?10

1714 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Mereka menunggu penjelasan dari Janah. Sudah lewat lima menit, namun Janah belum juga angkat suara. Sampai ia berkata, "Hoam, Janah mengantuk! Janah tidur dahulu. Sampai sore semuanya!" Janah bangkit dan meninggalkan yang lainnya dengan tidak sopan. "Janah! Kamu belum menjawab pertanyaan kami!" pekik Bunda Pari. "Lain kali saja, Bunda. Janah benar-benar mengantuk." balas Janah pura-pura lirih. "Sejak kapan kamu punya kebiasaan tidur siang?!" tanya Bunda Pari yang tidak dibalas oleh Janah. "Anak itu tidak ada berubahnya." gemas Ayah Sachin, lalu menatap Nenek dengan tajam. "Apakah Mama tahu apa yang dimaksud perkataan Janah?" tanya Ayah Sachin membuat Nenek menghela napas. "Jadi begini-," Dengan tubuh yang terbaring di ranjang, Janah mengambil ponselnya dari sligh bag. Ia menggeser tombol telepon berwarna hijau dan terpampang lah wajah si pelaku. "Kamu sudah di Jakarta?" tanya Khyati, Janah mengangguk. "Kenapa tidak menelepon ku?" tanya Khyati kembali. "Aku lupa. Kamu tahu kan sifat Ayah? Saat aku dan Nenek sampai Ayah langsung mencerca ku." ucap Janah lirih. "Terus?" "Menurut kamu, kami sudah baik kan belum?" "Sudah. Benarkah?" Janah mengangguk kilat. "Semoga saja tidak ada lagi masalah di antara kami. "Amin! Aku akan selalu ada di pihak kamu!" ucap Khyati pada Janah. "Tadi aku hampir saja keceplosan kalau aku punya Rangga." ucap Janah langsung mengubah topik pembicaraan. Ketawa Khyati pecah mendengar nama Rangga. "Haha, kamu suka sama Papa Rangga? Awas kamu kena seruduk kepala banteng Mama Ara." "Enak saja! Itu panggilan kesayangan ku! Kalau Papa Rangga, ya, tetap milik Mama Ara." ucap Janah sebal. "Kamu tidak lupakan kalau Rangga adalah nama Papa Rangga? Lucu saja kalau kamu memanggilnya dengan sebutan Rangga juga. Jadi kayak ada dua Rangga, haha." "Memang dua kan. Mereka berdua anak dan Ayah. Jadi, tidak masalah dong kalau aku memanggilnya Rangga juga?" ucap Janah tak mau kalah. "Tidak masalah, sih. Tapi yang menjadi permasalahannya ada pada Mama Ara. Kalau kamu memanggilnya Rangga, nanti pikir Mama Ara kamu sedang panggil suaminya, haha." "Terus? Aku harus memanggilnya dengan sebutan apa? Kamu tahu kan kalau aku tidak suka memanggil orang dengan nama depan?" "Panggilan ku nama depan. Kamu bisa memanggil ku Khyati. Kenapa dengan dirinya tidak bisa?" Janah menggaruk kepalanya tidak gatal. "Iya juga, sih. Jadi aku harus memanggilnya dengan nama depan?" "Iya, sayang. Kenapa jadi gemasin, sih?!" gemas Khyati saat melihat ekspresi lucu Janah. "Rrahul Arangga." ucap Janah sedikit menerawang. "Jadi aku harus memanggilnya Rrahul?" tanya Janah sedikit aneh dengan panggilan itu. Khyati mengangguk. "Kenapa? Susah, ya? Kalau begitu panggil saja dia sayang." Janah membuang napasnya lelah. Khyati memang suka sekali menggoda dirinya. "Sudahlah, aku mau bersihkan tubuh dahulu. Setelah itu aku mau sarapan." ucap Janah. "Sarapan di jam begini? Tumben sekali." "Memang sengaja sarapan di rumah." "Baiklah, aku tutup dahulu sambungannya. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Janah bangkit dari berbaringnya. Ia membersihkan tubuhnya. Niatnya yang ingin tidur terhenti karena merasakan perutnya berbunyi. Setelah membersihkan tubuh, ia berjalan ke bawah tanpa membawa ponsel. Janah sarapan sendirian karena yang lainnya termasuk Oma baru saja selesai sarapan. Tidak! Oma yang sarapan, sedangkan yang lainnya makan siang. "Kamu punya pacar?" tanya Bunda Pari tiba-tiba masuk ke ruang makan. Janah tersedak saat mendapat pertanyaan tiba itu. Ia menurunkan gelas yang sudah tak berisi air. "Kamu punya pacar?" tanya Bunda Pari lagi setelah mendudukkan dirinya di depan Janah. "Bunda mau bunuh Janah?" "Jawab dahulu pertanyaan Bunda." "Bunda sok tahu." "Jawab Janah." tekan Bunda Pari di setiap perkataannya. "Bunda tahu dari siapa Janah punya pacar?" "Bunda tidak suka ketika Bunda bertanya kamu menjawabnya dengan pertanyaan." "Memang salah kalau Janah-," "Tentu. Bagaimana kalau dia pria yang tidak baik?" "Pria tidak baik bagaimana maksud Bunda? Rrahul pria yang baik." "Kamu punya pacar dua?" "Tidak." "Terus, siapa Rrahul? Bukankah kata Nenek kamu pacaran dengan Rangga?" Janah menepuk jidatnya. Ia merutuk Nenek si pelaku semua ini. "Jadi Nenek yang mengatakan semuanya?" "Kamu hanya menjawab saja. Jangan bertanya kembali." gemas Bunda Pari sendiri. "Namanya Rrahul Arangga. Dia pacarnya Janah." Bunda Pari manggut-manggut mengerti. Ia sedikit mencondongkan badan ke depan. "Kamu tahu kan apa hukumnya orang yang berpacaran?" "Tapi kami berpacaran sehat, Bun. Kami tidak melakukan sesuatu yang buruk juga." ucap Janah sedikit protes. "Bunda tahu. Tapi, bukankah berpegangan tangan juga dilarang agama?" "Bun-," "Perempuan baik-baik akan selalu menjaga kehormatannya. Dia akan menurunkan pandangannya pada pria yang bukan mahramnya." ucap Bunda Pari dengan tenang. Setelah itu, Bunda Pari meninggalkan Janah dengan pikirannya. Ia berusaha mencerna perkataan Bunda Pari. Janah mengepalkan tangannya. Ia berusaha mengatur emosinya. "Secara tidak langsung, Bunda mengatakan aku adalah perempuan yang tidak baik?" "Bukan tidak baik. Hanya saja salah mengambil keputusan." ucap Teja memeluk leher Janah dari belakang. "Aku tahu kalau kamu tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar agama. Tapi, bukankah keluar masuk klub malam termasuk pelanggaran dalam agama?" ucap Teja memiringkan wajahnya. Ia berusaha melihat reaksi dari sang Kakak. "Tapi aku-," "Kalau dia serius dengan Kakak. Suruh dia datang ke rumah dan mengatakan semuanya pada kami. Kami juga perlu kepastian, Kak. Bagaimana suatu saat dia meninggalkan Kakak yang lagi sayang-sayangnya dengan dirinya?" "Teja." panggil Janah lirih. Janah membawa Teja ke hadapannya, lalu memeluknya erat. "Kami sayang Kakak. Kami tidak mau terjadi sesuatu pada Kakak. Kami juga tidak ingin Kakak salah mengambil langkah." ucap Teja dengan tenang. "Maaf kalau selama ini aku menyusahkan kalian. Maaf kalau selama ini aku membuat beban pikiran kalian bertambah." "Semua adil dalam cinta dan peperangan." ucap Teja mengingatkan Janah pada seseorang. Teja tersenyum melihat diamnya Janah. "Aku belajar cinta darinya. Kelihatan, ya, yang mana berpengalaman dan tidak?" kekeh Teja membuat Janah menatap dirinya. "Benarkah?" tanya Janah tak percaya. Teja mengangguk. "Iya. Kakak tanya saja pada orangnya langsung." Janah menggeleng. "Sampai di mana dia mengajarkan kamu tentang cinta?" Teja mendekat, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga Janah. "Kakak masih sendiri. Otak Kakak tidak boleh diracuni tentang cinta." "Teja! Kamu nakal, ya!" gemas Janah pada Teja yang sudah pergi meninggalkannya. Kediaman Irsyad... Kini kedua keluarga berkumpul di rumah besar Irsyad. Mereka tertawa bersama tanpa beban. "Kamu tidak berniat untuk melakukan sesuatu pada Shiny?" bisik Khyati yang duduk di samping Janah. Seketika itu, Janah menatap Shiny yang duduk di samping Varun. Shiny sibuk mendengarkan perkataan ketiga wanita itu dan sesekali tersenyum kecil mendengar betapa hebohnya mereka membicarakan tentang masa lalu. Andai saja Ibunya bisa berkumpul dengan mereka, tapi Tuhan lebih sayang pada Ibunya. Sedangkan Varun mulai sibuk dengan ponselnya. Mungkin sedang memeriksa email yang dikirimkan Zain. "Kelihatannya dia baik. Aku tidak mau mengganggu orang baik." balas Janah menatap Khyati. "Tapi, aku pengin kamu yang bersama Kak Varun. Aku merasa risih dengan Shiny." aku Khyati membuat Janah tersenyum miris. Janah mengusap surai pirang sebahu Khyati. "Kami tidak berjodoh. Kami sudah memiliki jalan masing-masing. Jangan banyak berharap padaku. Aku bukan gadis yang baik. Aku nakal dan kamu sendiri tahu itu." "Tidak, aku tahu kamu. Bagaimana suatu saat nanti kamu dihadapkan dengan Kak Varun kembali? Aku mau kamu menjadi Kakak iparku." ucap Khyati menggenggam erat tangan Janah. "Aku tidak berjanji, karena aku mencintai Rrahul bukan Varun. Dia hanya sahabat kecilku saja." ucap Janah berusaha membuat Khyati mengerti. "Sejak kecil, aku berkeinginan untuk menjadikan kamu sebagai Kakak iparku. Padahal aku berharap di saat aku pulang Kak Varun belum menikah. Tapi, semuanya hancur karena kedatangan Shiny di kehidupan Kak Varun." ucap Khyati dengan lirih. "Ayolah, Khyati. Kamu tidak boleh mengatakan itu. Semua sudah Allah yang mengaturnya." ucap Janah. Khyati mengalihkan pandangannya pada Shiny, lalu memalingkan wajahnya ke bawah. "Aku tidak percaya kalau Shiny bisa memberikan keturunan pada keluarga kami." "Apa maksud kamu?" tanya Janah membuat Khyati menatapnya lekat. "Sudah tiga tahun lebih mereka menikah dan sampai saat ini Shiny belum memberikan keturunan pada kami." "Sudah aku katakan bukan? Semua sudah diatur oleh Allah. Mungkin dia akan memberikan itu dengan cara lainnya." "Iya, dengan mengantarkan kamu pada Kak Varun." uang Khyati secepat kilat. Janah mendesah sebal. Percuma saja ia membuat Khyati mengerti. Khyati itu keras kepala sama seperti Varun. Sekali di bilang tidak, dia akan berusaha membuat lawan bicaranya mengatakan iya. "Apa yang sedang kalian berdua bicarakan? Kenapa sampai berbisik begitu?" tanya Mama Soni membuat keduanya tersenyum tipis. "Tidak, kami hanya membahas masalah perempuan saja." balas Janah sedikit canggung. "Hem, Shiny ke kamar dahulu. Ponsel Shiny tertinggal di kamar." ucap Shiny yang akan melangkah. "Aku ikut." ucap Varun saat melihat Shiny beranjak dari duduk. "Hanya sebentar Varun. Aku hanya mengambil ponsel saja." ucap Shiny mulai melepaskan genggaman Varun. Varun mendesah, ia membiarkan Shiny pergi ke kamar seorang diri. "Dia hanya mengambil ponsel, tapi kamu langsung menghentikannya. Seperti dia akan pergi jauh saja." ucap Namish pada Varun yang sibuk dengan ponselnya kembali. Mereka terkekeh dengan sikap Varun yang mengabaikan Namish. "Enak bukan di abaikan? Begitu pula dengan aku di saat kamu mengabaikan aku." bisik Teja sedikit menggoda Namish. Senakal apapun otaknya Namish, tapi kalau sudah membahas perkerjaan Namish akan fokus pada kertas-kertas itu. Bahkan ia sering melupakan Teja yang sedang bersama dirinya. Masalah itu yang selalu membuat Teja tidak suka dengan sikap Namish. Teja suka Namish dengan otak nakalnya, dan bukan otak seriusnya Namish. "Aku jadi takut kalau Shiny mendengarkan pembicaraan kita." bisik Janah dengan mata yang menatap Varun di seberangnya. "Biarkan saja. Berarti dia akan tahu diri kalau aku tidak suka padanya." balas Khyati. "Bukan begitu. Kalau Shiny mendengarkan pembicaraan kita, berarti Varun akan mendengarnya juga. Bukankah Varun duduk di sebelah Shiny?" ucap Janah sedikit tidak enak hati. "Kak Varun juga sudah tahu kalau aku tidak suka pada Shiny. Aku mengatakan semuanya semalam pada Kak Varun." balas Khyati membuat Janah mendesah sebal. Lagi dan lagi Khyati bisa saja menjawab perkataannya dengan enteng. 'Aku percaya pada Allah. Dia pasti akan membuat kalian bersatu dengan cara yang ia punya' batin Khyati mentap bergantian Janah dan Varun. To Be Continued... 1600 kata Khyati ngebet banget sih menjodohkan Varun dengan janah. Padahal Varun sudah menikah lho dengan Shiny. Gimana perasaan kalian setelah membaca bagian ini? Kesal atau bahagia? Kuy tinggalkan jejak! Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR) Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI) Janah Helly Fadillaisyah (HELLY SHAH) Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA) Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH) Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA) Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA) Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR) Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR) Rabu, 23 Desember 2020 Orang yg menginginkan Janah bersama Varun. linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD