?7

1744 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Flashback On : Di malam hari saat hari ulang tahun Varun. Gadis kecil itu berlari memeluk Varun dengan senyuman lebarnya. Dia memeluk erat tubuh orang yang sangat ia sayang. Sudah lama mereka tidak bertemu dan akhirnya hari ini datang juga. "Khyati?" gumam Varun saat menyadari sang adik pulang di hari ulang tahunnya. "Kakak, Khyati rindu," lirih Khyati kian erat memeluk Varun. Tidak lama kemudian, Varun melepaskan pelukannya, "Kenapa pulang tidak kasih tahu Kakak, hem?" "Surprise! Kakak bahagia lihat Khyati pulang?" ucap Khyati. "Tentu, kenapa tidak? Kamu sudah lama lho tidak pulang. Disaat pernikahan Kakak saja kamu tidak pulang. Apa yang kamu lakukan di luar negeri sana sampai kamu tidak bisa meluangkan waktu sedikit saja di hari pernikahan Kakak?" ucap Varun membuat Khyati tersenyum jahil. "Aku bosan di Jakarta terus. Makanya aku malas pulang. Lagian-," Khyati mengambang kan perkataannya sampai membuat yang lainnya penasaran. "Lagian apa, hem?" tanya Varun saat Khyati tidak kunjung melanjutkan perkataannya. "Lagian di sana banyak laki-laki ganteng. Aku semakin betah di negeri itu," jawab Khyati penuh semangat. "Oh, jadi begitu, ya?" tanya Varun memicing. Khyati mengangguk, "Ya." "Kemana perginya adik polos ku, hem?" "Ayolah, Kak. Gadis polos seperti ku sudah hilang saat aku berada di luar negeri. Kakak seperti tidak tahu saja betapa liarnya negeri itu," balas Khyati yang masih semangat menceritakan perubahan dirinya. "Nakal kamu, ya?" gemas Varun mendengar semua perkataan Khyati. "Aku tidak nakal," jawab Khyati tidak terima dengan perkataan Varun. "Terus apa namanya?" pancing Varun. "Aku hanya sedikit melihat tubuh mereka," balas Khyati dengan kekehannya. "Ma, lihatlah putrimu. Dia makin nakal saja," ucap Varun berpura mengadu pada Soni. "Khyati-," tegur Soni yang akhirnya angkat suara. "Jika kamu ingin serius dalam hubungan, maka menikah lah. Agama melarang kita untuk berpacaran," ucap Shalini menatap lekat Khyati. "Tidak, Ibu. Aku masih ingin bebas. Aku tidak mau menikah muda," ucap Khyati. "Baiklah, kamu sudah makan, hem?" tanya Nagesh. "Sudah. Oh, ya, dia siapa?" tanya Khyati sambil menunjuk Shiny. "Kami hampir lupa memperkenalkannya. Dia Shiny, Kakak ipar kamu," ucap Teja. "Hai! Shiny," ucap Shiny dengan tangan yang terulur. "Khyati," balas Khyati dengan senyuman kecilnya. 'Jadi dia Kakak ipar ku? Hancur sudah harapanku yang menginginkan Kakak menikah dengan pilihanku,' batin Khyati bicara. "Ada apa Khyati? Kenapa wajahmu muram begitu?" tegur Varun merasa ada perubahan dengan sikap Khyati. Khyati menggeleng, lalu tersenyum, "Tidak ada, Kak. Khyati hanya merasa capek saja. Bisakah Khyati istirahat?" Amar yang berada di sebelah Khyati mengelus lembut tangan putrinya, "Iya, sebaiknya kamu istirahat. Sudah tengah malam. Tidak baik untuk kesehatan kamu." Khyati tersenyum, 'Papa tidak tahu aja apa yang aku lakukan di luar negeri. Bahkan untuk tidur saja aku jarang.' Khyati berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah Varun dan Shiny. "Selamat ulang tahun, Kak. Panjang umur dan sehat selalu. Semoga apa yang Kakak inginkan segera tercapai. Khyati sayang Kakak. Khyati akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Kakak," ucap Khyati setelah memeluk Varun. Varun tersenyum, lalu melepaskan pelukannya, "Terima kasih, sayang. Sudah sana tidur!" Flashback Off : Keesokan harinya ... Shiny baru saja keluar dari kamar mandi. Varun yang sejak tadi menunggu Shiny mandi pun segera bangkit dari ranjang saat melihat Shiny keluar. "Ada apa? Kenapa tidak bersemangat begitu?" tanya Varun saat melihat wajah lesu Shiny. Shiny mengangkat pandangannya menuju Varun, lalu menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa. Aku merasa sedikit tidak enak badan." "Baiklah, sekarang kamu istirahat. Biarkan tubuh kamu pulih," ucap Varun sambil menuntun Shiny menuju ranjang. "Tapi, Varun. Aku harus menyiapkan sarapan dahulu." "Sttt, aku tidak mau kamu jatuh sakit," ucap Varun setelah duduk di samping Shiny. "Varun, aku tidak apa-apa. Biarkan aku memasak. Aku tidak enak dengan Khyati. Masa dia baru pulang, aku tidak membuatkan sesuatu," ucap Shiny dengan merengek. Varun menangkup kedua pipi Shiny, "Kamu bisa melakukannya besok dan sekarang ayolah berbaring." Shiny menahan tangan Varun yang akan membaringkan dirinya. "Aku merasa-." "Apa?" "Aku merasa kalau Khyati tidak suka padaku," ungkap Shiny dengan ketakutan. Varun mengernyit, "Kenapa kamu bisa berpikir begitu?" "Kamu ingat tidak saat wajah Khyati berubah menjadi muram? Wajahnya berubah ketika aku dan dirinya berkenalan," ucap Shiny. "Iya, tapi kenapa kamu bisa berpikir begitu? Bisa saja Khyati sedang kecapekan, makanya wajahnya langsung muram." "Tidak Varun. Aku tahu yang mana wajah kecapekan dan tidak suka. Wajah yang aku lihat itu terselip rasa tidak suka. Khyati seakan mengharapkan sesuatu padamu." Varun ingin menjawab, namun suara di pintu membuat keduanya harus memalingkan wajah. "Ya, aku memang tidak suka padamu," ulang Khyati sambil berjalan menuju Varun dan Shiny. Khyati membuat Shiny berdiri menghadap dirinya, "Aku tidak suka padamu." Pernyataan ketiga kalinya membuat Shiny mematung. Ia membeku saat ini, "Aku tidak suka padamu, karena menurutku Kakak tidak asik menjadi teman. Ternyata setelah aku mencoba untuk berusaha mendekatimu, mungkin saja kita bisa menjadi teman baik. Bagaimana? Apakah Kakak mau menjadi temanku selama aku di Jakarta?" Shiny menatap tidak percaya pada Khyati. Apakah benar yang dikatakan Khyati atau terselip sesuatu yang tidak ia ketahui? "Ka-mu? Kakak pi-kir kam-u-," "Apakah maksudmu aku tidak suka kalau kamu yang menikah dengan Kakak ku?" pancing Khyati membuat Shiny menggeleng ragu. "Bu-kan begitu. Kakak tidak ber-," "Sudahlah, kalian baru saja bertemu. Sebaiknya kalian berdua mendekatkan diri, bukan memperdebatkan suka atau tidak," ucap Varun setelah berdiri di antara Shiny dan Khyati. Khyati mengangguk dengan senyuman kecilnya. Khyati meraih tangan Shiny untuk disatukan dengan tangannya. "Aku menyanyangi Kakak ku seperti aku menyanyangi diriku sendiri. Apapun yang bisa membuat Kakak ku tersenyum, maka aku akan menghargai orang itu. Begitu pula sebaliknya, jika ada yang menyakiti Kakak ku, maka dia akan berhadapan dengan diriku," ucap Khyati mantap. Varun tersenyum sambil mengelus surai Khyati, "Siapa yang mengajarimu, hem?" Kini pandangan Khyati beralih pada Varun, "Orang yang spesial. Dia mengatakan; lawan orang itu, jika dia menyakiti orang yang kita sayang. Maka sebaliknya; jangan melawan dia, jika dia membuat orang yang kita sayang tersenyum." "Aku akan berterima kasih padanya, karena dia sudah mengajarkan sesuatu yang terbaik untuk adik kecilku." Varun menarik punggung Khyati sampai keduanya berpelukan. 'Aku beruntung di pertemukan olehnya,' ucap Khyati di hati. Kamar Khyati Saat ini Khyati sedang melakukan telepon video melalui aplikasi w******p. Ia menambahkan nama seseorang yang selama ini selalu ada untuk dirinya. "Aku pikir setelah aku jauh darimu, kamu akan berubah. Tapi lihatlah sekarang, kenapa matamu membengkak begitu? Apakah kamu habis menangis?" ucap Khyati tanpa mengucapkan salam. "Apakah saat aku berbohong kamu akan percaya?" "Tidak, aku sudah tahu semua perilaku buruk mu." "Ya, ya, kamu memang selalu tahu aku." "Bagaimana semalam? Apakah kalian berhasil memenangkan balapan itu?" Khyati mengambil topik baru. "Tentu saja. Geng JNNNKTFARR (Jangtefarr) tidak akan pernah bisa dikalahkan. Berapa kali mereka melawan, maka tetap saja pemenangnya ialah kita." "Hem, berarti semalam adalah hari untuk merayakannya?" tanya Khyati. "Ya dan sayangnya kami kurang satu orang." Khyati tersenyum kecut, "Maaf, aku harus pulang karena Kakak ku ulang tahun. Lagian sudah lama aku tidak pulang. Aku merindukan dirinya dan keluarga ku." "Tidak masalah. Aku mengerti dirimu." "Bagaimana dengan dirimu?" pancing Khyati. "Aku? Memangnya aku kenapa?" "Apakah kamu tidak merindukan keluargamu?" "Aku bahkan tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak? Aku tidak peduli lagi dengan mereka. Aku sudah bahagia di negeri ini." "Kamu tidak boleh begitu, Kak. Bagaimana pun mereka adalah keluargamu. Kamu harus peduli pada mereka," ucap Khyati. "Dengan rela memisahkan dirinya dari ku? Hanya satu kesalahan Khyati. Apakah mereka tidak bisa memaafkan ku? Mungkin mereka juga tidak kenal lagi padaku. Jadi untuk apa aku mengharapkan mereka datang menjemputku pulang?" "Aku hanya sampah di dalam keluarga mereka. Aku bukan anak baik yang seperti mereka harapkan. Aku bukan adik ku yang selalu mau menurut perkataan mereka. Aku dibesarkan untuk membangkang dan melawan semua orang." "Aku sudah tahu identitas mu. Aku sudah bertemu mereka." "Apa maksudmu?" "Apakah kamu akan pulang setelah aku mengatakan semuanya?" pancing Khyati kembali. Gadis yang sedang berteleponan dengan dirinya menggeleng kukuh, "Tidak, Khyati. Sampai kapan pun, aku tidak akan mau pulang ke rumah itu lagi." "Tolong Janah! Kenapa kamu keras kepala sekali?! Mereka membutuhkan mu disini!" "Membutuhkan seperti apa maksudmu? Membandingkan diriku dengan adikku? Aku berbeda dengan dirinya Khyati. Aku muak dengan mereka," ucap gadis itu, Janah. Janah mulai mengatur napasnya yang tidak beratur. Ia berkata, "Kalau aku pulang, mereka akan memojokkan aku dan membandingkan aku dengan adikku. Aku tidak mau mendengar drama mereka lagi. Aku bosan mendengarnya!" "Baiklah, aku minta maaf. Kita tidak perlu membahas itu lagi," ucap Khyati berakhir menyerah. "Kamu yang terdahulu membicarakan mereka. Aku tidak," balas Janah ketus. "Baiklah, Kakak Janah. Adikmu ini minta maaf. Apakah kamu mau memaafkan ku, hem?" gemas Khyati. "Apakah aku bisa marah padamu?" Khyati menggeleng geli, "Tentu saja tidak. Tiga hari lagi, aku akan balik. Aku akan merindukan mu." "Aku dan yang lainnya juga akan merindukan mu. Kami sudah menganggap kamu seperti adik kecil kami. Jadi tolong, jaga dirimu disaat kami tidak bersama mu." "Aku akan selalu ingat perkataan mu. Terima kasih, Kak, karena kamu selalu ada untukku." Tidak lama kemudian, pintu kamar Khyati terbuka tanpa diketuk terdahulu. Khyati menjauhkan ponselnya dari telinga dan menoleh ke belakang. "Khyati, kamu di panggil Mama," ucap Teja di bendul pintu. "Ha, iya, Kak. Kakak keluar dahulu. Khyati masih ada urusan." Teja mengernyit saat mendapatkan gelagat aneh dari Khyati. Ia berjalan dan berhenti di hadapan Khyati. Jantung Khyati berdetak dua kali lipat saat Teja berada di hadapannya. Bersamaan dengan itu, ketawa Teja pecah melihat betapa pucatnya wajah Khyati, "Kamu kenapa, hem? Kakak tidak akan memakan mu, jadi tenangkan dirimu." "Kak, ih! Kesalin banget, sih! Aku udah deg-degan lho melihat Kakak seperti tadi," ucap Khyati sambil merengek. "Haha, kamu lagian, kenapa coba langsung menyembunyikan ponsel? Kan Kakak jadi penasaran kalau terjadi sesuatu," ucap Teja dengan sisa ketawanya. "Ah, tidak Kak! Aku baik-baik saja," balas Khyati menelan saliva susah payah. "Tidak bohong?" pancing Teja. Khyati menggeleng kikuk, "Tidak sama sekali." "Baiklah, Kakak turun dahulu. Kamu cepat menyusulnya." "Iya, Kak." Teja keluar dari kamar Khyati. Sebenarnya Teja hanya mengetes kejujuran Khyati saja. Lagian, ia tidak mempermasalahkan dengan siapa Khyati berteleponan video. Asalkan Khyati tidak melakukan sesuatu yang aneh. To Be Continued... 1656 kata Huhu, sosok Janah udah keluar nih. Ada yg bisa nebak siapa Janah sebenarnya? Tunggu kelanjutannya y guys.. Jangan lupa tinggalkan jejak! Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR) Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI) Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA) Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH) Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA) Minggu, 29 November 2020 Salam dari Kakak Ipar Khyati. linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD