemah dengan mereka.
Terkadang, Shiny bingung pada dunia. Kenapa begitu banyak masalah yang harus ia hadapkan? Ia juga pengin hidup normal seperti wanita lainnya. Memiliki keluarga yang berada di sampingnya. Merengkuh dirinya saat ia merasa lelah. Namun, Tuhan lebih mencintai keluarganya dari pada dirinya sendiri.
Shiny juga pengin menjadi seorang Ibu. Mungkin saat ini belum. Tapi, kenapa semua orang menganggap dirinya tidak bisa memberikan keturunan? Apa selama itu Shiny tidak memberikan keturunan sampai semua orang harus berbicara buruk tentang dirinya?
Tangan kanan Shiny beralih mengelus perut ratanya. Ia berharap suatu hari nanti ada nyawa lain yang hidup di sana.
"Aku bisa memberikan keturunan. Aku pasti bisa, hiks!"
Shiny merapal dan berusaha meyakinkan dirinya memberikan keturunan.
Shiny mengalihkan pandangannya pada Varun yang sedang menyetir.
"Kita mau kemana Varun?" tanya Shiny saat Varun mengajak dirinya keluar, padahal mereka masih berkumpul di rumah besar Irsyad.
"Menenangkan diri," balas Varun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Shiny mengedipkan matanya sekali. Ia belum mengerti dengan perkataan Varun.
"Bukankah itu yang sedang kamu butuhkan sekarang?" tanya Varun menatap Shiny sebentar.
Shiny tersenyum tipis. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Varun, sedangkan kepalanya menyender di bahu Varun.
"Aku hanya merasa capek saja," ucap Shiny lirih.
Di puncak...
"Kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Shiny pada Varun.
"Di tempat ini, kamu bisa berteriak sekeras-kerasnya dan membuang jauh kesedihan itu," balas Varun.
Shiny tersenyum tipis, "Aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh kamu yang selalu ada disampingku."
Varun tersenyum lebar, ia membawa Shiny ke pelukannya. Varun beruntung memiliki Shiny.
"Kamu mau berjanji dan berkata jujur padaku?" tanya Shiny setelah melepaskan pelukannya.
Varun hanya mengangguk, Shiny berkata, "Jika suatu saat kamu dihadapkan dengan aku yang tidak bisa memberikan keturunan, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan selalu ada untuk kamu," balas Varun tanpa beban.
"Bagaimana jika keluarga kamu tidak mengizinkan aku untuk bersama kamu?"
"Kamu tidak berniat untuk meninggalkan aku kan?" tanya Varun berusaha mencari kebenaran di mata Shiny.
"Aku tidak tahu Varun. Semua ada di tangan Tuhan. Kita hanya perlu menjalankan perintahnya," balas Shiny membuat Varun menurunkan pandangannya.
"Aku sayang dan cinta banget sama kamu. Tapi tidak tahu sampai kapan kita akan bersama," ucap Shiny menangkup pipi Varun.
Shiny membuat Varun menatap dirinya kembali, "Jika aku pergi, aku ingin kamu bersama Janah. Kamu mau kan mengabulkan permintaan aku yang ini?"
"Kamu bicara apa? Aku tidak mungkin bersama Janah. Aku hanya mencintai kamu," balas Varun lirih sambil mengenggam tangan Shiny yang berada di pipinya.
"Aku tahu Varun. Tapi jika saja waktu itu datang. Aku mohon, kamu mau berjanji kan padaku?" tanya Shiny dengan telapak tangan yang terulur.
Varun menatap telapak tangan Shiny, lalu mulai menyatukan kedua telapak tangan mereka.
"Aku akan melakukan semuanya demi kamu," balas Varun tersenyum palsu.
Shiny tersenyum lebar, walaupun hatinya terasa sakit. "Aku merasa tenang setelah mengatakan semuanya pada kamu. Aku harap, kamu tidak akan pernah ingkar janji padaku."
