?9

1787 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Keesokan harinya... Gadis itu lagi dan lagi membuang atensinya pada jendela di sampingnya. Beberapa kali ia membuang napas dengan kasar. "Apa yang akan Janah lakukan ketika berada di rumah itu?" gumam Janah sesaat pada orang yang di sampingnya. "Nenek yakin kalau kalian bisa berbaikan," balas Nenek dengan keyakinan yang penuh. "Percuma kami berbaikan kalau akhirnya bertengkar kembali. Semua ini membuat Janah bosan. Padahal Janah hanya perlu kasih sayang yang mereka berikan pada adik Janah, Nek," lirih Janah menyenderkan kepalanya pada jendela pesawat. Tangan Nenek terangkat dan memberikan usapan sayang di rambut Janah, "Nenek yakin kalau mereka sayang dan rindu sama kamu." Janah menggeleng dengan masih memalingkan atensinya pada jendela pesawat, "Janah tahu Nenek hanya ingin menenangkan hati Janah. Sejak awal Janah bersama Nenek, mereka tidak pernah menanyakan kabar Janah. Janah tahu semuanya." 'Tidak, sayang. Mereka setiap saat bertanya kabar kamu melalui Nenek. Mereka sayang dan rindu dengan kamu,' batin Nenek berkata. "Kata orang, api dibalas dengan air. Jika kamu membalasnya dengan api juga, maka masalah akan menjadi besar. Masalah tidak akan habis, jika kalian membalasnya dengan api. Kamu mau kan menjadi air di dalam permasalahan ini? Buat semuanya seperti dahulu kembali," ucap Nenek. "Dahulu sama sekarang tetap sama. Sama sekali tidak ada perbedaan. Janah bosan pada semuanya. Mereka mengatakan pergi pada Janah, tapi hati mereka berkata lain seakan ingin menahan Janah. Apakah Janah harus percaya dengan itu? Janah tidak ingin jatuh ke masalah yang sama kembali. Janah lelah, Nek," lirih Janah berakhir menutup mata. Beberapa jam berada di dalam pesawat membuat Janah dan Nenek capek duduk. Kini mereka harus duduk lagi sambil menunggu jemputan dari rumah. "Nenek tidak lapar?" tanya Janah membuat Nenek menggeleng. "Nenek rindu dengan masakan Bunda kamu. Nenek makannya di rumah aja. Kamu juga rindukan dengan masakan Bunda?" ucap Nenek membuat Janah mengangguk. "Hampir lima tahun, ya, Janah tidak pulang? Semenjak kejadian mereka tidak menganggap Janah lagi di dalam keluarga itu. Mungkin Janah akan menahan malu saat mereka tidak kenal pada Janah," ucap Janah dengan mirisnya. "Banyak kejutan yang menunggu kehadiran kamu," ucap Nenek sambil mengusap lembut tangan Janah. Janah menurunkan pandangannya dan berusaha tersenyum. 'Iya, akan banyak kejutan dengan kepulangan Janah. Mereka akan lupa pada Janah dan mengusir Janah kembali. Kejutan indah bukan?' "Jangan berpikir yang aneh. Ayo, Mang Didit sudah sampai," ucap Nenek sambil membuat Janah berdiri. "Mang Didit masih menjadi sopir di rumah itu?" tanya Janah dan dibalas Nenek dengan anggukan kepala. "Mang Didit ternyata setia juga, ya," ucap Janah dengan senyuman kecilnya. "Saya orangnya memang setia Neng," ucap Mang Didit mengambil alih barang-barang milik majikannya. "Kita berangkat sekarang?" tanya Mang Didit pada kedua majikannya. "Iya, Dit," balas Nenek. Sejak tadi Janah hanya menundukkan kepalanya sampai membuat kedua orang tuanya kesal. "Jangan menunduk terus," ucap Ayah membuat hati kecil Janah tersentuh. "Kasihan kepala kamu," lanjut Ayah. Tahu kalian dengan kata sakit? Di saat kalian dibuat setinggi-tingginya, setelah itu dijatuhkan begitu saja. Saat ini, itulah yang dirasakan oleh Janah. Janah berpikir kalau Ayahnya kasihan pada dirinya, namun dugaaannya salah. Ayah lebih kasihan pada kepalanya. Janah meremas kuat ujung bajunya dengan napas tertahan. "Pakaian kamu tidak ada yang lebih kurang bahan lagi? Mau jadi apa kamu kalau begini terus?" tanya Ayah dengan tajam. Janah mengangkat kepalanya, lalu berdiri. Ia sudah tidak tahan lagi mendapatkan perkataan tajam dari Ayah. "Sudah? Janah mau ke kamar dahulu," ucap Janah langsung meninggalkan Ayah, Bunda, dan Nenek di ruang keluarga. "Ayah tidak menyuruh kamu ke kamar! Duduk kembali!" ucap Ayah membuat Janah mengepalkan kedua tangannya. "Kamu mau dicap sebagai anak durhaka dari Ayah?!" ucap Ayah yang masih dengan suara lantangnya. "Sabar Janah. Ada waktunya kamu angkat suara. Sekarang biarkan Ayah kamu bicara sampai bosan," gumam Janah sambil mengatur napasnya. Janah berbalik dan duduk di tempatnya kembali. Kini ia berhadapan dengan Ayah dan Bunda yang hanya dibatasi dengan meja. "Sikap Ayah pada Janah masih sama. Janah merasa kalau Janah bukanlah anak Ayah. Janah pikir, kalian tidak ketus lagi pada Janah saat Janah pulang. Tapi semuanya sama saja. Rumah ini masih tetap dingin. Memang apa salah Janah pada kalian? Janah hanya ingin mendapatkan kasih sayang yang kalian berikan pada adik Janah. Apakah Janah tidak pantas untuk mendapatkan semua itu?" ucap Janah menggebu-gebu. Ia kesal pada orang tuanya sampai mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini Janah tahan. Sudah cukup ia menjadi pendengar. Sekarang izinkan Janah untuk berbicara. "Kamu pikir kami tidak mengkhawatirkan kamu? Kamu pikir kami tidak sayang sama kamu?" Bunda angkat suara, lalu berjalan ke arah Janah. "Berhenti! Jangan mendekat, aku muak dengan semuanya. Kalian membandingkan aku dengan adikku sendiri. Padahal kalian tahu kalau aku dengan dirinya sangatlah berbeda. Aku, ya, aku! Kalau dia cukup menjadi dirinya sendiri yang selalu kalian puji," ucap Janah dengan suara lantangnya. "Aku merasa asing di rumah keluarga ku sendiri. Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kalian berdua. Kalian berdua pilih kasih! Kalian tidak pernah-," Grep! Seketika itu, air mata terjatuh dari kelopak mata Janah saat Bunda memeluknya dengan erat. "Maafkan Bunda, sayang. Bunda tidak pernah ingin tahu tentang perasaan kamu. Maafkan Bunda yang belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk kamu." lirih Bunda terisak. Ayah tersenyum tipis, ia menghampiri keduanya. "Maafkan Ayah juga, sayang. Ayah belum bisa menjadi Ayah yang baik. Ayah adalah Ayah yang buruk untuk kamu. Ayah tidak pernah ingin tahu perasaan kamu." ucap Ayah ikutan memeluk Janah. "Ini pertama kalinya kalian memeluk Janah. Apakah ini mimpi? Kalau iya, tolong jangan bangunkan Janah. Janah hanya ingin berada di pelukan kalian saja. Janah memang anak yang buruk. Janah tumbuh di lingkungan yang buruk. Janah minta maaf, hiks!" Ayah membawa Janah ke pelukannya, "Sttt, semua ini bukan mimpi. Kamu akan selalu mendapatkan pelukan sayang dari kami. Semua ini juga bukan salah kamu. Semua ini adalah salah kami yang tidak membesarkan kamu di lingkungan yang baik." Ayah melepaskan pelukannya. Ia mengusap pipi Janah yang basah. Satu kecupan mendarat di kening Janah. "Kita baikan sekarang?" tanya Ayah yang dibalas anggukan kepala dari Janah. "Janah sayang sama Ayah," gumam Janah saat memeluk Ayah. "Ayah juga sayang sama Janah," balas Ayah dengan mengusap punggung Janah. "Bunda tidak?" tanya Bunda berlagak cemberut. Janah menoleh pada Bunda tanpa melepaskan pelukannya. Ia merentangkan sebelah tangannya yang langsung disambut tubuh Bunda. "Janah sayang Bunda," gumam Janah membuat Bunda mengusap rambut panjangnya. "Kamu tidak sayang Nenek? Jangan lupakan Nenek yang selalu ada untuk kamu," ucap Nenek ikutan cemberut melihat Janah memeluk kedua orang tuanya. "Always, Nek," balas Janah menatap Nenek yang tersenyum, lalu beralih pada kedua orang tuanya. "Bagaimana dengan aku? Apakah Kakak tidak sayang padaku?" tanya sosok di balik pintu ruang keluarga. Ketiganya saling melepaskan pelukan. Mereka serentak menoleh ke sumber suara. Di sana, adiknya Janah berdiri bersama pria familier. "Aku sayang Kakak. Aku rindu Kakak. Kakak tahu? Ayah dan Bunda selalu menanyakan kabar Kakak melalui Nenek. Aku saja sampai bosan saat mereka menanyakan itu terus," ucap sang adik saat keduanya berpelukan. "Benarkah? Kakak sedikit tidak percaya?" ucap Janah setelah melepaskan pelukannya. "Iya, tanya saja pada Nenek," ucapnya melirik Nenek sebentar. "Kenapa Nenek tidak pernah memberitahu Janah? Janah jadi sering berburuk sangka pada Ayah dan Bunda," ucap Janah merasa bersalah. "Nenek sudah sering memperingatkan kamu jangan pernah berpikir yang aneh. Bukankah itu belum cukup?" balas Nenek merasa tidak bersalah. "Uh, Janah kan tidak peka. Nenek pakai kode segala lagi," gerutu Janah. "Memangnya seperti apa berburuk sangka Janah?" tanya Bunda sambil menyelipkan anak rambut Janah di belakang telinga. "Ayah dan Bunda tidak menginginkan Janah, jadi untuk apa Janah pulang?" ucap Nenek menyerupai suara Janah. Ayah dan Bunda tersenyum. "Terus, kenapa pulang sekarang?" pancing Ayah. "Katanya rindu," balas Nenek. "Ti-dak. Janah tidak mengatakan itu," ucap Janah yang berusaha mengelak. "Iya, kamu memang tidak mengatakannya pada Nenek. Tapi, hati kamu yang langsung mengatakan itu," ujar Nenek. "Sudah yang terpenting aku dan kamu bersama. Teja dan Helly bersama untuk selamanya!" ucap adik Janah dengan lantang. Teja menggenggam erat tangan Janah. Ia berusaha mendekatkan dirinya dengan sang Kakak. Semoga saja jarak di antara keduanya tidak ada lagi. "Shhh, jangan memanggilku Helly. Aku akan memberikan nama itu pada orang yang akan menjadi suamiku," ujar Janah dengan cemberut. "Baiklah, Kakakku, sayang. Aku tidak akan memanggil dirimu Helly. Sekarang puas?" "Begitu cukup baik," ujar Janah, lalu meletakkan jari telunjuknya di ujung pelipis. "Hem, apakah kamu menikah dengan Namish?" tanya Janah memperhatikan Namish dari atas sampai bawah. "Ada apa? Kamu ingin merebutku dari adikmu sendiri?" ucap Namish dengan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi. "Tidak, aku merasa bingung pada adikku. Kenapa dari sekian banyaknya pria, dia harus memilih kamu menjadi suaminya?" balas Janah secepat kilat. "Kak, kenapa dari kecil sikapmu masih sama saja?" gerutu Namish. "Bagaimana dengan kamu? Pasti masih dengan sikap kekanakan bukan?" ujar Janah. "Apakah dia masih-," Janah melanjutkan perkataannya dengan menyilangkan kedua tangannya di kening. Namish sudah memasang wajah masam, sedangkan yang lainnya terkekeh termasuk Janah. "Dasar Kakak Ipar tidak punya akhlak!" ucap Namish bersungut-sungut. "Suamiku memang masih sedikit begitu," ucap Teja tanpa perasaan. "Kamu tahu siapa yang menerima semua itu?" lanjut Teja. "Memangnya siapa?" tanya Janah dengan penasaran. "Varun," balas Teja. "Varun?" ulang Janah merasa familier dengan nama itu. "Kamu lupa dengan Varun?" tanya Teja. "Hem, tidak. Aku masih ingat padanya. Terus?" Janah mulai merekatkan kedua telapak tangannya di atas lutut kiri yang ia tumpukan dengan kaki kanan. Janah mendengarkan semua perkataan Teja dengan baik. Kini keduanya tenggelam dengan cerita Teja yang membahas kelakuan Namish pada Varun. "Shhh, kasihan sekali Varun. Pasti dia merasa risih dengan Namish. Lihat saja, Varun akan mulai memberikan jarak antara mereka berdua," respons Janah setelah Teja menyelesaikan ceritanya. "Perkataan kamu benar. Kak Varun mulai menjaga jarak dariku," ucap Namish dengan mirisnya. "Makanya kurangkan sikap kekanakan mu itu. Semua yang terdekatmu akan merasa risih saat mereka mengetahui sikap asli kamu," ucap Janah. "Aku akan mencobanya. Kalau aku lupa, tolong ingatkan aku kembali," ucap Namish dengan wajah tak berdosanya. "Kamu ini," gemas Teja pada pinggang Namish. "Aku cuma mau mengingatkan padamu kalau Varun sudah memiliki istri. Jadi kamu tidak bisa lagi dekat-dekat dengan Varun," ucap Namish dengan wajah yang serius. "Aku tidak peduli. Aku juga sudah punya-," "Punya apa?" tanya mereka semua dengan tatapan tajam kecuali Nenek. To Be Continued... 1670 kata Apdet lagi! Gimana? Bagus gak? Responnya y guys!! Udah tau kan siapa Janah sebenarnya? Apa yg mau kalian sampaikan pada Janah? Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR) Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI) Janah Helly Fadillaisyah (HELLY SHAH) Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA) Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH) Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA) Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA) Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR) Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR) Jum'at, 18 Desember 2020 Memandang dia dari kejauhan. linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD