JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕
SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕
JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕
DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕
MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕
HAPPY READING ❕
Khyati masuk ke kamar Varun dan Shiny. Dapat Khyati lihat, Varun sedang sibuk dengan laptopnya.
'Tidak ada yang berubah,' batin Khyati, lalu berdeham membuat atensi Varun beralih padanya.
"Khyati, ada apa?" tanya Varun saat melihat mata Khyati bermain di setiap sisi.
"Kamu mencari Kak Shiny? Dia ada di kamar mandi," ucap Varun.
"Kak, Khyati mau berkata jujur," ucap Khyati sedikit tak enak hati.
"Katakanlah jika itu mengganggu pikiran kamu," ucap Varun sambil menaruh laptopnya di meja.
Khyati duduk di samping Varun dengan tangan yang menggenggam lembut lengan Varun.
"Kakak jangan marah, ya? Khyati hanya ingin mengatakan isi hati Khyati saja," ucap Khyati.
Varun mengernyit, namun mengatakan, "Iya."
"Kakak berjanji dahulu," ucap Khyati sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Kakak berjanji," balas Varun mengaitkan kedua jari kelingking mereka.
"Sebenarnya Khyati tidak suka Kak Shiny. Khyati merasa risih kalau dia yang menjadi istri Kakak," ucap Khyati dengan takut.
Varun hanya diam sama sekali tidak merespons. Ia menunggu perkataan selanjutnya dari sang adik.
"Kakak sudah berjanji dengan Khyati untuk tidak marah. Tolong katakan sesuatu pada Khyati," lanjut Khyati dengan kepala tertunduk.
"Kamu memang tidak menyukainya hari ini. Mungkin besok kamu akan menyukainya dan menerima keadaan yang sudah terjadi. Kakak tahu kalau ini terlalu cepat untuk kamu tanggap. Tapi dengan perlahan, kamu akan terbiasa dengan kehadiran Shiny di keluarga kita," ucap Varun berusaha memberikan masukan yang terbaik untuk Khyati.
Khyati mengangkat kepalanya. Khyati menatap takut mata teduh Varun, "Kakak tidak marahkan setelah mendengar pengakuan Khyati?"
"Tidak semua hal kecil kita anggap menjadi besar. Kakak tahu bagaimana tidak nyamannya kamu ketika melihat orang asing di dalam keluarga," ucap Varun memberikan senyuman tipis pada Khyati.
"I love you, Kak! Khyati sayang Kakak," ucap Khyati saat memeluk Varun erat.
'Suatu saat nanti, Khyati yakinkan Kakak bersama Janah. Khyati hanya ingin Kakak menjadi suami Janah, bukan Shiny,' batin Khyati berkata.
"Hem, kamu pasti belum mandi," ucap Varun membuat suasana hancur.
"Indra penciumnya tajam banget, sih!" gerutu Khyati sambil melepaskan pelukannya.
"Benarkan belum mandi. Dasar adik manis yang malas mandi," gemas Varun pada hidung Khyati.
"Khyati malas mandi di pagi hari saja. Karena cuaca pagi terlalu dingin. Khyati tidak suka mandi pagi," ucap Khyati sedikit mengelak.
"Padahal di kamar mandi sudah disediakan air hangat, lho."
"Mandi air hangat tidak enak. Di saat keluar dari bathtub pasti dinginnya mengalahkan air es."
"Bisa saja mengelaknya," ucap Varun lagi dan lagi memiting hidung mancung Khyati.
"Ih, Kak! Udah, ah! Khyati mau keluar dahulu!" ucap Khyati memilih keluar dari pada hidungnya menjadi bahan cubitan Varun.
Bersamaan dengan Khyati keluar, Shiny membuka pintu kamar mandi. Varun beranjak dari sofa saat Shiny sibuk menaruh handuk pada tempatnya. Varun memeluk Shiny dari belakang.
"Ada apa? Kenapa wajah kamu suram begitu?" tanya Varun setelah mengecup pipi Shiny.
Shiny menggeleng, lalu membalikkan tubuhnya tanpa Varun melepaskan pelukannya.
"Aku mendengar semua perkataan Khyati. Memang aku membosankan, ya? Aku tidak bisa menjadi teman untuk adik iparku," ucap Shiny dengan suram.
"Khyati memang tidak bisa menjadi teman kamu, tapi aku bisa. Aku bisa menjadi teman hidupmu," ucap Varun sambil mengalungkan kedua lengan di bahu Shiny.
"Aku tahu. Hanya saja-,"
"Sttt, tidak perlu dipikirkan. Lambat laun, Khyati akan menerima kamu dan menjadikanmu sebagai temannya," ucap Varun membuat Shiny tersenyum kecil.
"Sekarang, pikirkan tentang kita. Bagaimana, hem?" lanjut Varun memainkan sebelah matanya dengan jahil.
Puk!
Shiny memukul gemas lengan Varun.
"Ini masih pagi menjelang siang hari. Jangan berpikir yang m***m. Sekarang kita ke bawah. Pasti Mama dan Papa sudah menunggu kita," ucap Shiny, lalu melepaskan lengan Varun yang berada di bahunya.
"Ayolah, sayang. Tidak ada yang melarang untuk-,"
"Varun," Shiny memberikan tatapan tajam pada Varun.
"Baiklah, sekarang kita turun. Memang apa lagi yang diharapkan ketika sang istri sudah menolak?" ucap Varun mendramatiskan.
"Bukan menolak hanya saja masih siang. Kamu tidak tahu situasi saja," ucap Shiny membenarkan perkataan Varun.
"Istri maha benar, sedangkan suami maha salah," ucap Varun masih dengan dramanya.
"Kenapa kamu menjadi bawel, sih? Belajar dari Namish, hem?" ucap Shiny memukul lengan Varun kembali.
"Sudahlah, mood ku hancur saat kamu menyebut namanya," ucap Varun berakhir meletakkan lengannya di bahu Shiny.
Varun menatap intens kedua orang tuanya. Saat ini mereka berempat sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Mama dan Papa kapan pulang?" ucap Varun sesaat.
"Kamu mengusir Mama dan Papa?" tanya Mama Soni menatap tajam Varun.
"Tidak, hanya saja merasa risih kalau melihat kalian berlama-lama," ucap Varun dengan tenang.
"Varun, bicaranya itu," respons Shiny.
"Telinga kamu masih berfungsi kan, Mas?" tanya Mama Soni pada Papa Amar.
Papa Amar mengangguk sambil menyeruput kopi yang baru saja diantarkan Bik Iza.
"Tapi tenang, Ma. Papa dari awal memang tidak menganggapnya sebagai putera Papa," ucap Papa membalas perkataan Varun dengan tenang.
Mama Soni dan Shiny terkekeh, sedangkan Varun menatap kesal pada Papa.
"Sudah sandiwaranya? Sekarang bisakah kalian pulang? Bukankah di rumah sendiri lebih nikmat dari pada rumah anak sendiri, hem?" tanya Varun.
"Ya, rumah sendiri lebih nikmat. Ayo, Mas! Kita pulang sekarang," ucap Mama Soni sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Varun.
"Bentar, aku lagi memeriksa e-mail," ucap Papa Amar dengan mata yang sibuk menatap ponsel.
"Di rumah saja memeriksanya," ucap Mama Soni berakhir Papa Amar yang mengalah.
"Tapi-," Shiny ingin membuka mulutnya, namun ditahan oleh Varun.
Shiny memukul kesal tangan Varun yang menutup mulutnya, "Kamu keterlaluan, Varun."
"Oh, ya, Shiny. Kamu bersiaplah. Mama akan membawa kamu ke pesta syukuran anak teman Mama," ucap Mama Soni saat teringat sesuatu.
"Siang ini Ma?" tanya Shiny.
"Iya, cepatlah. Kami tunggu kamu di mobil," ucap Mama Soni dan berlalu pergi.
"Mama mengacaukan semuanya!" ucap Varun mengacak rambutnya kesal.
Shiny terkekeh, lalu beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Varun saat menahan tangan Shiny.
"Bersiap-siap. Bukankah kamu mendengar semua perkataan Mama?"
"Apakah kamu harus ikut dengan Mama?"
"Hanya ingin menjadi menantu yang menurut saja. Sekarang lepaskan tanganku. Aku mau bersiap-siap," ucap Shiny.
"Aku pikir di hari libur ku kita bisa menghabiskan waktu bersama," ucap Varun cemberut.
"Tidak lama. Hanya sebentar saja. Setelah itu, aku akan pulang dan menghabiskan waktu bersama kamu," ucap Shiny setelah mengecup singkat kening Varun.
"Janji?"
"Janji, sayang."
"Baiklah, aku mengizinkan kamu," ucap Varun, lalu mengecup balik kening Shiny.
"Uh, suamiku yang manis!" gemas Shiny dengan pipi Varun.
"Shhh, aku tidak manis," protes Varun sedikit kesal.
"Iya, kamu memang tidak manis, tapi sangat manis!" ucap Shiny berlari kecil menghindar dari Varun.
Di tempat pesta.
Banyak perkataan tidak enak yang di tangkap oleh indra pendengar Shiny. Tidak jauh berbeda dengan Shiny, Mama Soni pun begitu. Ia membalikkan tubuhnya dan akan melangkah menuju segerombolan Ibu gosip. Namun, Shiny menangkap tangan Mama Soni sambil menggeleng lambat.
"Biarkan saja, Ma. Kita tidak perlu membalasnya," ucap Shiny lirih.
"Tapi perkataan mereka keterlaluan, sayang," ucap Mama Soni sedikit protes.
"Soni betah banget memelihara menantu seperti Shiny. Sudah tiga tahun menikah, tapi belum memberikan keturunan. Apa jangan-jangan Shiny tidak bisa mengandung alias mandul lagi?"
"Iya, kasihan banget ya mereka. Tapi salah sendiri sih memelihara menantu mandul begitu."
"Kalau aku jadi Soni, sudah ku usir wanita itu dari kehidupan putera ku. Bagiku dia hanya menantu benalu tanpa memberikan keturunan."
"Benar, aku juga merasa bingung dengan Varun. Dia sudah mapan, ganteng, masih muda lagi. Tapi, kenapa masih mau bertahan dengan istri yang tidak bisa memberikannya keturunan? Padahal semua wanita masih mau menerima dirinya dengan lapang dada."
"Mungkin diguna-guna kali sama Shiny."
"Mama tidak bisa diam saja," ucap Mama Soni yang hendak melepaskan tangan Shiny dari tangannya.
"Ma, tujuan kita ke sini untuk memberikan selamat pada menantu teman Mama kan? Ayo, kita ucapkan kata selamat itu," Ucap Shiny berakhir menarik lembut tangan Mama Soni.
"Tapi mere-,"
"Biarkan saja. Nanti juga capek sendiri. Lagian ada Tuhan yang akan membalas semua perkataan mereka," ucap Shiny dengan tenang.
Mama Soni tersenyum, lalu menggenggam erat tangan Shiny, "Mama bangga dengan kamu."
Jam sudah menunjukkan pukul 15:00. Keduanya baru saja keluar dari tempat pesta yang penuh dengan perkataan pedas.
"Mama antar kamu, ya," ucap Mama Soni.
"Tidak perlu, Ma. Varun baru saja menelepon Shiny dan mengatakan dalam perjalanan. Shiny akan pulang bersama Varun," ucap Shiny.
"Anak itu takut sekali istrinya hilang. Padahal kamu pergi bersama Mama, lho," ucap Mama Soni sedikit gemas dengan perlakuan posesif puteranya.
Shiny hanya tersenyum kecil. Iya, Varun memang posesif saat menyangkut dirinya. Tapi Shiny tidak merasa risih sedikit pun dengan perlakuan posesif Varun padanya.
"Kalau begitu Mama akan menunggu Varun sampai datang," ucap Mama Soni.
"Tidak perlu, Ma. Shiny akan menunggu Varun sendirian. Mama pulang saja dahulu," ucap Shiny.
"Benar tidak terjadi masalah? Mama takutnya Varun akan protes pada Mama kalau meninggalkan kamu sendirian di pesta."
"Tidak, Ma. Lagian banyak orang yang akan pulang. Jadi, Shiny tidak sendirian," ucap Shiny.
"Baiklah, Mama pulang dahulu. Kalau terjadi sesuatu telepon Mama. Assalamu'alaikum," ucap Mama setelah Shiny mengecup telapak tangannya.
"Iya, Ma. Wa'alaikumsalam."
Tin!
Suara klakson mobil berasal dari mobil milik Mama Soni. Shiny melambaikan tangannya saat Mama Soni melakukan hal yang sama. Shiny menatap mobil Mama Soni yang kian menjauh dari indra penglihatannya.
Shiny memilih duduk di halte yang tidak jauh dari tempat pesta. Ia termenung sampai tangannya menyentuh perut ratanya.
"Aku tidak mandul kan? Aku masih bisa mengandung kan?" gumam Shiny lirih.
Bersamaan dengan itu, seseorang menyentuh bahunya. Segera Shiny mengusap pipinya yang basah. Ia mendongak dan langsung beradu pandangan dengan si pelaku.
Di hadapannya Varun berdiri dengan menatap teduh wajah Shiny.
"Kamu kenapa?"
Shiny menggeleng, lalu tersenyum, "Sepertinya aku kecapekan. Bisakah kita pulang sekarang?"
Varun tidak menjawab, ia membuat tubuh Shiny berdiri dari duduknya, "Katakan padaku apa yang terjadi? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan sesuatu?"
Tangisan Shiny pecah saat ia jatuh ke pelukan Varun. Shiny meremas kuat kaos hitam yang dipakai Varun. Sedangkan Varun membiarkan Shiny meluapkan semua kesedihannya pada Varun.
"Apakah kamu akan meninggalkan ku? Jika aku tidak bisa memberikan mu keturunan?" ucap Shiny setelah mengatur napasnya dengan baik, namun pelukannya tidak dilepas.
"Sudah aku katakan bukan? Mau kamu memiliki kekurangan ataupun kelebihan, aku akan tetap mencintai satu wanita yaitu kamu," ucap Varun dengan tenang.
Kita ditakdirkan hanya untuk mengikuti skenario yang telah dibuat Tuhan.
To Be Continued...
1650 kata
Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR)
Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI)
Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA)
Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH)
Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA)
Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA)
Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR)
Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR)
Rabu, 16 Desember 2020
Salam dari Author gak jelas.
linar_jha2