"Begitu penginnya kamu, aku bersama Janah?" tanya Varun sedikit kecewa.
Shiny tersenyum, lalu mengangguk.
"Sangat pengin. Aku juga mau kamu merasakan kebahagiaan, walaupun bukan aku pelaku kebahagiaan kamu," ucap Shiny memeluk Varun erat.
'Ini juga keinginan Khyati, Varun. Aku pengin melihat senyuman terbit di bibir Khyati. Dia pengin banget kamu bersama Janah. Mungkin mereka benar, aku hanya benalu saja di kehidupan kamu,' batin Shiny berkata.
"Tapi aku bahagianya bersama kamu," balas Varun melepaskan pelukannya.
"Hanya untuk saat ini dan tidak tahu sampai kapan," balas Shiny meraih tangan Varun.
"Cinta bisa saja hadir saat kita menjalankan semuanya dengan ikhlas. Kamu mengerti perkataan ku kan?" sambung Shiny.
Bukannya menjawab, Varun bertanya kembali, "Ada saatnya kita merasakan capek. Tapi, kamu jangan menyerah begitu saja. Shiny yang aku kenal, dia adalah wanita kuat. Saat ini, kamu mau bertahan dengan aku kan?"
"Aku akan selalu bertahan dengan kamu sampai waktu di mana aku harus pergi. Saat itu juga, kamu akan bahagia bersama Janah."
"Kenapa aku merasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu padaku. Apa yang kamu sembunyikan?"
"Tidak ada Varun. Aku hanya ingin mengatakan isi hati ku saja," ucap Shiny berakhir tersenyum lebar.
Sore menjelang malam...
Ponsel Varun berbunyi dan terpampang nama Mama Soni. Shiny sedikit membesarkan volume suaranya karena Varun berada di kamar mandi.
"Varun, Mama menelepon!" adu Shiny pada Varun.
"Angkat saja!" balas Varun.
"Assalamu'alaikum, Ma," ucap Shiny saat ini memangkat panggilan itu.
"Wa'alaikumsalam, sayang. Kalian sudah sampai di rumah? Kenapa tadi pergi tanpa pamit?" ucap suara Mama Soni sedikit khawatir.
"Sudah, Ma. Maaf kalau kami pergi tidak pamit dahulu. Tadi Varun mengajak Shiny keluar, tapi baru saja sampai rumah," ucap Shiny.
"Tidak masalah. Syukurlah kalau kalian sudah di rumah. Kami sampai mencari kalian di setiap tempat," ucap Mama Soni berakhir mengadu.
"Varun sih mengajak Shiny keluar tidak pamit dahulu," ucap Shiny berakhir menggerutu Varun.
"Tapi senang kan diajak keluar sama Varun?" ucap Mama Soni menggoda Shiny.
Shiny hanya tersenyum malu menanggapinya.
"Sudah azan, kalian salat sana! Mama tutup dahulu teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Ma."
Bersamaan dengan itu, Varun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap.
"Apa kata Mama?" tanya Varun sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Hanya bertanya kenapa pergi tanpa pamit," balas Shiny membantu Varun mengeringkan rambutnya.
"Sudah, kamu mandi sana!" ucap Varun yang langsung dibalas anggukan kepala Shiny.
Bunda Pari baru saja selesai mengambil air wudu. Ia menghampiri Janah yang sedang menonton tv di ruang tamu.
"Kamu tidak ikut salat?" tanya Bunda Pari.
Janah menggeleng canggung, "Lagi tidak bisa, Bun."
Bunda Pari memicing pada Janah, "Memang lagi tidak bisa kan? Bukan alasan kamu tidak mau salat kan?"
"Iya, Bun. Janah lagi tidak bisa. Udah sana! Udah azan itu!" ucap Janah sedikit mengusir Bunda Pari.
"Kamu, ya," gemas Bunda Pari berakhir meninggalkan Janah seorang diri di ruang tamu.
Janah membuang napasnya kasar, ia mematikan tv dan melanjutkan lamunannya kembali. Iya, sebenarnya Janah tidak sedang menonton. Ia tidak sengaja mendengar suara derap langkah kaki dan berakhir pura-pura menonton tv yang sejak tadi menyala.
Flashback On :
Setelah perginya Varun menjemput Shiny ke kamar mandi, Khyati langsung menarik dirinya untuk menjauh dari yang lainnya.
"Kenapa kamu menarik aku ke halaman belakang rumah?" tanya Janah dengan bingung.
"Aku mau kamu membantuku," balas Khyati dengan mata yang sibuk melihat sekelilingnya.
Khyati menghentikan atensinya pada Janah dan menatapnya dengan lekat, "Kamu mau kan membantuku?"
"Katakan dahulu apa yang harus aku bantu. Jika itu mudah akan aku bantu. Jika itu berat tidak akan aku bantu," balas Janah.
Khyati membuang napasnya kasar, "Sangat mudah Janah. Aku hanya mau kamu membantuku untuk menyingkirkan Shiny dari kehidupan Kak Varun."
"A-pa maksud kamu?"
"Aku mohon, kamu mau kan membantuku?"
"Tidak Khyati. Kamu akan di benci Varun kalau ia tahu kamu menyingkirkan Shiny dari kehidupannya," ucap Janah.
"Aku tidak peduli. Aku akan tenang setelah mereka berpisah. Aku mau kamu membantuku untuk membuat Kak Varun membenci Shiny," ucap Khyati.
"Maaf Khyati. Kali ini aku tidak bisa membantu kamu," ucap Janah meninggalkan Khyati sendirian.
"Nyawa Rrahul dalam bahaya! Apakah kamu tidak mau menolongnya?!" ucap Khyati membuat langkah Janah terhenti.
Janah membalikkan tubuhnya. Ia menghampiri Khyati dengan kerutan jidat.
"Apa maksud kamu?" tanya Janah dengan tajam.
"Aku akan memberitahu rahasia besar padamu. Dengan satu syarat, kamu akan membantuku untuk menyingkirkan Shiny," ucap Khyati membuat Janah berperang dengan batinnya.
"Bagaimana Janah? Apakah kamu memilih untuk menyelamatkan cinta pertama kamu atau membiarkan dia pergi selamanya begitu saja?" tanya Khyati sesaat ketika Janah tidak merespons perkataannya.
"Aku tetap tidak akan membantu kamu. Aku tahu kamu hanya membuatku takut saja agar aku membantu kamu. Kamu sadar tidak? Dia Kakak ipar kamu!" ucap Janah dengan nada meninggi di akhir kalimat.
"Aku serius saat mengatakan Rrahul dalam bahaya. Shiny memang Kakak iparku, tapi aku tidak suka padanya! Aku tidak mau Kak Varun bersama Shiny!" balas Khyati berakhir meninggalkan Janah sendirian.
Namun, belum sempat ia menghilang dari punggung Janah, Khyati berbalik dan mengatakan sesuatu membuat Janah membalikkan tubuhnya.
"Jangan sampai kamu menyesal Janah! Malam ini pelakunya sedang mengawasi Rrahul!" ucap Khyati berakhir menghilang dari pandangan Janah.
Flashback Off :
Janah meraih ponselnya yang berdering di meja. Setelah melihat nama yang terpampang di layar ponsel, ia mengangkat panggilannya.
"Ada apa? Kenapa kamu menelepon aku di jam segini?" ucap Janah pada si penelepon yang tidak lain ialah Niku.
Ponsel Janah terjatuh saat Niku mengatakan semuanya. Bunda Pari, Ayah Sachin, dan Nenek yang baru saja turun langsung disuguh dengan Janah menangis.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis, hem?" tanya Bunda dengan khawatir langsung duduk di samping Janah.
Janah jatuh ke pelukan Bunda Pari. "Bun-da, hiks! Rra-hul. Dia, hikshiks!"
"Katakan pada Bunda ada apa dengan Rrahul? Kenapa kamu sampai menangis begini, hem?" ucap Bunda setelah melepaskan pelukannya.
"Izinkan Janah untuk melihat Rrahul terakhir kalinya, hiks!" pinta Janah dengan air mata yang kian deras mengalir.
"Apa maksud kamu, sayang? Apa maksud dari melihat untuk terakhir kalinya?" ucap Bunda Pari yang masih setia menghapus air mata Janah menggunakan tangannya.
"Rrahul, dia kecelakaan dan tiada di tempat, hikshiks!" isak Janah kian kencang membuat Bunda Pari membawanya ke pelukan.
"Bunda mengizinkan kamu," ucap Bunda.
"Tapi Ayah tidak akan mengizinkan kamu untuk keluar dari rumah ini!" ucap suara dingin Ayah Sachin.
Janah melepaskan pelukannya, ia berdiri dan berhadapan dengan Ayah Sachin.
"Janah mohon, Ayah jangan egois. Janah hanya ingin melihat Rrahul untuk terakhir kalinya," ucap Janah lirih.
"Kamu rela keluar malam begini hanya untuk pria yang tidak ada hubungan apapun dengan kamu?!"
"Tapi Rrahul kekasih Janah, Ayah!" balas Janah dengan suara tingginya.
"Kekasih yang tidak akan pernah Ayah restuin! Sekarang kamu masuk ke kamar dan jangan coba-coba untuk keluar dari rumah ini! Kalau kamu berani selangkah saja keluar rumah ini, Ayah akan mengakhiri hidup Ayah!" ucap Ayah yang tidak akan pernah bisa digugat.
Janah mengepalkan kedua tangannya. Ia berlari kecil menuju kamar dengan air mata yang masih mengalir.
Bugh!!!
Janah membuka pintunya dengan kaki. Dia mengunci pintu kamarnya dan melemparkan kuncinya begitu saja. Saat ini ia tidak ingin diganggu. Biarkan dia tertidur dengan perasaan tidak tenangnya.
"Hiks, bahkan saat kamu pergi aku tidak bisa bertemu kamu! Padahal aku ingin melihat kamu terakhir kalinya! Apa salah kalau aku ingin melihat orang yang aku cinta?! Kenapa Ayah melarangku, ha?!"
Srek!
Benda yang di atas meja rias hancur lebur saat Janah menarik paksa taplaknya. Belum puas dengan itu, ia beralih ke ranjang. Kini kamar Janah hancur bagaikan kapal pecah. Ia menangis tak henti-hentinya sambil mencampakkan barang terdekatnya.
Flashback On :
"Rrahul tiada. Di-a kecelakaan saat melakukan balapan malam ini," ucap Niku dengan isakan yang tidak bisa ditahan lagi.
"Ka-mu akan datangkan kesini untuk melihat Rra-hul terakhir kalinya?" tanya Niku membuat ponsel di tangan Janah jatuh begitu saja.
Flashback Off :
Malam ini adalah malam penuh tangisan. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri.
To Be Continued...
1945 kata
Gimana dengan bagian ini?
Sedih atau senang?
Apa yg akan kalian lakukan kalau jadi Shiny dan apa yg akan kalian lakukan kalau jadi Janah?
Responnya y!
Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR)
Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI)
Janah Helly Fadillaisyah (HELLY SHAH)
Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA)
Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH)
Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA)
Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA)
Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR)
Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR)
Sachin Affan Fadillaisyah (SACHIN TYAGI)
Peran Pendatang :
Nikita Febrianti (NIKITA SHARMA)
Nikita Oktapiani (NIKITA TIWARI)
Chandni Novyanti (CHANDNI SHARMA)
Zayn Affandi (ZAYN KHAN)
Rrahul Arangga (RRAHUL SUDHIR)
Vishal Avriandi (VISHAL VASHISHTHA)
Jum'at, 25 Desember 2020
Orang yg ingin memisahkan Shiny dan Varun.
linar_jha2